Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Mission On II


__ADS_3

Dalam perjalanan yang ditempuh sekitar satu jam, iring-iringan mobil sedan hitam mengkilat yang berjumlah enam berpacu dengan begitu cepat, dan tanpa ada penghalang. Satu buah truk TNI berada dibarisan paling depan, dan memimpin untuk membuka jalan.


Ya, SIO juga meminta bantuan pada pihak kemiliteran setempat untuk ikut membantu mengacak-acak kelompok jaringan mafia disalah satu pedalaman hutan di wilayah pengunungan yang menjadi perbatasan antar kabupaten.


Ada sekitar enam puluh anak buah yang kini sedang bersama Theo di markas didadakannya, dan juga tanpa Theo sadari jika keberadaannya kini sudah berhasil dilacak oleh SIO.


"Kita berhenti di sini," Ucap Danish sembari menghentikan laju mobilnya pada titik yang tidak jauh dari bagian luar hutan.


Disusul dengan mobil-mobil lain, kini rombongan agent SIO dan aparat tentara pun keluar, dan menapaki tanah.


Mereka membuat lingkaran dan berkumpul.


"Kita akan berjalan secara diam-diam dengan mengikuti Jacob, dan setelah sampai di markasnya, kita akan langsung serang mereka secara tiba-tiba. Aldi, kau bersama ketiga gadis itu," Danish menunjuk pada Nakyung, Maudy, dan Merina. "Cari Tessa, dan selamatkan dia bersama anaknya, Nicholas. Sisanya, kita akan bertarung dengan mereka, dan aku harap kita dapat melumpuhkan mereka semua," 'Danish melirik pada Jacob. "Jack, bawa kita menuju mereka!"


Jacob menangguk. Berbekal sebuah tab yang ada ditangannya, Jacob pun mulai berjalan mengikuti arahan yang tab itu tunjukkan untuk sampai pada lokasi dimana Theo berada.


Berjalan, dan terus berjalan menyusuri, dan semakin masuk ke dalam hutan, tibalah dimana Jacob menghentikan langkah kakinya.


"Mereka berada sekitar lima ratus meter dari kita," Ucap Jacob sembari menatap lekat pada layar tabnya. "Ada dua puluhan orang disisi barat yang berjaga, dan berjarak sekitar seratus meter dari Theo, dan disisi timur ada belasan orang," Jacob merogol pistol yang ada dikantung jasnya. "Tiga puluh orang ikuti aku. Kita akan menjadi yang pertama menyerang mereka," Ucap Jacob sembari menyerahkan tabnya pada Danish, dan berjalan setengah berlari menuju titik lima ratus meter didepannya.


"Dua puluh orang ikut aku! Aldi, kau pergi ke arah barat bersama yang lain, dan aku timur. Kita akan serang mereka dari segala sisi" Titah Danish sembari mengakseskan lokasi keberadaan Theo dari tab menuju jam tangannya, baru setelah itu ia pun memberikan tabnya pada Aldi, dan melesatkan langkahnya untuk menyerang melewati sisi lain.


Begitu pula dengan Aldi, kini pria itu memimpin sekitar dua puluh lima orang termasuk dirinya untuk memberikan serangan dari sisi barat.


Agent-agent SIO itu kini menjalani kembali tugas, dan inti dari pekerjaan mereka, yaitu memberantas, dan menghabisi musuh.


Sama halnya dengan Aldi, Danish, dan Jacob, kini Rendi, dan Eve juga sedang dalam misi mereka untuk menyerang anak buah Theo yang berada di lain tempat.


Rendi kini dalam perjalanan menuju Bogor, tepatnya markas anak buah Theo. Rendi mendapat perintah untuk memimpin sekitar tiga puluh agent SIO untuk menyerang markas Theo yang ada di Bogor. Sedangkan Eve, salah satu agent terhebat yang SIO miliki setelah Levin, dan Jacob itu pun kini sudah berada di lokasi dimana kelima profesor SIO ditahan oleh anak buah Theo.


SIO sengaja memberikan perintah secara serentak setelah si agent rahasia yang bukan lain adalah Levin berhasil menemukan keberadaan kelima profesor SIO, dah saat itu pula SIO langsung mempersiapkan pasukan untuk menyerang markas yang menahan kelima profesor terhebat.


Diperkirakan Theo membawa kurang lebih seratus anak buahnya ke Indonesia untuk berjaga-jaga. Jadi, SIO juga mesti mengerahkan sedikit lebih banyak agentnya untuk bisa melumpuhkan Theo, dan anggota mafianya.


