Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Bantuan


__ADS_3

Tak terasa, waktu pagi tiba. Cahaya matahari masih sembunyi samar di pelupuk timur. Suara kicauan burung bersenandung merdu, menemani Sang Surya yang semakin menampakkan dirinya.


"Astagfirullah!" Alesha tersentak dari tidurnya. Napasnya menderu seakan ia baru saja mendapati sesuatu yang membuatnya sangat terkejut.


"Al..." Jacob mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia bangun sebab merasakan pergerakan dari istrinya. "Kau kenapa?" tanya Jacob.


Alesha menggelengkan kepalanya, "Tidak apa. Aku baik-baik saja."


"Kau yakin?"


Alesha menoleh, menatap suaminya, "Hantu itu masuk ke dalam mimpiku, Jack," ucap Alesha, pelan. "Kehadiran kau di sini membuatnya teringat pada suaminya."


"Aku?" Jacob menyerngitkan dahi.


"Sekilas, kalian terlihat mirip. Suaminya berasal dari Belanda. Tapi aku masih belum tahu kenapa dia dan suaminya ditangkap lalu dibakar oleh penduduk setempat waktu itu."


Deg!


Tiba-tiba saja tubuh Alesha tercekat, dan membeku telak. Tatapan matanya lurus ke depan.


"Al..." Jacob mulai panik. "Al, kau kenapa?"


"Aku melihatnya..." lirih Alesha.


"Melihat? Melihat apa?"


"Kau tidak akan percaya ini!"


"Percaya apa?" Jacob semakin panik.


"Pegang tanganku yang kuat, Jack. Jangan lepaskan aku! Ya ampun, aku benci situasi seperti ini. Terakhir aku mengalaminya saat aku berada di WOSA."


"Alesha, apa maksud perkataanmu? Aku benar-benar tidak paham!"


"Jack, hantu itu menunjukkanku memorinya. Ingatannya saat ia dan suaminya dibunuh. Aku sedang melihat kejadian ketika mereka dibakar hidup-hidup saat ini. Bantu aku bangun, dan jangan lepaskan aku!" Alesha beranjak berdiri pelan-pelan.


Jacob ikut bangkit, menuruti ucapan istrinya. "Al, sebenarnya apa yang terjadi?"


"Tetap pegangi aku, Jack." Alesha mengabaikan pertanyaan suaminya dan mulai melangkah.


"Hey, kau mau kemana?"


"Aku berjalan ke arah mana, Jack? Apa sungai masih jauh?"


"Kau berjalan ke arah sungai, Alesha. Apa kau tidak menyadarinya?" Jacob semakin dibuat bingung dan panik.


"Aku tidak bisa melihat tempat kita berada saat ini, yang aku lihat adalah malam hari di lokasi dimana hantu itu dibakar. Ada banyak sekali orang membawa obor dan bersorak marah."


Jacob menggelengkan kepalanya, "Aku benar-benar tidak mengerti ucapanmu, Alesha."


"Ya sudah kalau kau tidak mengerti! Cukup pegangi aku dan beritahu aku jika di depanku ada batu besar, lumpur, air atau apalah." Alesha menghentikan langkahnya, "Apa itu?" Ia melihat ke arah lain. "Ya ampun! Aaa... Cukup! Aku tidak mau lihat bagian itunya!" Alesha berseru takut.


"AL!" Jacob menahan tubuh Alesha kuat-kuat. "Cukup, hentikan ini!"


Alesha menggelengkan kepalanya, "Tidak, Jack. Sebentar ada sesuatu." Kedua mata Alesha memicing. "Apa masih jauh ke bibir sungai? Apa di depanku ada batu besar?" Alesha menggesekkan sebelah telapak kakinya ke depan. Ia melangkah perlahan, diikuti Jacob. "Eh, siapa mereka? Aku berganti tempat, Jack. Tunggu sebentar."


