
Pukul tiga dini hari waktu setempat.
Jacob bersama yang lain baru saja beres melaksanakan tugas mereka, yaitu memberantas komplotan jaringan gelap yang kembali memata-matai kantor SIO di Bandung.
"Kita harus memburu Hugo secepatnya!" ucap Danish penuh tekad. "Dia membawa kabur anakku lagi! Argh!"
Bug!
Sebuah pohon besar yang berada disebelah Danish pun jadi sasaran kemarahan pria itu.
"Dia pikir dia bisa mengalahkanku dengan ancaman sialan itu!"
"Danish, cukup!" tegas Jacob. "Kita sudah menghabisi hampir semua anak buah Hugo. SIO akan segera buat rencana baru untuk menangkap pimpinan kelompok sialan itu!"
"Jacob, SIO sudah berhasil mendapatkan lokasi dimana Hugo dan komplotannya berada sekarang. Mr. Frank meminta kita untuk langsung mengejarnya saat ini juga karna posisinya masih belum jauh dari kita," ucap salah seorang agent.
Jacob mengangguk.
"Kalian yang terluka parah, pergilah kembali menuju kantor SIO, sisanya ikut bersama kami!" perintah Danish. "Lucas, bawa agent yang terluka parah menuju kantor SIO!"
Lucas sedikit terkejut mendapati perintah itu. Tapi ya mau bagaimana lagi? Tidak mungkin juga para agent yang terluka itu pulang tanpa pengawalan.
"Dua orang ikut bersama Lucas! Yang lain, ayo kita berangkat sekarang!" ucap Jacob.
Semua mengangguk patuh, dan langsung menjalankan perintah sesuai yang sudah Jacob dan Danish katakan tadi.
*****
Pagi harinya, pukul 06.15 WIB
Alesha sudah terbangun sejak tadi. Setelah beres melaksanakan sholat subuh, Alesha tidak tertidur lagi. Ia asik bermain bersama keempat hewan peliharaannya, dan juga Nick, putra Tessa, dan Levin.
"Nona, Nyonya Laura, Nyonya Mona, dan Nona Sharon akan segera tiba di mansion ini," ucap Taylor yang menghampiri Alesha.
"Hah? Siapa mereka?" tanya Alesha. Ia masih belum mengingat keluarga ipar, dan ibu mertuanya.
Taylor tersenyum. "Mereka adalah keluarga anda, Nona. Ibu mertua, dan saudara ipar anda."
"Keluarga? Ibu mertua? Saudara ipar?" ulang Alesha.
"Iya." Taylor mengangguk.
Alesha diam termenung. Keluarga? Ibu Mertua? Saudara ipar? Pikiran Alesha terus mengulangi kata-kata itu.
Keluarga? Ibu Mertua? Saudara ipar?
"Nina! Kakek!!"
Sekelibat ingatan kembali ke dalam memori Alesha.
Menayadari jika pria tua yang terduduk dikursi roda itu adalah kakeknya, Alesha pun langsung berlari dan memeluk tubuh ramping kakeknya yang hanya tersisa kulit dan tulang saja.
"Kakek, eneng kangen, hiks," Rintikan tangis bahagia mengawali pagi Alesha.
"Kakek juga kangen sama eneng, eneng apa kabar?" Kakek Alesha pun memberikan pelukan balik pada cucu kesayangannya.
"Alhamdulillah, eneng sehat, kek, hiks."
Deg!
Alesha tertegun sembari menghembuskan napasnya, kasar seperti seorang yang terkejut akan suatu hal.
"Kakek," gumam Alesha. "Nina..."
"Ya, Nona, ada apa?" tanya Taylor.
Alesha mendongkak, menatap pengawalnya. "Kakek, Nina...."
Kening Taylor berkerut bingung.
"Kakek... Nina..." Alesha kembali mengulangi ucapannya. "Kakek, Taylor. Dimana Kakek?"
Alesha celingak-celinguk. "Rangga! Dimana Rangga? Rangga!!!!" Alesha beranjak bangkit mencarinya kakaknya.
"Nona!" Taylor melangkah cepat, menyusul nona mudanya.
"Rangga!!! Rangga!!" Alesha berlari menuju halaman belakang. Dan benar saja, ternyata Rangga berada di sana, bersama Aiden, Tyson, dan Merina.
"Rangga!!" Alesha berlari cepat menghampiri sang Kakak.
