
Alesha memakukan arah matanya pada pemandangan awan-awan putih yang mengambang di bawah pesawat yang sedang ia tumpangi bersama suaminya.
"Sayang, kau melihat apa? Serius sekali?" Tanya Jacob.
"Awan-awan itu cantik ya, putih bersih, dan sepertinya lembut. Aku jadi penasaran apa aku bisa berdiri di sana," Jawab Alesha.
"Kau ini ada-ada saja," Jacob terkekeh akan ucapan istrinya barusan.
"Oh iya, Jack, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," Alesha tiba-tiba termenung.
"Menanyakan apa?" Tanya Jacob, lembut.
"Tentang Yuna."
Deg!
Ekspresi Jacob yang semula hangat pun berubah total. Ia tercekat.
Kenapa Alesha harus menanyakan tentang Yuna? Jacob enggan menimbulkan rasa sakit dalam hatinya karna kepergian Yuna.
"Entah kenapa aku terus kepikiran tentang Yuna. Boleh kau bercerita sedikit tentangnya agar aku bisa mengingatnya?" Tanya Alesha, polos.
Aku lebih berharap kau tidak akan pernah mengingat Yuna, Al...... Ucap Jacob dalam hati.
"Dia sudah meninggal, Al, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi tentangnya," Jawab Jacob sembari menangkup wajah istrinya.
"Aku hanya ingin tahu dia siapa agar aku bisa mengingatnya. Kau bilang kalau dia teman kita, bukan? Tapi aku tidak ingat kalau dia adalah temanku," Balas Alesha.
"Dia salah satu anggota timku, dia lugu, pendiam, sangat pemalu, suka menyendiri, manis, asik, dan...." Jacob menjeda ucapannya. Ia sedikit tersenyum. Cantik... Lanjutnya dalam hati.
"Dann...." Alesha penasaran.
"Kalian terlihat mirip sekilas. Aura manis kalian sama," Jacob menggigit singkat pipi istrinya dengan gemas.
"Aw! Sakit!" Pekik Alesha sembari mendorong tubuh suaminya.
"Kau sangat menggemaskan, Lil Ale," Jacob menggertakkan giginya.
"Sakit..." Alesha meringgis pelan. Ia mengusapi pipinya yang barusan digigit oleh Jacob.
"Aku mencintaimu, Alesha," Tanpa aba-aba, Jacob langsung memeluk tubuh istrinya begitu erat. "Kau adalah wanita yang paling-paling, dan paling aku cintai kini, dan seterusnya."
Jacob sangat mencintai Alesha, sangat amat. Maka dari itu, ia tidak mau ingatan manis, dan pahitnya bersama Yuna berputar dalam pikirannya kembali. Yuna sudah berlalu, dan Alesha lah yang menjadi ratu dihatinya. Tapi kenapa rasa sakit, dan tidak terima kala ia ditinggalkan oleh kekasih lamanya itu malah masih terasa hingga kini? Sudah berapa tahun berlalu? Ternyata hatinya masih saja terpaku pada peristiwa terkelam dalam hidupnya itu.
Kau adalah masa laluku, Yuna. Aku memang sangat mencintaimu, tapi kini hanya Alesha lah yang menjadi satu-satunya wanita yang paling aku cintai. Maaf, Yuna, tapi aku sangat mencintai Alesha. Aku tidak bisa jika dia juga harus pergi dariku...... Lirih Jacob dalam hatinya.
"Berjanji lah untuk tidak akan pernah meninggalkan aku lagi," Jacob menatap lekat wajah si manis kesayangannya itu.
"Aku pun tidak mau pergi darimu," Balas Alesha. Ia tersenyum geli hingga membentuk eye smile ciri khasnya.
"Anak pintar," Jacob menepuk pelan kedua pipi istrinya. "Cium aku, dan katakan kalau kau mencintaiku," Goda Jacob.
"Tidak mau," Alesha menggelengkan kepalanya selayak gadis polos.
"Hey, ini perintah suamimu, sayang," Jacob membalas lembut.
