Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Mission On


__ADS_3

20.45 WIT, Papua, Indonesia.


Seorang pria yang disebut sebagai Agent 01 dengan pakaian serba hitam beserta tudung, dan masker hitam tengah mengendap bersama sepuluh pemuda alumni WOSA. Mereka kini tengah memburu anak buah Theo yang kini sudah berhasil menemukan angrek hitam Papua.


Agent 01 yang diutus sebagai agent rahasia oleh SIO sebenarnya sudah berhasil menjalankan misinya secara individu tanpa ada bantuan siapa pun selama dua minggu ini. Pertama adalah mencaritahu keberadaan kelima profesor yang disembunyikan oleh Theo, dan anak buahnya, kedua adalah mencaritahu tentang informasi vaksin yang sudah ditemukan oleh kelima profesor SIO tersebut.


Agent 01 sukses menjalankan misinya tanpa mengalami kendala serius. Ia berhasil bertemu dengan kelima profesor SIO disebuah markas yang sangat dijaga ketat oleh banyak anak buah Theo. Agent 01 juga berhasil menerima informasi, dan fakta bahwa bahan dasar untuk membuat vaksin virus XXX yang sedang diburu oleh Theo bersama kelompok mafianya hanyalah sebuah kebohongan atau boleh dibilang Profesor Hans telah menipu Theo dengan mengatakan jika bahan dasar untuk membuat vaksin dari virus XXX adalah dengan memanfaatkan Anggrek Hitam Papua. Saat ini Theo sedang memburu Anggrek Hitam Papua tersebut untuk dijadikan sebagai bahan dasar vaksin, dan obat untuk membunuh virus XXX, padahal aslinya Anggrek Hitam Papua atau dengan nama lain Cymbidium Kiwi Midnight ‘Geyserland’ hanyalah sebuah tumbuhan hasil dari persilangan Cymbidium Janet Holland x Cymbidium Khairpour dan bukan asli Papua juga tidak bisa dimanfaatkan untuk membuat vaksin virus XXX.


"Agent 01, bagaimana? Apa kita sergap mereka saat ini?" Tanya Brandon secara berisik pada Agent 01.


"Tidak, sebentar lagi, tunggu sampai mereka tertidur," Balas Agent 01.


Brandon menggangguk. Rasanya ia ingin sekali cepat-cepat menyergap kelompok mafia itu, namun ia harus tetap bersabar agar misi dapat berjalan dengan lancar.


Beda halnya dengan kakak laki-laki Theora, yaitu Theo, saat ini ia sedang benar-benar dalam gejolak emosi yang begitu tinggi setelah mengetahui sebuah fakta dari seorang agent rahasia bayarannya.


"Kita ke Bandung sekarang untuk menangkap Tessa, dan anaknya, kita sandra mereka berdua!" Titah Theo disertai geraman. "Lihat saja, apa yang akan dia, dan mereka lakukan saat aku menangkap dua orang itu!" Kedua telapak tangan Theo terkepal kuat sebab hatinya sangat-sangat panas.


...*****...


Menunggu, menunggu, menunggu, dan menunggu. Hingga pada saat waktu menunjukkan pukul 00.05 WIT didapatinya seluruh anak buah Theo sudah tertidur lelap, kecuali dua orang pria yang sedang bermain kartu sembari berjaga.


"Brandon, aku ingin kau dan yang lain masuk secara diam-diam setelah aku melumpuhkan dua orang itu," Ucap Agent 01.


Brandon mengangguk cepat. "Baik."


Setelah itu, Agent 01 pun berjalan dengan mengendap-endap mendekati kedua anak buah Theo yang sedang asik bermain kartu tersebut.


Bugh!


Bugh!


"ARGH!"


"HEY!"


Bugh!


Bugh!


Lumpuh, dan tidak sadarkan diri. Kedua anak buah Theo itu berhasil disingkirkan oleh Agent 01 hanya dalam waktu beberapa detik saja.


Agent 01 menggerakkan kepalanya untuk memberikan sinyal pada Brandon, dan yang lain untuk masuk secara diam-diam, dan menghabisi tujuh anak buah Theo yang sedang tertidur.


Bugh!


"Argh!"


Brak!


Prang!!


