
"Hiks, Rangga, kepalaku sakit," Rintih Alesha.
"Lisha, sekarang basuh kaki, dan tanganmu lalu kembali lah ke kamar. Tidur ya, nanti setelah bangun rasa sakit itu akan hilang," Ucap Rangga dengan sangat lembut sembari menangkup wajah adik angkatnya.
"I-iya, hiks," Alesha mengangguk kecil. Kemudian ia membalikkan tubuhnya, dan mulai berjalan menuju pintu untuk memasuki rumah sederhana yang menjadi tempat tinggalnya selama satu tahun ini.
Sama halnya dengan Rangga, pria itu turut masuk ke dalam rumah untuk mengantarkan adik angkatnya menuju kamar tidur.
Sedangkan di belakang, Jacob yang merasa geram pun berjalan, dan masuk begitu saja ke dalam rumah sederhana itu. Ia bersama, Lucas, Bastian, dan Taylor kini berada di ruangan depan dekat pintu utama.
Jacob ingin penjelasan! Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Alesha, dan Jacob tidak akan segan untuk menghajar Rangga jika pria itu berani melakukan hal-hal yang tidak semestinya dilakukan kepada istrinya selama satu tahu ini.
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya Rangga pun muncul di hadapan keempat tamu tak diundangnya.
"Apa yang kau lakukan pada Alesha?" Jacob maju, dan langsung menarik kerah baju Rangga. Suaranya yang menggelegar membuat Rangga berdecak sebal.
"CK! Kecilkan suaramu! Alesha sedang tidur! Kau bisa mengganggunya!" Ketus Rangga.
"Apa yang terjadi pada istriku? Apa yang kau lakukan hingga aku tidak bisa menemukannya?" Jacob berucap pelan, namun penuh penekanan disetiap katanya.
"Tenang lah dulu, kau bisa duduk di sana, dan aku akan menjelaskan semuanya padamu," Balas Rangga.
"Cepat katakan!" Jacob menghempaskan tubuh Rangga dengan sangat kasar.
Kemudian Jacob beralih dengan mendudukan tubuhnya tepat dihadapan Rangga. Tatapan mautnya tidak berhenti membidik kedua netra hitam Rangga. Hati Jacob sangat panas, benar-benar bergejolak, rasanya ingin sekali ia menghajar Rangga saat ini juga, tapi itu tidak akan membawanya pada jalan keluar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Alesha selama satu tahun ini.
"Ceritakan semua sekarang!" Bentak Jacob.
Rangga sedikit terlonjak, namun ia langsung menghela, dan menghembuskan napasnya untuk tetap tenang.
"Maaf..." Itu yang pertama kali terucap dari dalam mulut Rangga. "Maaf karna aku sudah memanfaatkan amnesia Alesha untuk mengubah data diri aslinya, dan mengganti dengan yang baru. Aku melakukan itu karna aku harus melindunginya dari seseorang yang merupakan musuh orang tua kami.."
"Kami?" Tanya Bastian memotong ucapan Rangga.
"Ya, aku dan Alesha. Aku adalah kakak angkat Alesha. Profesor Danu mengangkatku menjadi anaknya tanpa memberitahu pada siapa pun termasuk Alesha. Sebagai balas budi atas kebaikan Profesor Danu padaku, aku pun bersedia untuk menjadi pelayannya, dan selang beberapa tahun kemudian, dia mengangkatku menjadi anaknya lalu melatihku supaya aku bisa menjadi agent intelegent negara sepertinya," Rangga menceritakan dengan singkat tentang dirinya, dan hubungannya dengan orang tua Alesha. "Singkatnya, Profesor Danu, aku, dan beberapa anak buah kami berhasil menangkap salah satu pengusaha yang berasal dari Kalimantan. Pengusaha itu berniat untuk mengkorupsi uang milik negara, namun niatnya gagal karna Profesor Danu berhasil menghentikan niat liciknya itu."
Rangga menjeda sesaat ucapannya. "Dirga, pengusaha licik itu dipenjara selama lima belas tahun. Beberapa hari sebelum meninggal, Profesor Danu berpesan padaku supaya aku menjaga, dan melindungi Alesha jika Dirga keluar dari dalam penjara. Itulah sebab kenapa aku menyembunyikan identitas asli Alesha, dan membawanya jauh dari Indonesia, dan perkotaan. Aku yakin Dirga masih berkeliaran untuk mencari Alesha."