"Aku malu," Alesha tersipu. Malu malu kucing, padahal ia ingin sekali mencoba perintah suaminya itu.
"Jangan malu, atau kau akan aku hukum," Jacob mulai menunjukan tatapan nakalnya.
Alesha tetap menolak dengan menggelengkan kepalanya.
"Ayolah, sayang, hanya mencium, dan katakan kalau kau mencintaiku. Itu saja," Bujuk Jacob.
"Hmmm..." Alesha berpikir sejenak. Mungkin tidak ada salahnya kalau ia mencoba. Mumpung dua orang pramugari itu sedang asik berbincang di lain tempat dalam ruang pesawat itu.
"Baiklah," Alesha mengangguk kecil. Tidak bisa tersangkal memang jika kini ia merasakan seluruh tubuhnya yang memanas.
Jacob yang sadar akan wajah istrinya yang berubah merah pun hanya tersenyum kecil.
"Ayo, sayang," Bisik Jacob saat wajahnya hanya berjarak beberapa centi saja dengan wajah istrinya.
Alesha ragu, malu, tapi mau. Ia harus bagaimana? Mencium Jacob? Ugh, rasanya sangat malu-malu.
"Tatap aku. Katakan kalau kau mencintaiku, lalu cium aku," Lanjut Jacob. Ia begitu fokus menatap kedua iris coklat Alesha.
"Jack...." Alesha memanggil pelan. Ia sedang mempersiapkan mental, dan keyakinannya.
"Hmmm?" Balas Jacob, lembut.
Alesha hanya diam selama beberapa saat sembari mengadu tatapan penuh cinta dengan suaminya.
"Aku.... Mencintai.... Mu."
Dan selanjutnya
Cup.
Alesha berhasil menempelkan bibirnya dengan halus pada bibir suaminya, Jacob.
Jacob pun tepejam, merasakan kelembutan, dan kehangatan bibir istrinya itu.
"Aku juga mencintaimu, Alesha," Balas Jacob, berbisik. Lalu tanpa membuang-buang waktu, kini gantian Jacob lah yang balik melahap bibir ranum istrinya itu dengan posesif.
"Cukup! Sudah cukup! Nanti ada yang lihat," Alesha melepaskan paksa ciuman suaminya. Ia malu, dan takut jika ada yang melihatnya sedang berciuman bersama Jacob.
"Bibirmu manis, semanis wajah ini," Jacob menangkup wajah Alesha. "Ingat, Alesha! Kau harus percaya jika aku benar-benar mencintaimu tulus, jangan pernah berpikir macam-macam, apalagi berpikir jika aku mencintaimu karna sebuah hal yang tidak benar. Tidak! Kau adalah gadis penyembuh untukku, dan aku sangat mencintaimu."
"Aku juga mencitaimu, Tuan Mentor," Balas Alesha sembari mencubit gemas kedua pipi suaminya. "Ingat bulan madu pertama kita? Aku meminta padamu untuk jangan pernah pergi meninggalkaku."
__ADS_1
"Dan aku akan selalu bersamamu apapun itu kondisinya," Jacob membalas cepat. "Kau harus percaya, dan yakin jika kau adalah satu-satunya ratu dihatiku kini, dan seterusnya. Aku sangat mencintaimu, sayangku. Milikku."
Alesha tersenyum geli saat mendengar kalimat manis yang suaminya ucapkan itu.
"Jack, kau terlalu romantis," Gemas Alesha. Ia kembali mencubit kedua pipi suaminya sembari menggertakkan gigi.
"Kau terlalu manis, dan memikat," Balas Jacob. Ia hanya bisa tersenyum, dan tertawa kecil saat melihat ekspresi menggemaskan istrinya. Ia harus kuat, dan tahan. Sesuatu sedang menggelora dalam hasratnya.
"Cukup, Al, kau bisa membuatku lepas kendali jika saja kita bukan berada di dalam pesawat," Jacob berucap lembut. Sebelah telapak tangannya membelai halus wajah Alesha.
