
Malam terasa begitu menegangkan bagi seorang dokter, dan beberapa perawat yang kini berada di dalam ruang tindakan. Mereka bergerak dengan sangat cepat, dan tepat untuk menangani Alesha yang tubuhnya sudah kritis karna kehilangan banyak darah.
Gegar otak.
Itulah yang terjadi pada Alesha. Kepala bagian belakangnya mengalami benturan hebat dengan lantai karna ulah Dirga.
Rangga, itu adalah nama pria yang menyelamatkan Alesha, dan juga kakak angkat Alesha. Rangga juga yang selama ini selalu mengirimkan buket bunga beserta pesan untuk berwaspada, dan berhati-hati yang tertulis pada kartu ucapan.
Ceklek...
Setelah kurang lebih satu jam, Rangga pun mendapati pintu ruang tindakan yang di dalamnya terdapat Alesha kini terbuka.
"Dok, gimana?" Tanya Rangga yang terlihat begitu cemas.
"Pasien mengalami cedera kepala yang cukup berat. Keadaannya kritis saat ini, kami tidak bisa memastikan kapan pasein bisa pulih," Jawab dokter tersebut. "Berdoa adalah jalan terbaik untuk sekarang, kami sudah melakukan semaksimal yang kami bisa."
Lemas....
Itu yang Rangga rasakan setelah mendengar penjelasan dari dokter yang menangani Alesha.
Telat!
Rangga telat! Ia sadar ia sudah lalai menjalani tugasnya.
"Bapak, Rangga minta maaf, Rangga gak bisa jaga adik Rangga dengan baik," Lirih Rangga sembari mendudukan tubuhnya kembali dikursi panjang yang berada disebelahnya.
Rangga sendiri adalah anak angkat dari kedua orang tua Alesha. Ia adalah seorang yatim piatu yang biasa memulung, ia ditemukan oleh bapak angkatnya ketika ia sekarat dijalanan karna dihajar oleh lima preman, saat itu usianya baru menginjak sebelas tahun, dan Alesha juga belum lahir atau lebih tepatnya masih berada di dalam kandungan uminya. Lalu, sebagai tanda balas budi, Rangga bersedia untuk menjadi pelayan dari bapak angkatnya itu, dan seiring berjalannya waktu, akhirnya Rangga pun diangkat menjadi anak oleh bapak Alesha.
Rangga menghela napasnya ketika ia ingat pesan terakhir sebelum bapak angkatnya itu meninggal dalam kecelakaan mobil yang diulahi oleh Mack.
"Jaga adikmu dari Dirga, bapak khawatir setelah Dirga keluar dia akan langsung mengincar Alesha untuk membalaskan dendamnya."
Pesan itu Rangga dapatkan beberapa hari sebelum bapak angkatnya meninggal. Rangga adalah salah satu agent intelegent negara juga orang kepercayaan bapak Alesha, ia juga orang yang turut ikut dalam kasus penjeblosan Dirga, dan Mack ke dalam penjara.
Keberadaan Rangga tidak pernah diketahui oleh anggota keluarga Alesha, hanya bapak, dan uminya saja yang tahu, bahkan Alesha saja tidak tahu kalau ia memiliki kakak angkat.
Setelah kepergian kedua orang tua angkat yang begitu dicintainya, Rangga selalu mengawasi Alesha dari jarak jauh, itu pun hanya sesekali mengingat ia adalah seorang agent intelegent, dan terikat kontrak pekerjaan dengan negara.
Sekitar beberapa bulan Rangga pernah dibuat panik karna kehilangan informasi tentang Alesha, namun akhirnya ia pun tahu jika ternyata Alesha sudah berhasil lolos untuk masuk ke dalam salah satu academy rahasia yang dibuat oleh SIO, yaitu WOSA.
Seberkas rasa bangga membuat Rangga bahagia karna tahu jika adik angkatnya itu ternyata mampu masuk dalam organisasi tertutup yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu, dan pihak pemerintahan di negara-negara besar saja.
Rangga bahkan tidak menyangka jika Alesha bisa menikah dengan Jacob, salah satu agent intelegent terbaik milik SIO.
