Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Tanda - tanda


__ADS_3

Taylor : "Hallo, Tuan."


Jacob : "Ya, Taylor ada apa?"


Taylor : "Nyonya Laras, dan putranya, Nick sudah bersama saya di mansion anda, Tuan."


Jacob : "Bagus. Jaga mereka, dan kalian harus berhati-hati di sana!"


Taylor : "Baik, Tuan."


Jacob : "Yasudah, kalau begitu aku akan matikan sambungan telponnya, ada yang mesti aku urus di sini."


Taylor : "Silahkan, Tuan."


Dan percakapan via telepon itu selesai. Jacob memasukkan kembali ponselnya ke salam saku jaket yang ia kenakan. Selanjutnya, ia segera bergegas melangkah menuju kamarnya.


Tak berselang lama, pria bertubuh tinggi besar itu pun sampai di tempat tujuannya. Rasa khawatir langsung memuncak saat mendapati istri tercinta yang tengah tertidur lelap.


Jacob terduduk di tepian kasur. Sebelah telapak tangannya terangkat untuk ditempelkan dikening Alesha.


Suhu tubuh Alesha stabil. Jacob menghela napas, ia merasa panik sebab Alesha mengeluh tidak enak badan, dan terlihat lemas juga pucat.


Cup.


Satu kecupan singkat Jacob daratkan pada sebelah pipi istrinya. "Aku mencintaimu, Lil Ale. Jangan sakit, ya," Jacob berbisik tepat disebelah telinga Alesha.


Tok... Tok... Tok...


"Jack."


Itu suara Levin. Ada apa?


"Iya, sebentar," sahut Jacob. Ia beranjak bangkit, dan berjalan menuju pintu.


"Ada apa, Levin?" tanya Jacob setelah membuka pintu kamarnya.


"Jack, Mr. Frank meminta kau, aku, Eve, dan. Danish untuk berkumpul di ruang rapat sekarang," jawab Levin.


"Sekarang?" Jacob terlihat ragu. Ia menoleh singkat pada istrinya, Alesha. "Alesha bilang dia sedang tidak enak badan, dan ia juga terlihat lemas, wajahnya pucat."


"Tidak apa, Jack. Biarkan Alesha tidur, dan istirahat, mungkin nanti sore atau malam juga ia akan kembali sehat," balas Levin.


Jacob mengangguk. "Kau duluan, aku akan menyusul."


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi sekarang," setelah mengucapkan itu, Levin pun melangkah pergi meninggalkan Jacob.


Sementara Jacob, ia kembali menghampiri istrinya yang masih terlelap. Dalam hatinya, Jacob merasa ragu jika ia harus ikut memata-matai komplotan mafia yang berhasil melarikan diri dari tahanan SIO beberapa waktu lalu. Bukan takut, sama sekali tidak. Akan tetapi, Jacob terlalu cemas jika harus meninggalkan Alesha, belum lagi beberapa hari belakangan ini Rangga selalu mengabari perihal Dirga beserta anak buahnya masih memburu Alesha.


"Aku akan selalu menjagamu, Alesha," bisik Jacob. Ia menyempatkan untuk mencium bibir ranum istrinya. Setelah itu, ia bergegas pergi meninggalkan Alesha di kamar tersebut.


...*****...


Beralih menuju RSUD Bandung, Nakyung, Maudy, dan Merina yang sudah diizinkan pulang oleh dokter pun kini tengah menunggu Aiden yang akan menjemput mereka di lobi rumah sakit.


"Apa Mr. Jacob masih belum tahu tentang hal yang menimpa kita?" Tanya Merina.


"Sepertinya belum. Bastian melarang kita untuk mengatakan itu, bukan?" jawab Maudy.


"Lebih baik Mr. Jacob tidak tahu tentang tragedi yang menimpa kita. Ia masih harus membantu membawa kembali ingatan Alesha yang menghilang," Ucap Nakyung.


"Haii nona-nona," sapa Aiden yang baru saja tiba. "Apa kalian menunggu lama?"


"Lumayan," Nakyung membalas malas. "Sudah ayo, aku ingin segera sampai di apartemen."


Tak ingin membuang waktu, akhirnya Nakyung jalan mendahului kawan-kawannya.


"Kalian istirahat lah yang cukup, tidak lama lagi akan ada misi yang harus kita jalani bersama-sama," Ucap Aiden.


"Misi apa?" Tanya Maudy.


"Memberantas komplotan mafia yang berhasil melarikan diri dari SIO," Jawab Aiden.


"Theo, dan Theora?" Nakyung berkata malas.


"Ya. Mereka berkeja sama dengan Vincent," ucap Aiden.

__ADS_1


"Waw, paket komplit mereka," sahut Merina.


"Maka dari itu kalian harus mempersiapkan diri. SIO memprediksi kalau kelompok mafia itu akan melakukan serangan dadakan," Ucap Aiden.


"Apa Alesha juga akan ikut?" tanya Maudy.


"Yang benar saja, Maudy. Dia baru beberapa bulan mendapatkan ingatannya kembali. Aku rasa Mr. Jacob tidak mungkin mengikutsertakannya." Nakyung memutar kedua bola matanya dengan jengah.


