
Pukul 04.15 WIB
"Jack.... Jack.... Bangun..." Alesha mengguncangkan tubuh suaminya, Jacob yang sejak tadi terus saja mengigau tidak jelas.
"Jacob.... Mr. Jacob.... Bangun... Aku ada di sini," Dengan mata yang masih sangat berat untuk terbuka sepenuhnya, Alesha pun terus berusaha untuk membuat suaminya terbangun.
"Alesha...... Sayang, jangan pergi, hiks," Jacob kian menggumamkan kata-kata tidak jelas.
Tentunya hal itu membuat Alesha semakin bingung, dan sedikit panik karna mendapati timbulnya kerlingan cair dari kelopak mata suaminya.
"Jack, kau pasti bermimpi yang aneh tentangku," Gumam Alesha yang masih dibayangi oleh rasa kantuk.
"Alesha...."
Karna Jacob tak kunjung sadar juga, terpaksa Alesha menampar keras pipi suaminya itu. "Jack, bangun!!"
"Alesha!!" Jacob pun terlonjak hingga kedua kelopak matanya sukses terbuka.
Pria itu terlihat ketakutan dengan dada yang naik turun dengan gerakan cepat.
"Jack?" Panggil Alesha, pelan.
Jacob mengalihkan perhatiannya pada si manis yang kini tengah terduduk tepat disebelahnya dengan raut-raut mengantuk, bercampur bingung yang terlihat jelas.
"Alesha....." Jacob masih belum bergerak. Ia terlalu terpaku pada wujud istrinya yang kini berada sangat dekat dengannya.
"Apa? Kau kenapa? Dari tadi kau terus saja memanggiliku, Jack."
"Alesha...."
"Astagfirullah!!" Alesha sedikit tersentak ketika tubuhnya ditarik, dan dibawa masuk ke dalam pelukan erat oleh suaminya.
"Jack, lepas!!" Alesha meronta, berusaha agar bisa terlepas dari kukungan pelukan suaminya. "Jack, ya ampun, aku tidak bisa bernapas!!"
Jacob acuh, matanya terpejam, rasa akan kehilangan Alesha benar-benar membuatnya takut setengah mati. Pelukannya tak kunjung dikendurkan, ia masih ingin merasakan tubuh sang istri yang berada dalam dekapannya.
Jacob sudah tidak perduli ketika Alesha memukuli, dan mendorong dadanya dengan sekuat tenaga, karna yang Jacob mau saat ini adalah Alesha berada dalam jangkauannya, tidak seperti di dalam mimpi ketika Alesha tiba-tiba saja berubah menjadi bayangan, dan menghilang meninggalkannya.
"Jack! Ish, lepas!"
"Alesha, aku bermimpi kau meninggal. Aku berada tepat disebelah makammu, dan kau mendatangiku untuk berpamitan lalu setelah itu kau pergi," Lirih Jacob. "Jangan tinggalkan aku, Alesha..."
__ADS_1
"Benar dugaanku, kau pasti bermimpi buruk tentangku. Dari tadi kau terus memanggili namaku tahu!" Alesha kembali menggerakkan tubuhnya untuk berusaha terlepas dari pelukan erat suaminya. "Sekarang lepaskan aku!"
"Tidak!"
"Jack, aku tidak nyaman dengan posisi seperti ini!" Protes Alesha yang sungguh merasa tidak nyaman dengan posisinya saat ini, yaitu berada diatas tubuh Jacob namun dengan posisi miring, belum lagi kedua kakinya yang terlipat karna tadi Jacob langsung menariknya sedang ia dalam posisi terduduk.
Tetapi setelah mendengar protes dari Alesha, Jacob pun memutar tubuhnya untuk mencari posisi yang lebih nyaman lagi untuk mereka berdua.
Kini mereka saling berhadapan setelah Jacob mengubah posisi tubuhnya menjadi miring, namun tetap saja, Alesha masih belum bisa terlepas dari kuncian lengan, dan pelukan suaminya.
"Jack!" Dumal Alesha.
"Aku tidak bermimpikan saat ini, Alesha? Kau benar-benar masih hidupkan?" Jacob bertanya sayu. Sorot matanya kental akan kesedihan, dan ketakutan.
"Jack, kalau aku sudah meninggal aku tidak mungkin ada di sini, dan membangunkanmu walau rasanya aku masih sangat mengantuk," Jawab Alesha dengan malas.
"Jangan berbohong Alesha, karna dalam mimpi juga kau mendatangiku, berpamitan, lalu pergi...." Kedua ujung tengah alis Jacob kian mendekat, tanda jika kesedihan semakin menjadi.
"Jack.." Alesha menaruh sebelah telapak tangannya pada pipi Jacob. "Aku masih hidup, kau tadi hanya bermimpi. Aku tidak pergi kemana-mana karna dari tadi aku tertidur, disisimu, disebelahmu. Mengerti?" Alesha mantap serius pada suaminya.
Jacob tidak membalas lagi. Ia beralih dengan menciumi wajah istrinya penuh kelembutan. Rasa sayang, dan cinta Jacob itu besar untuk Alesha, tentunya ia tidak mau jika harus kehilangan wanita kesayangan itu saat ini. Jacob masih ingin terus bersama-sama hingga tua nanti, hingga ia, dan istrinya mempunyai cucu, lalu meninggal dengan penuh ketenangan setelah melalui satu masa kehidupan bersama. Melewati badai rumah tangga, mencari kebahagiaan dengan keturunan mereka. Jacob tidak mau kisahnya berakhir terlalu cepat. Ia berjanji untuk akan selalu menjaga istri, dan anaknya, serta bertanggung jawab penuh sebagai seorang kepala keluarga, suami, dan imam.
