
Pukul 02.30 WIB
Dini hari ini, tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu kamar.
Tok... Tok... Tok...
"Alesha..... Alesha...."
Itu adalah suara Laura yang kini berada di balik pintu di luar kamar sang tuan rumah. Tetapi Laura tidak sendiri, ada Alshiba yang sedang menangis kencang dalam gendongannya.
"Cup cup cup, cucuk nenek..." Laura mentimang-timang Alshiba berharap cucunya itu akan berhenti menangis.
Namun bukannya berhenti, tangisan Alshiba malah kian menjadi, dan terdengar begitu nyaring.
Tok..... Tok.... Tok.....
"Alesha.... Alesha, bangun, buka pintunya, Alshiba menangis!" Laura sudah mulai salah tingkah. Ia kasihan pada cucunya yang menangis kencang.
"Sayang, sabar sebentar ya cucuku," Laura mengelusi waja cucunya dengan lembut.
Sementara itu, di dalam kamar, Alesha yang masih terlelap pun langsung mengerjapkan matanya beberapa kali karna telinganya menangkap sebuah suara.
"Alesha... Alesha... Bangun, Alshiba menangis.."
Alesha terdiam sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya secara utuh.
Tok... Tok... Tok...
"Cup cup cup, sayang, tunggu sebentar ya."
Kedua mata Alesha menyipit, memastikan apa yang ia dengar barusan.
Tapi tunggu.
Suara bayi?
Alesha mendengar suara bayi yang menangis kencang tidak jauh darinya.
"YA AMPUN! ALSHIBA!" Mata Alesha terbelalak seketika. Ia pun langsung bangkit, dan melompat dari atas kasur lalu berlari menuju pintu setelah ia sadar jika suara tangisan bayi itu berasal dari putrinya, Alshiba.
Jacob yang tengah terlelap juga jadi terbangun karna merasakan hentakkan di kasurnya.
"Eungh, Alesha...." Gumam Jacob setengah sadar, setengah mengantuk. Kedua matanya menyipit. Ia tidak mendapati keberadaan istrinya, padahal tadi Alesha tidur tepat disebelahnya.
"Ya ampun, Alshiba!" Alesha segera mengambil alih tubuh putrinya yang menangis dengan kencang. "Ibu, maaf, aku jadi merepotkanmu," Alesha menunjukkan tatapan berdosa, dan bersalahnya pada sang ibu mertua. Ia benar-benar merasa bersalah saat ini karna sudah menyusahkan ibu mertua, dan bayinya.
"Tidak apa-apa, Al, sekarang lebih baik ganti popoknya dulu lalu setelah itu susui dia," Balas Laura.
"Alshiba buang air, Bu?" Tanya Alesha.
"Ia dia terbangun karna buang air," Jawab Laura.
Mendengar itu, semakin lah Alesha dibuat merasa amat bersalah, sudah menitipkan Alshiba pada ibu mertuanya, dan kini pasti kasur yang Laura tempati terdapat air kencing Alshiba.
"Ibu, maaf...." Kedua manik Alesha pun semakin menunjukkan permohonan maaf.
Namun untungnya, Laura adalah sosok ibu mertua, dan nenek yang baik. "Tidak apa, Al, sekarang lebih baik ganti baju, dan popoknya, lalu susui dia," Ucap Laura seraya mengelus sebelah bahu menantunya.
"Kalau ibu mengantuk, sementara ibu tidur dulu saja di kamar ini, nanti aku akan menyuruh seorang pelayan untuk mengganti sprey ibu," Tawar Alesha yang lantas ditolak oleh Laura.
"Tidak, tidak. Tidak apa-apa, Al, ibu akan kembali saja ke kamar, dan mengganti sprey sendiri. Sekarang masuklah, ibu sudah tidak kuat lagi mendengar Alshiba yang tidak berhenti menangis."
"Tapi, Bu.."
"Sudah, tidak apa-apa, Alesha, sekarang masuk, dan lakukan apa yang ibu katakan tadi!" Potong Laura sembari mendorong Alesha supaya masuk ke dalam kamar.
