Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Dikejar-kejar


__ADS_3

Malam silih berganti. Dua empat telah berlalu. Alesha semakin ingat akan akan hal-hal yang telah dilupakannya.


Hubungan pernikahan yang semakin rekat seperti saat mereka menjadi pengantin baru dua tahun lalu.


Perlahan, sosok lugu, dan polos Alesha berubah seiring didapatkannya ingatan-ingatan lama. Secara tidak sadar, Alesha lebih sering bertingkah seperti halnya Alesha sebelum mengalami amnesia. Riang, cerewet, petakilan, jahil, pintar, penuh semangat, sedikit kasar, dan penuh keingin tahuan.


Hal itu membuat Jacob sangat bahagia. Melihat perkembangan pesat, dan baik yang terjadi pada Alesha adalah suatu keberhasilan untuk Jacob.


"Sayang, apa yang kau lakukan?" Jacob menghampiri istrinya yang sedang mengelus-ngelus seekor kelinci putih yang akan dijadikan bahan percobaan, dan pembelajaran oleh murid WOSA.


"Aku merindukan Bonny, dan Bunny, Jack," Jawab Alesha, pelan. "Biasanya pagi-pagi seperti ini aku akan bermain dengan mereka, Moza, dan Mauza di taman tempat kita bertemu."


"Tenang saja, aku yakin Rangga menjaga mereka dengan baik," Jacob terkekeh.


"Aku akan sangat marah besar pada Rangga jika terjadi sesuatu yang buruk pada mereka," Alesha mengerutkan bibirnya. "Aku memelihara mereka dari saat mereka baru berumur dua minggu."


"Haii, Jack, Haii, Alesha.." Sapa Mr. Thomson kebetulan sedang berjalan melewati taman itu.


"Haii, Mr. Thomson," Sapa balik Jacob and Alesha, bersamaan.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Mr. Thomson.


"Tidak ada. Aku baru saja kembali dari perpustakaan, dan melihat ada kelinci ini di sini," Jawab Alesha.


"Kelinci itu? Kenapa bisa ada di sini? Seharusnya ia ada di dalam kandang bukan?" Ucap Jacob menatap bingung pada kelinci yang ada dalam gendongan istrinya.


"Entahlah aku tidak tahu, mungkin dia kabur," Mr. Thomson mengedikkan bahunya.


"Tapi kelinci ini sangat lucu," Alesha menggerakkan giginya, ia begitu gemas pada hewan mungil itu.


Jacob tersenyum tipis saat mendapatkan hal itu.


"Oh ya, Mr. Thomson, tadi aku mendengar dari beberapa mentor jika besok malam WOSA akan mengadakan perayaan ulang tahun. Apa itu benar?" Tanya Jacob.


"Iya. Apa aku belum mengatakannya padamu?" Mr. Thomson nampak sedikit terkejut.


"Aku rasa belum," Jacob menggelengkan kepalanya.


"Ya ampun, maaf, Jack, aku cukup sibuk hingga lupa," Mr. Thomson menepuk keningnya.


Jacob terkekeh. "Tidak apa, Mr. Thomson."


"Kalau begitu kalian berdua besok ikut lah dalam peryaan ulang tahun WOSA ke lima belas. Pestanya akan dimulai pukul tujuh, jangan sampai lupa itu, Jack," Ucap Mr. Thomson.


"Baiklah, Mr. Thomson," Jacob mengangguk.


"Kalau begitu aku permisi dulu Jack, Alesha."


"Iya, Mr. Thomson," Alesha membalas ramah.


Lalu Mr. Thomson kembali melanjutkan langkahnya, dan meninggalkan Alesha juga Jacob.


"Jack, aku lapar," Alesha mendongkak, menunjukkan wajahnya lugunya pada suaminya itu.


"Kau lapar?" Jacob membungkuk, menyesuaikan tinggi badannya dengan tubuh Alesha.


"Iya," Alesha mengangguk pasti.


"Bukannya tadi jam tiga kau sudah makan?" Ledek Jacob.


"Itu dua jam yang lalu, sekarang aku lapar lagi. Tidak apakan kalau aku makan lagi?"


Ugh! Jacob merasa sangat gemas pada istrinya saat ini.


"Tentu saja, Tuan Putri Ale yang cantik," Jacob membalas selayaknya pelayan kerajaan.


"Ish, kau ini!" Alesha mendengus. Dasar Jacob si tukang gombal.


"Ayo, Tuan Putri Ale ku, biarkan aku akan membawamu menuju kantin," Jacob menegakkan tubuhnya kembali.


