Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Bertemu Sosok


__ADS_3

"Jack, kau tidak kedinginan?" tanya Alesha. Suaminya, Jacob tidak memakai baju atasan sehelai pun.


Jacob hanya tersenyum kecil. Ia jelas kedinginan. Suhu di dalam hutan rendah, ditambah, pagi ini, cuaca mendung dan angin kencang. Tidak lama lagi mungkin akan hujan.


"Aku, kan sudah bilang untuk memakai baju semalam."


"Apa kau mengira kejadian ini akan terjadi, Al?" tanya balik Jacob.


Alesha menggelengkan kepalanya, "Tentu saja tidak."


"Nah, aku pun sama. Aku tidak mengira kalau aku akan berada dalam situasi seperti ini. Jika sebelumnya aku tahu, mungkin aku sudah akan memakai baju tebal."


Alesha menghembuskan napasnya, pelan. Benar juga, sih apa yang Jacob katakan. Mereka sama-sama tidak menduga akan berada diposisi saat ini.


Sekarang yang Alesha dan Jacob lakukan adalah berjalan menyusuri hutan. Berharap dapat menemukan jalan untuk menuju pemukiman.


"Jack, kita tersesat, ya? Aku merasa sejak tadi kita hanya berputar-putar saja," ucap Alesha, pasrah.


Jacob mengangguk kecil. Ia dan Alesha jelas berada di tengah hutan belantara. Entah diwilayah mana. Tidak ada alat komunikasi yang mereka bawa. Bagaimana keluarga mereka dapat menemukan mereka kalau begitu?


"Lalu kita harus kemana sekarang?" Alesha menghentikan langkahnya. Sudah lebih dari satu jam ia berjalan bersama Jacob, namun tidak ada petunjuk yang mereka temukan untuk bisa keluar dari hutan itu. "Aku lelah."


"Al..." Jacob menahan kedua bahu istrinya agar tidak terjatuh.


"Aku lapar, Jack. Tubuhku lemas sekarang," lirih Alesha.


Jacob diam, berpikir. Satu sisi ia tidak tega melihat Alesha yang lelah dan kelaparan, tapi disisi lain, mereka berada di tengah hutan. Jacob tidak mungkin meninggalkan Alesha sendiri untuk mencari makanan.


"Jika saja kita menemukan sungai, aku akan menangkap ikan untuk kita, Al," ucap Jacob.


"Memakan ikan mentah, begitu?"


"Tentu saja tidak. Aku bisa membuat api dengan menggesekan bebatuan. Ya, meski itu memakan waktu yang lama."


"Oh ya? Itu cara yang kuno sekali." Alesha terkekeh, "Tapi akan sangat berguna disituasi seperti ini."


"Kau masih kuat, Sayang?" Jacob menatap cemas istrinya.


"Entahlah. Aku tidak tahu. Aku lapar, lemas dan haus, Jack," balas Alesha, pelan.


Jacob menghela napas panjang. Ia pun sama. Lelah, lapar, haus, ditambah sekujur tubuhnya yang terasa nyeri sebab sisa pertarungan tadi. Namun ia harus kuat demi Alesha.


"Mau istirahat dulu?" tawar lembut Jacob.


Alesha mengangguk. "Mungkin itu lebih baik. Setidaknya untuk memulihkan tenaga."


Sejurus kemudian, mereka berdua pun melangkah beberapa meter untuk mencari letak yang nyaman untuk duduk dan istirahat sejenak.


"Jack, apa di tengah hutan ini tidak ada buah atau sesuatu yang dapat dimakan? Bagaimana kalau setelah ini kita cari makanan saja?"


Jacob tersenyum lembut, "Dengan kondisimu yang lemas seperti ini? Tidak, Al. Aku yang akan mencarinya."


"Tapi...." Alesha memandang pias tubuh bagian atas suaminya yang banyak sekali luka lebam dan beberapa goresan darah kering. "Tapi kau pun sama. Kau pasti sangat lelah karna petarungan tadi, Jack," lirih Alesha. "Jangan paksakan dirimu. Istirahat saja dulu."


"Dan membiarkanmu kelaparan?" Jacob kembali tersenyum, "Aku tidak selemah itu, Sayang. Aku masih mampu."


"Karna kau memaksa dirimu sendiri untuk mampu, padahal nyatanya kau sudah lelah dan kesakitan karna luka-luka itu, Jack."


Jacob mengelus puncak kepala istrinya. Ia sedikit tenang, karna setidaknya, Alesha tidak akan terlalu kedinginan sebab memakai piyama panjang, jaket-yang tidak terlalu tebal-dan kerudung.


"Telapak tanganmu dingin sekali, Jack." Alesha menatap cemas suaminya.


Jacob tak membalas. Ia hanya tersenyum lembut saja. Tenaganya terkuras sangat banyak, bahkan saat ini, hanya untuk bicara saja rasanya lelah.


"Kau pakai jaketku saja." Alesha melepaskan jaketnya.


"Jangan, nanti kau yang kedinginan." Jacob menolak halus.


"Aku memakai piyama panjang dan kerudung. Aku tidak akan kedinginan. Justru kau yang kedinginan!" omel Alesha. Ia memaksa memakaikan Jacob jaketnya itu. Tapi sayang, tubuh Jacob terlalu besar, jaket itu tidak muat.


"Tidak muat, Al." Jacob terkekeh, "Sudah tidak apa. Aku baik-baik saja."