"Lepas kendali? Hmmm...." Alesha mulai mencoba untuk menggoda suaminya. Lebih tepatnya menggoda untuk bercanda saja, bukan yang lain.
"Cukup, Lil Ale," Jacob mulai frustasi.
"Ah, kau pasti sedang menahan sesuatu ya? Hahahaha..." Alesha tertawa meledek pada suaminya.
"Kau akan mendapatkan hukuman nanti setelah kita sampai, sayangku," Jacob mengukir smirk licik diwajahnya. "Lihat saja, kau harus bertanggung jawab atas kesalahanmu padaku."
"Aku hanya ingin mengajakmu bercanda, apa aku salah?" Balas Alesha.
"Kau ingin mengajakku bercanda, atau sengaja ingin menggodaku? Hmmm?" Jacob menggenggam erat telapak tangan Alesha.
"Mengajakmu bercanda, sungguh, kau saja yang berpikiran kemana-mana," Alesha mengurucutkan bibirnya. "Pikiranmu terlalu berlebihan!"
"Tapi kau tetap masih harus bertanggung jawab, Lil Ale," Tatapan lapar Jacob terlihat jelas, seakan-akan ia sedang dihadapkan dengan mangsa manis, dan menggemaskan.
"CK! Sudahlah, aku malas membahas hal itu!" Alesha sedikit merajuk. "
"Bagaimana rasanya?" Jacob membalikkan arah wajah Alesha agar menghadap padanya. "Apa yang kau rasakan setelah kau mengingatku sebagai suamimu?" Terdengar serius, namun ekspresi yang Jacob tunjukkan begitu hangat.
"Rasanya?" Ulang Alesha. Sebentar, ia jadi sedikit bingung. Bagaimana rasanya? "Awalnya aku merasa aneh, dan masih tidak percaya, namun ada beberapa ingatan lain yang sudah membulatkan keyakinanku jika kau adalah suamiku, Jack."
"Apa kau bahagia sekarang, sayang?" Bisik Jacob. Arah matanya tertuju pada bibir ranum Alesha. Sangat menggoda.
"Aku sangat bahagia, Jack," Alesha berbinar. Senyumnya cerah, dan indah. Tapi, itu tidaklah lama karna secara tiba-tiba sebuah ingatan lama muncul begitu saja. "Tapi hatiku sakit," Mimiknya berubah total dalam sekejap! Alesha menunduk. Ia dipenuhi oleh kesedihan sekarang. "Aku ingin melihat bayi-bayiku. Aku sangat merindukan Khalid, dan Alshiba."
Kelopak mata Alesha mulai basah, dan tertutupi oleh air mata yang membendung.
"Jack, hiks," Sebulir cair pun lolos meluncur pipi Alesha. Ia mulai menangis. Wajahnya terangkat, menatap sendu dalam pada suaminya. "Aku merindukan anak-anakku. Aku sangat merindukan mereka, Jack, hiks."
Alshiba, dan Khalid.
Rasanya Jacob ingin menangis. Ia begitu mencintai putra juga putrinya itu. Ia sangat menyangi bayi kembarnya yang kini telah bahagia di alam lain. Hati Jacob seperti diremas hancur.
"Aku juga sangat merindukan mereka, Al. Aku sangat menyangi, dan mencintai mereka. Mereka adalah harta, dan hadiah paling berarti untukku. Tapi Allah lebih menyangi mereka, sayang," Balas Jacob lirih. Ia langsung memeluk erat tubuh istrinya.
"Hiks, Jack," Alesha yang sudah terlanjur mengingat kedua bayinya itu pun kini hanya bisa menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.
"Aku adalah ibu mereka, aku ingin bertemu dengan mereka, hiks. Jack, aku merindukan anak-anakku, hiks, aku ingin bertemu dengan mereka."
Jacob tidak membalas apapun. Mungkin Alesha tidak tahu, dan tidak merasakan tangisan, dan air mata yang meluncur dari kedua kelopak mata suaminya.