Sikap Jacob itu tentunya membuat Alesha geli. Tapi ia sangat bahagia karna Jacob sangat lembut, dan romantis padanya.


...*****...


Grand Sparkle Apartement, Bandung, Indonesia.


Di dalam unit apartemennya, bertepat disofa ruang tengah, sejak tadi Bastian termenung sendirian. Perasaannya tiba-tiba saja jadi tidak enak, dan cukup resah. Berbeda dengan keempat kawan prianya yang lain yang sedang asik dengan urusan masing-masing. Seperti Lucas, dan Aiden yang sibuk bermain game online, Tyson sibuk memasak, dan Mike yang sedang asik menonton TV.


Hingga ketika suara dering ponsel Mike terdengar, Bastian menoleh dengan cepat pada layar benda pilih yang bertuliskan 'Nuna Yuna Kyung' itu.


"Nakyung menelpon mu? Ada apa?" Tanya Bastian.


"Entah," Mike mengedikkan bahunya. Dengan begitu santai, Mike pun mengangkat panggilan telpon itu.


"Hallo, Na, ada apa? "


"Hiks, Mike... Mike tolong.. hiks.."


Deg!


Nakyung menangis. Ada apa?


Tubuhnya menegang.


"Nakyung, ada apa? Apa yang terjadi? " Mike memekik panik.


Bastian, Lucas, dan Aiden yang mendengar itu pun seketika menatap lekat pada Mike.


"Hiks, kami dikejar-kejar oleh dua mobil sedan hitam. Mereka menembak mobil banku, hingga kami terperosok ke dalam jurang, hiks."


"APA? Lalu bagaimana keadaan kalian?" Mike semakin panik.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit luka-luka, namun Maudy, dan Merina, mereka terluka parah karna menghantam bebatuan ketika kami melompat dari dalam mobil sesaat setelah mobilku terjun bebas. Tolong, Mike, hiks, aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Maudy, dan Merina, hiks."

__ADS_1


"Kau tenanglah, aku dan yang lain akan segera menuju tempatmu! "


"Tolong cepat, Mike, aku takut, hiks."


"Iya, kau tetaplah di tempatmu, Lucas dan Aiden akan melacak posisi kalian."


"Iya, Mike."


Mike mematikan ponselnya. Ia begitu panik, dan tegang.


"Mike, ada apa?" Tanya Bastian.


"Kita harus cepat. Nakyung, Maudy, dan Merina dikejar oleh dua mobil sedan hitam. Mereka terperosok ke dalam jurang. Merina, dan Maudy terluka parah karna membentur bebatuan saat mereka melompat dari dalam mobil."


"APA?" Bastian, Lucas, dan Aiden memekik bersama, begitu pula Tyson yang baru kembali dari dapur dan mendengar jawaban dari Mike. "Lucas, Aiden, temukan posisi mereka betiga sekarang!"


Tidak membuang waktu, Lucas bersama partner meretasnya, Aiden segera melakukan pelacakan pada ponsel milik Nakyung, Maudy, dan Merina.


"Mereka berada di daerah lingkar luar Nagreg," Ucap Lucas yang berhasil menemukan lokasi ketiga perempuannya dengan cepat, begitu pula dengan Aiden.


"Tidak jauh dari lokasi jembatan rel kereta api! Kita sudah dapatkan lokasinya!" Ucap Aiden.


"Kita ke sana sekarang!" Bastian bangkit, dan jalan lebih dulu.


...*****...


Sementara itu, kini Nakyung, Maudy, dan Merina sedang berlari dipinggiran jurang berbukit untuk menghindari orang-orang yang sedang mengejar mereka. Gelapnya malam, membuat mereka cukup kesulitan, cahaya lampu hanya berada di jalan aspal di atas, sedangkan posisi mereka berada di dalam tebing jurang yang berjarak cukup jauh dari jalan raya. Sulit rasanya jika harus menanjak karna mereka pasti akan tertangkap.


"Argh!" Nakyung memekik saat kakinya tiba-tiba tersandung sebuah batu.


"Nakyung, ayo!" Maudy berusaha untuk membantu kawannya berdiri, meski nyatanya ia pun telah cedera cukup parah pada kaki, dan tangannya.


"Mereka masih mengejar kita, ayo cepat!" Pekik Merina.


Ketiga gadis itu kembali berlari. Entah kemana yang pasti untuk menghindari kedelapan pria yang mengejar mereka di belakang.


