Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Mencoba Percaya


__ADS_3

Keesokan harinya, dipagi yang begitu cerah ini, Alesha yang tengah terlelap pun perlahan mengusikkan tubuhnya saat alam bawah sadar meninggalkannya.


Kedua kelopak mata Alesha mulai terbuka secara perlahan, menunjukkan kembali iris coklat yang indah yang begitu memikat Jacob.


Beberapa kedipan menyadarkan Alesha jika dihadapannya kini terdapat seorang pria tampan yang sedang berbaring miring. Wajah tenang itu, sangat damai. Jacob terlihat menenangkan ketika tengah tertidur lelap.


Nyaman...


Lagi, dan lagi itulah yang Alesha rasakan. Selama beberapa saat Alesha tidak mengalihkan pandangannya dari pria jangkung yang mengaku sebagai suaminya tersebut.


Kenapa Alesha juga bisa merasa sangat tenang? Tubuhnya seakan menolak untuk beranjak, dan memilih untuk tetap berbaring disebelah Jacob.


Kenapa selalu menenangkan sekali? Pria ini. Kenapa sekarang aku malah merasa begitu dekat dengannya? Tuan, apa kau benar-benar suamiku? Aku merasa asing, namun kau juga membuatku nyaman seolah kita pernah sedekat ini sebelumnya. Foto pernikahan itu, aku melihat wajahku di sana, apa mungkin aku memiliki kembaran? Tapi jika memang aku memiliki kembaran, seharusnya pria ini adalah suami dari kembaranku, dan tidak mungkin bersamaku saat ini. Tuan, aku rasa kau pria yang baik, kau bersikap ramah padaku. Jika ia aku adalah istrimu, tolong bersabarlah, aku masih kebingungan. Semoga saja tidak ada hal buruk yang akan menimpaku, aku masih takut jika kau adalah orang jahat yang berpura-pura baik, Tuan......... Ucap Alesha dalam hatinya.


Alesha masih terpaku pada wajah damai suaminya yang masih tertidur.


"Tuan, apa kau benar-benar suamiku? Jika aku benar istrimu, aku harap kau bisa bersabar, aku masih kebingungan dengan semua ini, aku ingin mempercayaimu, tapi aku takut kalau kau adalah orang yang pura-pura baik, dan memiliki niat jahat padaku. Tuan, jangan permainkan aku, aku harap kau memanglah orang yang baik, dan mau membantuku untuk mendapatkan kembali ingatan lamaku," Ucap Alesha, pelan. Ia tidak sadar jika ternyata pria yang tengah terlelap itu mendengar ucapannya.


Ya, Jacob sebenarnya sudah bangun sejak beberapa saat sebelum Alesha terbangun dari tidurnya, namun Jacob memilih kembali memejamkan matanya untuk merasakan kedekatan yang lebih lama lagi dengan Alesha.


"Percayalah padaku, Lil Ale. Kau bisa memegang ucapanku."


Deg!


Alesha tercekat seketika saat mendengar balasan dari Jacob.


Jacob mendengarnya? Pria itu sudah bangunkah? Pikir Alesha.


"Aku akan sangat bersabar, Alesha. Aku mencintaimu," Jacob membuka kedua kelopak matanya lalu tersenyum manis pada Alesha. "Niatku membawamu ke sini adalah supaya kau bisa mendapatkan kembali ingatanmu, sayang."


"Jadi aku benar-benar istrimu, Tuan?" Lirih Alesha.


Jacob mengangguk. "Kau adalah istriku, Alesha. Kita sudah menikah, percayalah. Aku adalah suamimu, jangan ragu atau takut padaku, Alesha, aku tidak mungkin, dan tidak akan pernah menyakitimu."


"Baiklah, aku akan mencoba untuk mempercayaimu sebagai suamiku. Aku pikir itu bisa menjadi jalan agar aku bisa mendapatkan kembali ingatan lamaku."


Senyum Jacob kian mengembang setelah mendengar ucapan Alesha barusan. Rasanya sangat lega sekali untuk Jacob, setidaknya kini ia memiliki peluang besar karna Alesha sudah mau mempercayainya.


"Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu, Alesha. Aku akan membuktikannya padamu, aku akan membawa kembali ingatan lamamu," Jacob bergerak mendekati istrinya. "Kemarilah, aku ingin memelukmu, sayang," Tanpa aba-aba lagi, Jacob langsung saja memeluk dengan erat tubuh Alesha, menyalurkan segala kerinduan, dan kasih juga sayangnya terhadap wanita yang begitu ia cintai itu.