"Tapi kau seharusnya mengatakan hal itu padaku! Setidaknya aku juga bisa menjaganya dari pria jahat itu! Aku suaminya! Tidak pantas kau memisahkan aku dengannya seperti ini!" Pekik Jacob yang sudah tidak kuasa menahan amarahnya lagi.
"Aku sengaja menjauhkan Alesha darimu karna Dirga tau kau, Jacob!" Kini Rangga mulai terbawa emosinya. "Dia pasti memata-mataimu untuk mencari keberadaan Alesha! Aku berusaha melindungi, dan menjaga istrimu darinya! Itu kenapa aku sangat berharap kalau kau tidak akan menemukan Alesha!"
Brak!
Jacob bangkit sembari menendang meja yang menghalanginya untuk mendekati Rangga.
Bugh!
Satu pukulan keras Rangga terima saat Jacob membogem mentah perutnya.
"Argh!" Rangga mengerang sakit.
"AKU SUAMINYA! AKU YANG LEBIH BERHAK MENJAGANYA DIBANDINGKANMU!"
Bugh!
"Argh!"
Lagi, Jacob menonjok wajah Rangga.
"SELAMA INI AKU MENCARINYA, AKU SANGAT MENGKHAWATIRKANNYA, DAN KAU MALAH BERHARAP SUPAYA AKU TIDAK MENEMUKANNYA!" Jacob berteriak tepat didepan wajah Rangga. "AKU SUAMINYA! KAU TIDAK BERHAK MENJAUHKAN ALESHA DARIKU APAPUN ITU ALASANNYA!"
"Lepaskan aku!"
Brugh!
"Argh!"
Rangga balik menonjok perut Jacob dengan sangat keras hingga membuat Jacob jatuh tersungkur.
"Rangga......"
Deg!
Gawat! Itu suara Alesha. Jangan bilang kalau Alesha melihat Rangga yang menonjok Jacob.
"Lisha......" Rangga memutar tubuhnya, dan berjalan mendekat Alesha yang berdiri mematung tidak jauh dari ruang tamu. "Kenapa kau bangun? Maaf, kau pasti terganggu karna mendengar keributan."
"Kenapa kau memukulnya? Apa salah dia?" Lirih Alesha yang memakukan pandangannya pada Jacob.
__ADS_1
Rangga sedikit kebingungan untuk menjawab pertanyaan adik angkatnya barusan, namun dengan cepat ia pun membalas. "Tidak apa, hanya urusan pria saja."
"Tapi kau memukulnya, Rangga," Alesha melirik sejenak pada kakak angkatnya, lalu setelah itu ia berlari menghampiri Jacob, suaminya.
Alesha tidak tahu kenapa hatinya terasa sakit saat melihat Rangga yang memukul Jacob, ada seberkas rasa marah, dan tidak rela dalam hati Alesha ketika Jacob tersungkur setelah menerima pukulan keras dari Rangga.
"Tuan, apa kau baik-baik saja?" Alesha berlutut memandang cemas pada Jacob.
Jacob mengangguk pelan seraya tersenyum.
Alesha, apa kau mencemaskan aku, sayang? Aku sangat ingin memelukmu, Lil Ale...... Lirih Jacob dalam hatinya.
"Perutku sakit, bisa kau membantuku untuk bangun?" Modus Jacob supaya bisa berdekatan dengan istrinya. Padahal pukulan Rangga tadi tidak ada apa-apanya untuknya.
"Iya, ayo aku akan membantumu," Balas Alesha tanpa berpikir dua atau berkali-kali.
Kemudian Jacob mengalungkan sebelah tangannya pada leher Alesha, sedangkan Alesha membantu Jacob untuk bangun secara perlahan.
Jacob tidak menumpukkan berat tubuhnya pada Alesha, ia sangat sadar diri kalau tubuhnya terlalu besar, dan ia tidak ingin menyushakan istrinya, lagi pula Alesha tidak akan bisa jika menahan tubuh suaminya sendirian.
"Sini, Tuan," Alesha kemudian menggiring Jacob untuk terduduk disofa panjang.
