Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Start Mission


__ADS_3

"Katakan dimana Dirga sekarang!!" Jacob mencekik kuat leher salah satu anak buah Dirga yang memata-matai rumahnya.


"Arghh!"


"Dimana Dirga sekarang?!"


"Jack, cukup, aku mendapatkan ponselnya! Kita sandra saja dia!!" ucap Rangga.


"Kau akan menyesali perbuatanmu!!" Jacob menggeram. Sejurus kemudian, ia memukul tengkuk pria tersebut hingga terjatuh pingsan.


...*****...


Setibanya di mansion, Jacob segera memerintahkan beberapa penjaga untuk mengurung anak buah Dirga itu di gudang belakang.


"Taylor, dimana Alesha?" tanya Jacob sembari menghampiri asistennya.


"Nona di kamarnya, tuan. Sepertinya sedang tidur, tadi nona bilang kalau dia tiba-tiba mengantuk," jawab Taylor.


"Baguslah. Oh ya, tolong kau urus anak buah Dirga itu, aku mengurungnya di gudang belakang. Introgasi dia, dan ini, cari sesuatu yang bersangkutan dengan rencana mereka di dalam ponsel ini!"


"Baik, tuan." Taylor mengangguk paham seraya mengambil alih ponsel itu.


"Kalau begitu aku akan pergi ke kamar sekarang."


"Iya, tuan silahkan."


Jacob kembali melangkah, menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Tidak akan! Jacob tidak akan membiarkan Dirga mencelakai istrinya untuk yang kedua kali. Mata-mata itu, untung saja keberadaannya dapat segera diketahui oleh para anak buah Jacob, jadi, Jacob bisa langsung melakukan pengerjaan, dan penangkapan.


Ceklek.


Ketika pintu kamar dibuka, saat itu pula Jacob mendapati istrinya tengah tertidur pulas disofa sembari memeluk Baby Alenya.


"Kenapa tidur disitu?" gumam Jacob sembari melangkah mendekati Alesha. Setelah itu, ia mendudukkan dirinya tepat disebelah istrinya.


"Sayang....." bisik Jacob sembari mengelus lembut perut Alesha. "Sayang, ayo bangun, jangan tidur di sini, lagi pula ini masih jam setengah sembilan, Al."


"Alesha....." elusan diperut terus Jacob berikan untuk istrinya. "Ayo, bangun."


"Eungh..." Alesha terusik pelan. Oh ya ampun, padahal ia sedang bermimpi main di pantai, tapi Jacob malah mengganggunya.


"Jack, kau menggangguku bermain di pantai!" racau Alesha.


"Apa?" Jacob terkekeh.


"Kau menggangguku main di pantai!"


"Main di pantai? Kau bermimpi main di pantai, sayang?"


Alesha merasakan kecupan gemas dipipi kanannya, tapi ia tidak perduli itu.


"Aku ingin jalan-jalan ke pantai, Jack."


"Jalan-jalan ke pantai?"


"Tidak usah mengulang ucapanku. Kau mendengar dan memahaminya! Aku ingin jalan-jalan ke pantai." Alesha berucap malas, namun ia serius. Saat ini adalah musim panas yang indah, akan seru jika ia bisa berlibur ke pantai.


"Kau ingin main ke pantai, ya? Baiklah, kalau begitu nanti kita akan jalan-jalan ke pantai," balas Jacob sembari memeluk istrinya dari pinggir.


"Kapan?"


"Nanti. Tidak sekarang. Oke."


"Kenapa memangnya? Aku mau sekarang!" Alesha mengerucutkan bibirnya. Masih dengan mata yang terpejam, dan memeluk boneka beruang besarnya.


"Saat ini, situasi sedang tidak kondusif, Alesha. Musuh SIO sedang berkeliaran, dan aku juga bertugas untuk memberantas mereka. Belum lagi seseorang yang menjadi dalang kau amnesia sudah kembali lagi, dan aku rasa dia tahu kalau kau ada di Indonesia," jelas Jacob.


"Jack...." Alesha melepaskan Baby Ale dari pelukannya. Ia berbalik menghadap Jacob.


"Kenapa, Lil Ale?"


"Kau bilang kalau kau bertugas untuk memberantas mereka, termasuk orang yang sudah membuatku amnesia?"