Sungguh, Alesha benar-benar aneh saat ini. Jacob bingung harus percaya atau tidak pada istrinya saat ini.


"Ya ampun!"


"Kenapa, Al?"


"Jack, apa aku tidak apa berjalan sekitar... Satu.. Dua... Tiga.... Ehm, tujuh langkah ke depan. Aku harus mencari tahu sesuatu."


"Al, cukup! Hentikan ini! Nanti kau kenapa-kenapa, ingat kau sedang hamil!"


"Aku akan baik-baik saja. Tenang saja, ini hanya gambaran ingatan dari masa lalu milik hantu itu."


"Maksudnya kau kembali ke masa lalu begitu?"


"Ish, tidak! Hantu itu membawaku pada memorinya dimasa lalu. Aku tetap di masa sekarang, namun, ehm.. Apa, ya... Mudahnya, aku mengalami perjalanan antar dimensi. Tapi bukan waktu. Apalagi kembali pada masa lalu."


"Baiklah, cukup! Sudah, Al!"


"Sebentar, sedikit lagi!"


"Awas, kau hampir mencapai sungai!"


"Bisa aku maju beberapa langkah lagi? Aku butuh sedikit informasi lagi."


"Al, untuk apa kau mengurusi yang sudah meninggal?" Jacob mulai kesal.


"Kita bisa membantunya, Jack! Ayolah, tenang saja. Ini bukan pertama kali. Sejak kecil aku sering seperti ini, itu sebabnya umi dan bapak meminta mata batinku untuk ditutup."


Jacob mendengus sebal, "Al, percis di depanmu sungai."


"Oh ya. Oke, tunggu sedikit lagi." Alesha memajukan tubuhnya. Kedua matanya menatap serius ke arah depan.


"Kau lihat apa?" tanya Jacob.


"Tidak mungkin!" Alesha tercekat. "Jack, Hantu pria yang aku lihat bukan suaminya, tapi kekasihnya. Ia dan kekasihnya itu dibunuh oleh warga setempat atas perintah suaminya yang asli."


"Hah?" Jacob menyerngitkan dahi.


"Ini rencana pembunuhan! Mereka menikah karna dipaksa dan dijodohkan. Aku melihat saat Nona Anna diancam akan dibunuh oleh suaminya, suami Nona Anna meminta agar Nona Anna menggugurkan kandungannya, dan saat ini aku melihat percakapan suaminya dengan para pemuda kampung, sedang membuat rencana.... Ish, mereka bicara apa, sih, aku tidak terlalu jelas mendengar? Tunggu... Eh, jadi kehamilan itu hasil dari hubungan Nona Anna dan kekasihnya, bukan suaminya? Owh, pantas saja suaminya sangat marah!"


"Al, cukup, Al!" Jacob menegas.


Alesha kembali memajukan tubuhnya seraya memicingkan mata. "Bayi siapa itu?"


Beberapa saat kemudian, Alesha tersentak. "Astagfirullah!!" tubuhnya sempoyongan, nyaris jatuh ke belakang jika tidak ditahan suaminya.


"Al!" Jacob pun tak kalah terkejutnya. "Hey!" Ia menepuk pipi Alesha.


Alesha mengerjapkan matanya beberapa kali, lantas menoleh pada suaminya.


"Sayang..." Jacob memanggil lembut. Kenapa mata Alesha berkaca-kaca?


"Hiks, Jack..." Alesha mulai menangis. "Suami Nona Anna bukan hanya membunuh Nona Anna dan kekasihnya saja. Tapi dia juga ikut membakar bayi milik Nona Anna dan kekasihnya."


Jacob menyerngit, aneh.


"Aku melihat saat suami Nona Anna membakar bayi itu hidup-hidup. Apa jangan-jangan, itu bayi milik Nona Anna dan kekasihnya juga, hiks hiks." Alesha menyeka air matanya. "Bayinya sekitar satu tahun, hiks. Aku tidak tega melihatnya."


