
Hari-hari kelabu semakin terasa, hampa, dan dinginnya sang hati membuat hidup seakan tidak berarti. Kehilangan jati diri, dan menjerit sekuat hati sungguh sangat menyakiti. Namun apalah daya sebuah kasih yang kini sedang merindukan cintanya.
Sang pujaan yang entah berada dimana, dan dengan siapa, sedang melakukan apa, dan bagaimana kabarnya. Merindu terus merindu, memendam benalu yang terpaku oleh waktu. Kasih murni tak terganti, tak akan lekang meski tak jumpa. Jacob sudah pasrah, setiap hari ia selalu menangis, dan berdoa. Setiap hari ia selalu bersujud lima waktu ditambah satu tahajud disepertiga malam. Jacob hanya ingin Alesha kembali padanya, ia sudah sangat lelah, berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan telah berlalu. Kenapa? Kenapa tidak ada informasi apapun yang ia dapatkan untuk bisa menemukan Alesha? Dimana Alesha? Apa yang terjadi pada wanita tercinta Jacob itu?
Apa Alesha sengaja bersembunyi darinya? Atau memang ada orang yang sengaja menyembunyikan Alesha? Tapi kenapa?
"Alesha, kau dimana? Aku merindukanmu, sayang," Lirih Jacob sembari mengusap lembut foto istrinya yang tengah berpose cantik didalam bingkai plastik.
"Ini sudah hampir satu tahun, Alesha, hiks. Kau menyiksaku, kau jahat, Alesha," Jacob menempelkan bungkai foto itu pada wajahnya. "Kau menyiksaku, kau jahat, sayang."
Jacob kembali menangis tersedu-sedu. Sepuluh bulan ia telah lalui tanpa berhenti untuk terus mencari wanita kini menjadi ratu dihatinya.
Usaha tak pantang habis, sepuluh bulan tidak mendapatkan apa-apa. Laura sang ibunda pun tidak kembali ke kediaman aslinya di Florida, Amerika Serikat. Wanita paruh baya itu ingin berada disisi anaknya, ia selalu menjadi penenang untuk Jacob setelah Mona pergi untuk mengurus induk perusahaan kembali.
"Sampai kapan aku harus mencarimu, sayang? Hmm? Alesha aku sangat mencintaimu, kenapa kau pergi?" Tangis pelan Jacob kian menjadi seiring tercurahnya ucapan hati.
"Jack..." Suara lembut sang ibunda pun terdengar memenuhi ruang kamar Jacob. Dengan membawa senampan makan malam, Laura pun berjalan mendekati anaknya yang masih mengenakkan sarung dan peci.
Jacob baru saja menuntaskan sholat isya lalu kemudian bermunajat pada Sang Maha Kuasa yang berada di atas Arsy.
"Jack, ini, ibu membawa makanan kesukaanmu," Ucap Laura dengan lembut.
Jacob hanya melirik sekilas tanpa berkomentar.
Makanan itu, makanan yang Laura bawa, seporsi nasi, dan rendang pedas, salah satu makanan kesukaan Alesha.
"Alesha..." Jacob menunduk, membiarkan tetes demi tetes air mata berjatuhan membasahi lantai.
"Jack," Laura menyentuh bahu anaknya. Hatinya begitu terluka, ia sangat tidak tega melihat putranya yang selalu terpuruk karna kehilangan Alesha.
"Ibu, apa lagi yang harus aku lakukan? Aku sangat merindukan Alesha, Bu, aku sangat merindukannya. Hiks, kenapa dia pergi? Apa salahku? Apa karna aku tidak ada disisinya, dan tidak bisa melindunginya saat mansion ini diserang oleh orang-orang asing itu? Kenapa? Kenapa Alesha seperti itu? Aku merindukannya, Bu, hiks, apa ini hukuman yang dia berikan padaku? Dia membuatku terluka, Bu. Aku harus bagaimana lagi, aku sangat merindukannya, hiks hiks."
Laura menghela napasnya. Sepertinya memang sangat berat sekali untuk Jacob, sepuluh bulan bukanlah waktu yang sebentar, dan tidak mudah untuk dilalui dalam keadaan seperti ini. Jacob bersusah payah untuk membuat dirinya tegar, dan terus fokus mencari Alesha, tapi apalah daya hati, dikala malam, dan kesendirian tiba, Jacob akan menangis meratapi nasibnya.
Untung saja kini Jacob bisa berpegang teguh pada keyakinannya. Ia selalu beribadah seperti biasanya diwaktu yang tepat karna dengan begitu hatinya bisa terasa lebih tenang, dan ia juga bisa mencurahkan segala gundahnya pada Allah SWT. Saat sebelum tidur, Jacob selalu mengingat Alesha, dan membayangkan jika Alesha sedang berada disebelahnya. Itu semua Jacob lakukan agar ia bisa tetap bertahan tanpa harus menjatuhkan dirinya seperti saat ia kehilangan Yuna.