Dan kini tepat sepuluh meter di depannya, Jacob berdiri dengan tegak bersamaan seringai mekedeknya dihadapan sekitar dua puluh orang.


"HEY!!"


Lengkingan suara Jacob barusan sukses membuat para anak buah Theo mengalihkan pandangannya.


"Kalian akan mati saat ini!" Setelah mengucapkan kalimat itu, Jacob berlari secepat mungkin dan mulai menyerang anak buah Theo.


Baku hantam yang sudah sangat jelas tidak dapat terelakkan kini terjadi dengan sangat keras. Baik dari pihak Jacob mau pun dari pihak mafia-mafia itu sama-sama memiliki kekuatan yang seimbang dalam segi bertarung.


Pukulan demi pukulan, tonjokan yang dilayangkan, dan juga tembak menembak menghiasi pertarungan sengit itu.


Jacob berhasil menaklukkan lima orang sekaligus, begitu pun dengan yang lain, mereka semua terus menerus menjual belikan pukulan, dan trik-trik bertarung yang sangat baik. Namun perkelahian tidak akan berhenti sampai diketahui siapa pemenangnya.


"Mike, dibelakangmu!" Teriak Jacob dengan tangan dan kakinya yang sibuk menghajar beberapa orang musuh.


Sedangkan Mike yang mendapatkan peringatan seperti itu dari Jacob segera berbalik badan dan dalam satu kali gerakan cepat ia pun sukses menghindari sebuah peluru yang nyaris saja menembus perutnya.


"Kau!" Mike menggeram, dan berlari menghampiri pria yang tadi ingin menembaknya


Bugh! Bugh! Bugh!


"Argh!"


"Kau tidak pantas untuk hidup!" Bentak Mike sembari merebut pistol yang pria itu pegang.


Jedor!


Satu tembakan sukses mengenai pria yang bertarung dengan Mike barusan.


"Senjata makan tuan," Mike menyeringai.


Tiba-tiba saja ekor mata Mike membawa kedua netranya untuk menatap sosok pria yang berada dibelakang Tyson.


"TYSON, MENUNDUKLAH!" Pekik Mike.


Refleks, Tyson langsung menundukkan tubuhnya meski ia sedang sangat sibuk menghadapi tiga pria.


Jedor! Jedor!


Pria yang berniat untuk menghajar Tyson dari belakang akhirnya tumbang setelah mendapat dua lesatan peluru dari Mike.


"Aiden, Mike bantu Mr. Jacob menghadapi sepuluh pria itu!" Teriak Lucas yang melihat mentornya kini aku dikroyok sepuluh orang sekaligus.


Mike, dan Aiden pun langsung berlari mendekati Jacob untuk memberikan bantuan menghajar balik kesepuluh anak buah Theo itu.


Sedangkan si otak inti dari kelompok mafia itu, yaitu Theo, ia kini bersama lima belas anak buahnya sedang berhadapan langsung dengan Danish.


Ya, Danish berhasil menghabisi anak buah Theo yang berjaga disisi timur yang berjarak sekitar seratus meter dari Theo, dan kini Danish membentuk seringainya saat tatapannya bertemu dengan kedua mata abu-abu Theo.


"Eve menyerang markas tempat kau menahan kelima profesor SIO, Levin berhasil menghabisi anak buahmu yang berada di Papua, dan Rendi akan menghajar semua anak buahmu yang berjaga di Bogor. Tidak ada lagi tempat yang bisa kau jadikan sebagai markas selain kuburan, dan penjara, Theo."


"SIALAN KALIAN SEMUA! BERANINYA MENYERANG SECARA DIAM-DIAM DAN KEROYOKAN!" Bentak Theo dengan sorot mata yang begitu menunjukkan gejolak panas dari emosi yang terbakar.


"Aldi berada disisi barat, dan aku timur, sedangkan Jacob dari depan. Kalian terkepung," Danish menyeringai. "Menyerahlah."


"TIDAK AKAN! AKU AKAN MENDAPATKAN VIRUS, DAN VAKSIN ITU!!" Balas Theo.


"Virus?" Danish terlihat meledek. "Vaksin? Hahahah? Kau pikir kau tahu apa bahan dasarnya? Ya ampun, Theo," Danish menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil. "Anggrek Papua itu tidak ada sangkut pautnya dengan bahan dasar pembuatan vaksin. Kau sudah ditipu. Hahahaha....."


Deg!


Tubuh Theo langsung membeku di tempat.


