Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Come Back Home


__ADS_3

Alesha, dan Jacob tengah terduduk diam di ruangan dokter Jesline. Mereka berdua sama-sama gugup, dan tak sabar menunggu hasil dari testpect Alesha, apakah satu atau dua garis?


"Jack, bagaimana kalau aku hamil?" lirih Alesha.


"Kenapa kau bertanya seperti itu, Lil Ale. Tentu saja sangat bagus jika kau hamil!" belum apa-apa, Jacob sudah mulai larut dalam euforia. Ia sangat yakin bahwa istrinya itu sedang mengandung juniornya.


Enam bulan lebih mereka bersama setelah sebelumnya terpisah selama satu tahun, tentunya Jacob sangat amat berharap jika Alesha hamil kembali. Ia ingin memiliki anak, dan keturunan. Kali ini, Jacob janji! Ia akan menjaga Alesha sebaik mungkin, tidak akan bersikap kasar apalagi acuh, dan sibuk dengan urusannya.


"Jika aku hamil, berarti ini adalah kehamilan keduaku?" Alesha menatap polos pada suaminya.


"Iya, sayang." Jacob membelai lembut kepala istrinya.


"Tapi usiaku masih dua puluh dua tahun lebih enam bulan, Jack, apa tidak apa-apa aku hamil diusia muda?" Tiba-tiba Alesha ingat kalau hamil diusia muda itu memiliki risiko cukup besar. Ia hanya ingat itu saja, tidak ingat yang lainnya. Bahkan ia tidak tahu bagaimana ia bisa mengingat itu.


Jacob tertegun sejenak. Ia baru ingat kalau istrinya itu masih sangat muda, berbeda dengannya yang beberapa bulan lagi akan berkepala tiga. Kenapa Jacob melupakan itu?


"Tidak apa, sayang. Kita akan sering-sering konsultasi ke dokter. Kau memiliki teman yang berprofesi sebagai seorang dokter kandungan Alesha, tenang saja." Jacob berusaha untuk berpositif thinking.


Alesha mengangguk. Sejurus kemudian, ia tersenyum lalu mengelusi perutnya sendiri. "Kalau aku hamil, tandanya aku akan segera menjadi seorang ibu."


"Kau memang sudah menjadi seorang ibu, sayang. Ibu untuk anak-anak kita yang sudah lebih dulu tinggal di surga."


"Jack, Alesha," suara dokter Jesline membuat Alesha, dan Jacob sama-sama menoleh pada dokter muda tersebut.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Jacob yang sudah tidak sabar.


Dokter Jesline tak langsung menjawab, melainkan memandangi Jacob, dan Alesha bergantian.


"Bagaimana hasilnya?" Jacob mengulangi pertanyaannya. Ayolah ia sudah sangat penasaran!


Perlahan, ekspresi wajah dokter Jesline berubah. Segaris senyum kecil sedikit menambah elok rupanya.


"Selamat, Alesha hamil."


Deg!


Hening........


Jacob bergeming, begitu pula dengan Alesha yang terkejut dengan hasil dari alat testpack yang dokter Jesline pegang.


"Garis dua," dokter itu menunjukkan dua garis merah pada alat testpack Alesha sebagai bukti bahwa Alesha benar sedang mengandung anak Jacob.


"Alhamdulillah, Ya Allah," gumam Alesha disertai isakkan yang mulai timbul.


"Alesha." Jacob menoleh pada istrinya. "Kau hamil," ia membelai lembut pipi Alesha. "Kau sedang mengandung anakku, anak kita, sayang."


"Hiks, iya, Jack. Hiks." Alesha mengangguk.


Sejurus kemudian, tubuh Alesha sudah tenggelam dalam dekapan erat suaminya. "Kau hamil, Alesha. Alhamdulillah, Ya Allah, alhamdulillah."


Jacob menyerka bulir air mata yang meluncur dipipinya. Ia sungguh terharu. Penantiannya kini berbuah hasil. Alesha hamil. Ya! Alesha hamil lagi!


"Aku mencintaimu, sayang. Aku mencintai kalian berdua, kau, dan calon anak kita," ciuman - ciuman kilat Jacob kini menghujani wajah Alesha.