Tetapi Rangga, hatinya sakit melihat Alesha yang saat ini begitu dekat dengan suaminya. Satu tahun Rangga memisahkan Alesha dari keluarganya, termasuk Jacob karna Rangga ingin menjaga Alesha dari musuh-musuh bapak mereka, dan juga dengan seperti itu Rangga merasa jika ia bisa memiliki Alesha, meski tidak seutuhnya. Tapi pada kenyataannya saat ini Jacob sudah berhasil menemukan Alesha, dan hal itu membuat Rangga semakin sadar jika ia hanya sebatas pelindung, dan kakak bagi Alesha, orang yang benar-benar berhak bersama, dan memiliki Alesha adalah Jacob.
"Tuan, benar kau tidak apa-apa? Apa Rangga memukulmu sangat kencang?" Alesha kembali mengulangi pertanyaannya bahkan rasa cemas dalam hatinya pun kian bertambah.
"Rangga? Kenapa kau memukulnya?" Kini Alesha beralih dengan menatap kecewa pada Rangga.
"A-aku, Lisha, lebih baik sekarang kau tidur saja ya," Rangga berjalan mendekati Alesha. "Ayo, kembalilah ke kamarmu," Ketika Rangga berniat untuk meraih lengan Alesha, tiba-tiba saja Jacob menahannya.
"Argh, bisa kau bantu aku? Sepertinya perutku memar, apa ada air hangat," Lagi, Jacob mengeluarkan modusnya agar bisa terus berada dekat dengan istrinya.
"Tidak, dia harus beristirahat! Lisha, kau harus tidur siang sekarang!" Titah Rangga.
"Dia bukan anak kecil! Aku hanya memintanya untuk membantuku sedikit, perutku sakit karna kau yang menonjoknya!" Dan terjadilah perdebatan antara Jacob, dan Rangga.
"Jangan manja, aku tahu pukulanku tidak ada apa-apanya untukmu!" Rangga menajamkan matanya menatap pada Jacob. Entah kenapa ia jadi kesal melihat Alesha yang berada di dekat Jacob.
"Ikut aku!" Lucas langsung menarik lengan Rangga secara paksa, dan membawanya ke sudut ruang terjauh dari Jacob, dan Alesha.
"Kau tahu kan Mr. Jacob adalah suami Alesha? Kau tidak berhak melarangnya untuk berdekatan dengan Alesha, apalagi memisahkan mereka kembali!" Tekan Lucas pada Rangga. "Jadi sekarang! Aku minta kau jangan halang-halangi kedekatan mereka! Kami, khususnya Mr. Jacob akan berusaha sedikit demi sedikit mengembalikan ingatan Alesha!"
"Jika Alesha berada di antara kalian Alesha bisa dalam bahaya! Bagaimana jika Dirga mengikuti kalian, dan menemukan Alesha?" Bantah Rangga dalam suara rendah.
"Alesha, adalah adikku! Dan aku berkewajiban untuk menjaganya dari orang jahat seperti Dirga, dan aku juga harus menepati janjiku pada Profesor Danu untuk menjaga Alesha!"
"Hanya adik!" Lucas menekan kata-katanya. "Mr. Jacob adalah suaminya, dan dialah yang lebih berhak menjaganya! Dan lagi pula kau sudah menepati janjimu pada Profesor Danu, satu tahun kau mengurung Alesha di sini agar Alesha bisa terhindar dari orang jahat kan?"
Rangga terdiam mendengar ucapan Lucas barusan.
"Itu sudah cukup! Dan ya, mungkin kami akan berterima kasih juga karna kau sudah berniat baik dengan menjaga Alesha selama satu tahun ini, meski caramu itu yang menurut kami sangat salah!" Lucas menanamkan matanya, dan mendekatkan wajahnya pada Rangga. "Sekarang biar kami yang menjaga Alesha dari pria yang bernama Dirga itu! Dan satu lagi! Jangan kau jauhkan Alesha dari Mr. Jacob, atau kau akan berhadapan denganku, dan yang lain!"
Setelah memberikan peringatan itu, Lucas pun bergegas pergi kembali menuju ruang tamu dimana Jacob, Alesha, Bastian, dan Taylor berada.