"Mrs. Laras bilang kalau Mr. Jacob, Mr. Eve, dan Mr. Levin akan pergi untuk mematai-matai komplotan mafia itu," ucap Aiden.


"Lalu bagaimana dengan Alesha?"


"Ada tuan Taylor, dan Mr. Jacob juga memiliki banyak anak buah di sini, Merina."


"Tapi, Maudy, kau ingat terakhir kali Alesha menghilang, kan? Di mansionnya banyak anak buah Mr. Jacob, namun mereka berhasil kecolongan oleh beberapa orang yang berusaha menyakiti Alesha."


"Tidak untuk kali ini. Aku yakin Mr. Jacob tahu jalan terbaiknya bagaimana," Nakyung membuka suara. "Kita juga bisa, bukan membantu untuk menjaga Alesha jika memiliki waktu, dan kesempatan."


"Ugh, aku benar-benar merindukan Alesha." Merina menatap layar ponselnya yang menunjukkan fotonya berdua dengan Alesha. "Kasihan dia, kehilangan dua anaknya. Pasti Alesha sangat terpukul saat mengetahui itu."


"Kau memiliki foto Alshiba, dan Khalid?" tanya Nakyung.


"Aku hanya memikiki foto Alshiba saja," jawab Merina.


"Aku masih bingung sebenarnya apa motif orang yang waktu itu membunuh menyerang Alesha, dan membunuh Alshiba," ucap Nakyung.


"Aku dengar orang itu adalah mantan narapidana yang memiliki dendam pada ayah Alesha," sahut Aiden.


"Tapi kenapa ia menyerangnya kepada Alesha? Apa salah Alesha?" timpal Merina.


"Mungkin Alesha adalah alat untuknya membalaskan dendam," Aiden mengedikkan bajunya.


"Aku yakin Mr. Jacob pasti akan langsung menghabisi pria itu jika mereka bertemu," ucap Nakyung.


"Mr. Jacob tidak akan membiarkan ia lepas begitu saja setelah apa yang sudah ia lakukan pada Alesha, dan Alshiba," sambung Aiden.


...*****...


Di kantor pusat SIO, Selandia Baru.


Mr. Frank terdiam mendengar ucapan Jacob barusan. Ia memikirkan rencana lain.


"Baiklah, Jack. Kalau begitu kau ikutlah bersama Danish untuk mematai-matai kelompok jaringan gelap yang sedang mengincar kantor SIO di Bandung, biar Eve, dan Levin saja yang mematai-matai Theo, Theora, dan Vincent," ucap Mr. Frank.


Jacob sedikit lega mendengar rencana baru Mr. Frank. Setidaknya ia tidak perlu berjauhan dengan Alesha dalam menjalankan tugasnya sebagai agent SIO.


"Terima kasih, Mr. Frank. Maaf jika aku mengecewakanmu."


"Tidak apa, Jack. Aku mengerti. Kau memiliki kewajiban untuk menjaga Alesha dari orang yang sedang memburunya. Dengan kau kembali menjadi agent SIO, dan membantu kami saja aku sudah sangat bersyukur, dan berterima kasih padamu," balas Mr. Frank, ramah.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruang rapat tersebut.


"Masuk," ucap Mr. Frank.


Ceklek.


Seorang penjaga SIO ternyata.


"Mr. Jacob, istrimu. Dia muntah - muntah sejak tadi," penjaga itu berucap panik.


"Apa?" mendengar itu, Jacob langsung bangkit terbelalak, dan beranjak dari bangkunya. "Mr. Frank," ia menoleh pada Mr. Frank, meminta izin untuk pergi.


"Cepat temui dia!" ucap Mr. Frank.


Tak banyak berpikir, Jacob langsung memacu langkahnya secepat mungkin. Rasa was was, panik, takut, khawatir. Jacob berlari begitu cepat.


Di belakang, Mr. Frank, Levin Eve, dan Danish pun turut menyusul Jacob. Mereka juga sama-sama penasaran, dan takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Alesha.


Tidak lama kemudian, Jacob sampai di kamarnya. Dimana Alesha? Istrinya itu tidak ada di atas tempat tidur. Oh ya! Kamar mandi! Jacob langsung memacu langkahnya kembali.


Benar saja! Ketika pintu dibuka, didapatinya oleh Jacob, Alesha yang sedang berjongkok sembari menangkup wajah.


"Sayang, apa yang terjadi?" tanya Jacob dipenuhi oleh kekhawatiran. Ia berlutut.


"Jack," lirih Alesha. Ia menurunkan kedua telapak tangan dari wajahnya.

__ADS_1


"Kau pucat sekali, Alesha. Kau sakit?" Jacob menangkup wajah istrinya.


"Jack." Alesha melingkarkan kedua lengannya pada leher Jacob, lalu memeluknya dengan lemah. Ia benar-benar lemas, ia ingin bersandar pada suaminya. "Perutku sangat mual, aku ingin muntah, tapi tidak ada yang keluar dari dalam perutku. Kepalaku sakit, Jack."