Jacob mengedipkan matanya beberapa kali sembari mengeraskan rahangnya untuk menahan kesedihan yang sedang melandanya kini.
"Jack... Hiks," Alesha memukul pelan dada suaminya. "Jack, aku merindukan mereka, hiks. Alshiba, Khalid, anakku, hiks."
"Menangis lah, Alesha, kau ibu mereka. Aku tahu hatimu pasti hancur saat ini, sayang," Jacob mencium pelan beberapa bagian wajah istrinya.
"Kenapa mereka harus meninggal? Apa yang terjadi? Hiks? Ini semua pasti karna aku tidak benar menjaga, dan mengurus mereka, hiks. Maaf, Jack, maaf, hiks," Alesha menyandarkan wajahnya pada bahu suaminya. "Kau tahu, jika aku mengingat mereka, aku selalu merasa bersalah, hiks. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, hiks."
Jacob menyimak dengan sesama.
"Hatiku sangat sakit saat ini, Jack, hiks. Aku kehilangan dua bayiku, hiks. Ibu mana yang tidak sakit hati karna harus menerima kepergian anaknya?"
"Ini bukan salahmu, Lil Ale," Jacob mencium kilat bibir istrinya. "Mungkin memang ini adalah takdir yang harus terjadi. Kita harus ikhlas," Jacob menyentuh kedua bahu Alesha. Ia tahu apa yang Alesha rasakan. Sangat amat tahu. Dirinya hancur, dan berantakan ketika menyaksikan gundukan tanah yang menutupi tubuh kedua anaknya di rumah terakhir. Jacob sangat tersiksa ketika Alesha hilang sedang ia sendiri mesti menghadapi masalah lain, yaitu ditinggal selamanya oleh putri kecilnya, Alshiba. Dipikir Jacob tidak frustasi? Ia adalah sosok ayah yang sangat mencintai anaknya. Itu sebabnya Jacob sungguh hancur sesaat setelah ia kembali dari pemakaman Alshiba.
"Aku yakin, dan sangat percaya," Jacob menatap penuh keyakinan pada istrinya. "Di sini," lalu ia menyentuh perut bagian bawah istrinya. "Di dalam sini ada yang tengah berjuang, sayang," Jacob mulai tersenyum. "Kita hanya perlu bersabar sampai salah satu dari mereka berhasil memenangkan perlombaan, dan menjadi juara untuk bisa menjadi calon anak kita."
"Hiks, Jack," Alesha pun turut menyunggingkan senyumnya, ya meski air matanya masih turun juga. "Kau benar. Aku akan bersabar untuk menunggu pemenangnya."
...*****...
Pesawat milik SIO telah sampai di tempat tujuan yang bukan lain adalah kantor utama SIO sendiri di Selandia Baru.
Alesha kelelahan, ia mengerjap beberapa kali untuk menahan kesadarannya yang bisa tumbang karna mengantuk.
"Kau mengantuk, sayang?" Tanya Jacob, lembut.
"Iya," Balas Alesha, singkat.
"Kalau begitu, nanti setelah sampai di kamar kau langsung saja tidur. Aku ada urusan sebentar dengan Mr. Frank," Ucap Jacob.
Alesha tidak membalas. Ia merasa lelah dan mengantuk.
Hingga ketika dua sejoli itu tiba di ruangan lama yang pernah Jacob tempati sebelum ia menjadi mentor di WOSA, dan hanya berprofesi sebagai agent intelegent SIO, mereka langsung menaruh barang bawaan mereka di tempatnya.
"Mr. Ridle," Alesha membaca pelan nama belakang suaminya yang tertera pada papan nama di atas meja kerja. "Kenapa mereka memanggilmu Jacob sedangkan kau sendiri menggunakan nama belakangmu pada papan nama ini?" Tanya Alesha.
"Sebenarnya, dulu saat pertama kali aku masuk WOSA, aku memperkenalkan diriku sebagai Ridle, namun beberapa bulan setelah bekerja di SIO, aku mengubah nama panggilanku menjadi Jacob," Jawab Jacob sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Aneh," Ucap Alesha, datar.
