
"Alesha, kau baik-baik saja?" Tanya Jacob yang begitu panik.
Alesha masih memegangi kepalanya yang terasa nyeri. Ia terus berkutik dengan pikirannya, mencoba menerima kenyataan, dan berusaha untuk membuka ingatan apakah benar ia amnesia atau tidak? Namun kenapa rasanya sakit sekali memaksa pikirannya untuk mencoba membuka memori lain yang dirasanya tidak ada.
Alesha tidak mengingat apapun, ia tidak melihat ada, dan hadirnya memori lain, padahal ia sudah memaksa pikirannya, namun nihil.
"Tidak, jangan paksa pikiranmu untuk mengingat sesuatu saat ini, Lil Ale," Ucap Jacob yang seakan mengerti apa yang tengah Alesha lakukan sekarang.
"Tidak! Aku tidak mengenalmu, aku tidak mengingatmu! Rangga berbohong!" Alesha mendorong kasar tubuh suaminya.
"Alesha...." Lirih Jacob yang kini jatuh terduduk tidak jauh dari istrinya, hatinya sangat sakit atas sikap Alesha barusan.
Lagi, Alesha membuat suaminya begitu tersakiti atas ucapan juga perilakunya.
Namun Jacob pun tidak bisa melakukan apa-apa, marah tidak akan ada gunanya, ia mewajari perilaku Alesha terhadapnya meski dirasa begitu menyakiti hatinya.
"Rangga bohong!" Pekik Alesha. "Hiks, aku Lisha!"
"Sayang...." Jacob kembali mendekatkan tubuhnya pada Alesha.
"Menjauhlah, pria asing! Kau adalah pria aneh! Pergi dari rumahku!" Teriak Alesha tepat dihadapan wajah suaminya.
"Hiks, Alesha, aku suamimu, sayang," Meski hatinya hancur karna perkataan Alesha barusan, Jacob tetap memaksa untuk meraih tubuh istrinya lalu membawanya ke dalam pelukan erat.
"Ranggaaaa...... Hiks," Alesha menangis tersedu-sedu. Ia tidak memberontak sama sekali. Pelukan Jacob terasa hangat, membuat hatinya merasa nyaman meski ia sendiri sedang cukup tertekan atas pernyataan Rangga tadi.
"Tuan, jangan permainankan aku, hiks, kau siapa? Aku tidak mengenalmu, kenapa Rangga berucap seperti itu? Hiks," Lirih Alesha.
"Kau istriku, sayang, aku sangat mencintaimu, Rangga menyembunyikan identitas aslimu, dan semua hal tentangmu karna dia ingin melindungimu dari orang jahat yang berniat untuk membunuhmu, sayang," Jelas Jacob semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi aku merasa sangat asing denganmu, bagaimana bisa kau menjadi suamiku? Hiks."
Jacob memejamkan matanya. Sakit, sungguh sakit, namun ia harus tetap bersabar. "Karna kau tidak mengingatku, Lil Ale. Maka dari itu biarkan aku bersamamu agar aku bisa mengembalikan ingatanmu tentangku, tentang kita."
"Apa aku bisa mempercayaimu? Aku baru berjumpa denganmu tadi, aku tidak mungkin percaya padamu," Alesha menggelengkan kepalanya, pelan.
"Alesha, kau tidak mengerti. Jika kau tidak mempercayaiku bagaimana kau bisa mendapatkan kembali ingatanmu, sayang? Apa kau tidak mau pergi bersamaku ke makam anak kita? Hmm."
"Makam anak kita?" Ulang Alesha.
Air mata Jacob semakin bercucuran kala ingatan tentang Alshiba, putri pertamanya yang kini telah meninggal kembali terulang.
"Ya, Alshiba. Dia putri kita, sayang, apa kau juga melupakannya?"
Alshiba? Putrinya?
Tunggu!
"Argh!" Alesha kembali meringgis. Kepalanya kembali terasa diremas saat pikirannya terus mengulangi nama itu.
Alshiba......
Alshiba......
Alshiba......