"Kau pikir aku akan percaya, Danish?" Theo mengepalkan kedua tangannya.


"Terserah, tapi aku pun tahu itu dari Levin yang berhasil menemukan kelima profesor SIO dan menanyakan langsung tentang bahan dasar vaksinnya," Danish mengedikkan bahunya dengan santai. "Tidak ada kandungan apapun dalam anggrek hitam itu yang mampu membunuh virus yang SIO buat."


"Hentikan basa-basimu. Seharusnya dari waktu itu aku menculik istrimu, Laras, dan anakmu yang sangat manis itu, aku dapat menjamin jika dua orang yang sangat kau sayangi itu akan menderita hingga kau sendiri tidak mampu lagi untuk membuka mulutmu untuk memohon padaku supaya menghentikan penyiksaan terhadap Laras, dan si kecil Hawa," Theo balik menunjukkan seringainya pada Danish. "Jangan kau pikir aku tidak tahu tentang keluarga kecilmu itu, aku sudah lama menargetkan mereka, dan keluarga kecil Jacob supaya aku bisa menjalankan rencanaku untuk mendapatkan virus dan vaksin itu."


Ternyata ucapan Theo barusan sukses membuat ledakan amarah dalam diri Danish. Bagaimana Danish tidak emosi? Theo mengancam akan menculik anak, dan istrinya, tentu saja hal itu membuat hati Danish menggolak sangat panas.


"Tutup mulutmu, dan rasakan ini!" Dingin, dan tajam, Danish membidik Theo dengan tatapan penuh kebencian.


Pertarungan pun kembali dimulai. Danish yang sudah sangat geram pun langsung menjadikan Theo sebagai targetnya.

__ADS_1


Suara bising dari pria-pria yang bertarung itu kini memenuhi kesunyian hutan dalam. Erangan, dan teriakan saling sahut menyahut seiring diterimanya pukulan pukulan matang.


Sama seperti Danish, dan Jacob, Aldi pun kini sedang sibuk bertarung melawan Theora, sedangkan Nakyung, Maudy, dan Merina berusaha untuk untuk menghabisi lima pria yang menjaga Laras, dan Nicholas.


Mereka sudah berhasil menghabisi para penjaga yang berada disisi barat, dan kini mereka harus bisa menyelamatkan Laras, dan Nicholas yang menjadi sandraan sejak malam tadi.


"Argh!" Merina memekik ketika tubuhnya dihempaskan dengan kasar oleh seorang pria.


"Merina!" Pekik Maudy yang terkejut melihat kawannya terjatuh.


Bugh!


"Argh!" Kini gantian Maudy yang menerima pukulan keras diperutnya.


"Kau!"


Dag!


Maudy balik menendang pria yang tadi memukulnya hingga punggung pria tersebut menghantam batang pohon yang keras.


"Aaaaa....." Merina berteriak sembari menghindari pukulan dari pria yang sedang menghajarnya.


Sedangkan Nakyung, ia kehilangan keseimbangan saat kepalanya dihantam dengan cukup keras dengan batang pohon, padahal barusan Nakyung berhasil menusuk dada salah satu anak buah Theo.


"Arkh!" Sebuah tangan kekar mencekik leher Nakyung dengan sangat kuat.


Bugh!


Tapi Nakyung masih mampu menendang perut pria yang mencekiknya itu.


"Argh!" Merina yang semakin terkunci kini hanya bisa mengandalkan kakinya saja.


Sedangkan Maudy sibuk menghadapi tiga pria sekaligus.


"Lepaskan aku!!!!" Merina memekik, dan berhasil menendang area sensitif pria itu dengan sangat sangat kencang.


"Aarrkkhhhh!!!!" Pria itu terguling dan mengerang kesakitan sembari memegangi harta berharganya.


"Nakyung, Maudy! Tendang area sensitif pria itu!" Teriak Merina dengan lantang.


Nakyung pun segera mengerahkan telapak kakinya pada pria yang mencekiknya, begitu pula dengan Maudy yang langsung melayangkan kakinya menuju area sensitif ketiga pria itu.


"Dasar tidak berguna!"


Tubuh Merina kembali terhuyung setelah seorang pria menangkapnya lalu melemparkannya ke arah batang pohon.


"Arkh!!" Merina meringgis dengan tubuhnya yang terasa remuk akibat berbenturan dengan pohon. Merina terkapar lemah, tubuhnya sangat sulit untuk digerakkan.


"Arkh..." Merina mengerjapkan matanya beberapa kali, dadanya terasa begitu sesak.