Tidak!
Jacob tidak mau seperti itu lagi! Ia gila, dan kehilangan jati diri karna Yuna. Namun Alesha, Jacob tidak mau gila, dan kehilangan jati dirinya. Jacob butuh keutuhan, dan keyakinan dalam jiwanya agar bisa terus melakukan upaya supaya bisa menemukan Alesha.
Cinta Jacob teramat besar, dan ia juga tidak bisa melepas apalagi kehilangan Alesha begitu saja. Maka dari itu Jacob akan terus berjuang sampai ia dapat kembali berjumpa dengan si manis kesayangannya.
"Ibu, apa aku akan bertemu dengan Alesha kembali? Aku sangat mencintainya, Bu, aku tidak mau kehilangannya, kami baru menikah satu tahun lalu, dan kenapa ini semua harus terjadi?"
"Jack, kita akan menemukan Alesha, dia akan kembali pada kita cepat atau pun lambat. Kau yakinlah. Kau mencintainya kan?"
__ADS_1
"Aku sangat mencintai, Alesha, Bu."
"Maka dari itu teruslah berusaha, perjuangankan cintamu, Alesha menunggumu untuk menemukannya, Jack."
"Aku akan menemukannya, Bu. Aku akan membawa dia kembali ke mansion ini!" Tekad Jacob.
"Dia akan kembali, Jack. Ini ujian untuk kalian, kuatlah! Ibu juga akan terus membantumu, ada anak-anak itu yang juga terus membantumu, kita semua membantumu, Jack. Kita akan membawa Alesha kembali ke mansion ini!"
Jacob menghela napasnya ketika mendengar ucapan ibunya barusan.
Ya! Dia tidak sendiri, Jacob tidak sendirian, ada ibunya, ada kedelapan anggota timnya, ada anak buahnya yang setiap hari selalu membantu untuk mencari Alesha.
"Ayo, makanlah dulu, kau butuh banyak tenaga untuk mencari istrimu, Jack!" Laura memberikan senampan makan malam itu pada putranya.
Awalnya Jacob hanya meliriknya, namun setelah beberapa saat ia pun mengambil alih nampan tersebut.
"Rendang pedas," Gumam Jacob sembari menatap sendu pada sepiring makanan yang ada dinampan itu. "Kesukaan Alesha," Jacob tersenyum kecut. "Apa Alesha sudah makan?"
Deg!
Jacob tertegun seketika. Ia baru ingat! Bulan ini adalah bulan kelahiran Alesha. Buru-buru Jacob melihat tanggal pada ponselnya.
"Besok," Gumam Jacob, pasrah.
Jadi, hari ulang tahun Alesha akan jatuh pada esok hari ya? Cepat sekali. Tidak terasa sepuluh bulan berlalu begitu saja tanpa kehadiran sang istri, jatuh bangun Jacob menguatkan hati, dan dirinya.
Kemudian Jacob mengaktifkan ponselnya untuk melihat foto Alesha dalam galeri digitalnya.
Seukir senyum terbentuk seketika kala Jacob memandangi si manis kesayangan yang tengah berpose bebas di tepi pantai.
"Selamat ulang tahun yang kedua puluh dua, sayangku. Cepatlah kembali, aku sangat merindukanmu, My Lil Ale."
"Ibu akan kembali ke kamar, Jack, jangan lupa makan makanan yang sudah ibu bawa," Ucap Laura sembari menepuk bahu putranya.
Jacob hanya mengangguk pelan. Lalu setelah itu, Laura pun bangkit berdiri.
"Ibu mencintaimu, Jack."
Cup..
Satu kecupan penuh kasih sayang mendarat pada kening Jacob ketika ibunya itu menciumnya.
"Kuatlah! Kami bersamamu!" Setelah mengucapkan itu, kedua kelopak mata Laura berubah menjadi basah, dan kemudian ia pun pergi meninggalkan anaknya dengan kesedihan yang menyayat hatinya.
"Maafkan ibu, Jack. Ibu masih belum bisa menemukan Alesha, tapi ibu akan terus berusaha agar kau bisa tersenyum bahagia kembali. Ibu sangat mencintaimu, Nak, hiks," Lirih Laura yang kini bersandar dibalik pintu kamar anaknya.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamarnya Jacob masih tersenyum lemah. Satu persatu ibu jarinya menggeser layar ponselnya untuk melihat foto-foto Alesha yang tersimpan banyak sekali dalam galeri benda pipih itu.