"Tapi, Bu..." Alesha berniat untuk membalikkan tubuh agar kembali menghadap ke arah ibu mertuanya yang ternyata sudah terlanjur menutup pintu kamar.
"Alesha, Alshiba menangis? Kenapa?" Tanya Jacob yang masih terduduk diatas kasur. Raut wajahnya masih begitu kentara dengan rasa kantuk.
"Dia buang air, dan mungkin lapar," Jawab Alesha sembari berjalan menuju tempat tidur bayi.
Dengan sigap, Alesha segera mengganti celana, bedongan, dan popok Alshiba. Setelah itu, Alesha lalu membersihkan area sensitif bayinya menggunakan tissue basah. Barulah setelah itu Alshiba pun diberikan ASI oleh bundanya agar berhenti menangis, dan kembali tertidur.
"Kapan Alshiba kontrol ke dokter lagi, Al?" Tanya Jacob sembari menghampiri istrinya disofa.
"Minggu depan," Jawab Alesha, singkat. Kedua netranya kini terpaku pada Alshiba yang sedang menatap padanya. "Apa, sayang? Hmmm? Dede laper ya?" Alesha berucap lembut pada bayinya.
"Iya, dia lapar, aku juga lapar," Balas Jacob sembari memeluk manja pada istrinya. "Nanti gantian ya, sayang, ayah juga lapar," Jacob mengelus-elus pipi Alshiba yang sedikit menggembul.
Mendengar itu, Alesha pun langsung melayangkan tatapan membunuhnya pada sang suami.
"Hmmm, kenapa, Al? Aku juga kan lapar," Jacob menyadarkan dagunya pada bahu Alesha.
"Minta sana pada ibu!" Ketus Alesha.
Jacob terkekeh mendengar ucapan Alesha barusan. "Kenapa harus minta pada ibu, aku kan sudah punya istri," Jacob mengedikkan kedua alisnya seraya menatap nakal pada Alesha.
"Ish, dasar kau itu ya!" Balas Alesha, malas. Ia memutarkan kedua bola matanya dengan jengah.
Sementara Jacob, ia kini malah berlutut dihadapan Alesha, dan bayinya.
"Sayang... Lihat ayah sini," Ucap Jacob sembari mencium pipi Alshiba dengan gemas.
"Jangan ganggu dia, nanti dia bisa tersedak kalau kau terus menciuminya!" Alesha sedikit mengangkat tubuh Alshiba untuk menjauhkan wajah putrinya itu dari jangkauan bibir Jacob.
"Kenapa dia terus melihat ke arahmu?"
"Karna aku ibunya," Alesha tersenyum pada Alshiba. "Aku yang mengandungnya, aku yang melahirkannya, dan aku sangat menyayanginya," Kemudian Alesha memeluk lebih erat lagi tubuh mungil putrinya.
Jacob tersenyum bahagia melihat istri, dan anaknya saat ini. Ia masih sedikit tidak menyangka saja, perjalanan dua tahun bersama Alesha, dan sekarang di tahun ketiga ia sudah menghasilkan anak bersama wanita yang begitu memikatnya.
"Alesha, tiga tahun lalu kita baru saja saling mengenal," Ucap Jacob.
Alesha yang asik memandangi bayinya pun kini beralih dengan menatap suaminya. "Lalu?" Sebelah alis Alesha terangkat.
"Kau ingat apa saja yang sudah pernah kita lewati?"
"Tentu saja,"
"Cepat sekali ya," Jacob mengelusi puncak kepala istrinya. "Bahkan sekarang aku sudah memiliki seorang anak bersamamu."
"Dua tahun lalu kau menyatakan perasaanmu padaku," Alesha tertawa kecil mengingat saat dimana Jacob menyatakan perasaan padanya.
"Aku mencintaimu, Alesha," Jacob bangkit lalu mencium lembut bibir istrinya.
"Aku juga mencintaimu, Tuan Mentor," Balas Alesha dengan sedikit candaan.
__ADS_1
Setelah itu, tidak lagi terdengar percakapan antara Jacob, dan Alesha. Mereka sama-sama diam untuk beberapa saat sembari memandangi wajah sang buah hati yang tidak juga terlelap.