Melihat kedua mata Alshiba yang terbuka, dan menatap hangat padanya membuat Alesha merasa tenang.
"Argh!" Alesha kembali meringgis.
Kilasan-kilasan itu. Sekelebat pikiran berlalu-lalang membuat Alesha kelimpungan dengan ingatannya sendiri.
"Hiks, Alshiba...." Lirih Alesha. Hatinya terasa sakit sekarang. "Tuan..." Alesha meremas kencang kedua lengan suaminya.
"Alesha, ada apa? Apa kau mengingat sesuatu?" Panik Jacob.
"Alshiba!!! Hisk hiks, Alshiba....." Air mata Alesha semakin membludak, tangisnya sudah sangat pecah ketika menyaksikan telapak tangan Dirga yang secara perlahan turun menuju leher Alshiba.
"Bayi yang malang...."
"ALSHIBA!!!!!!! "
"AAAAAAA........." Alesha berteriak dengan sangat kencang ketika tiba-tiba saja muncul ingatan yang terasa sangat jelas dalam memorinya. "Apa itu tadi? Hiks, siapa dia? Bayi itu, hiks," Tangis Alesha semakin pecah. Rasa sakit dihatinya kian bertambah saat ia melihat dengan begitu jelas ingatan yang muncul entah dari mana.
"Bayi? Kau mengingatnya, Alesha? Alshiba? Dia bayi kita, dia anakmu, Alesha!" Seru Jacob.
"Tidak mungkin. Hiks, kenapa rasanya jadi sakit seperti ini! Hiks, Rangga!!!!!"
Rangga yang ternyata sejak beberapa menit lalu sudah berada diantara Jacob dan Alesha kini hanya bisa berdiri dengan wajahnya yang terus dialiri oleh tangis kesalahan. Rangga tidak tega melihat Alesha saat ini. Namun ia juga tidak bisa melakukan apapun sekarang.
"Maafkan aku, Alesha," Lirih Rangga.
"Rangga....." Alesha yang menyadari keberadaan Rangga pun kini melayangkan tatapan sedih sendunya pada kakak angkatnya itu.
"Maaf, Alesha..." Rangga beralih mendekati adiknya. Ia berlutut tepat dihadapan Alesha. "Maafkan aku, hiks..." Rangga mengelus lembut puncak kepala Alesha.
"Dimana cincin kawin Alesha?" Tanya Jacob dengan tegas.
"I-ini," Rangga pun menunjukkan sebuah cincin kawin yang dulu selalu melekat dijari manis adiknya.
Alesha yang melihat benda berbentuk lingkaran kecil itu pun hanya bisa terdiam sambil terus menangis tersedu-sedu. Ia juga dapat melihat sebuah ukiran nama yang berbentuk indah, dan bertuliskan 'Jacob Ridle' dalam cincin tersebut.
"Kau lihat, Alesha? Ini cincin kawinmu, terdapat namaku di sini," Ucap Jacob yang kemudian melepaskan cincin kawinnya dari jari manisnya. "Lihat, ini cincin kawin milikku, ada namamu di sini, sayang," Jacob menunjukkannya pada Alesha. "Kita sudah menikah, atau apa perlu aku menunjukkan bukti buku pernikahan kita juga?" Jacob kembali memasangkan cincin kawin miliknya pada jari manisnya.
"Jangan pernah biarkan cincin ini terlepas dari jari manismu lagi, Alesha," Jacob segera memasukkan cincin kawin milik Alesha ke dalam jari manis istrinya tersebut.
Alesha masih terdiam, memperhatikan Jacob yang memasukan cincin kejari manisnya.
"Aku mencintaimu, Alesha," Kemudian Jacob beralih dengan memeluk erat tubuh istrinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, Alesha," Rangga menundukkan wajahnya, tubuhnya bergetar pelan karna tangisannya.
"Rangga, kau pasti berbohong kan, hiks," Lirih Alesha.
Rangga menggelengkan kepalanya.
"Rangga, kau menyembunyikan kebenaran dariku, hiks."
Rangga mengangguk pelan.
"Kenapa? Hiks, apa salahku?"