"Itu tidak aneh karna Jacob memanglah panggilan lama ku sejak aku kecil, hanya saja saat masuk WOSA aku ingin menggunakan nama lain, namun, aku merasa jadi tidak nyaman dengan orang-orang yang memanggilku Ridle. Jadi, aku pakai lagi saja nama panggilan lamaku," Balas Jacob.
Alesha hanya menyimak tanpa membalas.
"Aku akan menemui Mr. Frank sebentar. Kau jangan pergi kemana pun sebelum aku kembali!" Titah Jacob sembari mencium sebelah pipi istrinya.
"Lagi pun aku lelah, dan mengantuk," Alesha melepaskan pelukan suaminya. "Aku ingin tidur saja, Jack."
__ADS_1
"Terserah kau, sayang, yang pasti jangan keluar dari ruangan ini jika aku belum kembali. Mengerti?"
Alesha mengangguk.
"Anak pintar," Jacob mengusap puncak kepala Alesha. "Aku mencintaimu, My Liltle Ale," Selanjutnya, satu ciuman lembut pada bibir, dan beberapa ciuman kilat pada pipi pun Jacob berikan untuk istri tercintanya. "Assalamualaikum, cantik."
"Waallaikumussalam..." Balas Alesha yang sedikit tersipu. Wajahnya sudah mulai memerah dan panas.
Setelah mengucapkan salam, Jacob pergi meninggalkan Alesha di ruang kerja lamanya itu.
...*****...
Greenland.
Theo, Theora, Vincent, dan bersama beberapa anak buah mereka baru saja tiba di kediaman seorang pria yang merupakan ayah angkat Vincent. Tidak lupa di sana juga terdapat seorang gadis yang dipanggil dengan sebutan Laurent, atau Stephani Laurent, atau ya biasa dikenal dengan nama panggilan Stella.
"Haii, Laurent, bagaimana kabarmu setelah menginap beberapa tahun dalam penjara?" Sapa Vincent.
"Baik," Stella menjawab dingin. Ia terlihat malas, dan enggan.
"Kau menyukainya?" Vincent duduk menyilangkan kaki di sebelah Stella.
Pertanyaan bodoh!
Stella memutar bola matanya dengan jengah. Mana ada orang yang bahagia di penjara?
"Kau pasti merindukan sahabat lamamu," Vincent kembali berucap, membuat Stella semakin malas mendengar.
Di ruang tamu rumah itu terdapat beberapa orang lain, termasuk Theo, dan Theora, namun, kenapa hanya Vincent saja yang berbicara? Menyebalkan! Stella merasa sebal!
"Kau merindukan Alesha, kan? Tenang saja, aku akan segera mempertemukanmu dengan teman lamamu itu," Vincent menepuk bahu Stella dengan santai.
"Alesha?" Gumam Theora. Alesha adalah istri Jacob, apa mungkin Alesha dan Stella dulunya itu berteman? Pikir Theora.
"Dia bukan temanku!" Balas Stella, malas.
"Teman atau bukan kau pasti sangat ingin bertemu dengannya lagi, bukan?" Vincent membentuk smirk jahatnya. "Kau bisa mendapatkan Jacob kembali, sayang."
"Mendapatkan Jacob kembali?" Lagi-lagi Theora bergumam. Kepalanya sedikit miring kekanan dengan ekspresi bingung yang nampak terlihat samar.
"Kau masih mencintai mantan mentormu itu, bukan? Itu sebabnya kau mau bergabung kembali denganku dan yang lain," Kali ini Vincent tersenyum licik. "Kau gadis pintar. Bergabung dengan kami adalah pilihan yang tepat."
"Apa rencanamu?" Tanya Stella, dingin. Ia tidak mau mendengar ucapan Vincent yang menurutnya bertele-tele.
"Kau akan tahu nanti. Kau hanya perlu menurutinya saja, dan kau juga akan bersama Theora nanti," Vincent menunjuk ke arah Theora.
Stella menatap Theora datar, begitu pula sebaliknya.
