
Hari demi hari terus berlalu, menunggangi waktu dalam kabut kelabu.
Theora menyendiri dalam lingkup kayu-kayu yang besar nan tinggi. Diantara dinginnya hutan kaki gunung Salak, Theora termenung, menatap lurus pada hamparan langit.
Setelah kejadian perjumpaannya dengan Jacob satu minggu yang lalu, suasana hati Theora lebih sering berubah-ubah. Kadang baik, kadang pula buruk. Sedikit tak tersentuh, mungkin itu efek dari kegalauan yang melanda dirinya saat ini.
"Theora..."
Suara yang sangat amat familiar itu terdengar memenuhi sekitaran Theora.
"Apa, Theo?" Theora membalikkan tubuhnya seraya menatap biasa saja pada kakaknya.
"Masuklah, dan makan bersama yang lain. Kau pasti belum makan," Ucap Theo begitu lembut.
Theora hanya mengangguk pelan sembari berjalan melewati kakaknya.
Dalam hatinya, tentu Theo merasa kasihan melihat Theora yang akhir-akhir ini sering murung, dan lebih banyak menyendiri. Tentunya Theo tahu sebab apa yang membuat adik perempuannya itu jadi sedikit berubah.
"Kau harus melepaskan perasaanmu pada Jacob, Theora," Gumam Theo. Ia sangat tidak mau melihat Theora yang bersedih karna patah hati, Theo sangat menyayangi adiknya itu, namun Theo sadar jika sampai saat ini ia masih belum bisa membuat Theora tertawa lepas seperti dulu.
Ya, sejak Theo menggantikan posisi ayahnya sebagai ketua mafia, dan mengikutsertakan Theora, Theo sudah tidak pernah lagi melihat tawa lebar adiknya.
Wajar saja, bukan keinginan Theora untuk menjadi orang jahat dengan masuk dalam kelompok mafia kakaknya, namun Theora juga harus menjaga, dan menepati janjinya pada ayahnya agar selalu bersama Theo hingga ia menemukan lelaki sejati yang bisa menemani sisa hidupnya. Sebenarnya Theora sudah menemukan lelaki itu, hanya saja sangat disayangkan karna sekarang lelaki itu sudah milik wanita lain, Theora juga sudah berjanji pada ayahnya supaya tetap menjaga kasih, dan sayang juga persaudaraan dengan kakaknya. Ayah Theora sangat tidak mau kedua anaknya saling berselisih, apalagi bermusuhan.
Meski dikenal kejam, dan sangar, Theo selalu bersikap sebaik, dan seramah mungkin pada Theora karna Theo sangat sayang pada adiknya itu, dan Theo juga tidak akan asal mempercayai seorang lelaki untuk dijadikan sebagai pasangan hidup Theora nanti.
"Theora..." Panggil Theo seraya menyentuh bahu Theora. "Kau belum tidur?"
"Tidak, aku belum mengantuk," Jawab Theora.
Theo tersenyum tipis mendengar jawaban adiknya.
"Ini, aku membawakan coklat hangat untukmu," Theo menaruh secangkir coklat hangat kesukaan Theora disisi gadis itu.
Theora menyunggingkan senyum manisnya. Kakaknya itu memang selalu begitu padanya, perhatian, dan penyayang. Tapi hanya pada Theora saja, dan mungkin Theo juga akan bersikap manis setelah menemukan pasangan kekasih yang tepat.
Pada adiknya saja penuh kasih sayang, apalagi pada istrinya nanti. Begitulah pikir Theora terhadap kakaknya.
"Aku akan kembali ke dalam," Ucap Theo seraya melepas jaket yang ia kenakan untuk dipakaikan pada adiknya. "Pakai ini, jangan terlalu lama di luar, dan jangan tidur terlalu malam!"
Theora menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari mengangguk kecil. Ingin sekali Theora bilang 'Aku bukan anak kecil, Theo.'
Tapi ah yasudahlah.
Kemudian Theo meninggalkan adiknya di halaman depan rumah panggung yang menjadi markas sementara mereka untuk bersembunyi sekalian mengontrol misi yang sedang dijalankan oleh beberapa anak buahnya untuk mendapatkan anggrek hitam Papua.