"Alesha? Kenapa?" tanya Rangga, santai.
"Kakek!" Alesha menegas. "Dimana Kakek? Kau bilang waktu itu Kakek Ujang sudah meninggal? Tapi kenyataanya belum, kan? Dimana Kakekku?" Alesha menatap tajam pada Rangga. Ingatan baru mulai bermunculan kembali.
Merawat, bermain, mengaji, bercanda.
Alesha ingat beberapa hal tentang kejadian itu bersama Kakeknya saat ia kecil.
"Aku ingin bertemu dengan Kakek!" Alesha sedikit memekik.
Rangga menarik napas panjang, dan menghembuskannya dengan tenang.
"Kau benar-benar banyak berbohong padaku, Rangga!"
"Alesha, tenang, aku akan jelaskan semuanya." Rangga berusaha setenang mungkin.
"Kau memisahkan aku dari Kakekku juga! Dia yang merawatku, dan mengasuhku saat orang tuaku meninggal! Sekarang dimana dia?!"
"Alesha, tenanglah! Kakek Ujang baik-baik saja!" Rangga sedikit menaikkan nada bicaranya. "Dia berada di apartemen milik ibu mertuamu. Jacob sudah menyuruh dua pelayan untuk merawatnya. Kakek Ujang baik-baik saja!"
"Bagaimana bisa kau tahu kalau dia baik-baik saja? Apa kau sudah bertemu dengannya, dan mengatakan semua yang terjadi padanya?" Alesha mengotot.
"Aku sudah mengunjunginya beberapa hari sebelum kau kembali ke Indonesia. Dia menanyakanmu, dia memang sangat merindukanmu karna sampai saat ini dia belum tahu kalau kau sudah ditemukan." Rangga menunduk. Perasaan bersalah mulai mengambil alihnya.
Tatapan Alesha berubah, kekecewaan mendominasi aura matanya. "Kenapa kau tidak bilang kalau aku sudah ditemukan? Apa kau tidak kasihan padanya?"
"Maaf, Al," hanya itu yang dapat Rangga katakan.
"Aku ingin bertemu dengan kakekku! Aku ingin pergi ke apartemennya!"
"Tidak!"
Alesha berbalik badan dan pergi begitu saja.
"Taylor, antar aku ke kakekku!"
"Tidak! Alesha, kau tidak boleh keluar dari mansion ini!" Rangga menahan lengan Alesha.
__ADS_1
"Apalagi?! Kenapa? Kenapa aku tidak boleh keluar dari mansion ini?!" Alesha meninggikan suaranya.
"Alesha, anak buah Dirga berkeliaran di luar! Mereka mengincarmu!"
"DIMANA? DIMANA MEREKA? AKU AKAN MENGHABISI MEREKA SEMUA! PRIA SIALAN ITU YANG SUDAH MEMBUNUH BAYIKU! AKU KEHILANGAN INGATANKU KARNANYA! AKU AKAN MEMBALAS PERLAKUANNYA!"
"ALESHA, CUKUP! KEMBALI KE KAMARMU!"
"Tidak mau! Aku ingin bertemu dengan kakekku! Aku akan hadapi orang-orang jahat itu! Aku tidak takut!"
"Alesha! Ingat, kau sedang hamil! Kembali ke kamarmu sekarang!"
"Aku tidak mau! Aku ingin bertemu dengan kakekku, Rangga! Kau yang memisahkanku dengannya!"
"ALESHA!!!"
Deg!
Alesha terlonjak hingga tercekat setelah Rangga membentaknya begitu keras.
"Alesha, kembali ke kamarmu sekarang!"
Alesha tertunduk. Takut. Ya! Ia sangat takut jika Rangga marah padanya. Ia selalu patuh, dan menuruti semua yang Rangga katakan karna ia takut Rangga akan memarahinya. Tapi kali ini? Apa yang sudah ia lakukan? Ia malah membuat kakak angkatnya itu marah hingga membentaknya dengan keras.
"Kembali ke kamarmu sekarang!" suara Rangga merendah. "Merina, temani Alesha ke kamarnya."
"I... iya." Merina pun sama, ia sungguh terkejut ketika melihat Alesha yang dibentak begitu keras oleh Rangga.
"Ayo, Al," ajak Merina sembari menggandeng lengan Alesha.
Alesha mengangguk pelan. Ia masih menunduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Aku tidak tahu jika Alesha bisa takluk oleh kakaknya," komen Tyson setelah Alesha pergi.