"Tu-tuan, bisa kau sedikit kendurkan pelukannya," Ucap Alesha yang merasa tidak enak dengan pelukan Jacob yang begitu mengunci tubuhnya.


"Maaf, sayang. Aku sangat merindukanmu, kau tidak tahu bagaimana aku saat kau menghilang begitu saja. Aku benar-benar merindukanmu, Alesha," Balas Jacob.


Tok... Tok... Tok...


Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu yang membuat Jacob terutama Alesha terkejut.


"Ada yang mengetuk pintu, kau mendengar itu, sayang?" Tanya Jacob.


Alesha hanya menangguk sebagai balasannya.


Tok... Tok... Tok...


"Tunggu di sini, aku akan melihat dulu siapa yang mengetuk pintu," Ucap Jacob seraya bangkit, dan berjalan keluar kamar untuk mencaritahu siapa orang yang mengetuk pintu ruangannya.


Alesha yang juga merasa penasaran pun bangkit dari atas kasurnya, dan berjalan menuju ambang pintu, menongolkan sedikit kepalanya lalu mengintip.


"Mr. Thomson?" Kening Jacob sedikit berkerut saat mendapati sosok pria paruh baya yang bukan lain adalah kepala sekolah WOSA, Mr. Thomson.


"Hai, Jack, apa kau baru saja bangun tidur?" Tanya Mr. Thomson yang balik mendapati Jacob masih mengenakan baju tidur. "Kalau begitu aku mengganggu waktu tidurmu, maaf, Jack, aku pikir kau sudah bangun karna setahuku kau selaku rajin bangun pagi," Lanjut Mr. Thomson yang terdengar bersalah.


"Tidak, Mr. Thomson, sebenarnya aku sudah bangun dari tadi, hanya saja memang aku belum bersiap," Balas Jacob dengan santai. "Oh ya, ada apa, Mr. Thomson?"


"Aku ke sini berniat untuk memberikan ini, Jack," Mr. Thomson menyodorkan tiga buah paper bag pada Jacob.


"Apa itu?" Tanya Jacob dengan ekspresi yang terbingung-bingung saat menatap ketiga paper bag yang Mr. Thomson sodorkan.


"Ini seragam WOSA untuk Alesha," Jawab Mr. Thomson. "Aku pikir dengan menggunakan seragam ini bisa sedikit membantunya untuk mendapatkan ingatan lamanya kembali."


Jacob langsung memancarkan ekspresi bahagianya saat mendengar jawaban Mr. Thomson barusan. "Sungguh ini untuk Alesha? Kalau begitu terima kasih, Mr. Thomson, ini akan sangat membantu Alesha. Terima kasih."


"Sama-sama, Jack, aku hanya ingin sedikit membantu saja," Balas Mr. Thomson sembari tersenyum ramah. Ia lalu memberikan tiga paper bag tersebut pada Jacob, namun sejurus kemudian, ekor mata Mr. Thomson mendapati sesuatu yang sedikit terhalang oleh tubuh Jacob.


"Alesha? Hai, kemarilah," Ucap Mr. Thomson yang melihat Alesha tengah mengintip dari balik dinding kamar.


"Alesha?" Jacob membalikkan tubuhnya, dan melihat ke arah istrinya. "Kemarilah, sayang, ada sesuatu untukmu."


Alesha sedikit terkejut saat Mr. Thomson menyadari ia yang sedang mengintip, namun setelah itu dengan ragu-ragu Alesha pun memberanikan diri untuk berjalan menghampiri Jacob, dan Mr. Thomson.

__ADS_1


"Sayang, lihatlah, kau memiliki seragam lagi," Ucap Jacob dengan sedikit antusias.


"Jadilah murid WOSA kembali jika itu bisa membantumu, Alesha," Sambung Mr. Thomson masih disertai senyuman ramahnya pada Alesha.


"Setelah mandi nanti kau langsung saja memakai seragam ini, sayang. Kau dulu pernah bilang kalau kau ingin kembali ke WOSA, dan menjadi murid WOSA lagi. Sekarang kau bisa merealisasikannya," Ucap Jacob.


