Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Pencurian


__ADS_3

Kurang lebih setengah telah jam berlalu, kakek Ujang pun telah kembali ke ruang keluarga bersama Taylor.


"Kakek, gimana? Ada apa?"


Pertama-tama kakek Ujang mengambil tempat untuknya dapat terduduk di sebelah cucunya, Alesha, lalu kemudian ia pun mulai bercerita.


"Ada yang suka sama Alshiba, udah gitu kan eneng juga baru abis ngelahirin, jadi wanginya ngundang, Neng. Jadi, sebelum ada rumah ini, di sini tuh udah lebih dulu di tempatin sama sosok cewe yang meninggal bunuh diri karna kehilangan anaknya. Kebetulan ada bayi, makanya dia suka, Neng."


"Astagfirullah....." Mendengar itu, tubuh Alesha lemas seketika. Ia tidak menyangka jika mansion yang ditinggalinya itu dulunya adalah sebuah lahan, dan rumah bagi sosok hantu wanita yang bunuh diri karna kehilangan bayi.


"Kenapa, Al?" Jacob menangkup wajah istrinya yang terlihat lusuh.


"Ada sosok hantu wanita yang suka sama Alshiba. Dia udah tinggal di tempat ini dari sebelum mansion ini dibangun, Jack, dia bunuh diri karna kehilangan bayinya," Jelas Alesha dengan sangat lirih.


"Apa? Ada hantu wanita yang suka dengan Alshiba?" Pekik Laura. "Bagaimana bisa?"


"Kakek dapet namanya gak, kek?" Tanya Alesha pada kakeknya.


"Belum, kakek belum dapet namanya, Neng."


"Tapi dia ada di kamar sekarang kan?" Tanya Alesha, lagi.


"Iya. Sebenernya dia gak niat buat ganggu, Neng, cuman kehadiran Alshiba di sini buat dia inget sama bayinya," Jawab Kakek Ujang. "Selama ini dia gak pernah ganggu kalian yang ada di mansion ini kan?" Lanjut kakek Ujang yang balik bertanya.


Alesha menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Itu karna dia emang gak ada niat buat ganggu, apalagi jahil, cuman dia emang suka sama Alshiba karna Alshiba ngingetin dia sama bayinya, Neng."


"Huufffttt....." Alesha menghembuskan napas panjang. Ia masih antar percaya, dan tidak percaya kalau memang ada sosok hantu wanita yang menyukai anaknya, Alshiba. Tapi kakek Ujang sudah berkomunikasi bersama hantu itu tadi lalu menyampaikannya pada Alesha.


"Al..." Panggil Jacob ketika Alesha bersandar pada tubuhnya.


"Jack, nanti pas sholat tolong bacain doa buat penunggu di sini, khususnya hantu cewe itu," Lirih Alesha. "Dan kalau bisa besok malem kita adain syukuran deh buat mansion ini."


"Yaudah, Eneng istirahat dulu aja sekarang sama Alshiba, biar kakek mau ambil wudhu trus berdoa di kamar eneng ya sambil nunggu waktu sholat subuh nanti," Ucap kakek Ujang.


Alesha hanya mengangguk pelan. Ia sungguh merasa kasihan pada bayinya, Alshiba.


"Al..." Jacob mengelus wajah istrinya.


"Jack, tidak apa-apa kan kalau kakek di kamar kita dulu sampai pagi, dia akan berdoa, dan mengaji di sana," Ucap Alesha, pelan.


"Iya, tidak apa-apa," Jacob mengangguk.


Selepas mendapat persetujuan dari Jacob, kakek Ujang pun segera pergi menuju kamar cucunya itu untuk membacakan doa, dan juga mengaji.


...*****...


Pagi harinya, sekitar pukul delapan, mansion Jacob, dan Alesha pun kedatangan seorang tamu pria yang lagi, dan lagi adalah orang suruhan SIO.


Niat pria itu adalah untuk meminta, dan menjemput Jacob agar mendatangi kantor SIO itu juga.