"Aku pikir hanya Mr. Jacob saja yang bisa menaklukkan Alesha," sambung Aiden.
"Kau baru saja membentak Nona Alesha." Taylor membidik Rangga dengan tatapan tajamnya. "Jangan mentang-mentang kau adalah kakaknya jadi kau bisa berlaku sesuka hati pada Nona Alesha. Ingat! Kau hanya kakak angkatnya. Bahkan tuan Jacob lebih berharap kalau kau tak perlu ikut menjaga Nona di sini."
Rangga mengepalkan kedua telapak tangannya. Rahangnya pun turut mengeras saking kuatnya ia menahan amarah terhadap ucapan Taylor barusan.
Tidak ada yang menghargaiku di sini selain Alesha! Aku memang hanya kakak angkat untuk Alesha, tapi aku tidak akan berhenti untuk menjaga Alesha! Bapak, Rangga janji, Rangga akan terus jaga Alesha, walau pun menantu bapak sama sekali gak menghargai, dan mengharapkan Rangga..... tekad Rangga dalam hatinya.
*****
Di dalam kamarnya, Alesha menangis sesegukan sembari memeluk Baby Ale.
"Hiks, aku ingin bertemu dengan Kakekku, Merina. Hiks, aku ingin bertemu dengannya."
"Kau akan bertemu dengannya, Alesha, tapi tidak sekarang. Di luar sana berbahaya untukmu."
"Aku tidak takut, hiks. Akan aku lawan, dan habis orang-orang jahat itu. Hiks, aku hanya ingin bertemu dengan Kakekku. Dia pasti sangat mengkhawatirkan aku, hiks. Rangga jahat, dia benar-benar menyembunyikan banyak hal dariku, hiks."
Tok.... Tok.... Tok....
"Permisi, Nona," ucap Taylor dari luar pintu kamar.
"Hiks, iya, buka saja pintunya!" sahut Alesha bergetar.
Sepersekian detik kemudian...
Ceklek.
Siapa mereka? Pikir Alesha.
"ALESHA!"
Laura, ibu mertua Alesha itu telah tiba, dan langsung berlari menghampiri menantunya dengan perasaan yang teramat bahagia.
"Alesha, ini ibu, ibu mertuamu, hiks."
Alesha tertegun bingung ketika wanita paruh baya yang mengaku sebagai ibu mertuanya itu memeluk tubuhnya dengan erat.
"Ini ibu, Al, hiks. Kau tahu, kami semua benar-benar kehilanganmu waktu itu."
Alesha masih diam bersama seribu kebingungannya.
"Alesha..." Mona mendekat. Ia mendirikan putranya, Haris didekat Sharon. "Al, ini aku, Mona, Kakak Jacob, Kakak iparmu," ia lembut mengusap pipi Alesha.
Sungguh, Alesha benar-benar tidak tahu siapa orang-orang yang ada dihadapannya itu.
"Alesha, kau mengingatku? Aku Sharon, adik iparmu, ini Haris, keponakanmu, Al," ucap Sharon sembari berjalan mendekat pada Alesha.
"Alesha, kau tidak mengingat kami?" Laura menangkup wajah menantunya. "Hey, kau tidak mengingat kami?"
Alesha menggelengkan kepalanya.
"Aku Laura, ibu mertuamu." Laura tersenyum. "Tidak apa kau belum mengingat kami. Nanti juga, secara perlahan kau akan ingat siapa kami."
Alesha tak membalas apapun. Ia diam, dan semakin bertanya-tanya siapa tiga wanita yang baru datang itu?
"Al, dimana Jacob?" tanya Mona.
Dimana Jacob? Sebentar, ini sudah pukul delapan lewat lima belas pagi, dimana Jacob? Kenapa Jacob belum pulang juga?
Alesha menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu," kemudian ia menoleh pada Taylor. "Dimana Mr. Jacob? Kenapa dia belum pulang?"
Taylor diam menatap lurus nona mudanya. Apa yang mesti ia jawab. Ia saja belum mendapatkan kabar apapun lagi dari Jacob.
"Taylor, dimana Mr. Jacob?" tanya Alesha, lirih.
"Ehm, tuan bilang masih ada kesibukan di tempat kerjanya, Nona, jadi, Tuan Jacob belum bisa segera pulang," jawab Taylor, kaku.
Alesha tertunduk pasrah. Sejujurnya, ia merindukan Jacob, tapi Jacob masih belum bisa pulang.