"Tidak, Alesha," Lirih Rangga. "Aku hanya ingin menjagamu, Alesha."
"Lalu aku harus apa sekarang? Hiks," Alesha menatap lemas pada Rangga.
"Aku mengembalikanmu pada suamimu, Alesha. Kau harus mengikutinya, hiks," Sungguh rasanya sangat tidak rela untuk Rangga mengatakan kalimat itu. Hatinya sangat sakit, dan begitu enggan menerima kenyataan jika Alesha akan dibawa kembali oleh suaminya, Jacob, namun Rangga harus ikhlas, ia tidak bisa bersikap egois. Bagaimana pun Alesha akan selalu menjadi adiknya, tidak lebih, Rangga tidak boleh berharap lebih pada adiknya.
Alesha memalingkan wajahnya dari Rangga. Ia masih sulit untuk menerima ucapan kakak angkatnya barusan.
"Aku akan membawa Alesha ke tempat dimana kami sering menghabiskan waktu bersama," Ucap Jacob.
Alesha, dan Rangga yang mendengar itu pun seketika terkejut.
"Aku akan bawa Alesha ke WOSA, aku akan meminta izin pada Mr. Thomson agar kami bisa tinggal di sana selama beberapa waktu," Sambung Jacob. Ia ingat jika ia memiliki banyak sekali kenangan bersama Alesha di WOSA, maka dari itu munculah ide dalam kepala Jacob untuk membawa Alesha menuju WOSA, siapa tahu Alesha bisa mendapatkan ingatannya kembali di sana.
" Jack, aku rasa ini terlalu cepat," Balas Rangga yang sebenarnya tidak setuju dengan rencana Jacob.
"Terlalu cepat? Lalu aku harus menunggu sampai kapan lagi? Alesha harus dibantu untuk mendapatkan ingatannya kembali, dan aku akan membawanya ke WOSA, tempat dimana kami selalu mengukir banyak cerita!" Balas Jacob.
"Kau yakin Alesha akan mendapatkan ingatannya kembali jika kau membawanya ke sana, Jack?" Tanya Rangga, ragu.
"Tentu, aku akan dengan sangat sabar membantunya mendapatkan ingatannya kembali di sana," Jacob menatap lekat wajah istrinya. "Kau maukan jika aku membawamu, sayang?"
Alesha balik menatap penuh keraguan pada suaminya. Ia takut, Jacob masih terasa asing untuknya.
"Jangan takut, Alesha, aku adalah suamimu, percayalah padaku. Tidak apa kau tidak mengingatku saat ini atau menganggapku asing, tapi kau harus percaya padaku karna aku ingin membantumu untuk mendapatkan kembali ingatanmu," Jacob mengelus lembut kedua sisi pipi istrinya.
Bukannya menjawab, kini Alesha mengalihkan pandangannya menuju Rangga dengan tatapan seolah ia meminta pendapat atau persetujuan dari kakak angkatnya itu.
Rangga menyunggingkan senyum manisnya, meski itu hanyalah kepalsuan belaka.
"Alesha, aku sudah berbuat salah padamu dengan menyembunyikan identitas aslimu, dan menjauhkanmu dari keluarga juga suamimu, sekarang mungkin saat yang tepat untukmu kembali pada suamimu, Alesha. Aku tidak bisa melarangmu, pergilah..."
"Tapi aku takut, Rangga. Aku masih sulit menerima ini semua, hiks," Balas Alesha.
"Kau percaya padaku bukan, Alesha?" Rangga menatap penuh keseriusan pada Alesha.
Alesha mengangguk.
"Kau sungguh percaya padaku bukan?" Ulang Rangga.
"Iya, Rangga."
Alesha melirik, dan menatap sesaat pada Jacob. "Rangga, bagaimana kalau dia melakukan hal yang buruk padaku?" Lirih Alesha.
Jacob menghela napasnya. Ia sedikit tercekat karna lagi, dan lagi ucapan Alesha menyakiti perasaannya.
"Alesha, apa kau sudah tidak mempercayaiku lagi?" Rangga menatap intens pada Alesha.