Jacob yang sudah mulai mengantuk kembali pun menyadarkan kepalanya pada bahu Alesha.
"Kalau kau mengantuk tidurlah, Jack."
"Tidak, aku akan menemanimu."
"Tapi Alshiba belum tidur, aku tidak akan tidur jika dia belum tidur."
"Kalau begitu aku juga tidak akan tidur sebelum kalian berdua tertidur."
Alesha tidak membalas ucapan suaminya lagi, karna ya tidak akan berguna juga. Sudah dibujuk oleh Alesha untuk tidur, tapi Jacob malah menolak. Jadi, yasudah.
"Udah makannya, Dede. Udah kenyang ya?" Alesha beralih dengan mengajak bicara Alshiba yang kini telah menyudahi sesi makannya. Tapi bayi itu tidak tertidur juga.
"Dede kok gak tidur sih, sayang?" Alesha mengelus lembut wajah bayinya. "Tidur ya, Bunda ngantuk, Dede."
Akhirnya, Alesha memilih bangkit berdiri untuk membawa bayinya ke kasur. Tapi ternyata hal itu membuat Jacob nyaris terjatuh karna pria itu hampir terlelap pada bahu istrinya.
"Astagfirullah..." Lirih Jacob sembari menggelengkan kepalanya, pelan. Ia terlalu mengantuk, kedua matanya terasa berat.
"Aku sudah bilang, kau tidur saja duluan tadi," Ucap Alesha. "Sudah ayo, aku juga akan menidurkan Alshiba dikasur."
Tanpa membalas, Jacob lalu bangkit, dan menyusul istrinya menuju kasur.
"Dede tidur atuh, sayang, jangan bergadang," Alesha menidurkan Alshiba tepat di tengah-tengah kasur, diantara ia, dan suaminya.
Alshiba hanyalah seorang bayi berusia tiga minggu, mana paham ucapan Alesha. Jadi, bayi mungil itu hanya diam, dan terus menatapi bundanya.
"Tidur yuu, sayang, Bunda ngantuk," Alesha menepuk-nepuki tubuh bayinya dengan pelan, berharap Alshiba akan terlelap.
Sama halnya dengan Jacob, pria itu kini mengelusi pipi bayinya sembari memejamkan mata. Jacob sudah sangat mengantuk, tapi ia tidak akan tega jika membiarkan Alesha terjaga sendirian.
"Dede, tidur yuu, sayang," Alesha bangkit, dan duduk bersandar. Lalu ia menggendong Alshiba untuk diberikan ASI kembali.
Namun itu tetap tidak mempan, Alshiba tetap terjaga, bahkan sekarang Alesha mendapati kalau suaminya sudah terlelap.
Kemudian Alesha mencari cara lain dengan melantunkan sholawat sembari meletakkan telapak tangannya pada dada Alshiba.
Merasa pegal, Alesha pun kembali membaringkan tubuh bayinya di atas kasur.
"Jam tiga lewat lima belas," Gumam Alesha sembari melihat ke arab jam.
"Dede, bobo atuh, De, Bunda ngantuk nih.."
Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali, menahan beratnya kelopak yang minta dipejamkan.
"Bobo yu, sayang.." Alesha berbisik sembari membetulkan selimut yang menutupi tubuh bayinya.
"Huft...." Alesha tahu sekarang. Jadi begini rasanya bergadang karna memiliki seorang bayi.
Senyuman kecil langsung membingkai pada wajah Alesha, membayangkan bagaimana uminya dulu selalu terjaga setiap malam karna ia yang masih bayi tidak tidur semalaman.
"Dede gak ngantuk emangnya?" Alesha kembali mengajak bicara bayinya. "Bunda ngantuk tahu."
Melihat kedua mata Alshiba yang terbuka, dan menatap hangat padanya membuat Alesha merasa tenang. Tujuh bulan mengandung dua janin, dan yang tersisa sekarang tinggalah satu janin yang tetap bernapas, dan bertahan. Janin itu sudah berubah menjadi seorang bayi imut yang semoga saja dapat mewarisi kecerdasan kedua orang tuanya juga menjadi wanita yang shalihah.