"Alesha, Jacob bilang pada ibu kalau kau hamil. Apa itu benar?"
"Iya." Alesha mengangguk.
"Sungguh?" kedua kelopak mata Laura melebar. "Kalau begitu, ibu akan segera mendapatkan cucu lagi?" Laura memekik gembira.
"Ehm... I.. Iya," lagi, Alesha mengangguk, kaku.
"Ya ampun, syukurlah kalau begitu."
Deg!
Alesha kembali tercekat saat Laura memeluk tubuhnya dengan erat.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu benar-benar dilanda kebahagiaan yang begitu besar. Bagaimana tidak? Mona hamil, Alesha juga hamil! Itu berarti ia akan segera mendapatkan dua cucu dari kedua anaknya. Itu adalah sebuah anugrah, ia sangat bersyukur sekali atas kehamilan Alesha, dan Mona.
*****
Sementara itu di kantor SIO, Bandung.
Laras, ia menangis tersedu-sedu saat memeluk tubuh putrinya, Hawa yang berhasil diselamatkan oleh suaminya, dan para agent SIO yang lain.
Kelompok Jaringan Gelap yang berada di Indonesia telah berhasil dikalahkan, begitu pun dengan si kepala utama, otak dari terbentuknya komplotan tersebut, yaitu Hugo.
Mr. Frank bersama Aldi sedang berada di ruang tempat Hugo ditahan. Mereka tengah melakukan introgasi terhadap si dalang tersebut.
Sementara itu, Jacob, ia berada di ruang perawatan. Terdapat sebuah cidera cukup parah dibahu kanannya ditambah luka tembakan dibagian perutnya.
"Mr. Jacob, apa yang kau rasakan saat ini?" tanya sang dokter.
"Jauh lebih baik," jawab Jacob.
"Syukurlah."
Lucas, dan Mike yang menemani Jacob di ruangan itu pun dapat bernapas lega. Pasalnya, kini mentor mereka semasa di WOSA sudah terlihat jauh lebih baik ketimbang beberapa jam yang lalu.
"Aku harus pulang sekarang," ucap Jacob.
"Tidak. Kau masih terlalu lemah, Mr. Jacob, jangan paksakan dirimu!" larang sang dokter.
"Aku baik-baik saja. Sungguh, aku harus segera pulang. Istriku menunggu di rumah." Jacob bersikeras.
"Mr. Jacob, kau tidak boleh kelelahan atau banyak bergerak dulu untuk sementara waktu. Luka tembakanmu tidak akan pulih hanya dalam hitungan jam!"
"Aku tahu, aku memiliki perawat pribadi di rumah," bohong Jacob. Sejak kapan ia memiliki perawat pribadi?
"Huft! Baiklah, karna kau terus saja memaksa dari tadi. Kau boleh pulang sekarang." Dokter SIO itu akhirnya pasrah, dan memberikan izin untuk Jacob dapat pulang. Bukan hanya sekali, namun Jacob terus menerus memaksa untuk pulang dari tadi. Jadi, dengan terpaksa ia pun memberikan izin setelah menimbang, dan meninjau kondisi terakhir Jacob barusan.
"Terima kasih kalau begitu, dokter Vei," balas Jacob.
"Ya, sama-sama." Dokter Vei mengangguk.
"Kalian mau ikut bersamaku?" Jacob menunjuk Mike, dan Lucas.
"Ya. Lagi pun kami tidak ada pekerjaan lagi di sini," jawab Mike.
"Dimana Bastian, Maudy, dan Nakyung?"
"Mereka pulang duluan ke apartemen sekitar satu jam yang lalu," jawab Lucas.
Jacob hanya membalasnya dengan anggukkan.
"Ayo, kita pulang. Aku ingin cepat-cepat beristirahat," ucap Jacob sembari berjalan.
Lucas, dan Mike berinisiatif membantu Jacob berjalan dengan menggandeng lengan pria itu.
*****
"Tuan Vincent, mansion Mr. Jacob, dan Alesha dipenuhi oleh anak buah Mr. Jacob, dan Nyonya Laura. Akan sulit untuk kita melaksanakan misi kita," ucap Stella.
"Tenang saja. Kita lihat seberapa ketat pengamanan yang Jacob berikan untuk kawanmu itu, Stella," balas Vincent.