"Cukup, Al. Kita pergi dari sini!" Jacob mengambil lima pelepah daun dan sisa sarang lebahnya lantas kemudian memaksa Alesha untuk pergi dari tempat itu.


***


Tiga jam perjalanan menyusuri sungai tak kunjung membawa Alesha dan Jacob sampai di tempat umum. Entah dimana posisi mereka sekarang.


Alesha sendiri, kondisinya sudah semakin lemah sebab kelelahan. Sarang madu yang suaminya ambil sudah habis sejak tadi.


"Jack...." lirih Alesha.


"Astagfirullah, Alesha!" Jacob sangat terkejut saat tiba-tiba saja tubuh Alesha oleng dan ambruk. Namun untungnya, ia lebih dulu menahan tubuh istrinya itu, "Al, kau kenapa?" panik Jacob.


"Jack, aku tidak kuat lagi..."


Jacob mendudukkan Alesha perlahan, dan menyandarkan tubuh istrinya itu pada tubuhnya.


"Sayang...." panggil Jacob, lirih. Tak sampai hati ia melihat wajah Alesha yang pucat dan tubuh Alesha yang lemas.


"Jack, aku tidak kuat lagi. Aku sangat lemas..."


Jacob menghela napas panjang. Ia harus apa? Meninggalkan Alesha sendiri dan mencari sarang madu atau tanaman lain yang dapat dimakan? Sulit untuknya kalau harus meninggalkan Alesha sendiri dalam kondisi yang lebih parah lagi sekarang.


Sampai akhirnya, Jacob memeluk tubuh istrinya itu dengan erat, "Maaf aku belum bisa membawamu pulang. Maaf, karna kita masih tersesat di sini, Sayang."


"Kenapa minta maaf? Ini bukan salahmu. Ini semua salah Dirga! Dia pelaku utama dan yang seharusnya bertanggung jawab atas ini semua," balas Alesha.


Jacob mengecup puncak kening Alesha, "Aku mencintaimu, Al. Aku berjanji akan membawamu kembali ke mansion kita dengan selamat."


Alesha tersenyum lemah. Meski ia sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan perjalanan, setidaknya ia masih bisa merasa aman sebab ada Jacob bersamanya.


Sekian menit berlalu, Jacob masih setia menjadi sandaran bagi tubuh lemah Sang Istri. Tak lupa ia juga melayangkan kecupan kecupan lembut untuk wanita tercintanya itu.

__ADS_1


Sampai ketika, tanpa mereka sadari, sebuah kebetulan terjadi benar-benar diluar dugaan dan tak tersangka sama sekali.


"Punten..."


"ASTAGFIRULLAH!" Jacob dan Alesha sama-sama terkejut saat mendapati suara orang lain tepat di sebelah mereka.


Seorang pria!


Jacob menyerngitkan dahi, menatap sedikit tajam dan awas pada pria paruh baya yang berpakaian sarung dan baju kaos hitam serta peci bulat itu.


"Punten, ari iye sareng saha?" tanya ramah pria paruh baya tersebut yang juga nampak terkejut dan bingung.


Dahi Jacob semakin menyerngit. Apa yang pria itu katakan? Ia tidak paham.


Alesha melirik lemah ke arah pria paruh baya itu. Siapa dia? Bagaimana bisa ia dan suaminya bertemu dengan orang lain di dalam hutan itu?


"Neng, Aa, Abi Halim, ari Eneng sareng Aa naha bisa aya di tempat iye?" panggil pria paruh baya itu.


"Halim?" ulang Alesha, lemah.


"Enya, Halim. Abah Halim."


"Abah Halim?" ulang Alesha lagi. Ya ampun, apakah ini jalannya? Ia dan suaminya bertemu dengan pria tua di tengah itu agar mereka bisa keluar dari hutan ini?