"Kau tidak baik-baik saja!" Alesha menatap tajam suaminya. "Diam!" Ia kemudian menutupi bahu dan punggung suaminya itu memakai jaketnya, dan mengikatkan bagian lengannya pada leher Jacob.


"Terima kasih, Sayangku." Jacob mengelus lembut sebelah pipi Alesha. "Kau tahu, Al dimana tempat yang paling hangat untukku?"


Sebelah alis Alesha terangkat. Dimana?


"Kau. Kau tempatnya," lanjut Jacob seraya memeluk lembut tubuh istrinya. "Di sini adalah tempat paling hangat untukku."


Alesha tersenyum kikuk. Aish, disituasi yang seperti ini, bisa-bisanya Jacob malah membuatnya malu kepayang.


"Apa masih dingin?" tanya Alesha yang balas memeluk tubuh suaminya.


Jacob menggelengkan kepalanya, "Ini jauh lebih baik, dan nyaman. Kita bisa saling menghangatkan diri satu sama lain, bukan?"


Alesha mengangguk.


Mereka saling memeluk cukup lama. Sama-sama menghangatkan diri dari hembusan angin kencang dipagi hari. Di atas sana, awan semakin menggelap, rintik-rintik hujan mulai turun perlahan.


"Jack, kalau hujan bagaimana? Tidak ada tempat berteduh di sini."


Jacob diam. Berpikir keras. Kemana ia dan istrinya harus pergi untuk mencari tempat berteduh?


Beberapa saat kemudian, bagai air yang ditumpahkan dari sebuah bak besar sekaligus, hujan turun dengan sangat lebat dan kencang.


Alesha memeluk kuat-kuat tubuh suaminya, namun itu tidak membuat dirinya terhindar dari terpaan udara dingin. Sekujur tubuh Alesha bergetar cukup kencang.


"Al!" Jacob harus lebih melantangkan suaranya sebab volume disekitarnya dipenuhi oleh suara air hujan. "Alesha!" Ia menggerakkan tubuh istrinya, cemas terjadi sesuatu yang buruk pada Alesha.


"Jack, dingin..." lirih Alesha dengan suara bergetar.


"Al!" Jacob melepaskan pelukannya, menatap wajah Sang Istri yang sudah pucat dengan bibir yang mulai membiru. "Kau harus kuat! Oke. Aku bersamamu. Kau harus kuat!" Jacob menangkup wajah Alesha, "Untuk Baby J, Al. Kau harus bertahan. Kuatlah!"


Alesha mengangguk pelan. Ia akan berusaha semampunya untuk bertahan dari udara dingin dan tetesan air hujan yang seperti menusuki tubuhnya.


"Sabar, Sayang. Aku pasti akan mencari jalan keluar dari sini." Jacob kembali memeluk Alesha dengan erat. Sungguh, jika boleh dibilang, kondisinya pun tidak jauh berbeda dengan Alesha sekarang. Tapi jika ia lemah, maka bagaimana nasib Alesha, terutama janin mereka?


Kepulan kabut amat tebal kini memerangkap pasangan itu.


Syukurnya, hujan yang lebat itu turun tidak lama. Hanya sekitar setengah jam kurang lebih. Sisanya hanya kabut dan gerimis-gerimis saja.


"Kita harus melanjutkan perjalan, Alesha. Kita tidak bisa terus berada di sini," ucap Jacob sembari menciumi wajah istrinya.


Alesha menatap lemah suaminya, "Kemana? Aku tidak kuat kalau harus berjalan jauh saat ini. Perutku sakit karna belum makan, tubuhku terasa lemas, Jack."


"Kita pasti menemukan petunjuk. Percayalah kalau Allah akan membantu dan menuntun kita pada jalan keluar. Oke." Jacob berusaha meyakinkan.


"Tapi aku lemas, Jack," lirih Alesha.


Tubuh Jacob sebenarnya sudah remuk, badannya dipenuhi oleh luka, tapi ia akan bertahan sekuat mungkin untuk Alesha dan Baby J. Ia akan menggendong Alesha.


"Naiklah ke punggungku pelan-pelan, Alesha." Jacob berlutut, membelakangi istrinya.


"Tidak. Kau tidak akan kuat, Jack."


"Jangan banyak bicara. Cepat turuti perintahku!"


"Kau yakin?" Alesha menatap cemas punggung jenjang suaminya yang tak kalah babak belur dari tubuh bagian depan.


"Al!" Jacob sedikit membentak.


Alesha diam sejenak, berpikir dengan tatapan miris yang tertuju pada suaminya.


Sejurus kemudian, Alesha mengalah. Ia bergerak perlahan, naik kepunggung suaminya.


Tangan Jacob bergetar. Kakinya terasa sakit sekali saat digerakkan, terutama saat bangkit berdiri dengan Alesha yang bersandar dipunggungnya. Ia terus membujuk kakinya agar bertahan, terus melangkah pijakan demi pijakan. Ia hanya bisa mendesis, menggigit bibir setiap kali rasa sakit menusuk hingga kepala.


"Jack, hiks..." panggil Alesha dengan isakkan kecil. Ia sangat mencemaskan kondisi suaminya.


"Aku baik-baik saja, Sayang," balas Jacob.


Alesha menggelengkan kepalanya, "Tidak. Hiks, kau sedang tidak baik-baik saja."


Jacob kembali mendesis, menahan nyeri yang menusuk-nusuk disekujur tubuhnya.


"Jack, hiks, jangan paksakan dirimu. Sudah cukup, kita bisa istirahat lagi."


"Dengan kondisimu yang sekarang ini, Al? Tidak. Aku tidak mau risiko buruk semakin besar," balas Jacob.