Kebisingan mulai terjadi ketika salah seorang pria bangun, dan tersadar jika ia bersama teman-temannya telah diserang.


"Mati kau!" Brandon meninju keras perut pria tersebut.


Begitu pula dengan yang lain. Mereka mulai sibuk bertarung karna kini ketujuh anak buah Theo yang semula sedang tertidur sudah terbangun.


Berbeda dengan Agent 01, kini ia sedang memasukan sebuah obat tidur berdosis sangat tinggi ke dalam mulut kedua penjaga tadi. Misi Agent 01 kali ini adalah dengan membawa kesembilan anak buah Theo tersebut menuju kantor SIO dengan cara membuat mereka pingsan.


"Jangan lari kau!" Pekik Brandon sembari menarik bahu salah seorang pria lalu memberikan tinjuan pada bagian wajah.


Sayangnya, terdapat salah satu anak buah Theo yang berhasil melarikan diri, dan langsung menghubungi Theo sembari bersembunyi dibalik pohon.


"Hallo, Theo, gawat kita diserang! " Ucap anak buah Theo tersebut begitu panik.


"Apa? Jangan berbohong! "


"Tidak sungguh kami diserang di sini! "


"Siapa yang menyerang kalian? " Pekik Theo


"Levin! Dia! Dia yang menyerang kami di sini! Aku melihatnya dengan jelas saat masker dan tudung yang dipakainya terlepas karna bertarung dengan Dio! "


"Sial! Jadi manusia itu berhasil menemukan kalian?"


"Dia masih hidup, Theo! Dia belum mati! "


"Aku tahu itu, aku baru saja ingin memberitahu kalian tentang hal itu, namun dia sudah terlebih dulu menyerang kalian! "


"Lalu apa yang mesti aku lakukan pada Levin sekarang? "


"Tidak ada!"


Tiba-tiba saja pria yang sedang menelpon Theo itu jatuh tersungkur ke tanah. "LEVIN! Kau masih hidup ternyata!" Pekik pria tersebut sembari menahan hajaran dari Agent 01 yang sebenarnya adalah Levin.


"Ya, aku memang masih hidup!"


Bugh!


Satu pukulan pada wajah yang Levin berikan pun sukses membuat pria itu jatuh pingsan.


Kemudian Levin bangkit dan beralih dengan mengambil ponsel si pria tadi yang masih terhubung dalam panggilan suara dengan Theo.


Sejenak Levin memperhatikan layar ponsel itu. Ia yakin pasti saat ini Theo sudah mengetahui fakta bahwa ia masih hidup dan belum mati.


"Hallo, Brengsek....."


Di tempatnya kini, Theo sedikit terkejut ketika mendengar suara lain dalam sambungan telpon itu.


Owh, jadi itu kau, Levin...... Ucap Theo dalam hati sembari mengukir seringainya.


"Hallo, Agent 01. Senang mendengar kabar kau belum mati." Ucap Theo dengan nada meledek. "Ku dengar kau menyerang anak buahku."


Kemudian Theo mengganti panggilan suara tersebut menjadi panggilan video.


"Cepat ubah mode panggilannya, Levin, aku ingin melihat wajahmu, dan kau juga pasti ingin melihat wajah istri, dan anakmu yang pastinya sangat kau rindukan bukan? "


Deg!


Apa? Anak, dan istri?


Levin tercekat seketika. Tubuhnya membeku di tempat dengan tatapan lurus, dan kosong.

__ADS_1


"Hey, sayang, apa ada yang ingin kau sampaikan pada lelaki yang begitu kau cintai? " Theo sengaja memancing Levin dengan menggoda Tessa yang saat ini sedang terduduk dengan kaki, dan tangan yang diikat.


"LEPASKAN AKU! JANGAN SENTUH-SENTUH AKU! DIMANA ANAKKU! "


Deg!


"Tessa," Lirih Levin. Rasa takut, dan khawatir pun menyeruak ke dalam diri Levin.


"Kau ingin berbicara dengan Levin tidak, Cantik? " Goda Theo pada Tessa.


"LEPASKAN AKU! JANGAN SENTUH-SENTUH AKU! LEVIN SUDAH MENINGGAL, HIKS! LEPASKAN AKU! AKU MOHON, HIKS."