Lalu kembali pada Bastian, dan keempat kawannya. Kini mereka sudah dimobil dalam perjalanan menuju tempat dimana lokasi Nakyung, Maudy, dan Merina berada. Dengan menandai titik lokasi ponsel milik Nakyung, Aiden menjadi pemandu jalan, ia memilih jalan-jalan alternatif untuk memudahkan mereka tiba di tempat tujuan. Sedangkan Lucas, ia sedang meretas sistem keamanan CCTV jalan raya untuk mengetahui mobil apa yang mengejar-ngejar ketiga teman perempuannya.


"Mike, kita tidak jauh lagi dari lokasi," Ucap Aiden.


Mike tidak membalas. Ia sibuk menyetir. Ia sengaja memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi supaya bisa sampai lebih cepat.


"Tiga kilometer lagi," Lanjut Aiden.


Kelima pria itu sangat panik, namun mereka harus setenang mungkin agar bisa mempermudah tujuan mereka, yaitu menemukan Nakyung, Maudy, dan Merina.


"Lihatlah! Ada kerumunan orang di sana!" Pekik Tyson setelah beberapa meter mobil yang ia, dan keempat kawannya tumpangi melewati jembatan kereta api yang berdiri kokoh di atas jalan raya.


"Mike, hentikan mobilnya, kita sampai, Ucap Aiden.


"Di sini?" Mike melihat keluar jendela. Ia sempat tertegun saat melihat banyak orang berkerumun di pinggir jalan tepian jurang.


"Ayo!" Tyson keluar dari dalam mobil terlebih dahulu. Disusul yang lain, kini mereka berlainan menuju kerumunan orang tersebut.


Tanpa berpikir panjang, kelima pria itu menerobos kerumunan untuk bisa menyusui tebing jurang.


"Itu mobil Nakyung!" Bastian berucap pasrah. Pantas perasaannya tidak enak. Ternyata inilah sebabnya.


Beberapa orang sedang mengerubuni mobil Nakyung di bawah sana.


"Ponsel Nakyung berjarak sekitar sepuluh meter dari kita," Aiden kembali memberikan petunjuk.


"Kalian cari ponsel Nakyung! Aku dan Tyson akan mencari mereka bertiga!" Ucap Mike.


Kelima sekawan itu segera melalukan apa yang barusan dikatakan oleh Mike.


Kurang lebih lima menit, Bastian berhasil menemukan ponselnya, namun tidak pemiliknya.


"Kemana Nakyung, Maudy, dan Merina?" Bastian mendengus sebal.


"Mereka tidak ada di sini," Ucap Aiden. Ia menoleh ke sebelahnya, menatap lurus pada tebing lembah yang masih membentang.


Sementara Mike, ia berlutut menyentuh tanah yang membentuk sebuah tapak sepatu.


"Aku rasa mereka dikejar-kejar, mereka meninggalkan lokasi ini," Ucap Mike.


"Meninggalkan lokasi ini?" Ulang Tyson.


"Aku berhasil melacak ponsel milik Maudy," Ucap Lucas menghampiri Mike, dan Tyson.


"Bas, Aiden, ayo!" Lucas memekik. Sejurus kemudian, langkahnya pun terpacu mengikuti arah jalan yang tertera pada layar tab nya untuk menuju titik dimana lokasi akurat ponsel Maudy berada.


Kresek... Kresek... Kresek....


"Syut... Jangan banyak bergerak!" Merina berbisik pada Nakyung disebelahnya.


"Apa mereka masih mengikuti kita?" Lirih Maudy.


"Sepertinya tidak," Jawab Nakyung, pelan. Ia memperhatikan sekelilingnya. Kini ia bersama kedua temannya sedang bersembunyu dibalik semak-semak.


"Baguslah, kalau begitu ayo, sudah setengah jam lebih kita bersembunyi di sini," Ucap Merina.


"Tapi jika kita menanjak ke atas aku takut orang-orang itu akan menemukan kita," Balas Nakyung.


"Trus sampai kapan kita akan di sini?" Merina mendengus.


"Sampai Mike, dan yang lain menemukan kita," Jawab Nakyung.


"Sepertinya itu tidak mungkin."


Deg!


Ketiga gadis itu tercekat seketika saat mendengar suara seorang pria.

__ADS_1


"Kalian tidak bisa kabur lagi," Sambung pria itu.


"Lari!!!!" Merina memekik kencang. Ia, bersama Nakyung, dan Maudy bangkit dengan cepat, namun sayang, baru beberapa langkah mereka berlari, mereka sudah terlebih dahulu dikepung oleh pada pria bermasker hitam itu.


"SIAPA KALIAN?" Teriak Nakyung.


