Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Fight


__ADS_3

Flashback 10.00 WIB


Jacob, dan Rendi benar-benar sibuk karna mereka berdua harus menghadapi lima belas pria sekaligus.


Tidak adil memang, pria-pria yang merupakan anak buah Theo itu menyerang tanpa memberikan jeda sedikit pun.


Rumitnya teknik, dan gerakan pukulan yang Jacob, dan Rendi terima sungguh menyusahkan. Beruntungnya baik Jacob mau pun Rendi, mereka telah sama-sama ahli dalam bela diri, jadi mereka bisa mengatasi kelima belas pria itu. Ya meski mereka berdua juga merasa keteteran.


"Menyerahlah kalian!" Teriak salah seorang pria.


"Tidak akan!" Balas Jacob sembari terus menghajar beberapa pria.


"Kalian akan kalah!"


"Jangan remehkan kami!" Pekik Rendi. Ia meninju wajah salah seorang pria, lalu menghantamkan dua kepala pria lain pada batang pohon dengan sangat keras.


Pukulan demi pukulan, suara pertarungan, juga beberapa rintihan kesakitan pun mengisi sekitaran hutan yang menjadi lahan untuk Jacob, dan Rendi menghabisi kelima belas pria suruhan Theo itu.


Tidak mudah! Sangat menyulitkan menghadapi para pria yang benar-benar jago dalam hal bela diri, bahkan jika Rendi, dan Jacob lengah sedikit saja, mereka berdua bisa mati mengenaskan di hutan itu.


Beberapa belati nyaris menyayat kulit mereka, beberapa tembakan peluru berhasil dihindarkan, bahkan mereka berdua nyaris saja jatuh ke dalam jurang.


Berkat kesigapan, perkiraan, dan perhitungan yang baik Jacob, dan Rendi berhasil membuat lumpuh sekitar sepuluh pria. Mereka berdua mematahkan beberapa tulang, dan menyerang beberapa area vital para pria itu.


Si pencuri virus pun mulai khawatir karna sadar jika teman-temannya yang lain sudah banyak yang tergeletak tak sadarkan diri dengan keadaan yang mengenaskan.


"Jangan kabur lagi kau!" Geram Jacob yang langsung mengunci tubuh si pencuri.


Sial! Karna terlalu sibuk dengan pikirannya kini si pencuri itu malah berhasil ditangkap oleh Jacob.


"Dimana virusnya!" Bentak Jacob.


Si pencuri itu diam, menahan nyeri pada lehernya yang dicekik oleh ruas tulang lengan Jacob.


"Jack, dibelakang!" Teriak Rendi.


Jacob pun berbalik badan, dan dengan cepat menghindar dari sebuah belati yang nyaris saja tertancap pada tubuhnya.


"KAU!" Rahang Jacob mengeras. Kedua tangannya yang terkepal kini melayang meninju wajah si pria yang tadi akan menusuknya itu.


"DASAR TIDAK BERGUNA!" Jacob merebut dengan mudah belati yang pria itu pegang lalu memberikan banyak sayatan panjang, dan dalam pada kaki pria itu.


"KAU YANG TIDAK BERGUNA!" Ucap si pencuri sembari menarik bahu Jacob, dan menjatuhkannya dengan keras.


Si pencuri itu sudah menggenggam sebuah gagang kayu.


"MATI KAU, JACOB!"


Gagang kayu itu pun diangkat tinggi-tinggi lalu dilesatkan ke arah wajah Jacob.


Refleks, Jacob menggunakan kedua lengannya untuk menahan pukulan dari gagang kayu itu.


"Argh!!" Erang Jacob ketika merasakan nyeri pada lengannya yang berbaku hantam dengan gagang kayu.


"MATI KAU, JACOB!!!" Teriak si pencuri itu sembari terus memukuli Jacob menggunakan gagang kayu.


Jacob yang terus berusaha untuk menghindar pun tidak bisa banyak melakukan perlawanan. Kedua tangannya dipakai untuk menahan pukulan dari gagang kayu tersebut. Tetapi Jacob tidak mau menyerah, ia pun menyari akal dengan menenang tubuh si pencuri itu menggunakan kakinya.


Alhasil, si pencuri itu pun sedikit terpental.

__ADS_1


Jacob segera bangkit berdiri. "Kau akan menyesal!" Geram Jacob. Kakinya melangkah maju menyerang si pencuri.


Dengan satu gerakan, gagang kayu yang dipegang oleh si pencuri itu pun terjatuh karna dihempaskan oleh Jacob. Selanjutnya, kini keadaan berbanding terbalik, si pencuri itu terjatuh menghantam tanah dengan sangat keras.


Sebuah kesempatan untuk Jacob. Ia lalu menghajar habis-habisan si pencuri itu tanpa memberikan ampunan sedikit pun.