"Abah..." lirih Alesha, "Abi Alesha, iye caroge abi, Jacob." Meski sudah lemah setengah mati, ia tidak mungkin mengandalkan suaminya untuk bicara dengan Abah Halim saat ini. Jacob mana bisa bahasa sunda?


"Naha bisa aya di dieu atuh, Neng?" Abah Halim berlutut, menatap cemas Alesha.


"Abi teh tos dua dinten sareng poe ayena, ka langsu di dieu, teu apal jalan, Abah," ucap lemas Alesha.


"Ya Allah!" seru Abah Halim. "Naha atuh bisa nepi ka dieu? Da ieu mah lain jalan jang pendakian gunung, Neng."


Alesha tersenyum lemah, "Sanes, Abah. Abi sareng caroge Abi mah sanes dek ngadaki gunung, tapi dibawa ku jelema anu jahat kanu leweng ieu."


"Aduh, sia! Enya atuh, lah. Da si Eneng katingal ni leleus kitu. Hayu, tutur keun Abah nya. Abah apal jalan kanu keluar ti dieu mah." Abah Halim beranjak berdiri dengan cepat, "sok, A, akod si Eneng, karunya Abah ningali na, meni pucet jeng lelesen kitu."


Jacob menyerngit bingung. Abah Halim bicara apa padanya barusan?


"Tiasa nyarios sunda, A?"


"Teu tiasa, Abah. Caroge abi teu tiasa nyarios sunda," balas Alesha, "Jack, bisa bantu aku berdiri. Abah Halim akan menunjukan jalan kita untuk keluar dari hutan ini."


"Hah? Sungguh?" kedua bola mata Jacob terbelalak. Antara senang dan terkejut.


"Buru atuh, A. Karunya si Eneng." Abah Halim mendesak.


Tak membuang waktu, Jacob langung menggendong Alesha dipunggungnya.


"Hayu, tutur keun Abah." Abah Halim melangkah lebih dulu.


"Ikuti dia, Jack," ucap lemas Alesha.


"Kau yakin?" Jacob sedikit ragu.


"Ikuti saja dia! Kau ingin kita terus tersesat di hutan ini?" balas Alesha.


"Ehm... Baiklah..." Akhirnya, Jacob melangkah maju, mengikuti Abah Halim.


"Ari ngomong Indonesia bisa?" tanya Abah Halim yang kini sudah berjalan bersisian dengan Jacob.


Alesha mengangguk, "Bisa ari Indonesia, mah. Ngan nya kitu, rada teu bener."


Abah Halim mengangguk paham. "Ari si Aa mah katingal ciga lain urang Indonesia nya?"


Alesha mengangguk, "emang sanes ti Indonesia, Abah. Tapi ti Amerika."


"Eleuh sia. Ni jauh euy."


Alesha tersenyum tipis mendengar itu.


Sekian menit berlalu, tidak ada percakapan apapun. Alesha menyenderkan kepalanya pada bahu Jacob sembari sesekali berbisik terima kasih sebab sudah bersedia menggendongnya dan meminta maaf sebab direpotkan olehnya.


"Ehm, Abah..." panggil Jacob.


"Iya?" sahut Abah Halim.


Abah Halim menggelengkan kepalanya, "Kalau tadi terus ikutin aliran sungai, bisa satu sampe dua hari lagi buat tiba di pemukiman warga. Tapi lewat jalan yang kita laluin sekarang, in syaa Allah gak lama lagi sampe. Ya... Mungkin sekitar setengah jam atau satu jam lagi," jawabnya dengan aksen sunda.


Jacob mengangguk paham.


***


"Al...." Jacob menghentikan langkah kakinya. "Alesha..." Ia menggerakkan tubuh Alesha.


"Ada apa, A?" tanya Abah Halim. "Eh, si Eneng tidur? Apa pingsan itu?"


