Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Membawa Kembali


__ADS_3

Waktu subuh sudah berlalu, sang sinar mentari mulai memancar dari balik awan di ufuk timur.


Alesha yang kini tengah bersiap untuk ikut bersama Jacob menuju suatu tempat pun hanya bisa termenung bersama hati, dan pikirannya.


Jujur saja, Alesha masih sangat ragu jika harus ikut bersama pria yang baru ia kenal kemarin.


"Kau sudah siap, sayang? Kita harus segera berangkat, jadwal penerbangan pesawat sekitar dua jam lagi," Ucap Jacob sembari menghampiri istrinya.


"Aku ingin bertemu dengan Rangga," Balas Alesha.


Jacob menghela napasnya ketika mendengar permintaan istrinya barusan. Kenapa Alesha bisa begitu dekat dengan Rangga? Pikir Jacob.


"Dia ada di ruang depan," Jacob berucap malas.


Tanpa berpikir lebih panjang lagi, Alesha berjalan begitu saja untuk menemui kakak angkatnya, dan meninggalkan Jacob yang kini membeku di tempat.


Alesha meninggalkannya begitu saja hanya karna ingin menemui Rangga? Pikir Jacob. Sakit. Itu cukup untuk membuat hati Jacob terasa sakit kembali.


"Mungkin aku masih terlalu asing untukmu, Alesha," Lirih Jacob.


Sementara itu di ruang depan, Alesha yang mendapati Rangga tengah termenung di ambang pintu pun langsung menghampiri, dan memeluk begitu erat.


Deg!


Rangga tercekat. Ia sedang melamun, dan tiba-tiba saja Alesha memeluknya?


"Aku takut, Rangga," Lirih Alesha. "Kau ikut ya bersamaku."


Sungguh sedih yang Rangga rasakan saat ini. Alesha akan pergi, Jacob akan membawa Alesha pergi, dan mungkin akan memakan waktu cukup lama jika ia ingin berjumpa dengan adik angkat tercintanya itu lagi.


"Alesha," Rangga melepaskan pelukan Alesha perlahan. "Jangan takut. Meski aku tidak ada di sampingmu, tapi kau akan tetap dalam pengawasanku," Kemudian ia menangkup wajah adik angkatnya itu. "Percayalah padaku, percayalah pada Jacob, dia suamimu, dia jauh lebih berhak terhadapmu dibanding denganku, Alesha."


"Tapi aku masih ragu jika dia adalah suamiku, kau tidak bercerita apapun tentang dia, dan pernikahanku," Balas Alesha, lirih.


"Maaf, Alesha. Itu kesalahanku. Aku ingin menjagamu, jadi aku tidak memberitahu semua tentang masa lalumu."


"Kau bilang aku amnesia ringan, Rangga, apa kau juga berbohong tentang itu?"


"Iya, Alesha. Maafkan aku," Rangga menggenggam erat kedua telapak tangan Alesha. "Aku siap jika kau ingin marah padaku, tidak apa, aku menerima itu karna aku sudah salah besar padamu. Aku menyembunyikanmu dari keluarga, dan suamimu, aku sudah berbohong tentang aku yang dulu suka mengasuhmu. Aku tidak pernah mengasuhmu, Alesha, kedua orang tua kita tidak memberitahu jika aku adalah anak angkat mereka pada siapa pun, bahkan sampai saat ini hanya kau lah orang yang tahu jika aku adalah anak angkat kedua orang tua kandungmu. Pertama kali kau tahu, dan mengenalku adalah saat kau tersadar di rumah sakit waktu itu."


"Kau menyembunyikan banyak hal tentangku, hiks," Alesha mulai menangis.


"Aku melakukan itu agar kau tetap aman disisiku, Alesha. Ada orang jahat yang berniat untuk menghancurkan garis keturunan kedua orang tuamu, dia ingin membunuhmu. Itu kenapa aku menyembunyikan semua identitas aslimu," Jelas Rangga.


"Siapa orang itu? hiks."


"Namanya Dirga, aku harap dia tidak akan pernah menemukanmu. Sekarang ini kau fokus saja pada ingatanmu, suamimu akan membawamu ke tempat di mana kalian pernah mengukir banyak cerita. Percayalah pada dia, aku sudah sangat mempercayainya karna dia adalah pria yang bertanggung jawab, dan sangat mencintaimu. Dia pria hebat, Alesha. Kau beruntung memilikinya. Sekarang pergilah dengannya."