"Jack, aku sudah mendapatkan virusnya!" Teriak Rendi yang ternyata sudah menghabisi keempat pria yang lain lalu mendapatkan virus XXX dari dalam tas si pencuri yang saat ini menjadi samsak untuk Jacob.


"Cukup, Jack! Pria itu sudah pingsan, atau mati mungkin!" Teriak Rendi, lagi.


Jacob menghentikan hajarannya pada si pencuri yang saat ini sudah tidak sadarkan diri.


"Ayo kita pergi!" Rendi segera menarik lengan Jacob dan membawanya pergi.


Tapi, sayangnya, keberuntungan kini tidak memihak pada Jacob, dan Rendi. Tiba-tiba saja ada segerombolan pria lain yang jumlahnya lebih banyak. Bahkan pria-pria itu kini malah menyerang, dan menghabisi Jacob, dan Rendi.


Salah satu diantara pria itu menghajar Rendi lalu merebut sampel virus XXX yang Rendi bawa.


Jacob, dan Rendi benar-benar kalah, dan lelah. Ada sekitar dua puluhan pria yang menyerang mereka. Tentu saja itu tidak seimbang!


Beberapa sayatan panjang pun terukir pada area tangan juga kaki Jacob, dan Rendi, luka-luka lebam tercetak jelas pada wajah mereka, dan terakhir, beberapa pria itu menendang tubuh Jacob, dan Rendi yang sudah tidak sadarkan diri ke dalam jurang yang tidak terlalu dalam.


"Ayo kita pergi!" Ucap salah seorang pria yang sepertinya pemimpin dari gerombolan pria tersebut.


...*****...


Kembali pada Levin, dan Aldi. Mereka berdua terpental cukup jauh karna bom yang tiba-tiba saja meledak. Bahkan mereka berdua mendapatkan luka bakar pada tangan, dan kaki akibat terkena percikan api dari bom tersebut.


Belum sempat Levin, dan Aldi berdiri, tiba-tiba muncul sekitar dua puluhan pria yang mengelili mereka.


"Habisi mereka!" Titah sang ketua.


Tidak ada celah sama sekali untuk Levin, dan Aldi menghindar. Mereka benar-benar terkurung, dan tidak bisa melakukan apapun ketika sepuluh pria itu memberikan banyak pukulan hingga membuat mereka berdua akhirnya pingsan.


"Tuan, SIO mengirim beberapa agentnya ke tempat ini, kita harus segera pergi!" Sahut salah seorang pria.


"Tinggalkan mereka! Kita susul kelompok kita yang sedang menghajar Jacob, dan Rendi sekarang lalu setelah itu kita pergi dari tempat ini!" Perintah si ketua.


Gerombolan pria itu pun pergi dengan membiarkan tubuh Levin, dan Aldi tergeletak tak sadarkan diri.


Tapi untungnya Danish beserta beberapa anak buahnya pun segera tiba di lokasi Levin, dan Aldi berada. Mereka mungkin sedikit telat.


"Dua orang bawa Levin, dan Aldi ke SIO, tiga lainnya cari Jacob, dan Rendi! Sisanya ikut aku untuk memburu, dan menghabisi kelompok mafia tidak berguna itu!" Perintah Danish yang segera dituruti oleh anak buahnya.


Flashback Off.


Waktu membawa malam semakin larut. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB


Empat jam sudah berlalu sejak acara syukuran di rumah Jacob, dan Alesha itu berakhir. Namun kini yang menjadi permasalahan adalah kemana Jacob? Kenapa dia belum pulang, dan tidak bisa dihubungi?


Alesha sudah tidak karuan, rasa kecemasannya bahkan membuat kedelapan temannya juga turut merasa khawatir.


"Al, tenanglah, Mr. Jacob pasti sedang sangat sibuk," Ucap Nakyung yang mencoba untuk menenangkan Alesha. Tapi sayangnya hal itu sama sekali tidak berpengaruh terhadap Alesha.


"Mr. Jacob kemana? Dia tidak bisa dihubungi sejak pagi tadi, Na, aku takut, ini sudah larut malam," Lirih Alesha. Kedua telapak tangannya saling menggenggam, dan sedikit bergetar karna saking tingginya rasa cemas terhadap sang suami.


"Bas, apa kita beritahu Alesha saja?" Bisik Lucas.


"Tidak! Jangan!" Balas Bastian yang berbisik pula.

__ADS_1


"Tapi aku bingung, Bas, Mr. Jacob sudah tidak ada di tempat ia pingsan tadi. Aku sudah melihat lokasi tempat itu melalui satelit, tetapi Mr. Jacob menghilang.."