"Tidak, Rangga, bukan begitu. Aku hanya takut," Balas Alesha sedikit bergetar. Ia takut jika Rangga akan marah padanya.
"Kau tidak percaya padaku lagi, Alesha?" Tekan Rangga.
"Tidak, Rangga, hiks, aku percaya padamu, hiks, jangan marah padaku," Lirih Alesha.
"Kalau begitu kau harus percaya pada suamimu sendiri, Alesha. Dia adalah suamimu, dia tidak mungkin mencelakaimu karna dia sangat mencintaimu. Kau akan tahu itu nanti setelah kau bersama dengannya! Kau harus percaya padanya! Kau harus mengikutinya!" Tegas Rangga. "Aku sudah bilang, Alesha, aku tidak mungkin membiarkanmu bersama sembarang orang karna aku sangat menyayangimu, aku tidak ingin kau celaka, aku ingin kau tetap aman. Maka dari itu, sekarang tugasku sudah selesai, dan sekarang adalah giliran suamimu, Alesha."
"Hiks, Rangga, kenapa kau bicara seperti itu? Apa jika aku ikut bersamanya aku tidak bisa bertemu denganmu lagi? Hiks," Bulir air mata menetes melewati pipi Alesha, kedua netranya menatap penuh sendu pada Rangga.
"Tidak, Alesha. Kita pasti akan bertemu lagi, aku sudah berjanji pada orang tua kita untuk selalu menjagamu, hanya saja untuk saat ini kau harus ikut dulu bersama suamimu. Kau tahu WOSA? Kau dulu bersekolah di sana, Alesha. Kau akan aman di sana bersama suamimu, dan aku akan menunggumu sampai kau kembali mendapatkan ingatan lamamu," Balas Rangga sembari tersenyum manis. "Bonny, Bunny, Moza, dan Mauza aku akan merawat mereka sebagai jaminan jika kita akan bertemu kembali!" Seru Rangga dengan binar bahagianya.
"Memangnya kau bisa merawat mereka?" Alesha bertanya seperti seorang anak kecil.
"Tentu saja, Alesha, kenapa tidak," Kekeh Rangga.
"Janji," Alesha mengacungkan jari kelingkingnya.
"Janji," Rangga pun membalas dengan mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Alesha.
Melihat kedekatan Rangga dengan Alesha sungguh membuat Jacob merasa iri. Bagaimana bisa Alesha sedekat itu dengan Rangga? Sedangkan Jacob yang jelas sebagai suami Alesha malah terlupakan. Sakit rasanya untuk Jacob, hatinya seperti terbebani oleh masalah amnesia yang menimpa Alesha saat ini.
Untuk mengalihkan perhatiannya, Jacob pun beralih dengan meraih ponselnya dari dalam saku jaketnya.
"Hallo, Taylor tolong mintakan izin pada Mr. Thomson supaya aku, dan Alesha bisa tinggal di WOSA selama beberapa waktu. Jelaskan semua yang terjadi pada Alesha, dan katakan pada Mr. Thomson jika aku butuh WOSA untuk bisa mengembalikan ingatan Alesha." Ucap Jacob melalui ponselnya.
"......"
" Baiklah, terima kasih, Taylor. "
Setelah itu, sambungan telpon pun terputus.
"Ayo, kembali ke kamarmu," Ucap Jacob dengan malas. Ia sudah muak melihat kedekatan Rangga, dan Alesha. "Ayo, Lil Ale," Dengan sedikit paksaan, Jacob pun mengangkat tubuh istrinya untuk berdiri. "Kemungkinan aku akan membawa Alesha besok pagi ke WOSA," Ucap Jacob pada Rangga.
Rangga terdiam menunduk. Dalam kepalanya ia berpikir jika lebih baik ia pulang ke Indonesia, dan menunggu Alesha di sana.
"Ayo, sayang, kita ke kamar sekarang," Saat Jacob hendak menarik lengan istrinya untuk mulai berjalan, Alesha malah menahan tubuhnya untuk tidak bergerak.