Rangga tahu Jacob? Tentu saja. Beberapa kali Rangga ikut bersama bapak angkatnya ke kantor SIO untuk mengurus tugas kenegaraan, dan beberapa kali juga Rangga berjumpa dengan Jacob, Eve, Levin, dan agent SIO yang lainnya.
__ADS_1
Tapi kali ini, Rangga sungguh kecewa terhadap dirinya sendiri. Ia tidak bisa menjaga Alesha, karna kelalaiannya Alesha jadi sekarat, dan keponakannya juga menjadi korban dari lampiasan dendam Dirga.
Namun, jika saja Rangga memiliki kesempatan untuk menjaga, dan melindungi Alesha lagi, maka Rangga tidak akan pernah mensia-siakan kesempatan itu. Rangga akan lakukan apapun demi bisa menjaga keselamatan adik tersayangnya. Bahkan hal yang seharusnya tidak boleh ia lakukan pun akan ia lakukan demi Alesha, demi memastikan keamanan hidup Alesha dari musuh-musuh bapaknya.
Rangga sudah bertekad untuk menjaga adik perempuannya itu sebagai bentuk balas budi atas apa yang sudah bapak angkatnya lakukan, dan berikan padanya.
...*****...
Malam berganti malam, hari berganti hari, minggu pun turut silih berganti, waktu saling berselisih menentukan yang terbaik, memperlambat atau mempercepat. Sepertinya tidak dua-duanya karna tidak ada gunanya juga, semua seakan percuma, dan sia-sia.
Hari demi hari hanya diisi oleh teriakan, dan kegilaan lama yang kembali menerpa diri seorang pria malang yang kini kehilangan anak beserta istri tercintanya.
Bahkan sang kakak perempuan pun menangis histeris karna menyaksikan mental adiknya yang kembali tersiksa. Mona, dia tidak berhenti menangis saat melihat adiknya, Jacob yang menggila seperti saat dimana pria itu kehilangan kekasihnya, Yuna.
Ya. Jacob kembali jatuh pada titik dimana ia pernah kehilangan Yuna beberapa tahun yang lalu.
"ALESHA!!!!!!"
Itulah yang setiap hari didengar oleh para penghuni mansion kala Jacob menggila di dalam kamarnya.
Tetes demi tetes tangisan terus bercucuran dari dalam kelopak mata orang-orang terdekat Jacob. Usaha untuk menemukan Alesha bahkan terus dikerahkan. Aiden, dan Lucas yang pandai dalam retas meretas ternyata masih kurang mampu untuk menemukan keberadaan Alesha, hingga Laura mesti mengerahkan peretas terbaik diperusahaannya untuk bisa menemukan menantunya yang menghilang dari beberapa minggu yang lalu.
Sama halnya dengan Dirga, ia pun langsung ikut menghilang setelah membunuh semua anak buahnya yang terkapar di lantai. Dirga tidak mau sampai rahasianya yang menyerang mansion Jacob, dan Alesha dapat terbongkar. Oleh sebab itu, ia pun menembaki seluruh anak buahnya hingga tidak ada satu pun yang tersisa hidup.
"Hiks, Jack, tenanglah, Jack, jangan seperti ini hiks hiks," Ucap Mona yang menangis histeris sembari terus memeluk erat tubuh adiknya yang meronta-rona seperti orang kehilangan akal.
Ya, disaat seperti itu memang hanya Mona lah satu-satunya yang mampu mendekati, dan menenangkan Jacob. Kedekatan mereka membuat mereka selayaknya sepasang ibu, dan anak. Dulu ketika Jacob gila karna kehilangan Yuna, Mona lah yang selalu berada disisinya, dan menguatkannya. Itulah sebab mengapa saat ini kehadiran Mona sangat dibutuhkan oleh Jacob.
"Jack, aku tahu kau sangat depresi, dan frustasi, tapi tolong kau harus tenang, Jack, hiks hiks."
"BAGAIMANA AKU BISA TENANG! ALESHA PERGI! DIA MENINGGALKAN AKU! AKU TIDAK BISA SEPERTI INI, MONA!!" Teriak Jacob sembari menjedoti kepalanya sendiri pada tembok.
"Tidak, Jack, hiks, dia tidak meninggalkanmu, Alesha tidak meninggalkanmu, dia ada disuatu tempat, dan kita akan segera menemukannya, Jack, hiks."