"Selamat, Alesha, Jacob, kalian akan segera menjadi orang tua," ucapan selamat dokter Jesline.


"Terima kasih, Jesline," balas Jacob.


...*****...


Esok hari kemudian.


Levin, dan Eve sudah bersiap untuk berangkat menuju markas baru Theo, Theora, dan Vincent. Begitu pula dengan Danish, pagi ini ia akan terbang menuju Bandung. Ia akan langsung beraksi mencari kelompok jaringan gelap yang telah menculik anak perempuannya, Hawa.


"Jack, aku titip Tessa, dan Nicholas. Aku mohon jaga mereka, aku tidak bisa kehilangan mereka," ucap Levin begitu memohon pada rivalnya, Jacob.


"Kau tenang saja, mereka akan aman bersamaku. Akan ku buat kelompok jaringan gelap sialan itu kembali hancur. Bahkan lebih hancur dari yang sebelumnya!" balas Jacob.


"Jacob, kita harus berangkat sekarang!" ucap Danish sembari menjinjing ras, dan menyeret kopernya.


Jacob mengangguk. "Duluan saja ke pesawat, aku akan memanggil Alesha lebih dulu."


"Aku percayakan Tessa, dan putra kami padamu, Jack. Tolong, jaga mereka seperti keluarga sendiri."


"Istri, dan anakmu berada dalam penjagaan orang yang tepat, Levin. Kau fokus lah bersama Eve untuk memata-matai mafia sialan itu! Aku pergi dulu, pesawat akan segera lepas landas sebentar lagi." Jacob menepuk bahu Levin.

__ADS_1


Sebagai balasan, Levin hanya mengangguk. Ia memang sangat khawatir pada istri, dan anaknya. Namun, ia bersyukur karna Jacob mau menjaga dua orang yang paling yang dicintainya itu.


Jacob berlalu pergi. Langkahnya cepat dan tegap menuju kamarnya.


Ceklek.


"Alesha...."


"Iya?" Alesha menyahut. Ia sedang terduduk saja dipinggiran kasur tanpa melakukan aktivitas apapun.


"Ayo, kita berangkat sekarang, sayang. Kau berjalan saja duluan, aku yang akan membawa tas, dan kopermu," ucap Jacob.


"Baiklah." Alesha mengedikkan bahunya.


"Eh, tunggu sebentar!" tiba-tiba saja Jacob menahan lengan Alesha. "Sayang, kulit lehermu kelihatan," ternyata ia berniat untuk membetulkan kerudung Alesha yang pada bagian lehernya sedikit terbuka. "Sudah! Sekarang kan lebih rapih, dan cantik," dengan gemas Jacob menangkup wajah istrinya.


"Jack, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Alesha.


"Tentu saja, silahkan."


"Ayo, aku akan bertanya sembari berjalan." Alesha mulai melangkah. Jacob pun sama, pria itu berjalan tepat disebelah istrinya sembari membawa dua tas, dan dua koper.


"Baby J. Apa itu?" tanya Alesha.


"Baby J?" tawa kecil lolos begitu saja ketika Jacob mengucap sebutan nama yang Alesha berikan untuk calon anak mereka. "Apa yang kau ingat tentang Baby J, sayang?"


"Aku tidak mengingat apapun. Tiba-tiba itu muncul dalam kepalaku," jawab Alesha.


"Baby J." Jacob tersenyum lembut. Ia jadi merindukan kedua putra dan putrinya. "Baby J adalah sebutan yang kau berikan untuk calon anak kita yang masih berada di rahimmu, Al."


"Apa? Aku?" Alesha menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Kau yang waktu itu mengatakan padaku jika janin dalam rahimmu itu kau beri sebutan Baby J." Jacob mengangguk.


"Baby J?" Alesha berpikir. "Baby Jacob kah?"


"Iya, sayangku. Baby J adalah Baby Jacob," ugh! Gemas sekali! Rasanya Jacob ingin mencium wajah istrinya itu.


"Baby Jacob." Alesha tertawa kecil. Ia merasa geli, namun lucu juga. "Berarti dia juga Baby J?" Alesha mengelus perutnya.