Alesha ragu, dan masih takut-takut jika harus pergi ke kamarnya bersama Jacob.
__ADS_1
Lalu Rangga, ia yang menyadari apa yang dirasakan oleh adiknya saat ini pun memberitahu. "Dia suamimu, Alesha, jangan takut, pergilah ke kamar bersamanya."
Alesha menatap ragu pada Rangga.
"Tidak apa, pergilah ke kamarmu bersamanya, dia suamimu, dan dia tidak akan melakukan hal-hal buruk padamu," Ucap Rangga dengan tenang.
"Ayo, sayang," Ajak Jacob.
Kemudian Alesha menatap Jacob selama beberapa saat sembari menimbang-bimbang apa tidak apa-apa jika ia membawa Jacob ke kamarnya.
"Alesha, tidak apa, dia suamimu, percayalah padanya," Ucap Rangga yang sekali lagi meyakinkan Alesha.
Meski ragu, akhirnya Alesha pun mengangguk pelan.
Jacob yang melihat anggukan persetujuan dari istrinya pun kini menyunggingkan senyun bahagianya.
"Pergilah ke kamarmu, dan tidurlah," Lanjut Rangga dengan lembut.
Sekali lagi Alesha mengangguk, dan setelah itu ia pun berjalan menuju kamarnya yang hanya tinggal beberapa langkah ke depan.
Jacob yang masih belum melepaskan genggamannya pada tangan Alesha pun ikut berjalan menuju kamar istrinya itu, dan meninggalkan Rangga sendiri.
Alesha, kakak tahu kalau kakak salah udah bersikap egois dengan kurung kamu di sini, kakak cuman pengen jagain kamu meski kakak tahu cara yang kakak lakuin salah. Tapi kakak terlanjur nyaman tinggal berdua sama kamu, dan sekarang suami kamu udah datang buat bawa kamu lagi. Kakak sayang banget sama kamu, Alesha. Semoga Jacob bisa bener-bener jaga kamu dari Dirga......... Lirih Rangga dalam hatinya. Ia merenung sendirian masih di tempatnya berdiri saat ini.
Sedangkan di dalam kamarnya kini, Alesha sudah terduduk di tepian kasur. Ia ingin tidur, namun kehadiran Jacob membuatnya sungguh tidak nyaman.
"Sayang..." Jacob yang duduk tepat disebelah Alesha kini meraih jemari istri yang begitu dirindukannya itu. "Kau pasti canggung ya terhadapku?"
Jacob tersenyum kecut. "Tidak apa, Lil Ale, kau akan terbiasa nanti. Kau tahu saat diawal kita menikah dulu kau juga malu-malu ketika aku ingin melakukannya denganmu."
Tiba-tiba saja Alesha melirik pada Jacob. Ia tersinggung akan kata 'Melakukannya', apa maksudnya itu?
"Kenapa, sayang? Hmm..." Tanya Jacob sembari mengelus rambut istrinya.
"Eungh..." Alesha menjauhkan kepalanya supaya Jacob berhenti mengelusi rambutnya.
Jacob menghembuskan napasnya dengan sabar.
Sabar, Jack, perlahan... Alesha akan mengingatmu lagi dengan perlahan..... Gumam Jacob dalam hatinya.
"Kau tidak ingin tidur, sayang?" Jacob mencari topik pembahasan lain.
Alesha menggelengkan kepalanya dengan kedua mata yang masih terarah pada wajah suaminya.
"Kenapa? Ini sudah malam, sayang."
Aku tahu ini sudah malam!...... Dumal Alesha dalam hatinya.
"Kau tidak bisa tidur karna aku?"
Refleks, Alesha mengangguk dengan polosnya.
Lagi-lagi Jacob tersenyum kecut. "Apa kau masih belum mengizinkan aku supaya bisa dekat denganmu, Al?"
"Aku tidak mengenalmu."
Satu baris kalimat singkat yang Alesha ucapkan barusan sungguh menghujam hati Jacob dengan sangat kencang.