"Aku mencintaimu, Alesha."
"Emm, Jack, geli, cukup..." Alesha sedikit menggeliat, lalu ia mengangkat wajah Jacob supaya suaminya itu menyudahi ulahnya.
"Aku mencintaimu, Lil Ale," Sekali lagi, Jacob pun mencium kedua sisi pipi istrinya, lalu setelah itu, ia kembali membawa Alesha kedalam pelukannya.
"Jack, lebih baik kau ambil wudhu, dan bersiap, sebentar lagi masuk waktu sholat subuh," Usul Alesha.
Jacob hanya mengangguk, namun ia tidak segera melakukan apa yang istrinya usulkan.
Jacob masih enggan untuk melepaskan pelukannya. Bayang-bayang ketakutan akan ditinggalkan masih membekas dalam hati Jacob, meski itu hanyalah sebuah mimpi. Entah apa arti, dan maksud dari mimpinya itu, Jacob masih bertanya-tanya kenapa ia sampai bisa memimpikkan Alesha yang meninggal lalu berpamit untuk terakhir kali padanya? Insting Jacob kemudian bekerja, ia menangkap sebuah rasa atau mungkin mimpi itu memanglah suatu pertanda.
Memikirkan hal itu membuat Jacob semakin mengencangkan pelukannya, dan tidak memberikan ruang jarak dengan Alesha. Hingga pada akhirnya ketika waktu azan subuh tiba, perlahan, Jacob melepaskan pelukannya. Ia pikir sembari sholat ia akan merasa jauh lebih tenang.
Berbeda dengan Alesha, ia langsung memungut pakaiannya yang berada di lantai lalu setelah itu memakainya.
Mungkin selang lima menit berlalu, Alesha mendapati kalau anaknya, Alshiba terbangun. Tetapi bagusnya bayi mungil itu tidak menangis, melainkan hanya mengedipkan matanya beberapa kali apalagi ketika Alesha menghampirinya.
"Eh, anak Bunda udah bangun ya..." Ucap Alesha dengan semangat. "Ulululu, sayang. Si cantik udah bangun."
__ADS_1
Kemudian Alesha pun meraba-raba tempat putrinya tertidur, takut jika Alshiba buang air, meski ternyata tidak.
"Dede Shiba udah kenyang bobo ya?"
Alshiba terus memandangi bundanya yang terus saja berbicara, dan tersenyum padanya.
"Dede laper gak? Pengen makan?" Alesha mengangkat tubuh putri kecilnya.
"Alshiba sudah bangun, sayang?" Tanya Jacob yang baru saja menyelesaikan sholatnya.
"Iya, dia bangun, lihatlah," Jawab Alesha.
"Hai, sayang," Sapa Jacob sembari tersenyum, dan mengelusi pipi anaknya.
"Dia tidak menangis, Al?" Jacob menengok pada istrinya.
"Tidak. Alshiba kan anak yang pintar, jadi tidak menangis," Jawab Alesha sembari menggesekkan ujung hidungnya pada ujung hidung anaknya. Sunggung ia merasa sangat gemas pada putri kecil itu, Alshiba sangat lucu, apalagi saat tubuhnya bergerak-gerak perlahan.
"Jam berapa sekarang, Jack?" Tanya Alesha.
"Jam setengah lima lewat sepuluh," Jawab Jacob.
"Masih terlalu pagi," Alesha bergumam. Sejurus kemudian, ia membawa anaknya menuju kasur. Ia pikir akan asik jika mengajak Alshiba berbicara.
"Dede Shiba.... Anak bunda, sama ayah," Alesha mentimang-timang bayinya. Disaat seperti itu, Alesha merasa jika dunianya semakin hidup. Tidak terasa, dua puluh satu tahun usianya, kini ia telah mendapatkan karunia seorang bayi cantik.
"Khalid..." Senyum Alesha pun luntur ketika ia mengingat almarhum bayi lelakinya yang satu lagi.
"Khalid..." Raut sedih tergambar jelas pada wajah Alesha. Bayinya, kembaran Alshiba, kini telah tiada.
"Hiks, Khalid...." Air mata pun menetes membasahi pipi Alesha. Ibu muda itu sedang merindukan mendiang anak bayinya yang meninggal hanya dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah dilahirkan.
"Alesha..." Jacob yang mendapati istrinya menangis pun perlahan menyerka air mata yang membasahi wajah si manis kesayangannya itu.
"Aku merindukan, Khalid, Jack, hiks."
Jacob terdiam. Rasa bersalah kini menyeruak ke dalam hatinya. Dikala Alesha membutuhkannya untuk bertahan dari rasa sakit juga berjuang hidup, dan mati demi sang anak, Jacob malah sibuk dengan segala macam kesibukan, dan pekerjaan.
"Sabar, sayang, Khalid sudah tenang sekarang. Setidaknya kita tahu kalau dia sudah berada di tempat yang sempurna. Aku juga selalu mendoakannya selepas sholat," Ucap Jacob sembari mengelusi rambut istrinya.
"Khalid... Hiks, bunda sayang sama kamu, hiks..." Alesha menelusupkan wajahnya pada dada suaminya.
__ADS_1
Mengerti akan hal itu, Jacob lalu memeluk istrinya, dan membiarkan si manis itu menangis, menumpahkan segala rasa kerinduan juga kesedihan akan sang mendiang anak.