"Apa masih sakit, Tuan?" Tanya Alesha sembari mengelapi perut kotak-kotak suaminya dengan menggunakan handuk seukuran telapak tangan, dan air hangat yang ia tuangkan ke dalam mangkuk dari dalam teko.
"Tidak, berkatmu. Terima kasih," Balas Jacob tanpa mengenyahkan tatapannya dari Alesha. Senyum bahagia benar-benar terlihat diwajah Jacob saat ini, tentunya hal itu membuat Bastian, Lucas, dan Taylor merasa lega. Setelah satu tahun berlalu, senyum indah itu baru mengembang lagi diwajah Jacob saat ini.
Namun, berbeda dengan Rangga, ia yang berdiri dalam jarak lima meter dari Alesha, dan Jacob pun hanya bisa terdiam dengan raut-raut sedih yang tersamarkan.
Aku tahu hari ini akan datang, hari dimana Alesha ditemukan oleh suaminya, tapi kenapa rasanya sakit? Bapak, Rangga minta maaf, tapi Rangga jatuh cinta sama adik Rangga sendiri. Satu tahun kita bersama, Al, Kakak udah terlanjur terbiasa sama kehadiran kamu dideket Kakak, Al. Kakak sayang sama kamu....... Lirih Rangga dalam hatinya.
"Kau cantik," Puji Jacob yang langsung menimbulkan rona merah pada wajah istrinya. "Sangat sangat mirip dengan istriku," Kini sebelah telapak tangan Jacob terangkat untuk menyentuh kulit halus diwajah Alesha.
"Eh, Tuan!" Refleks, Alesha menjauhkan wajahnya dari jangkauan lengan suaminya.
"Maaf..." Lirih Jacob yang seketika merasa sedih, dan kecewa atas sikap istrinya barusan. Apa Alesha sama sekali tidak mengingatnya? Kenapa sikap Alesha jadi seperti itu padanya? Ia adalah suaminya.
Selama beberapa menit Alesha mengelapi perut suaminya yang sedikit terdapat memar akibat pukulan Rangga tadi.
Jacob jadi ingat, waktu itu Alesha pernah mengelapi tubuhnya yang terdapat banyak luka tonjokkan, dan memar-memar akibat bertarung dengan anak buah Theo, hanya saja bedanya saat itu Alesha melakukannya dengan inisiatif sendiri, dan kalau sekarang Jacob lah yang mesti memintanya.
"Alesha...." Gumam Jacob secara tidak sadar. Ia begitu terpana pada istrinya yang tampil sangat lugu, dan polos saat ini, namun ia juga sedih karna Alesha tidak mengenalnya. Entah apa yang sudah Rangga lakukan hingga membuat gaya penampilan Alesha berubah.
"Alesha..." Jacob kembali bergumam sembari membelai rambut indah istrinya.
Namun hal itu ternyata malah membuat Alesha risih, dan terganggu. "Tuan!" Alesha menyudahi kegiatannya, dan sedikit menjauhi Jacob. Alesha pikir kalau Jacob adalah seorang tamu, dan kurang pantas bersikap seperti itu padanya.
"Boleh aku memelukmu?" Binar permohonan memancar kuat dari kedua netra hitam Jacob.
__ADS_1
"T-tidak!" Balas Alesha dengan cepat.
"Kau mengingatkanku pada istriku," Jacob bergerak mendekati Alesha.
"Rangga...." Lirih Alesha. Tubuhnya mulai bergetar takut. Alesha merasa takut pada Jacob saat ini. Ia tidak mengenal Jacob, ia tidak tahu siapa Jacob, dan tiba-tiba saja Jacob ingin memeluknya. Alesha takut jika Jacob adalah pria jahat.
"Tolong, jangan takut padaku, aku bukan orang jahat," Jacob semakin memperkikis jaraknya dengan Alesha. Ia tahu kalau Alesha sedang takut padanya saat ini jika dilihat dari gerak gerik tubuh, dan kedua mata Alesha.
"Rangga....." Alesha melirik cemas pada Rangga, sedangkan Rangga hanya bisa terdiam sedih sembari bersandar pada tembok.
Rangga ingat ucapan Lucas tadi. Ia tidak boleh egois, Alesha adalah milik Jacob, dan ia tidak bisa melarang Jacob jika ingin berada dekat dengan Alesha.