"Lalu bagaimana denganmu?" Alesha menatap cemas pada kakak angkatnya.


"Aku akan baik-baik saja, tidak perlu mencemaskanku," Rangga tersenyum hangat. "Kau harus kembali pada suamimu, aku tidak bisa menahanmu, dia adalah orang yang paling berhak atas dirimu, Alesha, ikutilah dia, jangan ragu padanya," Rangga menatap penuh keyakinan pada Alesha. "Kau adalah adik yang sangat aku sayangi, aku tidak mungkin menjerumuskan adikku ke dalam bahaya. Percayalah padaku, percayalah padanya."


Meski berat, Alesha pun mengangguk. "Baiklah, Rangga. Tapi kau berjanji jika kita akan bertemu lagi, kau juga harus berjanji untuk menjaga Bonny, Bunny, Moza, dan Mauza."


Rangga tertawa kecil. "Iya, cantik. Aku berjanji kita akan bertemu lagi, dan aku juga berjanji saat kita bertemu nanti keempat kawan kesayanganmu itu akan bertubuh besar, dan sehat."


"Oh ya, dimana mereka, aku ingin melihat mereka!" Seru Alesha.


"Mereka ada di halaman pinggir di dekat pagar," Jawab Rangga.


"Aku akan ke sana!" Alesha langsung berlari kecil menuju tempat dimana keempat sahabat peliharaannya berada.


Sedangkan Rangga, ia masih berdiri di ambang pintu memandangi adik manisnya yang tidak lama lagi akan dibawa pergi oleh Jacob.


"Jika saja bisa ingin sekali aku menghajarmu saat ini Rangga," Gumam Jacob tepat disebelah Rangga.


"Lakukanlah jika itu bisa mengurangi amarahmu padaku. Aku tahu aku salah besar karna memisahkanmu dengan Alesha," Balas Rangga, datar.


Tidak ada balasan dari Jacob, pria itu berjalan bergitu saja menuju luar sembari membawa tas, dan koper yang berisi barang pribadi milik Alesha.


"Alesha!!" Panggil Lucas yang datang bersama Bastian, Taylor, dan Profesor Darwin.


Alesha yang tengah bersama keempat hewan peliharaan kesayangannya pun langsung memutarkan tubuh. "Bastian, Lucas!" Seru Alesha dengan senyum cerahnya, dan setelah itu, Alesha lalu menunjukkan senyum canggungnya pada Taylor, dan Profesor Darwin.


"Haii, Jack, senang bisa bertemu denganmu lagi," Sapa Profesor Darwin yang menghampiri Jacob.


"Profesor Darwin, senang bisa bertemu denganmu juga," Sapa balik Jacob yang langsung memberikan pelukan ala-ala pria kepada salah satu Profesor SIO tersebut. "Terima kasih, Profesor Darwin, terima kasih banyak," Ucap Jacob yang kini menatap penuh ketulusan pada Profesor Darwin. "Berkat bantuan darimu aku bisa menemukan istriku, terima kasih banyak, Profesor. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana harus membalasnya."


Profesor Darwin tersenyum manis menyikapi ucapan Jacob barusan. "Jangan bicara seperti itu, Jack. Aku tidak ingin balasan apapun. Niatku adalah membantumu karna dulu kau juga sudah banyak membantuku," Balas Profesor Darwin sembari merangkul pundak Jacob.


"Hai, Alesha," Sapa manis Profesor Darwin pada Alesha.


Tetapi Alesha, ia kan lupa ingatan, tentu saja ia merasa asing dengan pria tua yang Jacob panggil sebagai Profesor Darwin tersebut. Jadi sebagai balasannya, Alesha pun menyungginkan senyum keraguan pada salah satu profesor SIO itu.


"Dia amnesia, Profesor, dia tidak akan mengingatmu," Ucap Jacob.


"Aku tahu, Bastian, Lucas, dan Taylor sudah menceritakannya padaku," Balas Profesor Darwin.

__ADS_1


"Tuan, kita harus berangkat sekarang atau kita akan terlambat," Ucap Taylor.


Jacob mengangguk. "Sayang, ayo kita harus berangkat sekarang," Jacob menghampiri istrinya.


"Rangga..." Alesha melirik, menatap sedih pada kakak angkatnya.