Alesha mengelusi pipi bayinya dengan penuh kasih sayang. Kehadiran Alshiba membuat hidupnya terasa jauh lebih sempurna. Meski ada seberkas kesedihan yang membekas karna seharusnya Khalid juga berada di sini, tapi sayang, Allah lebih tahu yang terbaik, hingga akhirnya Alesha harus ikhlas melepas kepergian pangeran kecilnya itu.
"Terima kasih sudah membantuku menemukan kembali kehidupan yang lebih baik," Alesha tersenyum manis sembari terus memandangi wajah Jacob. "Mr. Jacob, aku mencintaimu."
...*****...
Terpaku akan waktu yang silih berganti, kini rasa rindu telah membenak dalam hati. Beberapa hari menyendiri, tak terasa tetesan air membasahi dua manik.
Seandainya ada waktu yang dapat kembali diputar, bisakah Tessa membawa dirinya untuk seperti dulu bersama mendiang suaminya? Meski tidak mendapat balasan cinta, setidaknya ia merasa bahagia karna Levin selalu bersamanya.
Namun sekarang? Kenyataan seakan mencekik keadaan. Tessa sendiri, siapa yang akan mendampinginya dalam mengarungi kehidupan setelah kabar meninggalnya sang suami terdengar oleh telinganya?
Beberapa jam lalu, seorang pria yang bertugas menjaganya membawa berita duka mengenai Levin.
Sebuah bom meledak, dan Levin dihajar habis-habisan oleh sekelompok mafia, dan sayangnya, tubuh Levin tidak bisa bertahan lebih lama, hingga akhirnya, setelah sampai di SIO, dokter pun langsung memberikan pernyataan jika Levin sudah meninggal.
Tessa hanya bisa menangis sembari memukuli dadanya yang begitu sesak. Disudut kamar kini, Tessa begitu lemah tak berdaya, bahkan ketika anaknya menangis kencang pun Tessa seakan acuh, dan tidak mendengar.
Untaian tangis yang tak bertepi membuat ibu satu anak itu terlihat memprihatinkan. Berapa tahun Tessa bertahan, dan menetapkan hatinya untuk Levin? Tapi semua kandas setelah satu setengah tahun usia pernikahan mereka.
"Levin..... Kau berjanji akan kembali, hiks. Aku membencimu! Kau bohong!" Iringan tangis sesak membuat tubuh Tessa bergetar. Ia memeluk kedua lututnya, membenamkan wajah untuk mengulang kenangan-kenangan bersama Levin dulu.
*Flashback
Enam tahun lalu, terdapat seorang pria tinggi tampan sering mendatangi cafe tempat Tessa bekerja, namanya Levin. Bukan satu atau dua kali, tapi Levin sering datang ke cafe itu. Bahkan Tessa ingat gombalan pertama yang Levin berikan untuknya.
"Hey, Cantik, boleh aku pesan makanan yang biasa aku pesan." Levin berucap dengan sorot mata menggodanya.
Entah hanya sekedar candaan saja atau bukan, tapi disaat itulah Tessa mulai menyadari perasaannya terhadap Levin.
Setiap hari Levin selalu berkunjung ke cafe, setiap hari pula Tessa selalu merasa bahagia jika Levin datang, dan akan merasa hampa jika Levin pergi.
Hingga seiring berjalannya waktu, mereka pun semakin dekat seperti sepasang sahabat akrab. Tessa selalu memandang Levin secara diam-diam sembari tersenyum ketika pria itu tengah makan, dan Tessa akan langsung membuang wajahnya ketika Levin melirik padanya.
Pernah suatu hari Tessa pulang saat malam sudah larut. Ia berjalan sendirian di pinggiran jalan yang sepi, dan dingin. Kondisi memang sedikit mencekam karna hanya ada satu lampu yang dilewati, itu pun redup.
Hingga ketika disatu titik, tiba-tiba saja Tessa terlonjak karna ada seseorang yang membekap mulut, juga membawa tubuhnya ke sisi jalan yang paling gelap.
Tessa yang ketakutan setengah mati pun memberontak sekuat tenaga.