"Ingat lah, Alesha sudah merebut pria yang kau cintai. Kau bisa menghabisinya jika kau mau nanti," Ucap Vincent.
"Bagaimana dengan Tessa dan anaknya, Nicholas? Kau menyuruhku untuk menculiknya bukan?" Tanya Stella.
"Tidak. Itu urusanku, aku ingin menghancurkan Levin, dan membalaskan dendamku padanya dengan merebut istri dan anaknya," Jawab Vincent yang nampak seperti sedang menahan sebuah amarah.
"Kapan kita akan melakukan itu?" Lagi, Stella bertanya.
"Tidak lama lagi. Aku, Theo, dan Theora sedang menjadi buronan para agent SIO, dan menemukan kita mungkin bukan sebuah kesulitan besar untuk mereka. Kita hanya perlu mempersiapkan mental, dan rencana sebelum kita berjumpa dengan mereka beberapa hari lagi," Jawab Vincent sembari mengedikkan bahunya dengan santai.
"Permisi, Tuan, Tuan Freed sudah tiba," Ucap seorang pria yang menghampiri Vincent.
Tanpa pikir panjang, Vincent pun segera bangkit berdiri, dan diikuti oleh Stella, Theo, Theora, dan para anak buah yang berada di ruangan itu untuk memberikan sambutan penghormatan kepada seorang pria yang bukan lain adalah ayah angkat paling berjasa untuk Vincent.
Tap
Tap
Tap
Langkah kaki itu berjalan mendekat menuju ruangan tujuan.
Tap
Tap
Tap
Seorang pria yang kini telah berdiri di ambang pintu memandang dengan seukir senyum bak seorang mafia kepada semua orang yang berada di ruangan tamu rumahnya tersebut.
"Hallo, Ayah, senang bisa bertemu denganmu kembali," Sapa ramah Vincent sembari menunjukkan tersenyum lebar kepada ayah angkatnya.
"Hallo, Vincent, senang juga bisa bertemu denganmu lagi."
...*****...
*
*
*
*
*
Haii Haii Haii. Aku kembali lagi nih, sesuai janji aku yang gak akan gantungin apalagi sampe kelarin cerita ini gitu aja sebelum tamat π π π Sebelumnya aku minta maaf yang sebesarnya karna udah lama gak up, satu minggu lebih ini aku sibuk banget urus tugas sekolah, dan kemarin kakak aku baru aja abis nikahan, jadi ya kalian tau lah gimana sibuknya di rumah akuπͺ Tapi aku tegasin lagi kalau cerita ini bakal terus aku lanjutin dan gak akan aku gantung. So, palingan up nya aja mungkin yang bakal telat telat, gak kaya sebelumnya karna aku masih ada beberapa ujian akhir yang mesti di selesaikanππ’π
But, sekali lagi aku mau ucapin terima kasih banyak buat para reader dan silent reader yang masih suka baca aku padahal aku gak up lamaπππ huhu sedih loh aku aja Alesha sama Jacob jadi terabaikan, padahal aku sayang banget sama mereka, ibarat mereka itu teman dekat aku yang bisa kasih hiburan kalau aku galau π€§π
Maaf kalau selanjutnya aku masih belum bisa up teratur, tapi cerita ini masih panjang yups. Aku sengaja panjangin ceritanya karna saking sayangnya aku sama Jacob dan Alesha. Bahkan aku aja udah ada plan lain buat mereka. So, sekali lagi terima kasih yang banyak banget dari aku buat kalian yang masih mau ikutin cerita ini meski hanya hitungan jari. Banyak atau enggaknya pembaca, Alesha dan Jacob bakal tetap lanjut yaπ€πππΉπΉπΉ
__ADS_1
(oh ya buat yang punya apk. kuning (NM) boleh lah mampir di cerita baru aku judulnya Ta'aruf Cinta Ali dan Selia, napennya Nona Ale ya π€π)
Terima kasih semuanya, LUV U ALLππππβ€οΈβ€οΈπΉπΉ