"Iya, ada apa memangnya?" Jacob mengangguk.


Raut wajah Alesha menurun, membentuk seberkas kesedihan pada sorot matanya. "Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padamu?" Alesha bertanya to the point. Ia takut Jacob akan meninggalkannya sedang ia pun tengah mengandung anak mereka.


"Kau mengkhawatirkanku, sayang?" Jacob terkekeh.


"Jack, aku tidak bercanda. Aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu!"


"Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk padaku, Alesha." Jacob menangkup wajah Alesha menggunakan kedua telapak tangannya. "Suamimu ini adalah seorang agent intelegent hebat. Bahkan, jika saja kau ingat, aku pernah menghabisi delapan orang pria sendirian untuk menyelamatkanmu dari seorang pria jahat. Bukan hanya itu, aku sudah terlalu biasa dihadangkan dengan risiko besar, dan bahaya-bahaya yang taruhannya adalah nyawa. Jangan takut. Aku sudah berjanji untuk tidak akan meninggalkanmu."


"Aku tidak perduli dengan janji itu. Aku hanya ingin kau baik-baik saja, Jack." Alesha membawa tubuhnya bersandar nyaman pada tubuh suaminya.


"Aku akan baik-baik saja, sayang. Percayalah," balas Jacob sembari memeluk erat si minimalis kesayangannya itu.


"Elusi perutku, Jack."

__ADS_1


"Baiklah."


Telapak tangan kanan Jacob bergerak-gerak pelan pada permukaan perut istrinya. Memberikan usapan lembut untuk sang istri, dan calon buah hati.


Alesha pun memejamkan mata kembali. Rasanya terlalu nyaman. Elusan Jacob membuatnya enggan beranjak, dan ingin tetap seperti itu. Ia mengantuk. Lebih baik tidur saja.


Sekian menit berlalu....


Jacob tersenyum tipis mendapati istrinya yang kembali tidur, dalam pelukannnya. Aish, ia jadi ingat kan saat-saat ketika mereka berdua belum menikah, dan Alesha yang sering tidur dalam pelukannya.


"Aku mencintaimu, Alesha."


...*****...


Siang harinya, masih di mansion Jacob.


Suami Alesha itu tengah bersiap. Ia akan pergi bersama Danish dan beberapa agent lain untuk menyerang komplotan jaringan gelap yang bermarkas di salah satu wilayah di kaki gunung salak.


"Jaga Alesha, Tessa, dan Nick dengan baik di sini, aku mungkin baru akan kembali tengah malam ini, atau besok subuh, mengingat jarak Bandung dan Bogor tidak jauh. Jangan katakan pada Alesha kalau aku pergi menjalani misi ini. Bilang saja ada rapat dadakan yang mesti aku hadiri di Bogor!" ucap Jacob.


"Iya, tuan." Taylor mengangguk paham.


"Rangga akan tetap di sini untuk membantu berjaga-jaga. Sebentar lagi Aiden, Tyson, dan Merina akan segera datang."


"Jack, kau mau kemana?" tanya Tessa yang baru saja menghampiri Jacob.


"Aku akan pergi menuju kantor SIO," jawab Jacob. Ia juga akan menyembunyikan misinya kali ini pada Tessa.


"Menuju kantor SIO. Uhmm." Tessa mengangguk kecil. Ada sedikit kecurigaan dalam hatinya melihat Jacob yang memasukkan alat-alat tajam, peluru, pistol, dan granat ke dalam tas. Tapi, biarlah. Sebenarnya, ada yang ingin ia tanyakan pada Jacob. "Jack, aku ingin bertanya sesuatu."


"Bertanya apa?"


"Apa boleh aku menghubungi Levin sekarang?"


Jacob yang semula tengah memasukkan perlengkapannya ke dalam tas pun seketika berhenti, dan menoleh pada Tessa.


"Aku takut, Jack. Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya sekarang," kelopak mata Tessa mulai berkaca-kaca. Sungguh, ingin sekali rasanya ia menangis. Ia sangat merindukan, dan mengkhawatirkan suaminya.


Sementara Jacob. Huft! Entahlah, ia paling tidak bisa melihat wanita yang menangis sendu dihadapannya. Tapi mau bagaimana lagi, Levin tidaklah bisa diganggu saat ini.