"Iya, sayang, dia Baby J, Baby kita, Baby Jacob, anakku." Jacob menggertakkan giginya, gemas.


Alesha berjinjit untuk berbisik pada suaminya. "Tembakkanmu tepat sasaran, Big Guy."


"Apa?" Jacob sedikit memekik. "Kau bilang apa?" ia lanjut tertawa geli.


"Tidak." Alesha mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tersenyum dan berpura-pura tidak tahu saja.


"Tembakkanku kenapa, sayang?" Jacob sedikit membungkuk.


"Tidak kenapa - kenapa." Alesha menggelengkan kepalanya.


"Katakan atau aku akan menembakmu." Jacob mulai menggoda istrinya.


"Kau tidak bisa menembakku saat ini," elak Alesha.


"Sungguh? Kalau begitu, setelah sampai di rumah nanti, aku akan langsung menembakmu habis - habiisan." Jacob semakin menggerakkan giginya. Ia begitu gemas dengan istri kesayangannya itu.


...*****...


Berjam jam berlalu cepat. Tak terasa, Alesha dan Jacob sudah tiba di Bandung, Jawa Barat.


"Hmmm, Bandung. Kota sejuk penuh kenangan." Alesha memejamkan mata, menikmati semliwir angin yang berhembus sejuk. Ia sedang menunggu mobil penjemput.


"Jack, Alesha, aku duluan. Mobil SIO sudah tiba," ucap Danish, tergesa-gesa.


"Iya. Hati - hati di jalan," balas Jacob sembari mengangguk.


Danish tak membalas apapun lagi. Ia, harus cepat-cepat tiba di SIO karna istrinya, Laras sudah menunggunya.


Sementara Jacob, dan Alesha, mereka menunggu Taylor yang sebentar lagi akan tiba untuk menjemput mereka.


"Jack, aku ingin mie ayam yang pedas, boleh?" pinta Alesha dengan manja. Mungkin ia mulai mengidam.


"Mie ayam pedas?" ulang Jacob.

__ADS_1


"Iya." Alesha mengangguk. "Dan juga jus cappucino yang dingin."


"Jus cappucino?" lagi, Jacob mengulangi ucapan istrinya.


"Cappucino, kau tahu kan? Itu dijus dan diberi es. Uughh, pasti segar. Baby J ingin itu, Jack."


"Kau mengidam, ya?" Jacob tertawa kecil. Aish, saat - saat seperti inilah yang Jacob rindukan, ketika Alesha sedang mengidam lalu bermanja manja padanya supaya dibelikan makanan.


"Jack, aku ingin mie ayam pedas, dan jus cappucino." Alesha sedikit merengek. Ia mengayun - ayunkan lengan suaminya.


"Iya, nanti Taylor yang akan membelikkannya untukmu," balas Jacob. Ia mengusap gemas puncak kepala istrinya.


Diwaktu yang bersamaan pula, ternyata sebuah mobil sedan hitam mengkilat meluncur di atas aspal tepian lajur pesawat terbang dalam bandara.


"Lihatlah, Taylor sudah tiba. Ayo, sayang, rumah lama kita sudah sangat merindukanmu," ucap Jacob.


Tin...


Suara klakson mobil terdengar nyaring, tidak lama kemudian, muncul sosok pria dari dalam mobil sedan tersebut.


"Tuan, Nona, selamat datang kembali di Bandung," sapa ramah Taylor. Pria tersebut melemparkan senyuman yang begitu ramah.


"Terima kasih, Taylor," balas Jacob.


"Mari, Tuan, Nona." Taylor membukakan pintu mobil untuk kedua majikannya. "Biar saya yang memasukkan barang bawaan anda berdua ke dalam bagasi."


"Ayo, sayang." Jacob meraih pergelangan tangan Alesha. Membawanya masuk ke dalam mobil. "Rumah kita akan segera mendapatkan keceriaannya kembali, Lil Ale." Jacob mencium gemas sebelah pipi istrinya.


"Karna aku sudah kembali. Betul, kan?" Alesha tersenyum bahagia.