"Tapi kau kesakitan, Jack. Hiks. Kau juga tidak kalah buruk dengan kondisiku saat ini."


"Aku bisa, Al."


"Bagaimana jika kita semakin tersesat ke tengah hutan?"


Jacob diam. Saat ini, ia benar-benar mengandalkan insting alamiahnya untuk memilih jalan.


"Jack...."


"Jika kita tidak bergerak, kita bisa mati kelaparan dan kedinginan di tengah hutan, Al."


Alesha tak membalas. Ia menundukkan kepalanya, dan menangis lirih dipundak Jacob.


***


Pukul 08.30 WIB


Geraldo menarik seorang pria dan mendorongkannya hingga membuat pria itu tersungkur dikaki Laura.


"Ada apa ini, Geral?"


"Dia pelakunya, Nyonya. Dia mengkhianati kita semuanya. Dia sempat kabur tadi, tapi aku berhasil menangkapnya."


"Mengkhianati kita?" Laura menyerngitkan kening.


"Dia memberi obat tidur pada semua anak buahku. Dia bekerja sama dengan Dirga," jelas Geraldo.


"Apa motifnya?" Laura menatap tajam pria yang tersungkur dihadapannya.


"Dirga mengatakan akan membayarnya jauh lebih besar dibanding anda, Nyonya. Dan dengan bodohnya dia justru menerima dan mengkhianati kita," jawab Geraldo.


Laura berlutut, mensejajarkan wajahnya dengan Si Pengkhianat itu.


"Apa saja yang kau lakukan?" tanya Laura, datar.


"Mm.. Ma.. Maaf, Nyonya..." Suara Si Pengkhianat bergetar ketakutan.


"Katakan apa yang kau lakukan pada anak dan menantuku?"

__ADS_1


"Katakan semuanya!" Geraldo menedang keras tubuh Si Pengkhianat tersebut.


"Se.. Semalam... Aku sudah tahu kalau Nona Alesha selalu bangun saat tengah malam karna kelaparan. Jadi, Tuan Dirga memintaku untuk membuat bom palsu dan mengecoh perhatian Tuan Jacob, lalu membawa pergi Nona Alesha," terang Si Pengkhianat dengan suara parau.


"Kemana mereka membawa Jacob dan Alesha pergi?" tanya Laura.


"Ke tengah hutan, Nyonya. Tapi aku tidak tahu dimana letak pastinya."


"Geraldo bilang kau memberikan obat tidur pada penjaga dan anak buahku di sini?"


"I.. Iya, Nyonya. Aku melakukannya atas perintah Tuan Dirga."


"Lalu apa yang kau lakukan lagi, dan rencana apa yang akan Dirga lakukan pada Jacob dan Alesha?" Laura masih tenang.


"Aku tidak tahu, Nyonya. Aku hanya diperintahkan untuk mengawasi situasi di mansion ini, dan mengalihkan perhatian Tuan Jacob, lalu memberikan akses masuk pada anak buah Dirga ke dalam mansion ini."


Laura menyeringai, "Bagus. Setidaknya kau sudah jujur." Ia beranjak berdiri. "Mungkin akan lebih baik kalau Geraldo saja yang menghukummu. Itu bisa jadi akan lebih ringan ketimbang hukuman yang aku berikan langsung padamu."


"Apa? Nyonya, maaf....maaf, Nyonya. Aku berjanji tidak akan mengulangi hal itu lagi. Tolong maafkan aku, Nyonya." Si Pengkhianat itu menangis, memohon seraya memeluk kaki Laura.


"Geraldo, bawa dia. Jangan sampai aku yang menghukumnya!" titah dingin Laura.


"Baik, Nyonya." Geraldo mengangguk patuh.


"Nyonya Laura... Aku mohon... Hiks hiks, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan seperti itu lagi, Nyonya..."


Bugh!


Geraldo meninju keras wajah Si Pengkhianat itu. "Diam kau! Karna kaulah aku jadi disalahkan oleh Nyonya Laura sebab tak mengetahui kejadian semalam!" Ia menggeram marah. Pantas saja tidak ada satu pun anak buahnya yang melapor tadi malam jika terjadi penculikan terhadap Alesha. Orang salah satu anak buahnya telah berkhianat dan memberikan obat tidur pada anak buahnya yang lain.


"Nyonya Laura..." Taylor yang baru saja tiba di ambang pintu ruang tamu sedikit terkejut saat melihat Geraldo yang menarik kasar salah satu temannya. Ya! Orang yang Geraldo tarik itu adalah temannya. Apa yang terjadi?


"Kau sudah menemukan sesuatu, Taylor?" tanya Laura seraya duduk kembali disofa.


Perhatian Taylor kembali tertuju pada Nyonya Laura.


"Iya, Nyonya. Aku berhasil mendapatkan lokasi terakhir mobil yang Tuan Jacob bawa," jawab Taylor.


"Oh ya, cari tahu juga dimana lokasi Dirga sekarang. Seperti dugaanku sejak tadi kalau dialah dalang yang sudah membuat kekacauan pagi ini," titah Laura.


"Baik, Nyonya." Taylor mengangguk patuh.


"Ibu..." panggil Mona yang baru saja muncul. Ia berjalan menghampiri lalu duduk disebelah ibunya, "Bu, apa Jacob sudah ketemu?" tanyanya lirih. Sejak ia tahu soal kejadian tadi malam, ia mulai menangis sebab takut adik laki-lakinya itu terluka parah. Ia sangat khawatir kalau Jacob akan bernasib sama seperti suaminya saat ini yang masih dirawat intensif di rumah sakit.