"Tessa, suamimu adalah pria yang hebat. Dia adalah rivalku, salah satu agent terbaik di SIO. Kau mungkin mengkhawatirkannya, tapi percayalah, Levin baik-baik saja, dia tidak sendiri, ada beberapa agent hebat SIO yang lain yang bersamanya," balas Jacob, lembut.


"Lalu kapan aku bisa menghubunginya? Hiks."


"Berdoa lah, semoga saja secepatnya. Tapi jangan sekali-kali kau menghubungi Levin tanpa berkata atau meminta izin dulu dariku karna hal itu akan berisiko besar terhadap misi yang tengah suamimu hadapi."


Melihat raut wajah Tessa saat ini, membuat Jacob terbayang dengan Alesha yang sedang mengkhawatirkannya. Mungkin tidak akan jauh berbeda dengan apa yang Tessa tunjukkan saat ini.


"Tenanglah. Lebih baik kau kembali ke kamarmu, dan berdoa yang terbaik untuk suamimu," ucap Jacob.


"I.. Iya. Hiks, terima kasih, Jack," balas Tessa lemah. Wanita itu segera membalikkan tubuhnya, dan melangkah pergi dengan segala kesedihan, kerinduan, dan kecemasan terhadap suaminya, Levin. Tapi ia bisa apa sekarang? Hanya berdoa. Itu saja.


"Anda tidak ingin berpamit dulu dengan Nona, tuan?"


Jacob melirik pada kaki tangannya, Taylor.


"Ehm, maksudnya berpamit untuk pergi hingga nanti malam atau besok dari mansion ini, tuan," lanjut Taylor, kikuk ketika Jacob meliriknya datar, dan dingin.


Namun sejurus kemudian, Jacob malah terkekeh. Ia tidak marah pada Taylor, sama sekali tidak.


"Iya. Bawa ini ke mobilku! Aku akan ke kamarnya sekarang," balas Jacob.


Huft... Taylor sudah setengah panik, ia takut kalau Jacob akan marah padanya. "Baik, tuan."


Tak membuang waktu, Jacob pun bergegas menuju kamarnya, untuk berpamit pada istrinya, Alesha. Ya, walau pun Alesha sedang tertidur.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka pelan, dan hati-hati.


Jacob melangkah samar, mendekati tempat tidur.


Alesha berbaring nyaman, dan tak terusik sama sekali.


"Lil Ale," bisik Jacob tanpa suara. Ia kini telah berada tepat dibalik punggung istrinya. Sedikit terkekeh, mengingat memang Alesha lebih banyak tidur saat sedang hamil, bahkan Bastian dan yang lain pun sering bilang kalau waktu itu Alesha selalu tidur siang di mushollah mini saat jam istirahat di kantor SIO tiba.


"Aku pergi dulu, ya. Maaf aku tidak memberitahumu, aku tidak ingin kau cemas, panik, dan takut karna itu bisa mempengaruhi kehamilanmu, sayang. Aku akan kembali dalam keadaan baik-baik saja, malam ini atau besok subuh atau mungkin pagi. Aku akan segera menghubungimu setelah misiku selesai."


Jacob membungkuk. "Aku mencintaimu, aku mencintai kalian berdua, sayang-sayangku."


Cup.


Ciuman pelan dipipi menjadi penutupnya. Setelah sekian detik, Jacob mengangkat kembali tubuhnya. Berat sekali rasanya untuk beranjak pergi. Ingin Jacob tetap bersama istrinya, menemani tidur, dan memeluk dengan erat. Tapi ia tidak bisa berlama-lama lagi. Ia harus segera berangkat.


"Hallo...."


Jacob menelepon seseorang sembari berjalan setelah ia keluar, dan menutup pintu kamarnya.


"Aku berangkat sekarang!"

__ADS_1


...****...


Pukul empat sore.


"Hoaammmm...." Alesha menguap lebar sembari merenggangkan tubuhnya.


Sebentar.


Perutnya terasa sakit, ya?


Ah bukan! Bukan sakit! Tapi lapar!


Berapa jam ia tertidur? Sekarang ia butuh asupan.


Baiklah, mungkin ini saatnya untuk bangun dari hubernasi siang, dan mencari makanan untuk perutnya.