"SUDAH BERAPA MINGGU KALIAN MENCARINYA! SUDAH BERAPA MINGGU ALESHA MENGHILANG? HARUS SAMPAI KAPAN AKU MENUNGGU? DIA MENINGGALKAN KU!"
"Jack, pikiranmu kalut, tenanglah, Alesha mencintaimu, dia tidak akan mungkin meninggalkanmu, hiks, kau mencintainya bukan? Kau sangat mencintainya kan? Seharusnya kau berusaha untuk mencarinya, Jack, hiks! Jangan buat dirimu seperti ini, aku mohon, hiks, aku mohon, Jack, kita sama-sama mencari Alesha, kita akan menemukannya, Jack," Dengan sekuat tenaga Mona membawa tubuh adiknya menjauhi dinding.
"Aku sudah bersabar, aku sudah mencarinya, aku sudah menguatkan diriku sebisa mungkin selama berminggu-minggu, aku tidak mau seperti ini, tapi aku benar-benar tidak bisa jika Alesha harus menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikit pun, aku sangat merindukannya, Mona, aku sangat ingin bertemu dengannya, aku ingin melihatnya, Mona.... " Jacob merosot ke lantai. Tubuhnya melemah. Ia mulai menangis dipelukan kakaknya.
Jacob sungguh tidak sanggup. Dua bulan lebih ia berupaya memfokuskan dirinya untuk mencari keberadaan Alesha, mencegah dirinya untuk tidak mengalami depresi, dan mengalahkan keftustasiannya agar tidak gila kembali. Namun sudah dua minggu terakhir ini, Jacob menyerah pada dirinya sendiri. Sedikit demi sedikit siksaan kelam yang pernah menerpa dirinya kini kembali lagi menjajah mentalnya.
"Aku merindukannya, Mona, aku sangat merindukan Alesha, aku ingin dia kembali padaku, hiks..." Jacob menenggelamkan dirinya kedalam pelukan hangat kakaknya.
"Dia akan kembali padamu, Jack, percayalah, hiks, jangan seperti ini. Kita harus terus berusaha untuk mencari Alesha, hiks.." Mona pun mengelusi punggung jenjang Jacob untuk memberikan ketenangan pada adiknya itu.
__ADS_1
"Bagaimana jika dia meninggalkan aku seperti Yuna? Aku tidak mau itu terjadi. Tiga tahun aku bersama Yuna, dan aku kehilangan dia untuk selamanya, tiga tahun pula aku bersama Alesha, apa harus aku kehilangannya juga? Hiks, Mona aku harus bagaimana?"
"Alesha tidak akan meninggalkanmu, aku percaya itu, dia sangat mencintaimu, Jack, dia tidak akan meninggalkanmu, hiks."
"Aku sangat merindukannya, hiks, Alesha kau dimana? Kau dimana, Lil Ale? Hiks..."
Laura, bersama Maudy, Nakyung, dan Merina hanya mampu berdiri di ambang pintu sembari menangis tersedu-sedu. Jacob terlihat begitu lemah karna ditinggal tanpa jejak oleh Alesha, namun saat ini yang bisa dilakukan adalah usaha, usaha, dan usaha. Mereka harus menemukan Alesha! Mereka kasihan, dan merasa sangat prihatin dengan diri juga mental Jacob.
"Kita harus menemukan Alesha secepatnya, hiks," Lirih Laura. Wanita paruh baya itu tidak mampu berkata apa-apa lagi. Ia hanya bisa menangis sedih menyaksikan keadaan anak lelakinya yang sangat kacau saat ini.
"Nyonya, petugas kepolisian tidak bisa menemukan bukti siapa orang yang membunuh orang-orang jahat itu karna hanya ada bukti tembakan-tembakan saja yang ditemukan oleh pihak kepolisian, mereka tidak menemukan sidik jari sama sekali," Ucap Taylor yang datang menghampiri Nyonya Besarnya, Laura. "Semua CCTV yang di ada mansion ini mati, bahkan beberapa CCTV di jalan yang biasa dilewati untuk sampai ke mansion ini juga mati, Nyonya."