Laura menghembuskan napasnya setenang mungkin, "Belum, Mona. Tapi Taylor sudah berhasil menemukan lokasi terakhir mobil yang Jacob bawa."


"Lalu dimana dia sekarang, Bu? Hiks hiks," lirih Mona.


Laura hanya membalas putri sulungnya itu dengan tatapan lemah. Jika saja Mona bisa begitu cemas hingga menangis sejak tadi sebab khawatir akan kondisi Jacob, apalagi ia yang merupakan ibu kandung Jacob. Bedanya, ia tidak boleh menangis. Ia harus kuat agar Jacob juga Alesha dapat kembali dengan selamat.


***


Kembali pada Alesha dan Jacob.


Mereka berdua menemukan sebuah sungai yang tidak terlalu besar, dan tidak dalam, paling hanya setinggi paha orang dewasa saja. Aliran sungai itu pun mengalir tenang dan sangat jernih.


Alesha bersandar lemas pada pohon yang berjarak tiga meter dari bibir sungai. Tubuhnya semakin lemas, wajahnya semakin pucat, dan yang menambah parah adalah gejala hamil mudanya kambuh lagi. Beberapa kali Alesha muntah-muntah, dan membuat kepalanya bertambah pening.


Sedangkan Jacob, ia sedang sibuk membuat api dari bebatuan. Cukup lama, sih, lima belas menit kurang lebih barulah muncul percikan api. Jacob langsung menambahkan beberapa potongan kayu kecil hingga nyala api semakin membesar. Cukup besar untuk membakar ikan, singkong, atau semacamnya. Setidaknya, itu bisa membuat istrinya, Alesha merasa hangat.


"Al, kau tunggu di sini," ucap Jacob seraya membawa kayu yang dibakar.


"Kau mau kemana?" tanya Alesha, cemas.


"Aku melihat ada sarang lebah tadi. Aku akan mengambilnya untuk kita," jawab Jacob.


"Bagaimana caranya, Jack? Nanti kau disengat!" Alesha nampak cemas.


"Tidak akan. Aku akan mengalihkan lebah-lebah itu menggunakan asap."


"Tapi, Jack, kau yakin? Kau pernah memanen madu langsung di tengah hutan?"


Jacob mengedikkan kedua bahunya, "Di hutan belakang WOSA, aku pernah beberapa kali memanen madu langsung. Ya, walau memakai pakaian khusus, sih."


"Tapi kau tidak memakai baju sekarang!" Alesha berusaha mengingatkan suaminya yang sudah berjalan menuju sarang lebah yang entah dimana itu. "HEY!"


Entah apa yang ada dipikirkan Jacob sekarang. Alesha begitu cemas. Takut kalau suaminya akan diserang oleh lebah-lebah itu.


"Astagfirullah.... Ya Allah..." Alesha memejamkan kedua matanya, berusaha untuk tenang. Bagus! Ia sendirian sekarang. Bagaimana kalau sampai Jacob lupa jalan untuk kembali padanya? Dasar pria menyebalkan! Tadinya ia juga ikut saja bersama suaminya kalau begitu. Tapi sungguh, ia sangat lemas untuk kembali berjalan.


Sedangkan Jacob, ia berjalan masuk ke dalam hutan. Tidak terlalu jauh dari lokasi istrinya berada, tepatnya disebuah batang pohon setinggi satu setengah meter, sarang lebah itu kini sedang dikerumuni oleh para lebah.


Jacob tak ingin membuang waktu. Ia membuat kepulan asap yang begitu tebal hingga mengalihkan perhatian lebah-lebah itu.


Jacob harus ekstra hati-hati agar ia tidak disengat. Apalagi ia tak memakai pakaian atas.


Suami Alesha itu tidak akan mengambil semua sarang lebah yang berukuran besar tersebut, ia akan memotong dan mengambil setengahnya saja.


"Ssshh..." Jacob mendesis saat beberapa lebah berterbangan didekatnya. Ia harus cepat atau para lebah itu akan kembali ke sarang mereka lantas kemudian menyerangnya.


"Huft... Alhamdulillah, Ya Allah..." Jacob tersenyum lega. Ia berhasil mendapatkan setengah sarang lebah itu dengan lancar. Kini, saatnya ia kembali ke Alesha setelah ia memastikan tidak ada api yang menyala disekitar hutan itu.


"Uek! Uek!" Alesha memegangi perutnya. Rasa mual berlebih yang ia hadapi sekarang kian memperburuk keadaannya. "Uek!.... Huhft, astagfirullah...." Alesha menyandarkan tubuhnya kembali dengan lemas pada pohon seraya memegangi kepalanya yang nyut-nuyutan.


"Sayang..." panggil Jacob yang sudah kembali. Ia berlutut, memandang cemas istrinya.


"I'm okay," ucap Alesha. "Aku hanya pusing dan mual. Oh ya, kau berhasil mendapatkan sarang lebah itu?" Alesha menatap sarang lebah yang suaminya bawa.


Jacob mengangguk.


Jacob menggelengkan kepala.


"Bagaimana bisa?" sebelah alis Alesha terangkat.


"Tentu saja ada tekniknya. Kau pikir aku mengambilnya asal begitu saja? Sudahlah, tidak usah banyak tanya. Kau harus mencoba ini. Lihatlah madunya, keemasan dan putih, bersih. Kau pasti akan suka." Jacob meletakkan sarang madu tersebut diatas daun lebar yang sudah dicuci disungai tadi.