"Alesha..." Sekali lagi, Jacob menggerakkan tubuh Alesha yang sejak lima belas menit lalu tidak usik sama sekali.


Alesha bersandar lemas dan terpejam pada bahu suaminya.


"Alesha!" Jacob sedikit membentak.


Nihil!


Alesha pingsan.


"Abah..." Jacob menatap cemas pada Abah Halim.


"Ayo, atuh, cepetan, gak lama lagi, kok sampainya," ucap Abah Halim melanjutkan langkahnya dua kali lebih cepat.


Jacob sudah sangat panik sekarang. Tidak perduli tubuhnya yang juga terasa sakit sebab menggendong istrinya. Ia hanya ingin segera tiba di tempat tujuan agar Alesha bisa mendapatkan setidaknya pertolongan pertama. Semoga saja di rumah Abah Halim ada alat komunikasi apapun yang dapat Jacob gunakan untuk menghubungi keluarganya.


Setengah jam kemudian....


Abah Halim, Jacob, juga Alesha akhirnya tiba di sebuah gubuk pemukiman penduduk yang tidak ramai, hanya ada kurang dari sepuluh rumah dengan jarak yang cukup berjauhan. Namun setidaknya mereka telah keluar dari area hutan sekarang.


"Piaa!!!" teriak Abah Halim. "Piaa!!!"


"Enya Abah!" seorang gadis remaja menyahut dari dalam sebuah rumah panggung.


"Pia, bantu si Aa buru! Jieun keun cai atawa teh anu hanet!" titah Abah Halim.


"Muhun, Abah. Sakedap." Gadis bernama Pia itu kembali masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru.


"Sok, A, si Eneng tidurin aja di sini." Abah Halim mengambil sebuah karpet anyaman bambu dan membentangkannya. "Maaf, ya, rumah Abah gak bagus. Seadanya aja, kaya gini."


Jacob mengangguk, berterima kasih. Mau rumah bagus atau sederhana bahkan gubuk reyot sekali pun ia tidak perduli, ia hanya bersyukur sebab mendapatkan pertolongan melalui Abah Halim.


"Sayang..." Jacob membaringkan istrinya diatas karpet anyaman itu.


"Punten, A." Pia berdiri disebelah Jacob, menyerahkan sebuah bantal untuk Alesha.


"Terima kasih," ucap Jacob seraya menerima bantal itu.


"Sami-sami." Pia mengangguk. Ia membalikkan tubuhnya dan kembali ke dapur.


"Pia, kulub keun sampe jeng hui nya," pinta Abah Halim.


Pia mengangguk.


Abah Halim masuk ke dalam kamarnya, mengambil sebuah minyak urut. Ia jelas melihat luka-luka memar disekujur tubuh Jacob.


"Al, bangun...." lirih Jacob, ia menatap istrinya.


"Aa..." Abah Halim kembali dari kamarnya dan duduk di sebelah Jacob, "Ini ada minyak urut. Sini, Aa biar Abah urut dulu, sama sekalian diobatin luka-lukanya," bujuknya, pelan.


Jacob menggelengkan kepalanya. Ia sedang mencemaskan keadaan istrinya saat ini.


"Udah, gak papa, A. Si Eneng gak papa, kok. Cuman kecapean sama lemes aja. Nanti juga bangun," ucap Abah Halim, mencoba menenangkan Jacob. "Gak apa-apa, A. Percaya sama Abah. Si Eneng gak bakal kenapa-kenapa."


"Tapi dia lagi hamil, Abah," lirih Jacob.


"Iya. Gak apa-apa. Si Eneng kecapean itu. Makanya pingsan. Sini..." Abah Halim meraih lengan Jacob perlahan, "Si Aa biar Abah urutin sama obatin dulu lukanya. Kita berdoa aja, semoga si Eneng cepet bangun sama pulih."