"Syutt... Tenanglah, ini aku Levin."
Mendengar nama dari bisikan itu, Tessa pun langsung tercekat, dan berhenti memberontak.
Levin? Apa yang ia lakukan? Pikir Tessa ketika itu.
Levin sendiri mengunci tubuh Tessa, dan menyadarkannya pada tembok.
Levin menundukkan wajahnya untuk menatap Tessa. "Jangan takut, ini aku, Tessa. Di sana ada orang-orang jahat."
Levin mengedarkan pandangan kesekelilingnya lalu menatap kembali pada Tessa. "Tunggu aku di sini, jangan pergi tanpaku. Mengerti?"
Tessa hanya mengangguk kaku. Matanya masih terbuka lebar karna terlalu terpaku pada wajah tampan si pria yang sudah menarik hatinya itu.
"Aku akan segera kembali, tetaplah di sini!" Titah Levin sebelum akhirnya ia pergi.
Tessa tidak tahu apa maksud Levin menyuruhnya menunggu? Dan yang paling membingungkan adalah kenapa ada Levin di sana?
Sedangkan Levin sendiri saat itu sedang diutus oleh SIO untuk membuntuti, dan menghabisi beberapa anak buah Vincent, kebetulan ada Tessa yang lewat tidak jauh darinya.
__ADS_1
Selang beberapa menit kemudian, Tessa menangkap sebuah suara seperti ada beberapa orang yang sedang berbaku hantam. Karna penasaran, akhirnya Tessa pun memberanikan diri untuk mengintip.
"HAH!" Refleks, Tessa yang terkejut pun langsung menutup mulut dengan telapak tangannya untuk menghalau suara.
Kedua iris coklat Tessa melebar karna melihat Levin yang bertarung dengan lima orang sekaligus. Kaki Tessa bergetar, rasa takut menyeruak ke dalam tubuhnya.
Apa yang terjadi antar Levin, dan lima pria itu? Kenapa mereka saling menjual belikan pukulan.
Lalu Tessa mendapati ada satu pria yang terjatuh. Tessa pun memperhatikan gerak-gerik pria tersebut.
"Ya ampun!" Tessa semakin dibuat panik saat melihat pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari dalam sakunya.
Takut! Tapi,
Tapi apa yang harus Tessa lakukan? Tubuhnya jadi salah tingkah tidak jelas!
Levin. Dia sibuk bertarung dengan beberapa pria lain.
Lalu pria yang tadi terjatuh sudah mengarahkan pistolnya ke arah Levin.
"Berpikir, Tessa, berpikir!" Gumam Tessa yang benar-benar salah tingkah. "Oh ya!" Tessa mendapatkan ide.
Entah dari mana keberanian itu muncul, Tessa pun melepaskan dua sepatu pantofel yang ia pakai lalu berlari mendekati pria yang memegang pistol tersebut.
"Hei kau yang memegang pistol!!!" Pekik Tessa. "Rasakan ini!!"
Tessa melemparkan kedua sepatunya secara bergantian dengan keras hingga berhasil mengenai si pria yang berniat untuk menembak Levin tersebut.
**Dug!
Dug**!
"Awww!"
Levin, dan kelima musuhnya pun seketika melirik pada Tessa, dan menghentikan aksi pukul memukul mereka.
"Tessa..." Gumam Levin yang terkejut karna mendapati Tessa yang sedang berdiri ketakutan tidak jauh darinya.
"SIAPA KAU?"
Tessa terlonjak hingga membuat kakinya mundur dua langkah. Tangan, dan tubuhnya bergetar, wajahnya sudah pucat pasi bercampur ekspresi takut setengah mati.
Levin tidak ingin kehilangan kesempatan, buru-buru ia menghajar keempat pria lainnya dengan cepat, dan tepat.
"Tessa, lari!!" Pekik Levin sembari sibuk menghabisi keempat anak buah Vincent itu.
"Diam di tempat atau kau akan ku tembak!"
Suara bentakan, dan ancaman yang pria pemegang pistol itu keluarkan membuat Tessa tidak bisa berkutik.
Tapi sungguh, rasanya Tessa ingin menangis, ia sangat takut.