Alesha yang merasa kebingungan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Ia akan menuruti semua ucapan Jacob, karna di sini jika bukan Jacob siapa lagi yang harus ia percayai?


"Kalau begitu aku akan pergi sekarang, Jack, Al. Ada beberapa pekerjaan yang harus aku urus," Ucap Mr. Thomson.


"Baiklah, Mr. Thomson, silahkan. Oh ya, sekali lagi terima kasih untuk seragam ini," Ucap Jacob.


Mr. Thomson menganggukkan kepalanya seraya tersenyum, lalu setelah itu ia pun pergi meninggalkan Jacob, dan Alesha.


"Ini seragam WOSA untukmu, Alesha," Jacob menyerahkan tiga paper bag pemberian Mr. Thomson pada Alesha. "Pakailah setelah kau selesai mandi nanti, sayang."


Alesha mengambil alih tiga paper bag itu dari genggaman suaminya. Sejenak Alesha terdiam sembari memperhatikan isi ketiga paper bag tersebut.


Memang terdapat sebuah kardus berukuran sedang, dan lipatan kain yang merupakan seragam itu sendiri.


"Mandilah cepat, aku ingin mengajakmu berkeliling. Atau," Jacob menatap nakal pada Alesha. "Kau ingin kita mandi bersama? Hmm.."


"Tidak!" Tolak Alesha dengan cepat. Tentu saja Alesha tidak mau! Meski Alesha mencoba untuk percaya jika Jacob adalah suaminya, tetap saja Alesha masih merasa asing terhadap pria itu.


"Baiklah, baiklah," Jacob tertawa kecil. "Lagi pula aku tahu kalau saat ini kau tidak akan mau mandi bersamaku."


Tentu saja tidak mau! Tuan ini, meski dia memanglah suamiku, tapi aku masih merasa sangat asing padanya!...... Dumal Alesha dalam hatinya.


"Sekarang mandilah, kamar mandinya ada di dalam kamar kita, kau lihatkan pintu yang berada disebelah lemari besar?"


Alesha mengangguk.


Sedangkan Jacob tersenyum sembari mengusap pelan puncak kepala istrinya.


"Aku mencintaimu, Alesha."


Cup...


Sentuhan lembut bibir Jacob pada kening Alesha membuat sang empunya kening tersebut membeku seketika.


"Mungkin masih ada perasaan ragu dalam hatimu, Alesha. Tapi aku percaya jika kau mau mempercayaiku. Akan aku buat kau merasakan kembali semua kebahagiaan kita dulu," Jacob menangkup wajah Alesha. "Cobalah buka hatimu, kau bisa melihatku di sana."


Alesha tidak bisa mengalihkan tatapannya dari kedua iris hitam Jacob.


Kedua iris hitam itu, Alesha merasa sering menerima tatapan hangat yang sangat menenangkannya itu. Bahkan rasa rindu kini sedikit mengambil tempat dalam hatinya.


Alesha mulai merasakan sesuatu dalam dirinya, Alesha merasa pikirannya seperti terbawa menuju sebuah hal yang mungkin terlupakan olehnya.


"Jack..."


Deg!


Sorot hangat dari kedua iris hitam Jacob berubah seketika saat mendengar panggilan lirih yang barusan diucapkan oleh Alesha.


Jacob cukup terkejut. Pasalnya, itu adalah panggilan sehari-hari Alesha padanya saat Alesha belum mengalami amnesia.


"Jack..."


"Alesha, k-kau, memanggilku dengan panggilan lamamu?" Lirih Jacob.


"Jack?" Alesha menggelengkan kepalanya. Ia sedikit menjauh dari Jacob, dan bertingkah seperti orang linglung. "Tidak tahu, aku menemukan itu dalam pikiranku saat kau menatapku seperti itu, Tuan."


"Itu adalah panggilan biasamu padaku, Alesha," Jacob menatap haru pada istrinya. "Kau mengingat itu, sayang? Kau mengingat satu hal tentangku?"


Alesha memandang bingung pada suaminya. "Tidak, aku belum mengingat apapun tentangmu, namun tiba-tiba saja aku menemukan panggilan itu."


"Itu adalah panggilan biasamu padaku saat kau belum amnesia, sayang," Jacob mendekat pada Alesha. "Ini adalah awal yang baik, Alesha. Sedikit demi sedikit, dan secara perlahan. Kau sadarkan jika kau baru menemukan ingatan itu?"