Jacob menatap pasrah Abah Halim sejenak. Sampai pada akhirnya, ia mengangguk, dan membiarkan Abah Halim mengobati lukanya. Lagi pun, apa yang bisa dilakukan sekarang? Tidak ada peralatan medis termasuk obat-obatan di rumah itu, dan Alesha, belum tentu juga bumil itu bangun meski tubuhnya terus digerak-gerakkan.

__ADS_1


Beberapa kali Jacob meringgis, dan mengerang kesakitan, merasakan pijitan Abah Halim. Ia tidak tahu kalau ternyata kakek tua itu pandai memijit.


"Aaaa! Ya Allah, sakit!!" pekik Jacob.


"Udah ini, si Aa mandi dulu aja, ada kamar mandi di belakang, nanti bisa pake baju cucu Abah yang laki-laki. Badannya gak beda jauh, kok," ucap Abah Halim.


Jacob mengangguk pelan sembari terus meringgis.


Sial! Pijitannya sangat sakit sekali. Namun memang manjur.


"Udah mandi, nanti makan dulu, ya. Maaf, Abah cuman punya ubi sama singkong."


Jacob tak mengindahkan ucapan Abah Halim yang itu. Ia masih berusaha sekuat tenaga menahan rasa nyeri dari pijitan Abah Halim.


Hinga tak terasa, satu jam berlalu.


Jacob bersandar lemas pada tembok bambu kokoh dekat istrinya. Baru lima menit lalu ia beres diuruti oleh Abah Halim. Tapi memang benar, sih, pijitan yang Abah Halim berikan langsung terasa efeknya. Jacob merasa lebih rileks, dan nyaman. Seperti tubuhnya itu terasa ringan.


"Assalamualaikum..."


"Waallaikumussalam..." balas pelan Jacob sembari menatap ke arah pintu.


Seorang pria sepantaran Alesha masuk dan membawa sebuah tiga tas kain besar yang entah berisi apa.


Kedua pria itu saling bersitatap bingung.


"Rehan, tos uih?" ucap Abah Halim yang datang dari arah dapur.


Rehan beralih menatap kakeknya itu, ia tersenyum ramah, "Atos Abah. Tadi teh macet ni ku panjang di Nagreg, Abah, jadi telat uih na."


"Oh, enya atuh bae." Abah Halim menoleh pada Jacob, "Nah, A, ini teh cucu Abah, namanya Rehan, umurnya dua puluh dua tahun. Rehan, iye A Jacob, sareng istri na, Neng Alesha."


Jacob dan Rehan kembali bersitatap. Namun kini, Rehan menyunggingkan senyum ramahnya pada tamunya.


"Puguh Abah teh katimu si aa jeng si eneng keur di leweng. Nyaho na mah si aa sareng si eneng teh teu apal jalan, jadi weh ka langsu. Si eneng na mah karunya tuh, pingsan," ucap Abah Halim, menjelaskan pada cucunya, Rehan.


Rehan mengangguk paham.


"Ke berekeun si aa baju jeng calana anu Rehan nya. Mun si eneng mah ke make baju nu si Pia," lanjut Abah Halim. "Aa Jacob, kalau mau mandi sekarang silahkan. Udah Abah isi bak mandinya. Maklum, di sini belum pake listrik, jadi ngambil air juga harus nimba dulu disumur."


Jacob diam. Lebih tepatnya ragu, sih. Apa tidak apa ia meninggalkan istrinya sebentar?


Seperti mengetahui apa yang Jacob pikirkan. Abah Halim tersenyum, "Gak apa-apa, A. Si eneng nanti ditemenin Pia di sini pas Aa mandi. PIAA!!"


"Enya, Abah?" sahut Pia dari dapur. Gadis itu berjalan cepat menghampiri kakeknya.


"Si Aa arek mandi hela sakedeng, Pia didieunya, batuan si eneng," pinta Abah Halim.


Pia mengangguk, "Muhun, Abah."