"Siapa kami bukan urusanmu," Balas salah seorang dari kedelapan pria itu. "Tangkap mereka!"


"Tidak!"


Nakyung, Maudy, dan Merina sama-sama memberontak saat para lelaki itu menahan tubuh mereka, dan membawa paksa mereka.


Karna tidak mau kalah, akhirnya Nakyung memberikan perlawanan. Ia mengeluarkan semua tenaganya untuk memutar tubuh, dan menendang area sensitif milik pria itu.


"Argh!"


Merina, dan Maudy pun sama. Mereka melakukan hal apa yang Nakyung lakukan.


Hingga terjadilah perkelahian antara tiga orang gadis vs delapan orang pria.


Tidak adil! Namun, ketiga gadis itu bukanlah orang yang lemah. Mereka maju, dan menghadapi satu persatu para pria yang sejak tadi mengejar-ngejar mereka.


Apa yang sudah mentor mereka, Jacob ajarkan sangat amat berguna, dan menerap. Nakyung, Maudy, dan Merina tidak kalah tangguh, mereka malah cukup menyulitkan ketiga pria itu karna menguasai trik, dan teknik bela diri milik Jacob.


"Maju kalian!" Merina menatap tajam pada ketiga pria di depannya. Meski tubuhnya sudah terasa remuk, namun ia tidak boleh kalah, malah kalau perlu ia akan menghabisi ketiga pria itu sendirian.


"Jika berani lawan aku!" Maudy memekik. Dihadapannya sudah ada tiga pria yang bersiap untuk menghajarnya.


"Kau tidak akan menang, kau sendirian," Ledek salah seorang pria.


"Berisik!" Dengan beraninya Maudy maju, dan berkelahi dengan ketiga pria itu.


Bugh!


"Argh!"


"Ayo, maju kalian!" Maudy kembali memekik kencang.


Brak!


"Argh!"


"MAUDY!!!!" Merina berteriak histeris saat melihat tubuh Maudy dibanting dari belakang oleh seorang pria.


Bugh!


"Arkh!"


Bugh! Bugh!


Merina kehilangan fokus, dan keseimbangan hingga membuatnya terkena dua tonjokan keras.


"Merina!" Kini Nakyung lah yang memekik sembari terus sibuk menghadapi dua pria yang terus menerus berkelahi dengannya.


Brak!


"Argh!" Merina terkapar tak berdaya ketika tubuhnya dihempaskan dengan kencang ketanah. Ia merasa pusing. Cedera dikaki dan tangannya terasa lebih sakit berkali-kali lipat dibanding yang tadi.


"Merina!!!! Hiks," Nakyung sudah hampir menangis. Namun, ia tidak boleh lemah. Kedelapan pria itu harus ia hadapi sendirian sekarang.


"Kau! Argh!" Nakyung membanting keras tubuh seorang pria yang sejak tadi bertarung dengannya.


Bugh!


"Aww!" Nakyung memekik. Seseorang menonjok perutnya.


Bugh!


"Argh!"


Tubuh Nakyung terhuyung ketika ia menerima pukulan bulat keras pada wajahnya.


Gubrak!


Nakyung terjatuh lemas.


"SIALAN KALIAN!"


Bugh!


"Argh!"


Bugh! Bugh! Bugh!


"Argh!"


"Nakyung," Lucas menyadarkan tubuh Nakyung pada dadanya. "Nakyung," Ia menepuk-nepuk pipi Nakyung.


"Jangan kabur kalian!" Pekik Mike dengan begitu lantang.


"Mike, cukup! Jangan kejar mereka, kita harus segera membawa Nakyung, Maudy, dan Merina ke rumah sakit!" Sahut Bastian.


Dengan perasaan kesal, akhirnya Mike membalikkan tubuhnya, dan berjalan menghampiri teman-temannya.


"Sepertinya mereka bertarung dengan pria-pria itu," Ucap Tyson sembari mengangkat tubuh Maudy.


"Kita harus cepat membawa mereka ke rumah sakit," Sahut Aiden yang juga mengangkat tubuh Merina.


"Nakyung," Lucas masih menepuki pipi Nakyung. Ia rasa Nakyung belum sepenuhnya pingsan karna ia masih merasakan respon kecil dari tubuh Nakyung.


"Aku akan menelpon ambulance!" Ucap Bastian sembari mengeluarkan ponselnya.


Sedangkan yang lain, mereka berjalan menaiki tebing pelan-pelan, terutama Tyson, Aiden, dan Lucas yang masing-masing membawa tubuh ketiga kawan perempuannya itu.

__ADS_1


__ADS_2