"Panggil dokter SIO!" bisik Mr. Frank pada Levin. Ia baru saja tiba bersama ketiga anak buahnya.


"Baik, Mr. Frank." Levin mengangguk, dan langsung melaksanakan perintah itu.


"Ayo, jangan di sini, kita kekasur," dengan hati - hati Jacob membantu Alesha berdiri lalu memapahnya perlahan menuju tempat tidurnya.


"Jack, perutku sakit, dan mual." Alesha kembali merintih.


"Sabar, sayang, dokter SIO akan segera datang," balas Jacob.


Alesha mendudukan tubuhnya perlahan ditepian ranjang. Ia hanya bisa bersandar pada dada, dan pelukan suaminya saat ini. Rasa sakit kepala, mual ingin muntah, nyeri disekitaran pinggul. Sudahlah, itu sangat membuat tubuhnya tak berdaya.


"Jack, kau ingat apa saja yang Alesha makan?" tanya Mr. Frank. Ia khawatir jika Alesha keracunan.


"Alesha memakan masakan kantin yang biasa, Mr. Frank," jawab Jacob.


"Apa dia pergi ke laboratorium SIO, dan menyentuh beberapa sampel obat-obatan di sana?" tanya Mr. Frank lagi.


"Alesha tidak pernah pergi keluar dari gedung asrama," jawab Jacob.


Semua terdiam sembari terus memandang pada Alesha yang memilih menelusupkan wajah didada bidang Jacob.


Selang beberapa menit setelah itu, Levin tiba bersama seorang wanita yang merupakan seorang dokter milik SIO.


"Ada apa, Jack?" tanya dokter tersebut.


"Dokter Jesline, Alesha bilang kalau perutnya sakit, dan mual. Ia ingin muntah tapi tidak ada yang keluar, kepalanya juga sakit," ucap Jacob mewakili istrinya.


Dokter SIO bernama Jesline tersebut mengangguk.


"Alesha, biarkan aku memeriksamu dulu sebentar," ucap lembut dokter Jesline.


"Al." Jacob mendorong pelan tubuh Alesha supaya menghadap pada dokter Jesline.


"Aku akan cek tekanan darahnya." Dokter muda itu segera melaksanakan apa yang ia katakan barusan. "Apa dia salah makan? Selain yang tadi apa lagi keluhannya?"


"Dia makan makanan yang ada di kantin SIO. Tidak biasanya ia begini," jawab Jacob.


"Dia pergi ke laboratorium, dan menyentuh sesuatu di sana?"


Pertanyaan Mr. Frank diulang kembali oleh dokter Jesline.


"Tidak, Alesha tidak pernah kemana-mana, ia tetap berada di gedung asrama selama di SIO," lagi - lagi Jacob yang menjawab.


"Apalagi keluhannya?"


"Al, apalagi keluhan yang kau rasakan?"


"Tidak ada. Hanya mual, ingin muntah, dan sakit dikepalaku. Oh ya, perutku juga sakit, dari daerah pinggul sampai perut bagian bawah," Alesha menjawab lemah.


"Tensinya rendah, hanya sembilan puluh lima per sembilan pulih," ucap dokter Jesline.


"Alesha memang memiliki riwayat darah rendah, dan juga ASMA, dokter," balas Jacob.


"Tapi suhu tubuh, dan detak jantungnya normal. Coba buka mulutmu," dokter Jesline mengarahkan sebuah cahaya dari senter kecil ke dalam mulut Alesha. "Tidak ada peradangan ditenggorokan. Coba aku ingin lihat lidahmu."


Alesha sedikit menjulurkan lidahnya.


"Lidah bagus," tiba-tiba dokter Jesline terpikirkan suatu hal. Alesha bilang jika area pinggul, sampai perut bawahnya sakit, bukan?


"Alesha, apa kau sudah menstruasi bulan ini?" tanya dokter Jesline.


Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku telat satu minggu," ia membalas lemah.


"Itu bisa mempengaruhi hormon, dan membuat kepalamu jadi sakit," dokter Jesline bangkit berdiri. "Ikut aku, kita akan cek kehamilan."


"Apa?" Jacob terkejut. Cek kehamilan? Apa mungkin Alesha hamil?


"Dia tidak demam, tidak ada peradangan ditenggorokannya, tensi darah memang cukup rendah, tapi detak jantungnya bagus, juga lidahnya tidak pucat. Dari gejalanya, biasanya orang yang baru hamil akan mengalami itu, bukan? Belum lagi Alesha sudah telat datang bulan satu minggu. Jika nanti hasilnya negatif, maka akan dilakukan tindakan lanjut untuk mengetahui apa yang terjadi pada Alesha," lanjut dokter Jesline.


Wajah Jacob berseri mendengar kemungkinan istrinya hamil. Kedua matanya sampai berbinar - binar, menampilkan pelangi bahagia dari iris hitamnya.

__ADS_1


"Semoga kau hamil, sayang. Aku sangat menantikan kehamilanmu," ucap Jacob seraya menciumi beberapa daerah dipemukaan wajah istrinya.


__ADS_2