...*****...
Beralih pada Jacob, dan Alesha. Malam ini, mereka tengah terduduk di bangku yang berada di balkon kamar, sedangkan Alshiba sedang tertidur dikasur bayinya.
Jam delapan malam tadi mereka baru saja pulang dari rumah sakit setelah mengecek kondisi, dan perkembangan tubuh Alshiba.
"Kau dengar kan tadi apa kata Sulis?" Jacob menangkup wajah istrinya. "Alshiba semakin membaik, tumbuh kembangnya juga tidak memiliki masalah."
"Dia harus terus sehat, dan tumbuh menjadi seseorang yang bisa membuat kita bangga, Jack," Ucap Alesha.
Tatapan Alesha terlihat tenang ditambah dengan segaris senyum yang terukir dibibirnya. Jacob sangat suka itu, ia sangat suka jika Alesha sudah menatapnya seperti itu.
"Aku mencintaimu, Lil Ale," Dengan satu tarikan lembut, Jacob membawa tubuh Alesha ke dalam pelukannya.
"Aku jadi ingat dulu aku kadang tertidur dalam pelukanmu," Alesha terkekeh. "Apa saja yang kau lakukan saat aku tertidur?"
"Banyak," Lengan Jacob mulai mengusapi punggu istrinya. "Mengajakmu bicara, bercerita, memainkan bulu matamu, menoel hidung atau pipimu, mengutarakan perasaanku, dan menciummu."
"Kau menciumku?" Alesha mengangkat wajah, dan melayangkan tatapan yang cukup intens pada Jacob.
__ADS_1
"Iya. Aku menciummu saat kau tidur dalam pelukanku? Kenapa? Kau marah?" Jawab Jacob disertai ledekan.
"Iihh, dasar kau ini!" Alesha memukul pelan dada suaminya.
"Tidak masalah jika aku mengakuinya sekarang karna kita sudah menikah, kecuali belum, bisa-bisa aku dijadikan sebagai angin lalu saja olehmu karna kau pasti akan marah, dan mengacuhkan aku."
Benar sih apa yang Jacob ucapkan itu, cuman ya tetap saja ada sedikit rasa kesal pada Alesha karna suaminya sering mencuri ciuman diam-diam dulu ketika mereka belum menikah.
Lalu mereka berdua pun bangkit, dan berjalan menuju kasur. Malam semakin larut, jadi mereka memutuskan untuk tidur saja.
Keesokan harinya...
Di kantor SIO, Mr. Frank masih terus berupaya mengerahkan beberapa agent untuk menemukan sarang persembunyian Theo, dan Theora.
Dua minggu sudah berlalu, dan Mr. Frank bersama anak buahnya masih belum bisa mendapatkan lokasi keberadaan kelompok mafia itu.
Sangat mengesalkan memang.
Tapi tetap saja Mr. Frank tidak mau lengah, dan sudah berjaga-jaga apabila tiba-tiba saja kantor SIO diserang lagi
"Jack, kau masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan mereka?" Tanya Mr. Frank.
Jacob yang sedang sibuk dengan komputer untuk melacak keberadaan Theo, dan Theora itu pun menjawab. "Belum, tapi aku sepertinya aku menemukan beberapa hal yang bisa membantu kita untuk menemukan mereka."
"Apa, Jack?" Mr. Frank tampak semakin serius.
"Lihatlah ke layar, Mr. Frank. Aku sedang melihat beberapa penumpang di dalam mobil-mobil yang melaju disekitaran mobil yang Theora tumpangi."
Mr. Frank memakukan pandangannya pada layar komputer yang menunjukkan pergerakan lambat dari CCTV yang terpasang dijalan tol yang dilalui oleh mobil yang membawa Theora.
Dan CCTV terakhir di ruas jalan tol sebelum kejadian penabrakan mobil Rolls Royce biru itu menunjukkan adanya sebuah mobil sedan hitam lain yang melaju beriringan dengan mobil yang Theora tumpangi, meski hanya beberapa detik saja.