"Lisha.... Aku mohon, izinkan aku memelukmu," Lirih Jacob yang sangat sangat berharap jika Alesha mau memberikan izin untuknya memeluk.
Tapi sepertinya Alesha enggan. Alesha pikir siapa Jacob ingin main memeluknya begitu saja? Alesha tidak mengenali Jacob, dan wajar bukan jika Alesha merasa aneh, dan sedikit marah atas perilaku Jacob padanya.
"Tidak, Tuan! Tolong bersikap lah sewajarnya dalam bertamu!"
Deg!
Jacob tercekat di tempatnya seketika, ucapan Alesha barusan adalah sambaran yang sangat amat keras juga menyakitkan untuknya. Ia bahkan tidak dapat bergerak sama sekali dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan, tubuhnya seperti patung mati yang membeku.
"Apa kau benar-benar tidak mengingat siapa aku, Alesha?" Tanya Jacob sangat dingin. "Apa aku hanyalah seorang tamu untukmu?"
Alesha yang mendengar itu pun langsung memasang raut bingungnya. Entah kenapa ia merasa jika ucapan Jacob barusan ditujukan untuknya.
"Satu tahun aku mencari keberadaanmu, dan sekarang setelah aku menemukanmu, kau malah melupakanku," Terdengar miris ucapan Jacob barusan.
Alesha yang benar-benar bingung akan apa yang diucapkan pria yang ada dihadapannya itu kini memilih untuk bangkit berdiri, dan mulai berjalan menjauhi Jacob.
"Jangan menjauhiku!"
Alesha langsung menghentikan niatnya untuk melangkah setelah mendengar dua kata yang terdengar begitu tegas seperti sebuah perintah itu.
"Tidak lagi, Alesha," Jacob melirik tajam pada istrinya.
Alesha gelagapan, dan mulai merasa takut kembali. Kenapa sekarang Jacob terlihat menyeramkan?
"Cukup!" Tiba-tiba saja Rangga menahan tubuh Jacob agar tidak mendekati Alesha. "Ayo ikut aku, kita bicara!" Rangga segera menarik lengan Jacob, dan membawa suami Alesha itu menuju keluar rumah.
"Di-ia kenapa?" Lirih Alesha.
Dengan inisiatifnya, Lucas, dan Bastian pun berjalan mendekati Alesha.
"Tidak apa, dia sangat merindukan istrinya yang sudah lama menghilang. Kau sangat amat mirip dengan istrinya, Lisha," Ucap Bastian.
"Jika dia ingin kau berada di dekatnya tolong biarkanlah. Selama satu tahun ini dia sangat frustasi karna kehilangan istri yang begitu dicintainya," Sambung Lucas.
"Tapi kenapa harus aku?" Alesha mendongkak menatap Lucas.
Karna kau adalah istrinya, Alesha....
Ingin sekali Lucas menjawab seperti itu, namun Jacob sepertinya percuma saja karna Alesha tidak akan percaya.
"Aku sudah bilang, kau sangat mirip dengan istrinya, dari wajah, tubuh, fisik, dan semuanya, kecuali sikap, dan penampilan. Alesha yang dulu berpenampilan seperti seorang muslimah, dan disiplin dalam beribadah, namun Alesha yang sekarang, aku pikir dia sudah sangat berubah," Jawab Bastian.
"Sungguh? Memangnya sikap Alesha seperti apa? Apa jika aku berpenampilan seperti muslimah aku bisa dikatakan kembaran Alesha itu?" Alesha bertanya begitu polosnya. Ya, amnesia itu ternyata berefek pada kepribadiannya yang berubah juga. Alesha hanya tahu kalau ia adalah Lisha, adik angkat Rangga saat ia sadar di rumah sakit satu tahun yang lalu.
Itu semua terjadi pada Alesha karna sesaat setelah ia sadar Rangga langsung memanggilnya dengan sebutan Lisha, dan bercerita seolah ia memang sudah tinggal lama bersama Rangga disalah satu pedesaan di Amerika Serikat.