Alesha masih merasa berat, satu tahun yang diingatnya ia tinggal bersama Rangga di pedesaan asri itu, ia masih ragu jika harus pergi meninggalkan Rangga. Rangga adalah orang yang sangat baik padanya, selalu perhatian, tidak kasar, dan penuh kasih sayang. Alesha tidak bisa jika harus berjauhan dengan Rangga, Alesha takut.


"Tidak apa, Alesha, pergilah," Rangga menangkup wajah adiknya. "Kau percayakan padaku?"


Alesha mangangguk, namun tatapannya penuh keraguan.


"Dia suamimu," Rangga menunjuk pada Jacob. "Aku kakakmu," Lalu Rangga menunjuk pada dirinya sendiri. "Kami sama-sama menyayangimu, Alesha. Percayalah pada kami. Aku tidak akan mungkin membiarkan adikku dalam bahaya, dan bersama dengan sembarang orang, dan dia," Rangga kembali menunjuk pada Jacob. "Dia tidak mungkin menyakitimu, dia sangat mencintaimu, percayalah padanya."


"Janji kita akan bertemu lagi," Kedua netra Alesha mulai berkaca-kaca.


"Janji," Rangga mengangguk pasti.


"Aku menyayangimu, Rangga, hiks," Alesha berjinjit lalu memeluk tubuh Rangga. "Terima kasih sudah menjagaku."


Rangga tidak bisa berkutik apapun. Hangat, dan nyaman pelukan yang Alesha berikan, namun Rangga sadar siapa dirinya, apalagi di situ juga ada Jacob, suami Alesha.


"Mr. Jacob, aku harap kesabaranmu masih banyak untuk melihat ini," Bisik Lucas tepat disebelah telinga Jacob.


"Ini sangat menyakitkan kau tahu," Balas Jacob sembari tersenyum kecut.


"Rangga..." Alesha melepaskan pelukannya. "Terima kasih, Rangga, aku memang sedikit kecewa padamu, tapi aku tidak marah, kau melakukan itu untuk melindungiku."


Rangga tersenyum, lebih tepatnya senyum palsu. "Pergilah sekarang, kalian akan terlambat jika masih berlama-lama di sini," Rangga mendorong pelan tubuh Alesha untuk mendekati Jacob.


"Bawa dia pergi sekarang, Jack!" Ucap Rangga, datar.


Tanpa berpikir panjang lagi, Jacob segera meraih telapak tangan Alesha lalu membawa istrinya itu pergi menuju mobil.


"Rangga...." Lirih Alesha yang masih belum mengenyahkan tatapannya dari kakak angkatnya itu.


Disusul Bastian, Lucas, dan Taylor, mereka bertiga pun segera masuk ke dalam mobil setelah Alesha, dan Jacob.


"Rangga, jaga Bonny, Bunny, Moza, dan Mauza!!" Teriak Alesha dari dalam kaca jendela.


Sebagai balasannya, Rangga tersenyum lebar sembari mengangguk.


"Kita berangkat sekarang, Taylor!" Titah Jacob.


Taylor menggangguk lalu segera menyalakan mesin mobilnya.


"Alesha..." Gumam Rangga sangat lirih, air wajahnya berubah sedih saat melihat lambaian tangan, dan senyum cerah Alesha sesaat sebelum mobil yang ditumpangi oleh adiknya itu melaju.


"Kalian sangat dekat ya," Ucap Profesor Darwin yang berdiri tepat disebelah Rangga.


"Aku kakak angkatnya, aku sangat menyayangi Alesha," Balas Rangga.


"Sekarang kau harus ikhlas membiarkan Alesha pergi dengan suaminya, lagi pula kalian bisa bertemu lagi nanti, kau tidak akan mungkinkan membiarkan penjahat itu mencelakai Alesha saat Jacob membawa Alesha kembali ke Indonesia," Ucap Profesor Darwin yang sudah tahu semua yang terjadi pada Alesha, dan alasan kenapa Rangga menyembunyikan Alesha selama ini. Profesor Darwin tahu itu semua dari Bastian, Lucas, dan Taylor.


"Aku tidak akan membiarkan si breng**k Dirga itu mencelakai adikku. Mungkin setelah ini aku akan kembali ke Indonesia, dan mulai mengawasi Dirga untuk berjaga-jaga," Balas Rangga.


"Kau tahu dimana pria itu sekarang?" Tanya Profesor Darwin.


"Dia berada dimana-mana, aku bisa mencarinya," Jawab Rangga.


"Baguslah..."


Tidak terdengar lagi percakapan setelah Profesor Darwin membalas ucapan Rangga.