"Jack..." Alesha memanggil pelan. Ia berjalan sembari memperhatikan sekelilingnya. Lantai dua cukup sepi, hanya ada sekitar tiga pria, anak buah suaminya. Sementara di lantai bawah, sepertinya cukup ramai.


"Alesha!"


Alesha menoleh pada suara yang barusan memanggilnya.


"Rangga!" sunggingan senyum manis langsung tercipta seketika. "Oh ya ampun! Bonny, Bunny, Moza, Mauza!!"


Alesha berlari cepat menghampiri kakak, dan keempat kawan peliharaannya itu. Ia sungguh bersemangat, dan bahagia karna bisa berjumpa lagi dengan hewan-hewannya.


"Kapan kau membawa mereka ke sini, Rangga?" tanya Alesha sembari mengangkat salah satu kucingnya. "Mauza, dia sangat wangi, bulunya juga semakin lebat, dan tubuhnya bertambah berat. Kau memberi mereka makan apa, Rangga?"


"Aku membawa mereka ke sini tadi siang, dan untuk makanannya yang biasa, hanya mungkin sepertinya aku memberi jatah makan mereka lebih banyak," jawab Rangga, santai.


"Haii, Alesha," sapa Merina. Gadis itu sudah tiba di mansion Alesha bersama Aiden, dan Tyson sejak tadi siang.


"Merina, haii. Mana yang lain?" sapa balik sekaligus tanya Alesha.


"Ehmm, yang lain, mereka sedang ada kesibukan di kantor SIO, jadi tidak bisa ikut ke sini," jawab Merina, bohong. Kelima temannya yang lain ikut bersama Jacob, dan para agent SIO yang lain ke Bogor untuk memberantas komplotan kelompok jaringan gelap.


"Owh, begitu, ya." Alesha mengangguk paham.


"Iya." Merina tersenyum kaku. "Oh ya, hewan peliharaan siapa ini?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Ia duduk menyila sembari memangku Moza.


"Punyaku," jawab Alesha sembari tersenyum manis.


"Ah, lucunya. Siapa namanya, Al?"


"Yang kau pegang adalah, Moza, sedangkan ini." Alesha mengangkat tubuh Mauza. "Namanya Mauza."


"Yang ini Bonny, dan yang ini Bunny," lanjut Alesha, menunjuk pada kedua kelincinya.


"Kau merawat mereka berempat?"


"Iya, aku yang merawat mereka berempat. Tapi tubuh mereka jadi lebih besar dan berat karna Rangga yang merawatnya," jawab Alesha.


"Ugh! Lucu sekali, boleh aku membawanya ke apartemen? Kau memiliki hewan peli..."


"Tidak!" potong Alesha, cepat. "Tidak boleh!"


"Kenapa? Kau punya tiga hewan peliharaan yang lain, Alesha."


"Tidak! Pokonya tidak boleh!"


"Hmm, yasudahlah." Merina memutar kedua bola matanya dengan jengah.


"Oh ya, Merina, apa kau melihat Mr. Jacob?"


Deg!


Merina bergeming. Ia tidak boleh mengatakan pada Alesha jika Jacob pergi menjalankan misi dengan agent SIO yang lain.


"Emm, kalau tidak salah, Mr. Jacob pergi ke kantornya, Al. Dia sih bilang padaku kalau kemungkinan malam ini dia tidak akan pulang dulu. Maklum, kakak iparmu memintanya untuk mengurus perusahaan milik ibu mertuamu yang ada di Bogor," jawab Merina sembari tersenyum kaku.


"Kenapa dia tidak memberitahuku lebih dulu? Dia bahkan tidak pamitan padaku!" Alesha mendengus sebal. "Berarti malam ini dia tidak akan pulang?"


"Iya." Merina mengangguk.


"Ish! Menyebalkan!"


Entahlah, Alesha jadi merasa sebal sendiri dengan suaminya. Kenapa pula pergi tidak bilang-bilang dulu padanya? Sudah begitu malam ini tidak akan pulang pula! Argh!


*


*


*


*


Maaf lama update huhu🙏🤧


Ceritanya masih berlanjut, ya. Makasih buat yang masih setia baca 🙏😍

__ADS_1


__ADS_2