Alesha mengangguk. "Pikiranku yang mengatakan hal itu, tapi aku tidak ingat apapun tentang panggilan itu."


Jacob membungkukkan tubuh agar ia bisa menyamai tinggi istrinya. "Nanti kau pasti akan mengingatnya. Jangan paksa pikiranmu untuk mengingat, Lil Ale. Tenang saja, aku akan bersabar membantumu untuk mendapatkan kembali ingatan lamamu."


"Iya," Alesha mengangguk sembari tersenyum kecil.


Mengapa Alesha tersenyum? Entahlah, Alesha tidak tahu kenapa hatinya merasa senang hingga membuat bibirnya mengukir sebuah garis manis.


"Sekarang pergilah mandi, aku sudah tidak sabar untuk mengajakmu berkeliling di sini," Ucap Jacob begitu lembut, jemarinya juga ikut bergerak pelan pada pipi istrinya.


"I-iya, Tuan Jack," Balas Alesha sembari membalikkan tubuhnya lalu berjalan begitu saja meninggalkan Jacob. Oh ya ampun, kenapa Alesha merasa malu? Bahkan tubuhnya terasa panas.

__ADS_1


Sepertinya dia memang orang yang baik. Ucapannya sangat ramah, dan lembut padaku.... Alesha berucap geli dalam hatinya.


...*****...


Pukul 09.10 Waktu Setempat.


Jacob baru saja selesai mandi, ia bahkan sudah memakai celana jeans panjang yang dipadukan dengan baju kemeja kotak-kotak santai.


Baru saja Jacob melangkah keluar dari dalam kamar, tiba-tiba saja ia dibuat sedikit terkejut karna melihat istrinya, Alesha yang memakai seragam WOSA lengkap dengan rompi, dan sepatu boots merah khas para murid wanita WOSA.


"Alesha..." Panggil Jacob sembari berjalan menghampiri istrinya. "Kau sudah memakai seragam itu?" Jacob terkekeh. Alesha benar-benar terlihat seperti seorang gadis sekolah pada umumnya, tidak nampak seperti seorang istri yang sudah pernah melahirkan dan ditinggal mati oleh kedua anak kembarnya.


Lalu perhatian Jacob pun beralih pada telapak tangan Alesha yang sedang memegang lencana atau bros kecil berbentuk lambang WOSA.


"Kau memakai seragam utama ya?" Jacob semakin terkekeh. "Ada berapa seragam dalam paper bag itu?" Tanya Jacob.


"Ada dua, Tuan," Jawab Alesha dengan polosnya. "Aku memakai setelan seragam yang ada di dalam salah satu paper bag, sedangkan paper bag yang ada kotak kardusnya berisi sepatu boots, dan dua pasang kaus kaki."


"Kau terlihat seperti murid WOSA kembali, Alesha. Wajah, dan tubuhmu tidak berubah dari sejak kau lulus sebagai murid di sekolah ini," Ucap Jacob.


"Oh ya, ini apa?" Alesha menunjukkan bros berbentuk lambang WOSA tersebut pada Jacob.


"Itu adalah lencana murid WOSA," Jacob meraih lencana tersebut lalu memasangkannya pada rompi Alesha di sebelah kiri bagian atas.


"Apa kegunaannya?" Lagi, Alesha bertanya dengan polos.


"Hanya sebagai tanda saja," Jawab Jacob. "Sudah."


Jacob menegakkannya tubuh sembari terus tersenyum ke arah istrinya.


"Kau sangat manis, Alesha. Aku jadi ingat saat-saat pertama kali aku tertarik padamu," Jacob terkekeh. "Ayo, kita pergi ke tempat dimana pertama kali kita bertemu."


Jacob meraih pergelangan tangan Alesha lalu mereka berjalan beriringan menuju tempat yang sudah Jacob sebutkan tadi.


"Tempat pertama kali kita bertemu?" Gumam Alesha. Bukannya mereka pertama kali bertemu di ladang rumput di pedesaan tempat Alesha tinggal ya? Pikir Alesha.


"Iya, aku saat itu mencarimu, dan anggota tim kita yang lain, dan aku menemukanmu bersama Nakyung, Maudy, Merina, dan Stella," Ucap Jacob.