Jacob, dan Mr. Frank saling bertukar pandang selama beberapa saat, dan menandakan jika mereka sepertinya merasakan, dan memikirkan hal yang sama.
"Dapat!" Seru Jacob. Ia menghentikan videonya, dan memperbesar gambar untuk melihat siapa saja yang berada dalam mobil sedan hitam itu.
"Sial! Kaca mobil mereka sangat gelap!" Umpat Jacob.
"George, retas kamera CCTV tanggal lima belas April di jalan tol Cileunyi kilometer seratus empat puluh sembilan, dan ikuti pergerakan mobil sedan hitam Cadillac sekarang juga!" Perintah Mr. Frank pada salah satu peretas SIO yang lain.
"Baik, Mr. Frank," George mengangguk patuh, dan segera menuruti perintah yang Mr. Frank berikan.
Jacob terus memperbesar gambar yang layar komputer itu tunjukkan hingga ia dapat memastikan siapa orang-orang yang berada dimobil sedan hitam itu.
"Aku rasa benar, Mr. Frank. Mereka menggunakan mobil ini untuk kabur. Tapi mereka tidak akan bisa selamanya bersembunyi dari kita!" Jacob menyeringai.
Dret... Dret... Dret...
Ponsel Jacob yang tergeletak diatas meja sebelah komputer pun bergetar karna mendapatkan panggilan masuk dari Taylor.
" Hallo, Taylor ada apa? " Tanya Jacob setelah mengangkat panggilan telpon dari Taylor.
"Tuan, Nona mendapatkan kiriman buket bunga itu lagi."
"APA? "
"Hanya saja isi pesan pada buket bunga Nona kali ini adalah sebuah peringatan untuk selalu berwaspada, dan menjaga diri, Tuan."
"Ini sudah yang ke enam kalinya! Apa maksudnya? Siapa yang mengirim buket bunga itu? " Jacob terdengar kesal.
"Kami masih terus mencaritahunya, Tuan."
"Tapi sebentar, tadi isi pesannya apa? " Tanya Jacob.
"Sebuah peringatan jika Nona harus berwaspada, dan menjaga diri, Tuan."
__ADS_1
Jacob termenung sesaat setelah mendengar ucapan Taylor barusan.
Berwaspada, dan menjaga diri?
Jacob curiga akan satu hal, dua minggu lalu anak buahnya mendapatkan sebuah pergerakan dari orang yang sedang mengawasi mansionnya, dan Alesha selalu mendapatkan buket bunga dengan beragam pesan yang ditulis pada kertu ucapan, dan sekarang pesan itu merujuk pada hal yang membuat Jacob yakin jika keluarganya sedang dalam tidak aman.
"Aku akan pulang sebentar lagi. Terus awasi Alesha, dan mansion, segera laporkan padaku jika kau menemukan kejanggalan yang lain! "
"Baik, Tuan."
"Yasudah, kalau begitu aku akan matikan sambungan telpon ini."
"Iya, Tuan."
Jacob langsung menghembuskan napasnya dengan kasar. Pikirannya mulai dibuat rumit dengan berbagai macam pertanyaan.
Siapa yang mengirim buket bunga itu pada istrinya? Sebenarnya apa tujuannya? Dan apa yang sedang disembunyikan? Apa yang tidak ia ketahui? Dan bla bla bla. Masih banyak lagi.
"Mr. Frank, sepertinya aku harus pulang sekarang, istriku mendapatkan buket bunga misterius lagi," Ucap Jacob pada Mr. Frank. Jacob sendiri sudah bercerita kepada Mr. Frank perkara Alesha yang selalu mendapatkan buket bunga yang entah dari siapa itu.
"Lagi?" Mr. Frank memandang bingung pada Jacob.
"Ya, dan anak buahku masih belum menemukan informasi apapun tentang orang yang mengirimkan buket bunga itu pada Alesha."