"Waw, Jack. Aku tidak pernah sekali pun memakan sarang madu. Apalagi yang dipanen langsung dari tengah hutan."


"Kalau begitu kau harus mencobanya sekarang, Alesha. Ini bisa memulihkan tenaga kita." Jacob memotong kecil bagian sarang madu itu lalu memberikannya pada Sang Istri. "Cobalah, kau akan suka, Sayang."


Alesha menerimanya. Ia menyerngit aneh. Apa rasanya enak?


"Ayo, Sayang. Cobalah..." bujuk Jacob dengan senyuman.


Alesha menggigit bibir bawahnya, nampak tidak yakin. Namun, perlahan tapi pasti sarang madu menyentuh bagian bibirnya lantas ia gigit sedikit untuk mencicipi.


"Bagaimana?" kedua iris Jacob berbinar penasaran.


Alesha tertegun. Meresapi rasa manis yang nikmat dalam mulutnya.


"Enak, Al?"


Alesha balas menatap suaminya, "Ini... Ini sungguhan rasanya?" Sorot matanya seolah mengisyaratkan ketidak percayaan, "Enak, Jack." Ia tersenyum lebar. "Manisnya enak. Pas."


"Sudah aku bilang, kan." Jacob memotong kembali bagian kecil sarang madu itu untuknya. "Ini enak. Aku suka memanen sarang madu bersama mentorku saat di WOSA dulu."


"Wahh!!"


Prok! Prok! Prok!


Alesha bertepuk tangan, "Rasanya enak! Aku mau lagi!"


Jacob tertawa kecil mendapati tingkah istrinya yang sudah seperti anak kecil barusan.


Suasana itu terus berlanjut. Jacob dan Alesha memilih istirahat sementara waktu di pinggir sungai tersebut. Matahari juga kini mulai muncul, dan cahayanya masuk, menembus pepohonan. Berbanding terbalik dengan situasi tadi pagi yang mendung dan hujan lebat, menjelang siang, cuaca berubah panas dan cukup terik.


Alesha masih bersandar pada pohon, juga Jacob yang duduk berhadapan dengannya. Mereka mengobrol kecil, dengan sesekali membahas topik mesra dan gombalan maut yang Jacob tembakan untuk istrinya.


Tapi meski begitu, bagaimana pun mereka tengah tersesat di tengah hutan. Mereka harus bisa keluar dari hutan itu setidaknya sebelum malam datang.


"Ayo, Al. Kita lanjut jalan sekarang. Sisa sarang madu ini biar aku yang bawa. Untuk bekal kita," ucap Jacob.


Alesha mengangguk.


"Kau kuat berjalan, kan?" Jacob menatap istrinya.


"Tenang saja. Aku tidak apa-apa," bohong Alesha. Ia tidak mau menyusahkan suaminya dengan mengatakan jika sebenarnya ia masih lemas, dan belum terlalu siap untuk melanjutkan perjalanan.


"Baby J." Jacob berlutut dan mengelus lembut perut istrinya yang masih rata, "Baik-baik, ya di dalam. Kita akan segera sampai di rumah. Muach."


***


Berjam-jam sudah berlalu, Alesha dan Jacob berjalan menyusuri sungai. Pikir Jacob, mereka pasti dapat menemukan jalan untuk pulang, atau bertemu seseorang, atau bahkan tiba di perkampungan apabila mengikuti aliran sungai itu.


Sementara dilain tempat, Taylor dan Geraldo pun sama, mereka masuk ke dalam hutan, menuju titik dimana mayat Dirga berada saat ini. Mereka tidak dapat melacak posisi Jacob dan Alesha, jadi mereka melacak lebih dulu posisi Dirga yang mungkin bisa membawa mereka untuk dapat menemukan Jacob dan Alesha.


Pukul 17.15 WIB.


"Jack, sekarang kira-kira sudah jam berapa, ya?" tanya lemas Alesha.


"Aku tidak tahu, Al," jawab pelan Jacob. "Kenapa? Kau lelah? Ingin istirahat dulu, Sayang?"


Alesha menggelengkan kepalanya, "Nanti keburu malam. Aku ingin segera keluar dari hutan ini."


Jacob menghela napas sabar. Sepertinya mustahil untuk ia dan istrinya dapat keluar dari hutan itu sebelum malam. Sekarang saja matahari sudah berada di titik bawah. Kurang dari satu jam, hari akan berganti malam. Kalau ia sendirian, tak begitu masalah sebab ia tidak takut apapun atau berpikiran yang aneh-aneh dan macam-macam. Ia hanya akan fokus mencari jalan keluar dan melanjutkan perjalanan tidak perduli itu malam hari. Tapi masalahnya, ia bersama Alesha, istrinya saat ini. Ia tidak bisa egois dengan terus memaksa melanjutkan perjalanan. Alesha akan sangat kelelahan. Beruntung jika tidak sakit.


"Bagaimana ini, Geral? Tuan Jacob dan Nona Alesha tidak ada bersama Dirga ternyata," ucap Taylor seraya menatap lurus ke arah sembilan mayat pria-termasuk Dirga-dihadapannya itu.


"Siapa yang menghabisi mereka kira-kira? Apa Tuan Jacob dan Nona Alesha memiliki musuh lain, dan musuh lain itu yang menghabisi Dirga dan anak buahnya agar bisa mendapatkan Nona dan Tuan?"


Geraldo menggelengkan kepalanya, "Tidak. Tidak ada orang atau musuh lain. Tuan Jacob yang menghabisi mereka semua."