"Jangan menangis, Sayangku." Theo menghapus air mata yang berada disudut kelopak mata Tessa.


"TIDAK! JANGAN SENTU AKU! AKU BILANG JANGAN SENTUH AKU! "


"Berteriaklah dan panggil nama suamimu, Sayang." Ucap Theo begitu lembut namun menakutkan.


"Apa sebenarnya maumu? Kenapa kau tangkap aku, dan anakku? Apa salahku, hiks hiks."


"Suamimu mendengarmu saat ini, Tessa. Panggilah namanya," Bisik Theo tepat sesaat sebelum ia menaruh sebuah ciuman pada bibir Tessa.


Cup...


"AAAAA!!!! LEVIN!!!! " Sontak saja, Tessa pun langsung berteriak sekencang mungkin sesaat setelah Theo menciumnya.


"THEO!!! " Suara Levin menggelegar disekitaran tempat ia berdiri saat ini. Dadanya naik turun dengan cepat, berpacu dengan emosi yang menggelora, dan meledak-ledak dalam dirinya. Wajah Levin langsung memanas, dan memerah karna luapan emosi yang mencapai titik ubun-ubunnya.


"Hiks, Levin...." Lirih Tessa beriringan dengan air mata yang kian menderas.


Levin merasakan hatinya yang perlahan merapuh karna mendengar Tessa yang memanggil namanya sembari menangis.


"Panggil nama suamimu! " Theo mencekik leher Tessa dengan cukup kuat.


"Arkh! L-le-lepas! A-aku tidak b-bis-sa ber-napas! " Tessa berucap dengan susah payah. Napasnya tersengal-sengal karna cekikan yang Theo lakukan.


"THEO!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA TESSA? " Urat-urat pada leher Levin pun sampai terlihat ketika ia melengkingkan suaranya.


"Arkh, Levin.... K-kau..."


"Tessa...." Levin terkesiap ketika Tessa memanggilnya begitu lirih.


"Suamimu belum mati! " Theo beralih dengan menjambak rambut Tessa.


"Argh! Sakit! " Tessa mengerang kesakitan.


"THEO! JIKA SAMPAI TERJADI SESUATU PADA ISTRI, DAN ANAKKU MAKA AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!! "


"Dan karna ulah suamimu rencanaku untuk mendapatkan anggrek hitam Papua itu jadi gagal! " Theo kian menarik rambut Tessa dengan gerakan yang semakin kasar.


"Argh, sakit! Hiks.... Aku tidak tahu. Levin sudah meninggal.... Hiks, tolong lepaskan aku..." Tubuh Tessa bergetar hebat, tangisnya pun turun semakin lebat.


"Mati? " Theo menyeringai. "Apa kau tidak mengenali suara suamimu sendiri, Tessa? Levin bicaralah! "


Levin terdiam. Kesedihan, ketakutan, kekhawatiran, dan kemarahan kini mengubrak-abrik perasaannya. Sungguh sudah tidak karuan, ingin rasanya Levin menghajar Theo saat ini juga, dan menyelamatkan istri juga anaknya.


" Hiks, apa itu benar? Levin belum meninggal? " Ucap Tessa begitu pelan, namun masih bisa didengar oleh Levin. "Levin... Levin kau dimana? Hiks, kenapa kau meninggalkan aku, dan Nicholas? Hiks."


"AAAAA!!!! LEVIN........"


Tut... Tut... Tut....


"Tessa! Tessa! Tessa!!!"


"ARGH!!! THEO SIALAN!!!" Levin membanting ponsel tersebut dengan frustasi.


"THEO!!! KAU TIDAK BERGUNA!! LIHAT SAJA NANTI APA YANG AKAN AKU LAKUKAN PADAMU!!!" Teriak Levin bersamaan dengan meledaknya amarah yang sudah sangat menggebu dalam dirinya.


...*****...


Pukul 00.05 WIB


Seorang pria asing bertubuh tinggi, dan besar kini sedang bersembunyi dibalik pepohonan sembari menyipitkan kedua mata elangnya.


Sorot, dan bidikan netra hitam kelamnya begitu tajam seakan sedang menandai sebuah musuh.