"Tuh, A, silahkan kalau mau mandi mah. Si eneng aman. Pia yang bakal temenin sampe Aa beres mandi. Oh ya, Rehan, candak hela baju anu dek Rehan namut keun ka si Aa."


Rehan mengangguk. Ia lantas menoleh pada Jacob, "Hayu, A. Dipilih bajunya, biar pas."


Jacob mengangguk kecil. Sejurus kemudian, ia beranjak berdiri, mengikuti Rehan ke dalam kamar pria itu.


"Nah, Pia, engke, mun si neng Alesha ges sadar, bere injem pakean nya," pinta Abah Halim, sekali lagi.


"Enya, Abah." Lagi dan lagi Pia hanya mengangguk.


"Pia di dieu hela nya. Abah dek kaluar hela," ucap Abah Halim seraya beranjak bangkit.


"Tong lila teuing, Abah, besing hujan, iye meni ges mararendung angot."


"Heeuh..." balas Abah Halim yang sudah berada di balai bambu luar rumahnya.


*****


Setengah jam kurang lebih berlalu. Jacob baru saja beres mandi dan sudah memakai pakaian yang ia pinjam dari Rehan. Untung saja postur tubuh pemuda itu tidak beda jauh dengannya. Saat ini, Jacob sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk milik Rehan yang semula hanya menjadi pajangan lemari saja. Ia masih di dalam kamar mandi itu.


Meski tidak besar, dan terletak di luar rumah, setidaknya kamar mandi itu cukup bersih dan airnya pun jernih. Untung saja masih ada sisa shampo sachet yang cukup banyak, jadi, ia pakai itu tidak hanya untuk keramas, namun sabun juga.


Saat Jacob kembali dari kamar mandi, ia mendapati istrinya yang ternyata saat ini sudah siuman dan sedang makan ubi bakar bersama Pia.


"Lil Ale!" panggil Jacob. Ia bergegas menghampiri Alesha. Meski terlihat masih lemas, setidaknya wajah Alesha tidak pucat seperti saat mereka masih tersesat di hutan.


"Apa yang kau rasakan saat ini, Sayang?" tanya cemas Jacob. Ia menggenggam kuat telapak tangan istrinya.


Alesha tersenyum kecil, "Hanya sedikit lemas saja. Tapi aku sudah kenyang. Kau mau makan?" Ia balas menyodorkan sebuah potongan ubi pada suaminya.


Jacob menggelengkan kepalanya. Ia tersenyum lega, "Syukur kalau sudah baik-baik saja, Al. Aku sangat cemas tadi."


Alesha meraih pakaian milik Pia yang sudah disiapkan gadis remaja itu untuk dipinjamkan padanya, "Aku mau mandi dulu, Jack."


"Eh, kau yakin? Kau masih lemas, Al." Jacob beranjak bangun mengikuti istrinya.


"Tidak apa. Aku baik-baik saja. Aku kuat," jawab Alesha.


"Oke, kalau begitu aku akan menemanimu di depan pintu kamar mandi," ucap Jacob.


Alesha tak membalas. Ia ingin cepat-cepat mandi saja, dan mengganti pakaiannya.


Lima belas menit berselang, Jacob duduk di balai bambu dekat kamar mandi, memandangi hamparan pepohonan dan rumah-rumah warga yang saling berjauhan. Nampak bulir bulir cair yang sudah turun dari awan mendung besar yang mengambang di atas langit sana.


"Sudah selesai mandinya, Sayang?" Jacob menghampiri Alesha.


"Sudah." Alesha mengangguk. Sama seperti suaminya, ia juga berkeramas, dan turut menggunakan shampo sebagai sabun.


"Kemana Abah Halim?" tanya Alesha.


"Aku tidak tahu," jawab Jacob.


Sesampainya di ruangan tengah kembali, Jacob dan Alesha duduk bersebelahan dengan ditemani sebuah teko berisi teh manis, empat gelas kaca, keripik dan rebusan singkong, juga ubi rebus.