Tetapi karna merasa khawatir pada Alshiba, dan Alesha, Jacob akhirnya menolak. Bagaimana juga Alesha, dan Alshiba adalah prioritasnya saat ini, dan Jacob tidak mau meninggalkan bayinya yang malam tadi mendapatkan gangguan dari mahluk halus.


Namun berbeda dengan Alesha, ia yang mengetahui hal itu malah memberikan izin pada suaminya untuk pergi.


"Tidak apa, Jack, ada kakek di sini, Alshiba juga kan sudah tidak menangis, dan rewel lagi," Ucap Alesha.


"Tidak, Al! Aku tidak mau! Aku takut terjadi sesuatu pada Alshiba, dan kau, Al!" Balas Jacob.


"Alshiba tidak apa-apa, aku juga tidak apa-apa. Kalau terjadi sesuatu juga aku pasti akan langsung menghubungimu, Jack. Sekarang pergilah, pasti ada sesuatu yang sangat penting hingga SIO menyuruh seseorang untuk menjemputmu."


"Tapi kalian lebih penting untukku! Aku tidak mau meninggalkan kalian disaat seperti ini!" Jacob menggelengkan kepalanya.


"Jack, kau menerima tawaran SIO, otomatis kau juga pasti akan pergi meninggalkan aku, dan Alshiba untuk menjalankan tugasmu entah itu dalam keadaan apapun. Jadi, sekarang pergilah, pasti ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan."


Jacob diam saat Alesha membalas ucapannya. Memang benar juga Alesha, Jacob sudah menerima tawaran SIO untuk ikut memberantas kelompok mafia, dan tentunya ia juga akan meninggalkan istri, dan anaknya demi menjalankan tugas itu.


"Pergilah, aku, dan Alshiba tidak akan kenapa-kenapa. Lagi pula aku bisa tenang karna ada kakek di sini. Dia bisa berkomunikasi dengan hantu itu, dan semoga saja kakek bisa mengantarkan hantu itu untuk pergi, atau ya setidaknya tidak usah mengganggu Alshiba lagi."


"Kau yakin, Al?" Jacob menangkup wajah istrinya.


"Iya, Alshiba tidak apa-apa, oh ya belum lagi nanti juga kan ada Ustadz Fariz yang akan ke sini," Balas Alesha.


"Ustadz Fariz akan ke sini?" Jacob mengerutkan keningnya.


Alesha mengangguk. "Iya. Aku menghubunginya tadi, dan memintanya untuk datang ke sini supaya nanti malam dia bisa memimpin acara syukuran malam ini."


Sejenak Jacob berpikir untuk melakukan pertimbangan.


Pergi....


Jangan....


Pergi....


Jangan....

__ADS_1


Pergi....


"Baiklah, tapi jika terjadi sesuatu kau WAJIB! memberitahuku!"


"Iya, sayang," Alesha menyentuh lembut pipi suaminya.


Otomatis Jacob pun langsung dibuat blushing karna perlakuan manis istrinya itu.


"Katakan lagi," Pinta Jacob dengan wajah yang menggoda.


"Iya, Saa yaanngg...." Tiba-tiba saja tubuh Alesha terlonjak ketika Jacob memberikan ciuman yang cukup mendadak.


"Ck! Jack, kau ini!" Alesha menatap tajam pada suaminya. "Malu tahu!" Alesha berjinjit, dan berbisik dengan nada yang menekan pada suaminya. "Orang suruhan SIO itu melihatnya!"


"Memangnya kenapa?" Goda Jacob.


"Ish, sudahlah! Mending kau cepat pergi bersama orang SIO itu!" Alesha mendengus lalu membalikkan tubuhnya untuk kembali ke kamar Laura tempat Alshiba sedang tertidur saat ini.


Tetapi belum sempat Alesha melangkah, Jacob malah menarik lengannya lalu membalikkan tubuhnya.


"Aku mencintaimu, Lil Ale."


Cup... Cup... Cup...


Tiga ciuman yang Jacob daratkan pada pipi, bibir, lalu pipi Alesha lagi sukses membuat ibu muda itu tersipu malu.