Keawasan, dan kejeliaan tidak pernah luput darinya. Setiap hari selama dua minggu terakhir, pria tersebut sering berkunjung malam-malam, dan bersembunyi tidak jauh dari lokasi mansion Jacob, dan Alesha. Keberadaannya tidak dapat dideteksi, dan disadari oleh anak buah Jacob sekali pun karna keahliannya dalam menyembunyikan diri.


Pria misterius itu terus terjaga tanpa mau lengah sedikit pun hingga waktu pagi tiba. Ia harus segera pergi dari tempat persembunyiannya.


"Jack, apa kau akan ke SIO hari ini?" Tanya Alesha yang mendapati suaminya begitu tergesa-gesa.


"Ya. Theo, dan Theora sudah berhasil ditemukan, kelima profesor yang diculik juga berhasil ditemukan oleh Levin," Jawab Jacob dengan cepat hingga tanpa ia sadari bawah ia sudah menyebutkan nama 'Levin' didepan istrinya.


"Apa? Mr. Levin?" Kedua ujung alis Alesha saling bertautan, mimik wajahnya berubah drastis menunjukkan sebuah kebingungan, dan pertanyaan besar.


Argh, Jacob! Bodoh! Kenapa bisa keceplosan seperti itu!..... Umpat Jacob dalam hatinya sendiri.


"Jack, Mr. Levin masih hidup?" Alesha memandang wajah suaminya penuh ketidak percayaan.


"Ah, em..." Jacob mulai sedikit salah tingkah, dan semakin memperbesar rasa kecurigaan pada istrinya. "Alesha, aku harus berangkat sekarang!" Jacob harus segera pergi untuk menghindari pertanyaan istrinya saat ini.


"Jack, tunggu!" Alesha berjalan cepat menghampiri suaminya. "Jack!" Kini pergelanagan tangan Jacob ditahan oleh Alesha.


"Jack," Alesha mendongkak, menatap serius pada kedua manik hitam suaminya. "Apa Mr. Levin masih hidup?"


Jacob diam sembari memandang balik pada kedua iris coklat istrinya.


"Jack, kenapa kau diam? Katakan, apa Mr. Levin belum meninggal?" Alesha semakin mempertegas pertanyaannya. "Jack!" Alesha meninggikan tensi bicaranya.


"Iya," Jacob mengangguk pelan. "Levin belum meninggal, dan jangan katakan hal ini pada siapa pun. Dia diutus untuk menjadi agent rahasia oleh SIO."


Kedua mata Alesha membulat seketika saat mendegar ucapan suaminya barusan.


Sungguh kah Levin belum meninggal? Kenapa bahagia sekali rasanya Alesha mendengar hal itu.


"Kau tidak bercanda kan, Jack?" Alesha menggelengkan kepalanya, pelan seraya tersenyum senang.


"Tidak, Al."


"Alhamdulillah..." Alesha memejamkan kedua matanya dengan senyum yang masih mengembang pada wajahnya.


"Aku harus pergi sekarang, Al," Ucap Jacob.

__ADS_1


Senyum Alesha hilang seketika.


Kenapa Alesha merasakan sebuah firasat buruk setelah Jacob berucap barusan?


"Kau akan ikut menangkap Theo, dan Theora, Jack?" Alesha memandang cemas pada suaminya.


"Iya," Jacob mengangguk.


"Apa harus sekali kau ikut, Jack? Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padamu?" Raut sedih juga khawatir tertera jelas pada wajah Alesha saat ini.


Tentu saja Jacob harus ikut, ia kan yang bertanggung jawab untuk memimpin orang-orang SIO untuk menyerang Theo, dan kelompok mafianya yang kini sudah kembali ke Bandung dan bersembunyi di salah satu hutan. Berkat kehandalan para agent, SIO berhasil melacak markas Theo yang berada di Bogor, dan para agent SIO juga berhasil mengikuti kemana perginya Theo dari markas yang ada di kaki gunung Salak itu.


"Aku akan baik-baik saja, Alesha. Akan ada banyak agent hebat yang ikut bersamaku, kau tenang saja, sayang," Jacob menangkup wajah istrinya.


"Aku takut kita tidak akan bertemu lagi, Jack..."