"Cantik," Jacob mencium salah satu foto istrinya yang sudah ia zoom supaya bisa lebih dekat lagi memandang kecantikan natural yang sangat memikatnya. "Kau sangat manis, Alesha. Bahkan satu hari setelah kita berkenalan kau langsung membuatku tertarik."
Kemudian Jacob menggeser kembali layar ponselnya.
Tebing pantai sisi Timur yang berada dekat dengan gerbang WOSA. Di sana lah foto itu diambil. Tepatnya pukul lima lewat Alesha meminta Jacob untuk memfotonya meski saat itu cuaca sedang mendung.
Momen yang manis. Kapan kira-kira Jacob bisa seperti itu lagi bersama istrinya?
"Sayang? Kau sedang apa? Aku merindukanmu, Lil Ale," Lirih Jacob. Senyumnya yang tadi kini telah berubah kembali. Kesedihan terlihat jelas pada raut wajah pria itu.
"Alesha, apa kau tidak merindukanku? Sepuluh bulan kita berpisah. Aku masih mencintaimu, Alesha. Bahkan ketika kau pergi meninggalkanku tanpa kabar, aku tetap mencarimu dengan harapan besar kalau aku bisa membawamu kembali ke rumah ini, sayang."
"Kau berkali-kali memohon padaku supaya aku tidak meninggalkanmu, tapi pada kenyataannya apa? Kau yang meninggalkan aku, Al. Apa salahku?"
"Aku tidak akan menyerah, Alesha. Aku akan menemukanmu, kita harus kembali bersama. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kita apapun itu ujiannya, meski aku harus berjuang sendirian. Selagi dalam hatimu masih terdapat namaku, aku tidak akan pernah menyerah. Aku sangat percaya kau masih hidup, aku percaya kau belum meninggalkanku ke dunia lain, aku sangat yakin karna masih banyak hal yang belum kita lalui bersama dalam rumah tangga ini."
Terakhir, Jacob pun mengembangkan senyumannya kembali. "Kau tahu aku sangat mencintaimu, Alesha. Aku saja bisa menaruhkan nyawaku untuk menjaga, dan melindungimu, kenapa aku tidak bisa mengorbankan kesabaran, dan usahaku untuk menemukanmu? Tunggulah, cepat atau lambat kita pasti akan bertemu, sayang."
Sesungguhnya sangat menyakitkan apa yang Jacob rasakan saat ini, namun tekadnya itulah yang membuatnya bisa tetap kuat, dan bersabar. Keyakinan, doa, dan usaha. Jacob percaya dengan apa yang sudah, sedang, dan akan ia lakukan pasti membuahkan hasil yang terbaik, yaitu menemukan juga mendapatkan Alesha kembali.
Jacob harap dirinya bisa terus bertahan, dan bersabar. Ia boleh terpuruk, ia boleh menangis, tapi tidak untuk menyerah, dan kehilangan jati diri.
"Aku bisa! Aku kuat, dan aku akan melewati ini semua dengan usaha, dan kesabaran!" Tekad Jacob sembari memejamkan kedua matanya.
"Ya Allah, beri aku ketenangan, kesabaran, dan kekuatan lebih, bimbinglah aku di jalanmu," Jacob menarik napasnya dalam-dalam. "Alesha, aku tidak akan menyerah. Aku tahu ada masa depan yang indah untuk kita, sayang."
Jacob menghembuskan napasnya dengan perlahan.
Tenang....
Itu yang Jacob rasakan saat ini. Lalu setelah itu, seukir senyum pun kembali mengembang diwajahnya.
"Kau mau makan, sayang? Ibu membawakanku nasi, dan rendang pedas kesukaanmu," Jacob mengajak bicara foto istrinya yang masih terpampang pada layar ponselnya.
"Apa kau sudah makan, Lil Ale? Jaga dirimu sampai aku menemukanmu, Peri Kecil. Aku sangat mencintaimu."
Jacob memasukan sendok yang sudah terdapat nasi, dan potongan kecil daging rendang ke dalam mulutnya.
"Ini enak, Al. Aku yakin kau akan menjadikan daging rendang ini sebagai camilan malammu jika saja kau ada di sini.
Meski hanya kekosongan yang dapat mendengarnya, Jacob tetap mengajak bicara foto Alesha seakan ia sedang berbicara langsung bersama istrinya itu. Sampai pada akhirnya Jacob beres menghabiskan sepiring makan malamnya, kemudian ia meneguk segelas air mineral, dan setelah itu ia langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur sembari memeluk Baby Ale.
__ADS_1
"Aku akan tidur, sayang," Jacob mencium lembut foto istrinya. "Selamat malam, Alesha, dan selamat tidur, manisku."