Cemilan yang membuat Alesha tersenyum sebab teringat masa kecilnya bersama Sang Kakek. Ia juga dulu sering makan keripik dan rebusan singkong, juga ubi. Biasanya, ubi dan singkong rebusnya akan ia cocol dengan gula pasir. Itu, rasanya lebih nikmat, apalagi ditambah segelas teh hangat. Lengkap sudah.


"Teteh, Aa, mangga dituang," ucap Pia, "Pia bade ka dapur hela, lanjut eta, masak lauk gurame bawa si Abah kamari."


"Gurame?" ulang Alesha.


"Enya, Teh." Pia mengangguk.


Alesha menoleh pada suaminya, "Jack, aku ingin gurame bakar yang pedas," bisiknya.


Mendengar itu, Jacob diam. Maksudnya, tidak enak juga kalau ia meminta pada Pia untuk dibuatkan gurame bakar pedas untuk istrinya, pasalnya, mereka adalah tamu yang beruntung sekali sebab mendapatkan pertolongan melalui Abah Halim dan kedua cucunya.


"Nanti saja, ya. Kalau kita sudah tiba di mansion," bujuk Jacob.


Alesha menunduk. Cukup kecewa.


"Punten, Teh, Aa." Pia beranjak pergi menuju dapur.


Alesha mengangguk pelan.


"Sayang, kau benar-benar baik-baik saja?" tanya Jacob, terdengar cemas.


"Tidak! Aku tidak baik. Aku mau gurame bakar yang pedas," jawab Alesha. Bibirnya sedikit mengerucut.


Jacob tertawa kecil mendengar itu, "Kan aku sudah bilang, kalau kita tiba di mansion, aku akan membelikannya untukmu," ucapnya sembari mengusap kepala Alesha. "Oh ya, apa Pia memiliki kerudung?"


"Kenapa memangnya?" Alesha menatap suaminya.


"Tentu saja untuk dipinjam, untukmu. Aku tidak mau pria lain melihat rambutmu. Ustadz Fariz waktu itu bilang, aku juga menanggung dosa jika membiarkan istriku tidak memakai kerudung di depan pria lain. Lagi pun, aku hanya mau kalau aku saja yang boleh melihat rambutmu, terutama bagian tubuhmu yang lain, orang lain cukup wajah saja atau telapak tangan dan kaki. Aku tidak mau orang apalagi pria lain melihat kau yang semakin cantik saat sedang mengurai rambut dan memajang poni tipismu itu. Nanti mereka suka padamu. Aku tidak mau itu terjadi!"


Alesha terkekeh mendengar itu. "Dasar posesif."


"Biar saja aku posesif, yang penting, hanya aku saja yang boleh melihat kecantikan alami yang ada pada diri dan tubuhmu!"


"Oh ya?" Alesha tertawa kecil, "Itu terdengar seperti berlebihan."


"Berlebihan? Apanya yang berlebihan? Aku berusaha menjaga kau dari pandangan pria lain agar tidak ada pria mana pun yang tertarik padamu, Al." Jacob mendengus pelan.


"Kalau kenyataannya memang ada pria lain yang tertarik padaku tanpa sepengetahuanmu, bagaimana?" Alesha terkekeh dengan pertanyaannya sendiri.


Jacob menggelengkan kepalanya, "Tidak! Tidak boleh! Harus kah aku membuat tampilanmu menjadi culun dan aneh di depan orang lain agar kau tetap tampil cantik hanya dihadapanku saja?"

__ADS_1


Tawa Alesha sedikit pecah saat mendengar jawaban itu. Dasar Jacob. Aneh aneh saja pria itu.


"Sudahlah, itu berlebihan." Alesha menepuk bahu suaminya, "Aku akan meminjam kerudung atau kain panjang pada Pia nanti."


__ADS_2