"Terus cari, dan lakukan semua hal! Aku tidak mau melihat anakku yang terus seperti itu, hiks, Alesha harus ditemukan!" Balas Laura dengan tegas. "Dan satu lagi! Tolong antar aku ke makam cucuku, Alshiba, aku merindukannya, aku ingin berada dekat dengannya saat ini, hiks hiks."
"Baik, Nyonya," Taylor mengangguk patuh.
Setelah itu, Laura pun melangkah pergi bersama Taylor yang berjalan tepat di belakangnya.
Sedangkan Nakyung, Maudy, dan Merina, mereka juga pergi meninggalkan kamar mentor mereka dengan iringan tangis yang tak kunjung reda.
"Aku sudah mencarinya, aku menahan diriku supaya bisa tetap fokus menemukan keberadaannya. Tapi aku sangat merindukannya, Mona, dia menghilang tanpa ada sedikit pun jejak supaya aku bisa menemukannya. Hiks hiks apa salahku?" Jacob terus mengutarakan semua isi hatinya pada sang kakak. "Apa aku bisa menemukannya? Aku tidak ingin dia meninggalkan ku. Alesha, kau dimana? Hiks, aku mencarimu, Lil Ale..."
Betapa terpukulnya Jacob. Kematian sang putri, kehilangan sang istri. Satu tahun usia pernikahannya, namun Jacob harus bisa melewati ini semua. Ujian macam apa ini? Kenapa? Kenapa ia harus terpuruk lagi karna kehilangan orang yang begitu dicintai? Cukup Yuna, Jacob tidak mau kehilangan istri, dan anaknya, tapi kenyataan saat ini sungguh memilukkan.
Jacob membutuhkan Alesha disisinya ketika Alshiba meninggal, tapi kemana Alesha? Apa Alesha tahu bagaimana terpukulnya Jacob setelah ikut masuk ke dalam liang kuburan untuk menguburkan Alshiba? Apa Alesha tahu kalau sekarang Alshiba sudah meningga?
Bayi mungil itu, bayi yang tidak berdosa sama sekali, bayi yang selalu Alesha jaga sekuat tenaga agar tetap tumbuh. Tapi kemana Alesha? Kemana ia saat buah hati yang begitu dicintainya itu dikebumikan oleh suaminya?
Ini sudah dua bulan lebih berlalu, namun tidak ada satu pun petunjuk yang Jacob, dan yang lain dapatkan untuk menemukan Alesha.
Hingga ketika malam kembali berjumpa, Jacob hanya bisa menangis tersedu-sedu diatas kasurnya sembari memandangi gambar cantik sang istri yang kini entah berada dimana.
Foto pernikahan yang terpajang dalam bingkai kayu berukuran sedang kini menjadi alat untuk Jacob dapat menyalurkan segala rasa.
"Sayang, kau dimana? Hiks, kau dimana, Alesha?" Jemari Jacob mengusap pelan wajah sang istri yang terpampang pada foto dalam bingkai itu.
"Kau dimana? Hiks, aku sangat merindukanmu, cantik."
Begitu lirih ucapan Jacob. Hatinya sangat rapuh. Kehilangan orang yang teramat dicintai begitu menyiksanya. Seandainya saja Alesha sudah meninggal, setidaknya Jacob tahu hal itu, dan Jacob juga mungkin akan ikhlas karna tahu sang istri yang begitu dicintainya sudah berada di tempat yang menurutnya terbaik. Tapi ini? Keberadaannya tidak dapat ditemukan, pencarian pun entah kemana karna tidak ada petunjuk yang didapatkan, tidak ada kabar sama sekali yang Jacob terima, yang ada hanyalah semakin berjalannya hari semakin pula Jacob tersakiti
"Lil Ale...." Jacob beralih dengan memeluk boneka beruang besar milik istrinya. "Kau dimana, sayang, hiks, aku merindukanmu, Alesha..."
Serak-serak bergetar mengiringi isak tangis Jacob. Matanya sembab, tubuhnya tidak terurus, dan rambut yang acak-acakkan. Jacob berantakan.
Semoga Jacob tidak semakin memburuk seperti dulu dimana ia kehilangan jati dirinya sendiri karna kehilangan Yuna.
__ADS_1