Alesha tidak membalas karna kini kedua netranya kembali terpaku pada taman yang berada disisi jalan setepak bebatuan kecil yang sedang ia, dan Jacob lewati.


Sangat indah. Taman-taman itu begitu asri, dan menyejukkan, rapih, dan mungkin akan terasa menenangkan jika sedang sendirian.


"Tamannya indah ya, Tuan," Ucap Alesha dengan senyum manis kini menghiasi wajahnya.


"Kau suka?" Jacob menatap gemas pada istrinya.


"Iya," Alesha mengangguk. "Itu tempat apa? Bentuknya seperti teras di istana kerajaan? Sangat indah," Alesha menunjuk pada teras yang berada beberapa meter dari rerumputan taman.


"Itu adalah bagian dari perpustakaan, biasanya para murid WOSA akan membaca buku di sana, atau berdiskusi," Jawab Jacob. "Kau mau ke sana?" Tawar Jacob.


"Boleh," Alesha mengangguk.


Jacob melepaskan genggamannya dari pergelangan tangan Alesha, dan membiarkan istrinya itu berjalan lebih cepat menuju teras perpustakaan WOSA.


Lalu Alesha, ia yang memang sudah terpaku pada design teras tersebut pun langsung saja menaiki anak tangga tanpa merasa ragu.


"Itu sungai kecil?" Alesha mengerutkan keningnya, memandang bingung pada sebuah aliran sungai mini yang jernih yang berada tidak jauh dari teras tersebut.


"Iya, itu sungai WOSA, lihatlah ada beberapa murid yang sedang membaca buku di tepian sungai itu," Ucap Jacob. Hatinya begitu tenang, dan bahagia karna bisa melihat Alesha yang tampak menikmati pemandangan WOSA dengan binar, dan senyum cerah.


"Dia memakai seragam yang berbeda denganku?" Alesha memicingkan matanya. Ia bingung, murid perempuan yang ia lihat itu memakai rok, dan rompi kotak-kotak berwarna hijau tua, dengan garis kerah, dan kancing tengah berwarna merah. Sedangkan ia memakai rok kotak-kotak selutut berwarna biru tua pekat dengan rompi sepinggang berwarna hitam, dan berkancing emas tanpa ada garis merahnya. "Dia juga tidak memakai lencana emas murid WOSA?" Lagi, Alesha bergumam.


"Itu karna dia memakai seragam yang biasa dipakai oleh murid WOSA sehari-hari, kalau kau, saat ini kau memakai seragam utama," Terang Jacob.


"Apa bedanya?" Alesha melayangkan tatapan tanya pada Jacob.


Oh, sangat menggemaskan sekali tatapan Alesha itu menurut Jacob. Rasanya ingin sekali Jacob menghabisi istrinya itu di dalam kamar diatas kasur.


"Bedanya, adalah seragam yang murid itu pakai adalah seragam sekolah sehari-hari, tapi seragam yang kau pakai ini adalah seragam yang hanya boleh dipakai saat murid WOSA menjalani ujian kemampuan juga pengetahuan setiap satu bulan sekali, dan seragam ini juga akan dipakai pada acara rekapitulasi pencapaian bulanan para murid WOSA," Jelas Jacob. "Paham, My Lil Ale?"


Alesha mengangguk.


"Pintar," Jacob mengusap gemas puncak kepala istrinya.


"Berarti aku salah pakai seragam?" Alesha menunjuk dirinya sendiri.


"Sebenarnya iya, tapi tidak apa, sayang," Ugh, ingin sekali Jacob membawa Alesha kedalam pelukannya saat itu juga.


Alesha termenung sesaat. Ia sibuk dengan pikirannya kini. Satu sisi sebenarnya ia masih merasa takut, tapi disisi lain ia terpukau dengan WOSA, apalagi pada taman, dan arsitektur bangunannya yang tampak seperti academy-academy fantasi.

__ADS_1


Tapi...


Pikiran Alesha pun kembali tertuju pada Jacob. Alesha jadi merasa ragu jika Jacob adalah orang yang berniat untuk berbuat jahat padanya. Namun Alesha harus tetap berwaspada, bisa jadi itu adalah tipu daya Jacob. Ia memang akan mempercayai Jacob, namun ia juga tidak mau sepenuhnya menganggap jika Jacob adalah pria baik, takut-takut jika ia lengah, dan Jacob akan melakukan hal yang buruk padanya.


__ADS_2