"Assalamualaikum, Manis," Setelah itu, Jacob pun pergi meninggalkan istrinya untuk pergi bersama pria utusan SIO itu untuk berangkat menuju kantor SIO.


Alesha masih mematung di tempat sembari tersenyum malu-malu.


Huh, dasar Jacob! Begitulah hal yang terakhir diucapkan oleh pikirannya.


...*****...


Pukul 08.55 WIB


Levin telah tiba di Bandung sejak beberapa jam lalu. Ia bersama beberapa agent SIO yang lain kini berada di kantor SIO, tepatnya di ruang rapat berukuran sedang.


Di dalam ruangan rapat itu bukan hanya ada Levin, dan beberapa agent SIO saja, melainkan Jacob sudah tiba, lalu Danish, juga Aldi, dan Rendi yang turut diberikan perintah untuk ikut bersama Jacob untuk mencari, dan menyerang markas tersembunyi kelompok mafia yang diketuai oleh Theo itu.


"Salah satu mata-mata SIO telah berhasil mendapatkan gambar wajah seorang pria yang beberapa hari ini memata-matai SIO," Ucap Laras, selaku kepala kantor cabang SIO tersebut. "Jack, aku ingin kau meretas kamera CCTV jalan raya yang dilewati oleh mobil yang pria itu tumpangi. Deteksi wajahnya, lalu cari tahu informasi tentang markas mereka di Indonesia!"


Jacob hanya mengangguk kecil sebagai balasannya.


"Dan Levin, Mr. Frank bilang kalau untuk sementara waktu kau berjaga dulu di sini hingga Jacob mendapatkan informasi mengenai kelompok mafia itu.


Laras membalikkan tubuhnya, dan menatap cukup lama pada Aldi. "Mr. Frank belum memberikan perintah apapun selain yang aku beritahu tadi."


"Laras, SIO menaruh sampel virus itu di sini?" Tanya Jacob.


"Iya, beberapa pegawai laboratorium, dan beberapa profesor sedang mencoba untuk membuat vaksin agar bisa membunuh virus tersebut," Jawab Laras sembari mendudukkan tubuhnya pada bangku yang terletak dibagian ujung meja rapat. "Sementara profesor Hans belum ditemukan, SIO masih berusaha untuk mencari vaksin yang tepat, Jack."


"Sebenarnya apa rencana kelompok mafia itu, Laras?" Rendi menatap intens pada Laras.


"Mereka ingin menjatuhkan perekonomian global lalu membangkitkan bisnis mereka," Jawab Laras.


"Maksudmu?" Kini Levin melayangkan tatapan bingung pada Laras.


"Mereka menculik Profesor Hans untuk mendapatkan sampel vaksin dari virus yang baru saja SIO buat. Tetapi mereka tidak akan membuat vaksinnya secara utuh," Laras menjeda ucapannya sesaat. "Bahan-bahan dasar dari vaksin yang sudah Profesor Hans temukan itu akan dijadikan obat-obatan biasa. Jadi mereka bisa meraup keuntungan lebih besar lagi untuk bisnis jual beli obat-obatan mereka."


Laras baru sadar kalau beberapa pria yang ada di dalam ruang rapat itu menatapnya dengan ekspresi bingung.


Mungkin penjelasannya kurang jelas.


"Jadi begini, virus XXX adalah virus jenis baru yang baru saja SIO buat untuk bahan penelitian. Virus itu bisa menular dengan sangat cepat, dan memiliki beberapa gejala yang cukup menyusahkan memang, tetapi virus itu tidak tergolong ganas jika yang terinfeksi segera mendapatkan penanganan dari vaksin, kecuali setelah enam bulan jika virus itu dibiarkan bersarang dalam tubuh manusia, maka risiko kematian bisa mencapai lima puluh persen. Dan Theo, dia berusaha untuk mendapatkan virus itu untuk sengaja disebarkan keseluruh penjuru dunia. Otomatis virus itu akan mewabah menjadi pandemi, dan tentunya hal itu dapat menjatuhkan beberapa saham perusahaan dunia, dan ketika perekonomian global goyah karna wabah virus itu, Theo akan memanfaatkan kesempatan untuk menjual obat-obatan yang sementara waktu bisa digunakan untuk melawan virus itu, meski sebenarnya vaksinnya sendiri sudah ditemukan."