Sebelah alis Stella terangkat saat ia mendegar kata 'kawanmu'. Apa maksudnya adalah Alesha, kawannya? Begitu?
"Akan aku buat Jacob seperti dulu. Gila sebab ditinggal Yuna, dan kita akan bawa masa lalu Jacob dalam misi kali ini." Vincent menyeringai. Ia bersamamu Stella dan lima belas anak buah Theo yang lain sudah tiba di Indonesia. Mereka sedang beristirahat disebuah vila yang terletak di Bandung.
"Kau yakin dengan itu?" Stella sedikit ragu.
"Kenapa tidak? Bukankah Alesha amnesia? Kau bisa menghasutnya, Stella. Dia mungkin tidak ingat apa yang sudah kau lakukan padanya."
Stella memutar kedua bola matanya dengan jengah. "Tidak usah mengungkit itu."
Vincent terkekeh. "Kau pasti senang akan segera bertemu dengan kawan lamamu."
"Huft!" Stella menghembuskan napasnya dengan kasar. "Aku akan ke kamar sekarang," ia terlanjur malas dengan Vincent, jadi, ia lebih memilih pergi saja menghindari pria itu.
*****
"Momy...." Haris, bocah kecil berusia empat tahun itu berlari menghampiri ibunya, Mona. "Dia memukulku!" pria kecil itu mengerucutkan bibirnya sembari mengadu pada ibunya.
Mona tersenyum. "Siapa?"
"Dia!" Haris menunjuk pada Nick yang terduduk sembari menatap polos ke arah Haris.
"Sakit, momy!" Haris menghentakkan kakinya dengan sebal sembari memegangi kepalanya.
"Nick ingin meminjam mainan Haris, Mona, namun Haris menolaknya, jadi Nick memukulnya," ucap Tessa sembari tertawa kecil.
"Haris, kau tidak boleh pelit!" Mona menoel gemas ujung hidung putranya.
Alesha tak berkomentar apapun melihat dua bocah yang membuatnya teringat akan mendiang putra, dan putrinya.
"Khalid.... Alshiba..." gumam Alesha. Tidak terasa, kelopak mata Alesha membasah. Ia seperti akan menangis, namun berusaha untuk menahannya.
Laura yang menyadari hal itu pun langsung mendekati menantunya.
"Alesha, kenapa?" tanya Laura, lembut. "Matamu berkaca-kaca, kau menangis?"
"Tidak apa-apa, ibu." Alesha tersenyum sembari menyerka air matanya yang jatuh. "Melihat Nick, dan Haris membuatku teringat pada Khalid, dan Alshiba,".kepalanya tertunduk. Ia mengerjap beberapa kali sebab air mata mengaburkan pandangannya.
Laura menghela napas panjang. Sepertinya, ia juga mulai merasakan apa yang Alesha rasakan. Ia kehilangan kedua cucunya sekitar satu tahun setengah yang lalu. Alesha pasti sangat sedih. Ia tahu bagaimana rasanya kehilangan dua anak yang begitu dicintai.
"Khalid, Alshiba.... Bunda kangen," lirih Alesha nyaris tanpa suara. "Kalian lagi apa?"
"Al, ibu tahu apa yang kau rasakan. Ibu pernah mengalaminya. Bersabarlah, Khalid, dan Alshiba sudah bahagia. Sekarang kau, Jacob, dan kita semua hanya perlu fokus pada kehamilanmu." Laura mencoba untuk menyemangati menantunya.
Alesha mengangguk. Ibu mertuanya benar, ia sedang hamil, dan ia harus fokus pada kehamilannya itu supaya bisa tetap dalam kondisi sehat sampai lahiran nanti, dan seterusnya.
"Permisi, Nona, Nyonya." Taylor berdiri dihadapan Alesha, dan Laura. "Tuan Jacob, dia baru saja tiba, sekarang Tuan berada di ruang tamu."
Kedua mata Alesha langsung melebar, dan menunjukkan binar bahagia. "Ibu, akan pergi ke Jacob dulu," ucap Alesha kepada ibu mertuanya.
Laura mengangguk. "Ayo, ibu juga ingin menemui suamimu."
Tak ingin membuang waktu, akhirnya Alesha pun bergegas, melangkah cepat menuju tempat dimana suaminya berada. Laura berjalan menyusul di belakang.
*
*
*
__ADS_1
Holla, author balik lagi. Terima kasih buat yang masih baca sampe sekarang ๐๐
Ceritanya masih lanjut yups ๐