"Bagaimana bisa? Aku yakin mereka adalah para petarung hebat, Geral." Taylor menatap tak percaya pada kawannya itu.


"Apa kau belum pernah melihat Tuan Jacob berkelahi, Taylor? Kau asistennya, bukan?" Geraldo balas menatap Taylor. "Tuan Jacob bukan petarung biasa. Dia berhasil mengalahkan sepuluh anak buahku dalam tiga ronde saat kami sedang latihan bersama. Dia bahkan membuat tubuhku babak belur, ya walau pun dia berhasil aku kalahkan telak dalam tiga ronde juga. Tapi teknik bertarungnya mematikan. Kau lihat tubuh-tubuh anak buah Dirga itu? Miris sekali. Aku bisa membayangkan bagaimana Tuan Jacob menghabisi mereka dengan beringas."


"Jadi, dimana Tuan dan Nona sekarang?" Taylor nampak sedih. Ia cemas, Jacob dan Alesha sudah seperti keluarga dan adik baginya.


"Mereka pasti masuk ke dalam hutan." Geraldo menatap lurus ke depan. "Mencari jalan keluar dari hutan belantara ini."


"Mereka pasti sedang tersesat sekarang," lirih Taylor. "Hutan ini sangat lebat, kita saja butuh waktu beberapa jam untuk tiba di titik ini."


"Tuan!" salah seorang anak buah Geraldo berlari menghampiri Taylor, juga Geraldo, "Aku menemukan jejak kaki di sana!"


***


"Jack..." Alesha memeluk lengan suaminya kuat-kuat. Ini sudah gelap. Ia takut.


Jacob tersenyum lembut. Ia baru saja beres membuat api unggun yang besar. Itu sangat cukup untuk membuatnya juga Alesha merasa hangat.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya lembut Jacob.


Alesha tidak membalas. Ia menunduk, murung.


"Hey, tidak apa, Sayang. Jangan takut. Ada aku di sini." Jacob melingkarkan sebelah lengannya pada pinggang Alesha dan sebelah lengannya lagi memeluk Alesha dari depan. "Berdzikir saja, Al, biar hatimu tenang, dan kita dilindungi oleh Allah." Jacob mencium lembut kening istrinya.


Alesha mengangguk pelan. "Kau tidak takut, Jack?" tanyanya.


Jacob menggelengkan kepala seraya tersenyum kecil, "Tidak. Satu-satunya yang aku takutkan saat ini dan sejak tadi adalah kondisimu, Al. Aku takut kau kenapa-kenapa."


"Kau pasti bohong! Kita di tengah hutan belantara. Tidak mungkin kau tidak takut." Alesha mengerucutkan bibirnya.


Jacob tertawa kecil mendengar itu. "Kan tadi aku sudah bilang padamu hal apa yang aku takutkan. Soal yang lain, aku hanya cemas, cemas akan ada binatang buas atau binatang melata yang mendekati atau menyerang kita."


"Hanya itu saja?"


"Sayang, jangan berpikir kemana-mana. Oke. Berpikirlah yang positif. Kita akan baik-baik saja. Allah selalu menjaga kita. Jangan takut. Ada aku di sini. Aku tidak mungkin meninggalkanmu." Jacob mengelusi puncak kepala istrinya.


Alesha mengangguk. Jacob benar, tidak seharusnya ia berpikir yang aneh-aneh. Soal hantu contohnya. Allah selalu menjaganya juga suaminya. Ia tidak perlu takut, hanya wajib waspada apabila sewaktu-waktu berjumpa hewan buas.


"Sudah, lebih baik kau tidur saja, ya. Kau lelah pastinya, dan tidur bisa memulihkan tenaga kita, juga mempercepat waktu," ucap Jacob seraya membentangkan lima pelepah daun yang cukup lebar yang ambil dari salah satu pohon tadi.


Mereka berdua sama-sama berbaring miring dan saling memeluk, menyalurkan kehangatan di atas kelima pelepah daun itu.


"Jangan lupa baca doa, Lil Ale," ucap lembut Jacob.


Alesha hanya mengangguk pelan. Ia tidak berani menatap sekitarnya. Maka dari itu ia sengaja menelusupkan wajahnya pada dada Jacob, dan mulai terpejam.


Namun yang terjadi, justru Alesha tidak dapat tidur meski ia sudah memejamkan kedua matanya dengan rapat dan berusaha tenang.


"Jack..."


"Hmm..."


"Kau belum tidur?"


"Belum kalau kau belum tidur. Aku akan tidur setelah kau, Sayang."


Alesha tersenyum kecil mendengar itu. Entahlah, tapi saat ini, ia merasa jika Jacob benar-benar tidak main dalam menjaga dan membuatnya tetap merasa aman dan nyaman.


"Aku tidak bisa tidur." Alesha mendongkak, menatap suaminya.


"Haruskah aku menceritakan sebuah dongeng, Al?" Jacob terkekeh, balas menatap Sang Istri. "Dongeng putri tidur misalnya."


"Itu sudah telalu biasa. Aku mau dongeng yang lain," balas Alesha.


"Dongeng kisah cinta seorang mentor dan muridnya, begitu?"


Alesha menggelengkan kepalanya, "Tidak. Aku sudah tahu kisah itu."


"Oh ya? Tapi kan kau belum tahu akhirnya, Sayang."