"Jadi Theo tidak akan membuat vaksinnya, melainkan dia akan membuat obat-obatan dari bahan-bahan yang merupakan bahan dasar dari vaksin tersebut?" Potong Danish.


"Benar!" Laras menjentrikkan jarinya.


"Owh, aku paham! Jadi Theo memang sengaja ingin membuat sampel obat-obatan untuk dijual keseluruh dunia agar bisnisnya bisa berjalan lancar!" Seru Aldi.


"Tapi kenapa dia tidak langsung membuat vaksinnya saja?" Tanya Rendi yang masih belum terlalu paham.


"Ya karna jenis obat-obatan yang dibuat untuk melawan virus itu akan berbeda jenis, tentunya hal itu akan membuat bisnis Theo melesat karna menjual lebih dari satu jenis obat. Benar bukan, Laras?" Jacob melirik malas pada kawannya, Laras.


"Yaps!" Laras mengangguk.


"Owh, aku mengerti sekarang! Berarti memang Theo tidak berniat untuk membuat vaksinnya agar ia bisa menjual lebih dari satu jenis obat-obatan supaya bisnisnya bisa berjalan lancar!" Ucap Rendi yang sudah paham.


"Ya, seperti itu. Eve yang mengatakannya padaku," Ucap Laras.


"Theo memang licik! Dia berniat untuk membuat manusia di bumi ini memohon padanya untuk dibuatkan obat-obatan yang memperlambat kesembuhan seseorang dari virus itu, dan bahkan belum tentu orang yang terinfeksi virus itu akan sembuh," Ucap Levin yang terdengar malas.


"Kau benar, Levin, semakin lama orang yang terinfeksi virus itu sembuh, maka semakin banyak juga obat-obatan yang dijual, dan tentunya hal itu semakin membuat Theo mendapatkan kekayaan lebih dari bisnisnya," Sambung Danish.


"Maka dari itu SIO menjaga ketat laboratorium WOSA, karna virus itu berasa dari sana, dan sekarang SIO juga sudah mengirimkan sampel virus itu ke sini untuk diteliti agar bisa mendapatkan vaksin yang tepat," Ucap Laras.

__ADS_1


"Tapi kita juga harus segera membawa Profesor Hans kembali, aku khawatir Theo akan membunuhnya setelah mendapatkan bahan dasar dari vaksin itu," Ucap Rendi.


Saat percakapan yang cukup serius tengah dilakukan, tiba-tiba saja semua yang ada dalam ruang rapat itu tersentak, dan tertegun. Tidak! Bukan hanya di ruang rapat itu, melainkan semua orang yang berada di dalam kantor besar bawah tanah itu langsung dibuat terkejut karna timbulnya suara alarm kencang yang merupakan pertanda jika ada penyusup yang memasuki ruangan laboratorium khusus.


Brak....


Laras menghentakkan telapak tangannya pada permukaan meja.


"Ada yang menyusup ke dalam ruang laboratorium khusus!"


Tanpa banyak berpikir lagi Laras pun bangkit, dan berlari disusul yang lain yang ada di dalam ruang rapat itu.


Sementara itu....


"Beritahu pada Theo kalau aku berhasil mendapatkan virusnya! "


Seorang pria berbicara melalui alat kecil yang terpasang pada telinganya. Langkah pria itu besar, dan cepat. Ia harus buru-buru keluar dari kantor SIO mengingat saat ini ada Jacob, Levin, dan beberapa agent hebat lain yang tengah berdiskusi di ruang rapat.


Pria itu berlari melompati meja, bangku, dan segala hal yang menghalangi jalannya. Beberapa penjaga pun berhasil ia lewati dengan mudah berkat kemampuan bela dirinya.


"Tutup semua pintu keluar!!" Teriak Laras pada salah satu penjaga.