"Baiklah kalau begitu kau harus ekstra waspada, dan tidak boleh lengah. Mungkin saja saat ini keluargamu serang menjadi incaran seseorang, dan satu lagi, aku minta untuk kau memberitahu pada Bastian, dan kawan-kawannya untuk bersiap karna mereka harus ikut misi ini bersama agent yang lain setelah lokasi persembunyian Theora bersama komplotannya ditemukan," Ucap Mr. Frank.
Jacob mengangguk. "Baik, Mr. Frank."
"Agent 01 sudah sampai di Papua bersama Brandon, dan kesembilan temannya, dan kini tinggal kelompok timmu lah yang beraksi, Jack," Lanjut Mr. Frank.
"Mereka sudah sangat siap, Mr. Frank, aku sangat menjamin itu," Balas Jacob.
"Baguslah, dan kalau begitu kau boleh pulang sekarang, hati-hati di jalan."
"Iya, terima kasih, Mr. Frank."
Setelah itu, Jacob pun pergi untuk kembali pulang ke rumahnya.
Entahlah, setiap kali Jacob mendapatkan telepon dari Taylor tentang buket bunga yang selalu Alesha terima setiap dua atau tiga hari sekali rasanya Jacob ingin cepat-cepat pulang, dan berada dekat dengan istri, dan anaknya. Ditambah sekarang keluarganya juga sedang berkumpul karna sejak seminggu lalu Mona datang bersama Haris, dan William untuk liburan.
Kurang lebih satu jam, akhirnya Jacob pun tiba di kediamannya. Selang beberapa detik kemudian, kakinya langsung menapaki jalan menuju ke dalam mansionnya itu.
Didapatinya oleh Jacob sang istri yang sedang menggendong bayi mereka sedang berada di ruang keluarga bersama adik, kedua kakak, ponakan, dan ibunya yang tengah asik berbincang.
Sebuah ketenangan, dan kebahagiaan tidak bisa meluputi diri, dan hati Jacob saat ini. Ia sungguh bersyukur, keluarganya bisa menerima kehadiran Alesha dengan sangat amat baik.
"Jack? Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Mona yang sudah menyadari keberadaan adiknya yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Hei, hei, Haris!" Mona sedikit terkejut karna tiba-tiba saja putra kecilnya, Haris berjalan menghampiri Jacob.
"Hello, Pria kecil, kau merindukan pamanmu yang tampan ini ya?" Jacob terkekeh sembari menggendong tubuh keponakannya itu.
"Kau pulang siang sekali, Jack," Ucap Alesha.
"Tidak apa, aku hanya mengkhawatirkanmu, dan yang lain setelah Taylor memberitahuku kalau kau mendapatkan kiriman buket bunga itu lagi, Al," Balas Jacob sembari berjalan, dan terduduk disebelah istrinya.
"Oh ya, buket bunga itu, tadi memang ada kurir pengantar barang yang memberikannya padaku, Jack! Dia bilang kalau buket bunganya untuk Alesha," Sahut Wiliam.
"Ini sudah yang keenam kalinya Alesha menerima buket bunga itu, aku khawatir ada seseorang yang sedang mengincar keluarga kita," Ucap Jacob.
Semua yang ada di dalam ruang keluarga itu terdiam memikirkan ucapan Jacob. Terutama Alesha yang dalam hatinya begitu resah karna mengkhawatirkan keselamatan bayinya, Alshiba. Pasalnya, isi pesan yang tertulis dalam kartu ucapan yang diselipi di buket bunga itu selalu merujuk pada peringatan untuk berwaspada, dan tidak boleh lengah.
Jika memang benar ada seseorang yang berniat buruk padanya, maka apa yang akan terjadi pada Alshiba, bayinya? Begitulah pikir Alesha. Ia takut jika Alshiba akan terkena imbasnya juga, dan Alesha tidak mau hal itu terjadi, ia ingin Alshiba tetap aman, dan terus tumbuh dengan baik.
Sebagai seorang ibu, tentunya Alesha lebih mementingkan keselamatan anaknya dibanding dirinya sendiri. Alesha akan lakukan apapun supaya bayinya tetap aman, dan selalu dalam kondisi baik-baik saja. Alesha tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk menimpa putri kecilnya, Alshiba. Itulah tekadnya saat ini!
__ADS_1