Selama tinggal bersama Rangga, Alesha selalu mengenakan pakaian, dan barang yang Rangga belikan untuknya, tapi Rangga juga tidak melupakan satu hal, yaitu mengajarkan Alesha tentang islam kembali, seperti mengaji, sholat, dan lainnya. Rangga tahu jika orang tua angkatnya begitu menginginkan Alesha untuk menjadi seorang muslimah yang memiliki wawasan dan pengetahuan luas tentang islam, dan dunia, tapi Rangga juga terpaksa merubah gaya penampilan Alesha agar Alesha benar-benar tidak diketahui atau tersamarkan dari musuh-musuh bapaknya. Jadi, Rangga merubah semuanya tentang Alesha, dari data diri, kepribadian yang dibimbing untuk menjadi gadis polos yang tidak banyak mengetahui dunia luar, gaya penampilan yang innocent, dan pergaulan selayaknya seorang gadis lugu.
Rangga melakukan itu karna Rangga tidak mau Dirga menemukan Alesha, setidaknya dengan merubah Alesha, Dirga mungkin bisa terkecohkan karna penampilan Alesha yang sangat berubah dari Alesha yang asli. Rangga juga selalu melarang Alesha untuk bermain jauh darinya.
Rangga benar-benar mempertimbangkan risiko sekecil apapun karna ia sangat menyayangi adik angkatnya, Alesha, dan hal sekecil apapun itu akan ia lakukan agar Alesha bisa terjaga dari bahaya Dirga.
Rangga harus menepati janjinya pada bapak angkatnya untuk menjaga Alesha dengan sangat baik mengingat bapak, dan umi angkatnya itu begitu baik pada Rangga.
"Tolong jangan paksa Alesha untuk mengingat semuanya dalam waktu dekat! Kau malah hanya akan menyakitinya! Dokter bilang jika Alesha terlalu dipaksa untuk mengingat hal yang ia lupakan maka itu akan mengganggu proses pemulihan cedera dalam kepalanya. Alesha butuh waktu yang lebih lama lagi untuk berangsur pulih. Jika kau memang mencintai, dan menyayanginya, maka ikuti perkataanku tadi! Ini demi Alesha, demi kesembuhannya! Kalau kau ingin dia ingat tentang kenangan lamanya lagi lakukanlah dengan perlahan, dan bertahap, jangan paksa dia, kau hanya akan menyiksa kepalanya jika kau memaksanya mengingat semua hal yang ia lupakan!" Ucap Rangga yang kini berada di sisi lain rumahnya.
"Seharusnya kau jujur padanya kalau dia lupa ingatan!" Tekan Jacob.
"Jika aku mengatakan itu aku takut dia akan memaksa kepalanya untuk mengingat segala hal, dia hanya akan menyiksa dirinya sendiri, dan bisa jadi dia juga stress karna tidak mengingat apapun tentang dirinya! Aku sudah bilang, kepalanya butuh waktu yang cukup lama untuk berangsur pulih kembali! Tolong mengertilah! Aku berusaha menjaga adikku, aku berusaha untuk membuat istrimu pulih dengan perlahan!" Balas Rangga.
"Apa yang dilakukan Dirga hingga membuat Alesha lupa ingatan? Apa yang dilakukannya hingga membuat Alshiba, anakku, dan Alesha meninggal?" Jacob meninggikan suaranya, melepaskan sedikit emosi yang tertahan.
"Aku tidak tahu apa yang Dirga lakukan pada Alshiba, yang aku tahu Alshiba sudah maninggal, dan berbaring di atas kasur, sedangkan Alesha, aku melihat Dirga membentur-benturkan kepala Alesha dengan keras ke lantai."
"APA?" Pekik Jacob. "Jangan bilang darah yang waktu itu aku lihat di lantai kamarku adalah darah Alesha?" Jacob langsung berucap lirih.
__ADS_1
"Tapi tidak apa, saat ini Alesha sudah semakin membaik, bahkan dia bisa menghapal beberapa ayat dari surah di Al-Quran saat aku mengajarkannya, itu semua karna memang sebelumnya dia sudah hapal, tapi dia lupa, namun dengan bimbingan dan tuntunan secara perlahan, aku yakin ingatannya akan kembali," Rangga menepuk bahu Jacob.
Sejujurnya Rangga sedih harus mengatakan itu, ia lebih berharap jika Alesha akan lupa ingatan selamanya, namun ia juga tidak boleh egois, lagi pun Alesha adalah seorang istri, dan ia tidak mungkin bisa menikahi Alesha karna Alesha masih memiliki suami.