Percakapan Lucas, dan Bastian pun langsung berhenti ketika mereka menyadari jika Alesha, dan yang lain tiba-tiba saja pergi setelah ada seorang pelayan yang memberitahu jika Jacob sudah pulang.


Dan benar saja, tepat saat Alesha tiba di ruangan depan pintu masuk, beberapa pria berjas pun muncul sembari memapah tubuh Jacob yang terlihat begitu lemas.


Baju kemeja yang kotor karna tanah, luka lebam pada wajah, sobekkan yang panjang pada kedua bagian lengan ditambah dengan bercak darah.


Alesha merasa lemas, dan bergetar karna mendapati kondisi suaminya yang seperti itu. Kedua kelopak matanya mulai basah oleh air mata. Perlahan, rintikan cair itu pun turun beriringan dengan sesegukan yang mulai terdengar.


"Mr. Jacob...." Bergetar suara Alesha sembari berlari menghampiri suaminya yang tiba-tiba saja ambruk.


"Hiks, Mr. Jacob... Hiks.." Alesha berlutut lalu meraih kepala suaminya untuk dibawa ke dalam pangkuannya.


"Mr. Jacob.... Hiks.. Kenapa?" Alesha menangis sesegukan. Rasanya sangat perih melihat Jacob yang terbaring lemah seperti sekarang ini.


"Jack...." Laura yang baru saja tiba pun langsung mematung di tempat ketika mendapati putranya yang nampak dalam keadaan cukup kacau.


Bukan hanya Laura, tetapi Taylor, Bastian, Lucas, Aiden, Mike, Tyson, Nakyung, Maudy, Merina, dan Sharon, bahkan semua penjaga yang berada di sekitar Alesha pun sama-sama tertegun karna melihat kondisi Jacob saat ini.


"Mr. Jacob.... Hiks," Panggil Alesha, lirih. "Mr. Jacob, kau kenapa, hiks?" Tubuh Alesha bergetar, tetapi ia masih mampu untuk membawa wajah suaminya itu kedalam pelukannya.


"Mr. Jacob....." Bisik Alesha tepat disebelah telinga suaminya. "Hiks, Mr. Jacob..."


"Bisa kau berhenti memanggilku dengan sebutan itu, Lil Ale?"


Deg!


Alesha mendapati dirinya yang tertegun ketika mendengar suara Jacob yang membalas bisikannya.


"Sayang...."


Alesha menundukkan wajah untuk menatap pada suaminya.


"Aku sudah berapa kali bilang padamu untuk berhenti memanggilku dengan sebutan itu," Jacob kembali berucap, namun dengan diiringi oleh senyuman kecil.


"Jack..." Panggil Alesha, pelan. Kedua iris coklatnya menatap lekat seolah tidak percaya jika suaminya itu baru saja berucap padanya.


Alesha kira Jacob pingsan.


"Aku baik-baik saja, sayang, hanya sedikit lemas," Jacob memberikan usapan lembut pada pipi istrinya.


"Jacob, baik-baik saja, Dokter SIO sudah mengobatinya tadi. Tapi mungkin memang tubuhnya lemas karna terlalu banyak menerima pukulan, dan serangan, tadi juga Jacob sempet pingsan selama empat jam." Ucap salah seorang pria yang tadi membantu Jacob untuk berjalan.


Alesha terkesiap ketika mendengar ucapan pria itu yang mengatakan kalau Jacob pingsan selama empat jam. "Apa yang terjadi padanya?" Tanya Alesha yang masih dibarengi oleh isakkan.


"Jacob, dan beberapa agent SIO lain melakukan pengejaran terhadap seorang pria yang mencuri salah satu sampel virus dari laboratorium. Pencuri itu membawa Jacob, Levin, Aldi, dan Rendi ke wilayah perbatasan Bandung-Garut, tepatnya daerah setelah Nagreg yang mana merupakan wilayah hutan lebat." Jawab si pria tersebut.


"Astagfirullah..." Alesha bergumam lirih seraya menatap sedih pada suaminya.


"Aku baik-baik saja, sayang," Ucap Jacob lembut.


Alesha mengangguk kecil. "Kau, hiks, istirahat lah."


"Bisa tolong ada yang menyiapkan air hangat untuk Jacob membersihkan tubuhnya," Pinta Alesha.


"Saya akan menyuruh seorang pelayan untuk menyiapkannya, Nona," Ucap Taylor, dan ia pun segera pergi.


"Tolong bantu Jacob, bawa dia ke kamar sekarang," Alesha bangkit sembari membantu Jacob untuk berdiri. Selebihnya, Alesha berjalan tepat dibelakang Jacob, dan membiarkan beberapa pria membantu suaminya itu untuk berjalan menuju kamar.

__ADS_1


__ADS_2