Semua beralih kembali pada Jacob, dan Alesha.


Sejak di dalam mobil, Jacob mencoba untuk mengajak Alesha berbicara, namun kecanggungan membuat Alesha tidak berani membalas ucapan Jacob dengan kalimat panjang.


"Sayang, kau lapar? Kau belum makan bukan pagi ini?" Ucap Jacob sembari mengelusi rambut istrinya yang tergerai lurus, dan lembut.


Alesha menggelengkan kepalanya pelan.


"Huft..." Jacob harus terus bersabar.


"Aku memiliki roti, Alesha, kau mau?" Tawar Lucas yang duduk di jok paling belakang bersama Bastian.


"Tidak, terima kasih," Balas Alesha, pelan.


Jacob, Lucas, dan Bastian saling memandang. Mereka sama-sama berpikir bagaimana caranya supaya Alesha mau makan.


"Tapi kau belum makan dari pagi, Lil Ale, jangan tahan laparmu," Ucap Jacob begitu lembut.


"Tidak, Tuan, aku tidak lapar," Lirih Alesha.


Jacob diam memperhatikan istrinya dari pinggir. Kenapa Alesha terlihat begitu canggung terhadapnya? Jacob merasa sangat sedih akan hal itu.


Sungguh manis Alesha saat ini. Jacob menyunggingkan senyum kecilnya saat ia memperhatikan tubuh minimalis istrinya yang kini memakai dress bunga-bunga selutut tanpa lengan, terasa sekali aura kepolosan yang terpancar dari sisi lain diri Alesha. Tapi itu tidak akan berlangsung lama, Jacob juga akan kembali membimbing istrinya secara perlahan supaya mau memakai hijab, dan pakaian tertutup lagi.

__ADS_1


Pelan-pelan, dan penuh kesabaran. Itulah yang mesti Jacob lakukan sekarang, dan selama beberapa waktu ke depan. Jacob akan kembali mengubah Alesha menjadi wanita sholihah, karna itu adalah salah satu keinginan Alesha yang mungkin terlupakan juga oleh Alesha. Tapi jujur saja, Jacob menyukai penampilan istrinya saat ini, sungguh imut, dan polos.


"Aku tidak mengira kau bisa jadi seimut ini jika memakai pakaian seperti ini, Lil Ale," Jacob terkekeh. "Rangga berhasil mengeluarkan sisi lain dari dirimu, sayang."


Kening Alesha langsung berkerut saat mendengar ucapan Jacob barusan. "Apa aku terlihat aneh, Tuan?" Tanya Alesha begitu pelan.


"Tidak, kau terlihat semakin manis," Jawab Jacob masih dengan kekehannya.


"Aku malah tidak mengira Alesha bisa jauh lebih kalem, dan lemah lembut. Padahal dulu dia cerewet, dan sedikit kasar, petakilan, jahil, dan kau tahu Alesha," Lucas menunjukkan senyum jahilnya pada Alesha. "Kau dulu adalah partnerku, dan Mike dalam urusan mengerjai orang lain yang bermain-main dengan tim kita saat kita di WOSA dulu."


"Ya, itu benar!" Sahut Bastian. Ia pun menatap ramah pada Alesha. "Jika saja kau ingat, Alesha, suamimu ini," Bastian menunjuk pada Jacob. "Mr. Jacob, dia selalu memarahimu, Lucas, dan Mike, lalu menghukum kalian karna kalian yang selalu berulah mengerjai murid WOSA dari tim lain."


"Kau ingat, sayang?" Tanya Jacob, lembut. "Waktu itu aku sering memarahi, dan menghukummu, Lucas, dan Mike karna kalian yang sangat petakilan, dan sangat senang mengerjai orang lain."


"Aku tidak akan pernah lupa saat kau menaruh beberapa kodok ke dalam tas salah satu anggota tim Brandon, Alesha," Lucas tertawa kecil. "Aku, dan Mike yang waktu itu menyuruhmu, dan kau mau, lalu setelah itu Mr. Jacob tahu, dan menghukum kita."


Alesha menyimak dengan seksama cerita yang barusan disampaikan oleh Bastian, Lucas, dan Jacob.


Aneh, namun sekali lagi Alesha merasa familiar dengan cerita itu, seperti ia pernah melakukannya, tapi ia tidak ingat ia pernah melakukan apa yang barusan Bastian, Lucas, dan Jacob ceritakan.