"Tunggu!!" Tiba-tiba saja Levin menghentikan langkahnya, dan membuat yang lain juga ikut berhenti berlari.


Levin menatap awas pada sekitarnya selama beberapa saat. Entah kenapa Levin merasa ada sesuatu yang janggal diantaranya juga yang lain.


Lalu sepersekian detik kemudian.....


"MUNDUR!!!" Pekik Levin, dan...


DUAR!!!!!


Sebuah ledakan pun terjadi hingga membuat Jacob, Levin, Laras, dan yang lain terpental ke belakang.


"Huh, rasakan kalian!" Pria yang mencuri sampel itu menyunggingkan smirk meledeknya sembari melirik ke arah belakang. Kemudian ia pun membuang sebuah remot kecil yang ia gunakan untuk meledakkan sebuah bom, lalu ia kembali berlari secepat mungkin.


"Argh!! Sialan!!!" Umpat Levin sembari meringgis menahan sakit pada punggungnya yang menghantam lantai dengan keras.


"Apa itu tadi?" Tanya Danish yang juga sama-sama menahan sakit disekujur tubuhnya akibat terpental.


"Kau baik-baik saja, Danish?" Tanya Laras sembari menghampiri suaminya, Danish dengan tertatih.


"Aku baik-baik saja, lalu bagaimana denganmu?" Tanya balik Danish.


"Aku tidak apa-apa, hanya punggungku saja yang sakit," Jawab Laras sedikit meringgis.


Disaat yang sama pula beberapa penjaga SIO tiba lalu menghampiri, dan membantu Jacob juga yang lain.


"Ada seorang pria yang berhasil membawa kabur salah satu sampel virus XXX," Ucap penjaga itu.


"APA??" Pekik Laras, dan yang lain secara bersamaan.


"Kita harus segera menangkap pria itu sekarang juga!" Ucap Aldi yang langsung membalikkan tubuhnya, dan kembali berlari untuk mengejar pria yang sudah mengambil sampel virus XXX itu.


Disusul, Levin, Jacob, dan Rendi, kecuali Danish karna Laras terlebih dahulu menahan suaminya itu.


"Kau ikut bersamaku!" Ucap Laras yang langsung menarik lengan suaminya


...*****...


Berbeda dengan Theo, pria itu sedang terduduk menyilang begitu santai. Sebelah lengannya mengetuk-ketuk pinggiran sofa, sedangkan sebelah lengannya yang lain menggenggam sebuah gelas kaca yang berisi teh favoritnya.


Theo menyeringai puas. Akhirnya pria suruhannya itu berhasil mendapatkan sampel virus baru milik SIO.


"Theo, Theora sudah berangkat menuju Indonesia," Ucap Wili yang memasuki ruang si ketua mafia itu.


"Bagus, katakan padanya untuk membawakan virus itu padaku!" Balas Theo yang masih menyeringai.


"Tapi, Theo, SIO pasti akan memburu kita," Ucap Wili yang terdengar khawatir.


"Itu pasti," Theo menaruh gelas yang ia genggam sejak tadi lalu berjalan menghampiri Wili. "Kita akan menjadi buronan SIO itu pasti, tapi aku tidak akan membiarkan SIO menghancurkan rencanaku," Bisik Theo.


"Perintahkan anggotaku yang ada di Indonesia untuk pindah tempat!" Kini tatapan tajam pun Wili terima dari Theo.


"Baiklah," Wili hanya menggangguk patuh.


Setelah itu Wili melangkah pergi, dan Theo kembali mengukir seringai liciknya.


...*****...


*


*


*


Holla gaess, huhu author cuman mau kasih tau ya kalau cover sama judulnya sengaja aku ubah karna biar bisa selaras sama isi cerita ini๐Ÿค—๐Ÿค— huhu maaf ya atas ketidak enakan, dan keplim planan author ini๐Ÿ™๐Ÿ˜Œ Dan juga makasih banyak buat yang udah mampir baca, like, komen, and kasih rate ๐Ÿ™๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2