Deg!


Apa yang Alesha katakan barusan membuat Jacob tercekat seketika.


"Hei, kenapa kau bicara seperti itu, Alesha?" Jacob membawa tubuh mungil istrinya itu pada pelukannya. "Jangan berpikiran yang macam-macam, Al."


"Jack, berjanji lah kau akan pulang, dan baik-baik saja."


"Aku berjanji, Lil Ale."


"Jangan tinggalkan aku, dan Alshiba. Ingatlah aku, dan bayi kita saat kau sedang bertarung dengan mafia-mafia itu."


"Aku akan selalu mengingat kalian supaya aku memiliki kekuatan untuk bertahan, dan kembali pulang dalam keadaan baik," Jacob mengecup puncak kepala Alesha.


"Aku akan mendoakanmu di sini," Alesha meraih punggung tangan suaminya, dan kemudian menciumnya sebagai bentuk rasa hormat. "Jack... Jangan tinggalkan aku, dan Alshiba."


"Alesha, aku akan baik-baik saja, tenanglah, aku sudah biasa melakukan pekerjaan seperti ini, sayang," Jacob mengangkat tubuh istrinya.


"Kau mungkin sudah biasa, tapi aku belum terbiasa, Jack, jika saja bisa aku ingin ikut bersamamu, aku ingin menjalani misi memberantas orang-orang jahat bersamamu. Apa kau tidak memikirkan bagaimana cemasnya aku memikirkan suamiku yang sedang bertarung, dan berjuang untuk melawan orang jahat?" Alesha menundukkan wajahnya.


"Mungkin nanti kau akan terbiasa, sayang. Ibu juga memiliki banyak musuh dalam bisnisnya, dan mungkin aku juga harus ikut turun tangan jika suatu saat ada yang menyerang perusahaan ibuku."


"Kau akan kembali padaku, dan Alshiba lagi kan?" Alesha menatap penuh harap. Perasaannya sungguh tidak enak, ia bahkan memiliki prasangka jika akan terjadi sesuatu yang buruk dengan suaminya.


"Apa yang kau katakan, Lil Ale? Jangan bicara kemana-mana, sayang," Jacob mendekatkan wajahnya untuk mengecup singkat bibi ranum istrinya. "Kau hanya perlu tenang, Alesha, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Percaya padaku, kau tahukan kalau aku begitu pandai menghabisi musuhku?"


"Aku hanya takut kita tidak bisa bersama lagi, Jack."


"Kau takut karna ya kau memang belum terbiasa, Al, itu wajar, nanti juga tidak," Jacob menggesekkan hidungnya dengan gemas pada hidung Alesha.


"Ya, kau benar, aku belum terbiasa, dan aku juga takut kehilanganmu, Jack," Alesha melingkarkan lengannya pada leher suaminya.


"Cium aku," Goda Jacob. "Cium aku supaya aku punya tenaga, dan semangat yang lebih besar lagi."


Alesha tertawa kecil saat mendengar permintaan suaminya. "Baiklah.."


Perlahan, wajah Alesha maju dan bergerak samar mendekati bibir suaminya.


"Aku mencintaimu, Jack."


Cup....


Tubuh Jacob merinding seketika karna merasakan ciuman lembut yang Alesha berikan pada bibirnya.


"Sudah," Ucap Alesha, malu-malu.


"Terima kasih, Lil Ale," Jacob balik mengecup kedua sisi pipi istrinya.


"Sudah, kau cepatlah pergi, aku percaya kalau pria besarku ini bisa menghabisi semua musuhnya," Alesha menangkup wajah suaminya.


"Baiklah, sayang," Lalu Jacob kembali menurunkan tubuh Alesha.


"Kau tidak mau berpamitan dengan bayi kita dulu, Jack?"


"Jangan buat aku merasa seolah ini adalah perpisahan, Alesha," Jacob terkekeh. "Nanti malam aku berjanji akan menemanimu untuk bergadang, Alshiba suka bangun malam-malam kan?"


Alesha mengangguk, tapi sejurus kemudian senyumnya pun berubah menjadi kekehan. "Halah, nanti pasti akhirnya kau akan tidur juga, Jack."