"Kau dulu sangat jahil, dan petakilan, Lil Ale. Sebenarnya aku tidak mau menghukum dan memarahimu karna aku kasihan, tapi kau, Mike, dan Lucas selalu membuatku jengkel karna ulah kalian," Ucap Jacob sembari mengelusi rambut istrinya.


"Aku tidak mengingat itu," Lirih Alesha.


"Tidak apa, sayang, jangan paksakan ingatanmu," Balas Jacob.


Alesha diam tidak membalas, dan setelah itu juga tidak lagi terdengar percakapan. Mobil terus melaju dengan lancar menuju bandara di mana pesawat pribadi milik ibunda Jacob sudah terparkir.


Alesha yang sesungguhnya masih tidak enak hati pun hanya memandangi jalanan raya melalui kaca jendela mobil yang tertutup. Ia bungkam, tidak tahu mau berbicara apa.


Sedangkan Jacob, ia sesekali memandangi istrinya dari pinggir. Sedih rasanya melihat kondisi yang Alesha saat ini mengalami amnesia, padahal, Jacob pikir setelah ia menemukan Alesha, ia bisa sama-sama menyalurkan kerinduan yang tertahan selama satu tahun bersama Alesha. Tapi kenyataannya sungguh diluar dugaan Jacob.


"Tuan, pesawat akan lepas landas dalam lima belas menit lagi," Ucap Taylor yang kini sudah membawa mobil memasuki area parkir pesawat di dalam bandara.


"Iya," Hanya itulah balasan Jacob.


Lalu beberapa menit kemudian, mobil pun berhenti dalam jarak beberapa meter dari pesawat pribadi milik Laura yang tengah terparkir.


"Ayo, sayang, kita keluar, itu pesawat pribadi milik ibu mertuamu," Ucap Jacob sembari membuka pintu mobil.


Alesha mengangguk kecil. Sembari membuka pintu mobil, tatapannya tidak terlepaskan dari pesawat pribadi yang ada dihadapannya itu.



"Sayang, ayo," Jacob menggenggam telapak tangan Alesha lalu berjalan bersama-sama menaiki anak tangga untuk menuju ke dalam pesawat.


Namun sebelum itu, Alesha sempat menghentikan langkahnya tepat di tengah-tengah anak tangga.


Ragu.


Itu yang Alesha rasakan kini.


Takut.


Cemas.


Ya, Alesha merasakan itu. Ia jadi tidak berani.


"Alesha, ayo, kita harus cepat, sayang," Ucap Jacob.


"Aku takut," Lirih Alesha. Kenapa saat ini ia malah berpikiran kalau ia akan diculik?


"Alesha, hei, jangan takut, sayang. Aku suamimu, ini adalah pesawat pribadi milik ibu mertuamu, ayo, tidak usah takut," Bujuk Jacob.


"Tidak, Tuan, aku takut," Alesha menggelengkan kepalanya sembari melepaskan genggaman tangan Jacob.


"Permisi, Tuan, kurang dari sepuluh menit lagi kita akan segera lepas landas," Ucap salah satu pramugari yang menghampiri Jacob.


"Kau dengar, Lil Ale, ayo, tidak apa, jangan takut, percayalah padaku, Alesha," Jacob menggenggam kembali telapak tangan istrinya. "Ayo, sayang."


Dengan tubuh yang sedikit bergetar karna takut, akhirnya Alesha pun mau melanjutkan kembali langkahnya untuk memasuki pesawat itu.


"Tuan," Kini gantian, Alesha lah yang balik menggenggam erat telapak tangan suaminya. Kedua netra Alesha berpendar menatap interior pesawat tersebut.



"Ayo, kita duduk di sini," Jacob membawa Alesha untuk terduduk disofa pinggir jendela. "Tenang, Alesha, jangan takut."


"Permisi, Tuan Jacob, kita akan segera lepas landas," Ucap pramugari yang tadi.


"Iya," Jacob mengangguk.


"Alesha, jangan takut," Ucap Bastian yang duduk disofa tepat dihadapan Alesha, begitu pun dengan Lucas yang terduduk pada sofa sebelah Bastian.


"Iya, Alesha, jangan takut, kami bukan orang jahat, kami adalah teman, dan keluargamu," Sambung Lucas.


Alesha hanya mengangguk kecil sembari menunduk. Ia takut, ia akan dibawa kemana? Jacob, Bastian, dan Lucas adalah orang yang terasa asing untuk Alesha saat ini, Alesha takut jika ia akan diculik.

__ADS_1


__ADS_2