"Kau cantik, tapi sayang kau adalah musuhku," Pria yang tadi melempar Merina kini membalikkan tubuh Merina lalu kembali memukuli Merina.


"Merina!!" Maudy memekik. Niat hati ingin membantu Merina, namun ada pria lain yang menghadang, dan menghajarnya.


Namun syukurnya, Jacob, Bastian, Lucas, Mike, dan Tyson tiba diwaktu yang tepat.


Segera Mike berlari cepat menghampiri pria yang sedang memukuli Merina.


"DASAR PENGECUT! KAU MENGHAJAR WANITA YANG SUDAH TIDAK BERDAYA!" Lantang Mike penuh amarah.


Jedor! Jedor!


Pria yang menghajar Merina jatuh pingsan setelah dua peluru yang barusan melesat menancap pada perutnya, sedangkan Mike kini menghampiri Merina.


"Merina..."


"Argh, Mike, punggungku sakit," Lirih Merina.


Perlahan, Mike membantu Merina untuk berdiri, dan bersandar pada batang pohon.


"SIALAN! AWAS ADA GRANAT!" Pekik Jacob ketika melihat seorang pria melemparkan sebuah granat ke tengah lahan pertarungan itu.


DUAR!!!


Jacob, dan yang lain langsung terpental ketika granat itu meledak, sedangkan Mike yang berada cukup jauh dari granat itu langsung memeluk tubuh Merina dengan erat.


Hening....


Tidak ada suara yang terdengar, kecuali suara hembusan angin sesaat setelah granat itu meledak.


"Arhk, Mike," Merina mencengkram kuat bahu Mike untuk menahan rasa sakit pada punggungnya.


"Merina, kau baik-baik saja?" Tanya Maudy yang berjalan tertatih menghampiri Merina, dan Mike.


"Pria sialan itu melemparku, punggungku menghantam batang pohon dengan keras," Jawab Merina lirih.


"Jack!" Panggil Tessa.


Jacob yang merasa namanya dipanggil pun langsung menoleh ke arah Tessa.


"Kau baik-baik saja, Tessa?" Tanya Jacob sembari berlari menghampiri Laras.


"Tidak!" Tiba-tiba saja Theora muncul, dan menyerang Jacob.


Bugh!


Tidak kena!


Jacob berhasil menghindar dari tonjokan Theora.


"Pergilah, Jack!" Bentak Theora yang sama sekali dihiraukan oleh Jacob.


"PERGI DARI HADAPANKU!!"


Theora meraih pistol, dan menodongkannya hendak menembak Jacob.


Jedor!


Meleset.

__ADS_1


Jacob berhasil menghindar.


Jedor!


Jedor!


Jacob berlari menghindari tembakan yang Theora lesatkan.


Jedor!


Jedor!


Jedor!


"Arrkkhh!!!" Tiba-tiba saja Theora terjatuh ketika kakinya terkena tembakan yang berasal dari arah lain.


Tidak mau membuang waktu, segera Jacob berlari menghampiri Theora, dan merebut pistol yang Theora pegang.


"Maaf, Theora," Ucap Jacob, dan...


Bugh!


Theora pingsan seketika saat Jacob memukul tengkuknya dengan sangat keras.


"Huft..." Jacob harus kuat, bagaimana juga Theora adalah musuhnya. Pertemanan tetap pertemanan, namun yang namanya musuh mesti Jacob berantas meski harus berhadapan dengan sahabat baiknya sendiri.


"Jack!" Tessa kembali memanggil Jacob.


"Kau baik-baik saja, Tessa?" Tanya Jacob sembari membuka tali yang mengikat tubuh Tessa.


"Aku baik-baik saja," Jawab Laras.


"Ini anakmu," Ucap Aldi sembari menyerahkan Nicholas yang menangis kencang pada Tessa.


"Anakmu baik-baik saja," Lanjut Aldi.


"Pak, masukan cairan bius ini ke dalam mulut mereka, dan bawa mereka semua ke dalam truk. Kita akan tahan mereka di kantor SIO!" Titah Jacob pada pempinan tentara yang berdiri tidak jauh darinya.


"Kita cari Theo sekarang!" Lanjut Jacob.


"Tunggu, Jack!" Tessa menahan lengan Jacob. "Katakan padaku apa benar Levin belum meninggal, hiks?" Tanya Tessa yang dibarengi dengan air mata.


Jacob menatap ragu pada Tessa. Apa yang harus ia jawab. Iya, atau tidak?