"Setidaknya kau bisa memegang janjiku supaya kau yakin bahwa aku akan pulang, dan baik-baik saja."


"Iya," Alesha mengangguk.


"Yasudah, aku pergi sekarang, sayang, assalamualaikum.."


"Waallaikumussalam," Alesha merasa lebih tenang saat ini. Ia percaya, dan ia begitu yakin jika Jacob, suaminya akan kembali dalam keadaan baik-baik saja. Ia hanya perlu penyesuaian, dan keterbiasaan. Jacob sudah terlalu sering berhadapan dengan musuh, dan Jacob masih bisa bertahan plus sehat wal'afiat hingga saat ini.


Aku percaya suamiku adalah pria hebat. Semoga Allah melindungimu, Jack. Aamiin.... Alesha tersenyum sembari memandang tubuh suaminya yang kini menghilang dari balik pintu.


...*****...


Pukul 08.25 WIB di Kantor SIO, Bandung, Indonesia.


Jacob bersama sekitar tiga puluh anak buahnya yang berasal dari SIO, termasuk Bastian, dan kedelapan rekannya kini sudah siap, dan akan segera berangkat untuk menyergap komplotan mafia yang diketuai oleh Theo.


"Mereka masih di tempat yang sama, sekitar satu jam kita bisa tiba di lokasi," Ucap Danish.


"Danish, Jack," Mr. Frank datang menghampiri Danish, dan Jacob dengan raut wajah yang begitu panik. "Tessa, dia dan anaknya berhasil ditangkap oleh Theo semalam."


"APA?" Pekik Jacob, dan Danish bersamaan.


"Bagaimana bisa?" Tanya Jacob dengan lantang.


"Theo menyerang apartemen yang Tessa tinggali semalam. Levin juga bilang kalau sekarang Theo tahu jika Levin adalah agent rahasia yang kita suruh!" Jawab Mr. Frank.


"Kita berangkat sekarang!" Tegas Danish sembari berjalan cepat mendahului Jacob.


"Kami akan menangkap Theo, dan Theora juga menggagalkan rencana mereka," Ucap Jacob penuh tekad pada Mr. Frank.


"Harus! Eve bersama yang lain sedang dalam perjalanan untuk menyerang markas anak buah Theo yang menahan kelima profesor SIO. Levin sudah berhasil menaklukkan kelompok mafia itu di Papua, dan sekarang adalah giliranmu bersama Danish, dan yang lain untuk berhadapan langsung dengan otak besar dari kelompok mafia sialan itu!" Mr. Frank menepuk bahu Jacob dengan sorot mata yang juga menunjukkan sebuah ketegasan.


"Kami tidak pernah gagal menjalankan misi, Mr. Frank. Kau tahu itu," Jacob menyeringai.


"Tentu saja, SIO beruntung karna memiliki agent dan orang-orang hebat juga berhati baik untuk mampu memberantas orang-orang jahat yang hanya mementingkan diri sendiri dan menyusahkan dunia," Ucap Mr. Frank dengan senyum keyakinannya.


"Itu sudah tugas kami, Mr. Frank. Sebagai organisasi pusat penelitian sains dan ilmiah terbesar di dunia, SIO harus terus menggali, dan mencari tahu kebenaran tentang sains juga ilmu pengetahuan yang masih tersembunyi di pelosok dunia, dan biarkan kami menghabisi orang yang berusaha untuk mendapatkan dan menyalah gunakan apa yang sudah SIO temukan. Kami tidak akan membiarkan orang jahat berbuat semena-mena dan merugikan satu dunia, contohnya seperti Theo saat ini, ia berusaha untuk mendapatkan virus yang SIO buat dan menyebarkan ke seluruh dunia untuk menjalankan bisnisnya," Jacob memasukan sebuah pistol ke dalam saku jasnya. "Lagi pula sudah lama aku tidak melatih kemampuanku dengan berhadapan langsung dengan misi seperti ini," Jacob tersenyum santai.


"Aku pergi sekarang bersama yang lain," Kemudian Jacob membalikkan tubuhnya, dan berjalan penuh semangat, dan tekad untuk menghabisi orang-orang tidak berguna yang bukan lain adalah komplotan mafia yang diketuai oleh Theo.

__ADS_1


__ADS_2