"Tidak apa, sayang," Jacob tetap tegar, dan memaksakan senyum manisnya untuk tetap mengembang meski sangat bertolak belakang dengan hatinya yang begitu tersakiti. "Aku asing untukmu saat ini, tapi nanti setelah mengingatku kau pasti akan selalu ingin berdekatan denganku."
Jacob mendekatkan tubuhnya pada Alesha. "Jika saja kau ingat, kau selalu saja meminta padaku supaya aku tidak meninggalkanmu, Lil Ale."
Alesha diam mendengarkan ucapan Jacob.
"Saat berbulan madu kau pergi ke Turki, kau tahu, Alesha, dalam satu hari kita mengunjungi lebih dari lima restoran karna kau yang terus meminta untuk menjajal setiap makanan di restoran berbeda, dan kau ingat apa yang kau katakan waktu itu? Seperti ini Aku makan bukan untuk sendirian, tapi anakmu juga harus diberi asupan! " Jacob terkekeh." Aku masih mengingat ucapanmu itu, apa kau mengingatnya?" Jacob menatap hangat pada Alesha.
"Tidak," Jawab Alesha sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Nanti kau pasti akan mengingatnya," Jacob mengusap pelan puncak kepala istrinya.
Deg!
Alesha sedikit membeku saat Jacob mengusap puncak kepalanya.
Nyaman....
Kenapa tiba-tiba Alesha merasakan hatinya yang menghangat karna perilaku Jacob barusan?
"Aku ingin tidur," Ucap Alesha sembari membawa dirinya untuk naik ke atas kasur. Ia segera membaringkan tubuhnya, dan membelakangi Jacob.
"Boleh aku tidur disebelahmu, sayang?" Pinta Jacob.
Alesha bergeming, tidak memberikan respon atau pun jawaban.
"Alesha..." Jacob kemudian berjalan memutari kasur agar bisa berhadapan dengan istrinya. "Biarkan aku tidur disebelahmu, aku bukan orang asing, aku adalah suamimu, Alesha," Jacob terduduk di tepian kasur sembari mengelusi sebelah pipi istrinya.
Alesha masih bergeming. Ia menutup kedua matanya untuk mulai tertidur. Ia tidak bisa memberikan jawaban. Jacob tidur disebelahnya? Pria yang ia rasa baru ia ketahui tadi pagi kini meminta untuk tertidur satu kasur dengannya? Entah kenapa Alesha mulai percaya jika Jacob adalah suaminya, namun ia masih kebingungan dengan kenyataan, dan fakta yang baru ia ketahui beberapa saat lalu.
"Alesha..." Perlahan, Jacob mulai membawa tubuhnya untuk berbaring disebelah istrinya. Semoga saja Alesha mau tertidur bersamanya. Harap Jacob. "Selamat malam, dan selamat tidur, sayangku, aku mencintaimu," Ucap Jacob sembari terus membelai lembut wajah Alesha.
Akhirnya.....
Setelah satu tahun berlalu, kini Jacob bisa lagi melihat Alesha yang tertidur tepat disebelahnya, meski pun Alesha sendiri masih sulit untuk menerima kehadirannya.
"Tidak apa kau tidak mengingatku saat ini, sayang, tapi aku sangat bahagia karna bisa melihatmu tidur disisiku lagi, Lil Ale."
Alesha mendengar itu, telinganya masih menangkap suara Jacob, bahkan hatinya pun semakin terasa hangat, dan tenang ketika Jacob mengucapkan kalimat itu.
Kenapa?
__ADS_1
Kenapa Alesha merasakan kenyamanan, dan hatinya yang menghangat karna mendengar ucapan lembut Jacob? Alesha tidak tahu kenapa, tapi tiba-tiba saja Alesha merasa sangat nyaman, dan aman karna Jacob yang berada disebelahnya? Perasaan ini seperti tidak asing untuk Alesha, seakan ia sering merasakan perasaan ini, namun Alesha tetap tidak mengerti dengan perasaan familiar ini.
Apa mungkin dulu aku sering seperti ini dengan pria itu? Tapi aku benar-benar tidak mengingatnya...... Ucap Alesha dalam hati.