"Aku mendengar suaranya semalam melalui telepon, hiks, apa benar Levin belum meninggal? Tolong.... Beritahu aku, hiks, aku membutuhkannya, Jack."


Ah, ya ampun. Jacob paling tidak tega melihat wanita yang menangis, apalagi tepat dihadapan.


"Iya," Jacob mengangguk pelan. "Levin belum meninggal. Dia disuruh oleh SIO untuk menjadi agent rahasia supaya misi SIO untuk mencaritahu keberadaan lima profesor yang menghilang, dan rencana Theo yang selanjutnya dapat terungkap. Maaf sebelumnya, Tessa karna kami membuatmu terluka," Jacob menundukkan kepalanya sebagai tanda permohonan maaf.


"Jack, kita harus segera menyusul Danish, dan yang lain sekarang!" Pekik Aldi.


Jacob menangkat kembali wajahnya dan menatap Tessa.


"Kau ikutlah dengan anak buahku," Ucap Jacob. "Lucas, bawa Merina kembali ke mobil, Bastian, aku ingin kau bersama sepuluh orang pergi mengawal Tessa, dan anaknya untuk kembali ke mobil!"


"Baik, Mr. Jacob!" Bastian mengangguk patuh.


"Sisanya ikut aku, dan Aldi!" Lanjut Jacob yang langsung melesat berlari menuju lokasi Theo berada.


"Hati-hati," Ucap Maudy yang membantu Merina untuk naik keatas punggung Lucas.


"Maaf, aku menyusahkan kalian," Lirih Merina.


"Hey, jangan berkata seperti itu! Kita adalah tim, kita harus kompak, dan saling membantu jika salah satu dari kita ada yang terluka!" Tegur Tyson.


"Sudah, Merina?" Tanya Lucas.


"Iya," Merina mengangguk.


"Bastian, ayo kita pergi sekarang!" Teriak Lucas.


"Iya!" Balas Bastian sembari membantu Tessa untuk berdiri.


Kemudian Lucas, Bastian, Merina, Tessa beserta anaknya pun kini berjalan dengan kawalan sepuluh agent SIO menuju mobil yang terparkir sekitar satu kilometer dari mereka.


Sedangkan Jacob, Aldi, dan yang lain, kini mereka telah tiba di tempat Theo berada. Mereka sedikit terkejut karna mendapati seluruh anak buah Theo yang sudah tergeletak tidak sadar diatas tanah sedang Theo sendiri kini berlutut lemas dengan darah dan memar pada wajahnya tepat dihadapan Danish yang berdiri tegak.


Theo berhasil dikalahkan oleh Danish?


Ya. Theo kalah!


"Huh, lihat siapa yang datang," Sindir Theo yang lemas namun tetap memaksa smirk liciknya untuk terpampang diwajahnya.


"Hai, Jack.." Theo melirik seperti seorang yang mabuk pada Jacob. "Kau juga mau menghajarku?" Theo tertawa.


"Tutup mulut, dan matamu sekarang juga!"


Bugh!


Sekali lagi, dan terakhir. Danish membogem keras wajah Theo hingga Theo tersungkur, dan langsung pingsan seketika.


Danish kemudian melirik pada ke arah Jacob, Aldi, dan yang lain.


"Apa kita menang?" Tanya Danish.


"Kita selalu menang bukan?" Jacob mengangkat sebelah alisnya seraya mengukir smirk menawannya.


Danish pun tertawa kecil, dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke tanah. Ia terduduk memeluk lutut. "Baguslah, cukup lelah berlatih hari ini."


"Berlatih? Mr. Danish pikir tadi adalah sebuah latihan?" Ucap Maudy yang tidak percaya atas apa yang ia dengan dari Danish barusan.


Jacob membalikkan tubuhnya, dan menepuk bahu Maudy. "Latihan yang sangat memuaskan. Kalian hebat," Ucap Jacob seraya menunjukkan senyumannya.


Lalu dengan gaya so' kerennya, Mike mengangkat pistol yang ia genggam lalu meniup ujung lubang pistol tersebut. "Siapa dulu mentornya?" Mike melirik pada Jacob.


Jacob hanya tertawa kecil melihat tingkah salah satu anak asuhnya itu.


Akhirnya, misi SIO untuk menghabisi Theo beserta komplotan mafia itu pun berakhir sangat memuaskan. Berkat kinerja agent-agent hebat yang sangat baik, kini kelompok mafia yang diketuai oleh Theo tersebut bisa SIO kalahkan.

__ADS_1


__ADS_2