"Yang pasti akan berakhir bahagia, Big Guy. Aku memang belum tahu jalan cerita dongeng itu sepenuhnya, tapi aku yakin itu akan berakhir bahagia ditambah dengan lahirnya putra juga putri mahkota yang akan melengkapi kehidupan dua tokoh utama itu."


Jacob tersenyum lebar. Hey, ia dan Alesha sedang menyindir kisah cinta mereka saat ini.


***


Ini sudah sangat malam. Suara burung hantu yang entah berada di mana saling menyahut bersama suara nyaring jangkrik dan hewan hutan lainnya.


Jacob diam. Masih belum tidur. Tapi setidaknya, Alesha sudah tidur saat ini.


Jauh di sebrang sungai sana, diantara dua pepohonan rindang, Jacob tidak begitu jelas melihat sesuatu yang cukup tinggi berwarna putih kusam. Sesuatu itu seperti membelakanginya. Ia tidak tahu apa itu. Hantu mungkin?


"Astagfirullah!" Jacob sedikit ternyehak kaget. Untung saja Alesha tidak terusik apalagi bangun sebab apa yang ia lihat adalah benar seperti yang ia duga.


Hantu wanita dengan gaun kusam dan rambut panjang berantakkan. Wajahnya tidak terlalu seram, namun tampak menyedihkan.


Jacob mengalihkan pandangannya ke arah lain. Apa yang mesti ia lakukan? Haruskah ia membangunkan Alesha dan pergi dari tempat itu?


Namun hantu wanita itu pun tidak bergerak sama sekali di tempatnya.


Apa Jacob takut? Tidak. Ia pernah beberapa kali bertemu hantu saat menjalankan misi di tengah hutan dulu bersama agent SIO yang lain, dan ia bersama teman-temannya acuh saja. Tapi yang ia cemaskan saat ini adalah Alesha. Istrinya itu sedang hamil. Bagaimana jika didekati hantu wanita itu.


"Jangan ganggu kami jika kau tidak mau mati dua kali!" ucap Jacob, pelan. Ia pernah diajarkan oleh Kakek Ujang bagaimana caranya mengusir hantu saat almarhumah Alshiba didekati oleh hantu waktu itu. "Pergi!"


Setelah itu, Jacob menundukkan pandangannya seraya memejamkan mata sembari membaca ayat kursi beberapa kali.


Tiga menit kurang lebih, Jacob kembali membuka matanya, dan mendapati hantu itu masih di tempatnya.


"Keras kepala! Aku bilang pergi!" gumam Jacob, sedikit tegas.


"Kenapa, Jack? Ada hantu, ya?"


Deg!


"Alesha! Kau bangun?" Jacob terkejut. Ia menunduk, menatap istrinya.


"Aku bangun karna dia yang membangunkanku." Alesha menunjuk ke arah hantu wanita itu tanpa mengalihkan tatapannya dari Jacob.


"Bagaimana kau tahu? Kau tidur, kan?" Jacob menatap tak percaya pada istrinya.


Alesha tersenyum kecil. "Aku bisa melihatnya melalui pandangan lain."


"Apa? Tunggu, aku tidak paham." Jacob memicingkan kedua matanya.


"Dia di sana karna dia melihat pasangannya di dekat kita. Cukup jauh, sih dari kita. Tapi itu yang membuatnya tidak pergi," jelas Alesha.


"Hah? Aku tidak mengerti ucapanmu."


"Kau tahu indra keenam?" tanya balik Alesha.


Jacob mengangguk. Ragu.


"Sebenarnya, aku memiliki itu. Diturunkan dari Kakek Ujang. Tapi mata batinku sudah ditutup sejak aku berusia tujuh tahun oleh Kakek, atas permintaan umi dan bapakku. Tapi walau begitu, aku masih suka melihat, bahkan berkomunikasi dengan hantu. Tidak sering, sih. Malah sangat amat jarang sekali. Terakhir, aku melihat dan berkomunikasi dengan hantu saat aku pindah ke rumah yang aku tempati bersama Rangga di Amerika. Dan sekarang, aku melihat juga baru saja berkomunikasi lagi dengan hantu itu."


Jacob menyerngitkan dahinya. Apa Alesha bergurau? Atau berbohong?


"Aku tidak mau melihat wajahnya, aku takut. Tapi dia tidak akan mengganggu kita. Ini tempat tinggalnya, Jack."


"Apa kau melihat hantu yang lain juga, Al?" tanya Jacob, penasaran.


"Tidak. Aku hanya melihat Nona itu, dan pasangannya yang tidak jauh dari kita. Tapi kalau pasangannya, aku tidak bisa melihat jelas, yang pasti dia tinggi. Kurang lebih sepertimu."


"Dimana posisinya?" tanya Jacob.


"Kau lihat pohon beringin itu." Alesha menunjuk ke belakang. "Di sana. Aku takut. Aku tidak mau melihatnya. Wajahnya sangat seram, Jack!" tubuh Alesha mendadak bergetar ketakutan. Ia menelusupkan wajahnya lebih dalam pada dada Jacob.


"Kau melihat wajahnya? Aku tidak melihat siapa pun di sana, Al. Hantu wanita itu juga sudah menghilang." Jacob memperhatikan sekitarnya.


"Tidak!" Alesha menggelengkan kepalanya. "Mereka masih di tempat. Aku melihat wajah hantu yang pria, tapi tubuhnya masih tidak jelas. Wajahnya hancur, Jack! Aku takut!"


Jacob mulai panik, "Haruskah kita pindah dari sini?"


Alesha menggelengkan kepalanya lagi, "Jangan. Di sini energi dan auranya yang paling netral, di tempat lain bisa jadi jauh lebih negatif, itu kenapa aku bilang padamu agar istirahat dan bermalam di sini saja."