"Tessa, pergi!" Pekik Levin lagi.
"Diam di tempat, dan katakan siapa kau!"
"DASAR TIDAK BERGUNA!!" Tiba-tiba saja Levin menyambar si pria pemegang pistol itu lalu menghajarnya habis-habisan.
Barulah setelah memastikan kelima musuhnya pingsan, dan tidak berdaya, Levin berlari menghampiri Tessa yang masih bergeming dengan tatapan lurus namun penuh ketakutan, dan tubuh yang bergetar.
"Tessa, kau baik-baik saja kan?" Levin berdiri tepat dihadapan Tessa untuk memastikan keadaan gadis itu.
"Hey, hey, tatap aku, Tessa.." Levin membungkukkan tubuhnya agar bisa sejajar dengan Tessa, dan memberikan tatapan yang lebih tenang pada gadis itu. "Kau baik-baik saja kan?"
Tessa tidak menjawab, melainkan jantungnya berdebar hebat saat merasakan sentuhan hangat kedua telapak tangan Levin dipipinya. Bahkan kini kedua iris Tessa sudah terkunci, dan larut dalam kedua manik hitam Levin.
Tessa masih tidak mengerti dengan dirinya kini. Ia bertatap-tatapan langsung dengan Levin dalam waktu yang cukup lama, dan itu membuat sesuatu bergejolak dalam hatinya.
Tessa merasa sangat tenang, dan nyaman atas tatapan yang Levin berikan untuknya.
Tessa jatuh.
Ya.
Tessa jatuh cinta pada Levin sejak saat itu.
*Flashback Off
"LEVIIIINNNNNN........" Tessa menjambak rambutnya dengan kuat sembari mengeluarkan sisa suaranya.
"Leviinn..... Jangan pergi...... Hiks. Levin...." Tessa menangis sejadi-jadinya. Tersungkur diatas lantai, dan membiarkan air mata jatuh dengan deras.
Ini sangat menyakitkan. Tessa belum siap, dan Tessa sangat menyesal karna membiarkan Levin pergi untuk melaksanakan tugasnya.
Mulutnya tiada henti menggumamkan nama pria yang sangat ia cintai itu, tidak perduli dengan suaranya yang sudah habis, dan serak, juga napasnya yang tersendat-sendat karna terus terisak.
"Levin..... Tolong.... Hiks, aku mohon, Levin, kembali lah.... Hiks.. Jangan pergi...."
Kemana perginya nanti semua kenangan indah yang sudah ia lewati bersama Levin?
"Levin......"
"Levin...... Hiks, Levin....."
Suara yang bergetar-getar terdengar begitu parau.
"Maaf, Nyonya, mobil sudah siap, kita bisa pergi ke bandara sekarang," Ucap salah seorang pelayan sembari menunduk sedih.
Hari ini, Tessa akan langsung berangkat menuju Indonesia bersama putranya karna jenazah Levin akan di kuburkan di sana.
Entah Tessa mampu atau tidak, tapi saat ini Tessa benar-benar kehilangan setengah dari hidupnya. Hatinya sudah melebur, dan hilang terhembus oleh angin kesedihan.
Ia sungguh tak kuasa menahan rasa sakit ditinggal pergi selamanya oleh orang yang begitu dicintai. Teramat besar cinta Tessa, tapi itu semua tidak sepadan dengan kenyataan yang harus Tessa hadapi sekarang.
"Levin, jangan pergi...... Aku membutuhkanmu, Nicholas membutuhkan ayahnya, Levin, hiks hiks, aku mohon...." Tessa masih diposisinya, tersungkur diatas lantai dengan keadaan yang menyedihkan.
"Levin.... Hiks, Levin......"
Perlahan, suara Tessa mulai meredup, tubuhnya juga semakin melemas.
"Levin...." Tessa mengerjapkan matanya dengan perlahan.
"Levin........" Sangat pelan sampai tak terdengar. "Aku mencintaimu..."
Dan semuanya pun berubah menjadi gelap!
"Nyonya!!" Pekik sang pelayan yang panik sembari berlari menghampiri Tessa yang sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1