"Iya." Jacob mengangguk. "Kau adalah hal yang membuat mansion kita menjadi hidup. Saat kau tidak ada, mansion kita terasa kosong, dan hampa karna kehilangan sosok pembangkit keceriaannya."


"Akhirnya, aku kembali pulang, Jack." Alesha bernapas lega. Ia bahagia karna akan kembali ke rumahnya. Walau pun sebenarnya ia belum mengingat apapun tentang rumahnya itu. "Semoga saja aku bisa mendapatkan semua ingatan lamaku dengan kembali ke rumah kita, Jack."


Tidak! Jangan semua! Jacob tidak mau Alesha mengingat tentang Yuna! Ya ampun, ia baru kepikiran! Bagaimana jika suatu saat Alesha mengingat tentang Yuna? Apa Alesha akan marah? Jacob takut Alesha akan marah padanya karna telah berbohong dengan mengatakan jika Yuna adalah teman mereka. Padahal, sebenarnya Yuna adalah kekasih lama yang pernah begitu Jacob cintai.


"Tuan, Nona, kita berangkat sekarang," ucap Taylor yang sudah kembali duduk dibangku kemudi.


"Iya," balas Jacob. Ia termenung. Lagi. Memikirkan Alesha yang sewaktu - waktu bisa saja mengingat siapa sebenarnya Yuna. Jacob tidak mau lagi masa lalunya kembali diungkit. Ia sudah sangat amat ikhlas Yuna pergi, dan ia pun sudah tidak sama sekali terbelenggu dengan cintanya terhadap Yuna. Yuna sudah berlalu, sebesar apapun cintanya terhadap Yuna waktu itu, saat ini tidak akan lebih dari sekedar masa lalu kelam yang sudah ia kubur dalam - dalam.


Alesha, Yuna hanyalah masa laluku yang sudah sangat berlalu. Aku memang sangat mencintainya waktu itu. Tapi percayalah, sekarang hanya kau wanita yang menjadi ratu untukku. Jangan pernah mengingat Yuna lagi, Alesha. Aku tidak ingin kau terluka karna mengingat bagaimana aku yang dulu sering menyamakanmu dengan Yuna, dan seberapa besar perasaanku terhadap Yuna..... Lirih Jacob dalam hatinya.


...*****...


"Jack, mie ayam pedas, dan jus cappucinonya," tagih Alesha. Ia kini telah sampai di istananya bersama sang suami.


"Oh iya, aku lupa." Jacob menepuk keningnya sendiri. "Taylor!"


"Iya, Tuan?" Taylor menghampiri tuan mudanya.


"Tolong belikan mie ayam pedas, dan jus cappucino untuk Alesha," titah Jacob.


"Hmm, baik, Tuan. Hanya itu saja?"


Jacob mengangguk.


Setelah itu, Taylor pun pamit pergi untuk melaksanakan perintah Jacob.


"Jack, ayo masuk." Alesha seperti tidak sabar untuk segera masuk ke dalam istananya bersama sang suami.


"Iya, sayang. Ayo, kita masuk." Jacob meraih pergelangan tangan istrinya. Ia berjalan beriringan bersama Alesha.


Ternyata sudah ada beberapa pelayan, dan anak buah Jacob yang menunggu mereka di dalam pintu masuk.


"Selamat datang, Tuan, Nona," sambutan langsung diterima oleh Jacob dan Alesha ketika mereka berdiri tepat di ambang pintu.


"Selamat datang kembali, Nona Alesha, kami semua sangat merindukanmu di sini," ucap salah seorang pelayan wanita.


Alesha terdiam, memperhatikan para wajah asing yang berada tepat di sisi kanan dan kirinya.


"Ekhm!"


Tiba-tiba terdengar sebuah deheman berat seorang pria.


Jacob, dan Alesha sama-sama terkejut, dan langsung menoleh ke asal suara yang berdeham tersebut. Tepatnya di belakang, sebelah salah satu mobil sedan hitam yang berjejer di depan halaman mansion itu.

__ADS_1


Lalu, sepersekian detik kemudian, kedua mata Alesha terbelalak begitu lebar, mulutnya ternganga dengan raut wajah yang begitu bahagia.


"Rangga!!"


__ADS_2