"Kalau begitu bagaimana? Nanti mereka mengganggumu!"


"Tidak. Mereka tidak akan mengganggu kita. Aku sudah bilang untuk jangan mengganggu kita. Tapi mereka sepertinya ingin mengatakan sesuatu padaku. Haduh... Maaf, aku tidak bisa..." Alesha mulai bicara melantur.


"Al..." Jacob menatap cemas istrinya.


"Jangan... Oke oke... Baiklah, katakan saja, tapi jangan memberi rasa padaku. Aku mohon..." Alesha membuka kedua kelopak matanya. Ia beranjak duduk cepat-cepat. "Huft... Panas.... Panas, Jack." Ia melirik pasrah suaminya.


"Panas? Suhu di sini sangat dingin, Alesha?" Jacob menatap heran istrinya yang bergelagat seperti orang kepanasan.


"Tidak... Ini sangat panas. Bukan dari suhu hutan ini, tapi hantu wanita itu memberiku rasa panas ini."


"Hah?" sungguh, Jacob sangat amat tidak mengerti. Alesha kenapa?


"Cukup, Nona! Jangan berikan rasa padaku. Aku tidak kuat. Kalau ada yang mau disampaikan katakan saja. Jangan berikan rasa yang kau rasakan terakhir kali sebelum kematianmu padaku." Alesha menggenggam kuat telapak tangan suaminya.


"Al, kau bicara apa, sih?" Jacob sedikit meninggikan suaranya.


"Nona ini sedang memberitahuku tentangnya. Dia...." Alesha memejamkan kedua matanya. "Dia sedang hamil, dia berasal dari era... Ehm, sangat jauh sekali, Jack. Dia mati bersama suaminya, dibakar oleh masa.... Huft.... Huft... Panas! Ya ampun, aku bilang jangan memberikan rasa!" Alesha sedikit mengomel.


"Mati bersama suaminya? Dibakar masa? Al, kau tidak bergurau atau berusaha membuatku panik, kan?"


"Jack, aku sungguhan! Baiklah... Aku dan suamiku akan mendoakan kalian. Tapi jangan ganggu kami. Aku dan suamiku hanya mau menumpang istirahat di sini, dan kami tidak akan melakukan hal-hal negatif...." Alesha kembali membuka kedua matanya. "Jack, berdoa sekarang!"


Jacob menyerngitkan dahi. Ia masih benar-benar bingung.


"Hantu wanita itu ada di sebelahku, Jack. Bantu aku agar dia menjauh dariku."


"APA?" Jacob terkejut mendengar itu. Hey, hantu itu tadi ada di sebrang sungai!


"Nona Anna, tolong, jangan ganggu kami. Jangan berikan rasa padaku. Iya, aku memang sedang hamil. Maka dari itu jangan ganggu aku. Menjauhlah..." lirih Alesha.


***


"Iya, Nyonya, kami sudah mendapatkan petunjuk. Kami sedang menyusuri aliran sungai sekarang."


"Iya, Nyonya, kami pasti akan menemukan Nona Alesha dan Tuan Jacob."


"Sama-sama, Nyonya."


Taylor mematikan sambungan telponnya. Itu tadi Laura yang menghubunginya, menanyai kabar, dan perkembangan pencarian Jacob dan Alesha. Sejak tadi, ia dan timnya mengikuti jejak kaki yang menempel pada tanah.


Sementara Geral, ia berpisah dengan Taylor, mencari Jacob dan Alesha di lain tempat.


Total ada empat tim yang diturunkan oleh Laura untuk mencari putra dan menantunya yang hilang di tengah hutan belantara.


"Ini bekas api unggun, kan?" Salah satu pria menunjuk satu titik dekat bibir sungai.


"Tidak mungkin kalau itu api unggun bekas pendaki. Wilayah ini bukan jalur pendakian gunung mana pun," ucap Taylor, "Ini pasti bekas Tuan dan Nona."


"Ada jejak lagi, Taylor." Salah seorang pria mendekati Taylor. "Ada jejak kaki samar di sana."


***


Kembali lagi pada Alesha dan Jacob.


"Apa mereka masih di sini, Al?" tanya Jacob.


"Aku sudah tidak melihat mereka lagi," jawab lemas Alesha. Energinya cukup terkuras sebab berkomunikasi dengan hantu Nona bernama Anna itu. "Kasihan sekali, Jack. Coba kau bayangkan, mereka saling berdekatan, tapi tidak bisa bersama. Bahkan untuk berkomunikasi pun mereka tidak bisa," lirih Alesha. "Aku pikir itu jauh lebih menyiksa. Hiks, kau bayangkan, aku dan kau saling berhadapan, berdekatan, kita sama-sama saling memandang, tapi disisi lain, kita tidak bisa saling menggapai, berkomunikasi, apalagi memeluk untuk melepaskan rindu. Hiks hiks. Kasihan sekali nasib mereka."


Jacob hanya diam, dan menyimak setiap perkataan istrinya.


Satu jam berlalu cepat. Jacob sudah kembali berbaring seraya memeluk istrinya. Sejenak, ia bertanya-tanya. Apa Alesha bergurau tadi? Berkomunikasi dengan hantu? Itu seperti aneh. Tapi nyata.

__ADS_1


Sampai akhirnya, Jacob pun merasa lelah. Ia memejamkan kedua kelopak matanya, dan ikut menyusul Alesha ke alam mimpi.


__ADS_2