
Jacob terus membawa Alesha berkeliling WOSA. Kebahagiaan juga kian bertambah karna Alesha yang asik, dan begitu menggemaskan.
Saat berbicara, Alesha akan membalas ucapan Jacob seakan suaminya itu adalah teman yang baru saja akrab dengannya.
Alesha memang merasa takut, dan canggung, namun entah kenapa ia jadi melupakan dua hal itu karna terlalu asik berkeliling WOSA sembari mendengarkan penjelasan Jacob tentang sekolah itu.
Beberapa pertanyaan yang terlontar dari dalam mulut Alesha dijawab dengan suka hati oleh Jacob.
Aku seperti sedang mementori seorang gadis kecil, Alesha..... Jacob terkekeh dalam hatinya.
Memang benar, sikap polos namun penuh dengan keingin tahuan, dan kepenasaran Alesha membuat Jacob merasa sangat gemas dengan istrinya tersebut.
Jacob tidak habis pikir, bagaimana cara Rangga mengubah perilaku Alesha? Apa yang Rangga perbuat hingga sikap Alesha menjadi berbeda dari yang Jacob tahu?
Alesha biasa-biasa saja, dan sedikit polos memang, tapi hanya sedikit. Itulah yang Jacob tahu. Karna Alesha yang Jacob kenal adalah Alesha yang pemberani, pintar, lumayan cerewet, dewasa, dan yang pasti menggemaskan, tapi Jacob sangat jarang mendapati Alesha yang seperti seorang gadis kecil.
"Tuan, itu apa?" Tanya Alesha sembari menunjuk pada bangunan kaca yang berada di tengah-tengah taman utama WOSA.
"Itu adalah tempat WOSA menyimpan semua sampel penelitian untuk bahan pembelajaran bagi para murid di sini," Jawab Jacob sembari membungkukkan tubuhnya supaya sejajar dengan Alesha. "Kau tahu, dulu kau, dan Stella pernah masuk ke dalam sana secara diam-diam."
"Sungguh?" Mata Alesha membulat, membuat rasa gemas Jacob kian bertambah.
Sabar, Jack, tahan.... Ucap Jacob dalam hatinya.
"Iya," Jacob menganggukkan kepalanya. "Tapi setelah itu kau, dan Stella ketahuan, dan kalian berdua bersama Bastian dihukum oleh Mr. Thomson."
"Bastian?" Kening Alesha berkerut bingung.
"Iya. Dia adalah ketua timmu saat kau masih pendidikan di sini, sayang."
"Oh, ya di mana dia, Lucas, dan Tuan..." Alesha berpikir sejenak. Ia lupa nama pria yang selalu menjadi bodyguard nya itu.
"Taylor," Sambung Jacob. "Dia adalah asisten kepercayaanku, dan bodyguard pribadimu, Lil Ale."
"Bodyguard pribadi?" Lagi-lagi Alesha mengulangi ucapannya dengan nada, dan ekspresi bingung.
"Kau memiliki delapan bodyguard yang selalu mengawalmu, dan Taylor adalah bodyguard utama yang aku percaya untuk selalu berada disisimu, dan menjagamu saat aku tidak sedang bersamamu," Jelas Jacob.
"Berarti Tuan itu juga mengenalku?" Ucap Alesha dengan polosnya.
Jacob tertawa kecil mendengar itu. "Tentu saja, Alesha. Ya ampun, kenapa kau jadi sangat menggemaskan seperti ini, sayang?" Jacob menggelengkan kepalanya sembari terus tertawa kecil.
"Tuan, sebenarnya aku ini siapa? Jujur saja aku masih kebingungan. Aku ini Lisha atau Alesha? Aku sungguh tidak mengingat apapun saat terbangun di rumah sakit waktu itu," Lirih Alesha.
"Kau adalah Alesha Sanum Malaika, istriku, istri Jacob Ridle, kau adalah Nyonya Ridle, sayang," Jawab Jacob dengan begitu lembut.
Wajah Alesha berubah masam. Ia sedih, ia tidak tahu dirinya siapa. Miris bukan?
"Tuan, aku harus apa? Aku takut aku tidak bisa mengingat lagi tentang masa laluku."
"Alesha..." Jacob terkesiap, ia pun turut merasa sedih saat melihat wajah sendu istrinya. "Aku akan membantumu, percayalah. Aku akan bersabar, sayang. Kita berusaha sama-sama, kita lewati ini sama-sama. Oke, sayang?"
Alesha mengangguk kecil.
"Kemari, aku ingin memelukmu, Lil Ale," Jacob meraih pinggang istrinya lalu memeluk tubuh minimalis itu dengan penuh kasih sayang.
Sebaliknya Alesha, ia sedikit menyunggingkan senyumnya kala merasakan aliran hangat yang begitu menenangkan hati juga pikirannya.
Pelukan Jacob begitu nyata, dan Alesha bisa merasakan ketulusan dari pelukan itu.
Tuan, kita baru mengenal tiga hari yang lalu, tapi kenapa aku seperti merasa sangat dekat denganmu? Pelukan ini, aku merasa seperti aku sering menerima pelukan ini? Apa dulu kau selalu memelukku seperti ini, Tuan? Kau benar-benar suamiku bukan? Perasaanku sangat tidak asing dengan pelukan ini...... Gumam Alesha dalam hatinya.
"Tuan..." Panggil Alesha, pelan.
"Hmm? Apa, sayang?" Tanya Jacob.
"Aku malu, bagaimana kalau ada yang melihat kita?"
"Paling hanya beberapa petugas saja, murid WOSA sedang belajar di kelas mereka masing-masing," Balas Jacob yang dibarengi kekehan kecil.
"Boleh kita lanjut kelilingnya? Aku masih penasaran dengan tempat ini," Alesha harus mencari cara lain supaya ia bisa terlepas dari pelukan Jacob, meski nyatanya pelukan Jacob itu benar-benar membuatnya merasa begitu nyaman, dan aman.
"Tentu saja. Kau mau kemana lagi?" Jacob melepaskan pelukannya dan beralih dengan menangkup wajah istrinya.
"Aku mengikutimu saja, Tuan. Kau pemanduku di sini," Jawab Alesha.
"Baiklah, Nona manisku, ayo kita pergi ke lain tempat," Jacob berucap gemas. Ugh, rasanya ingin sekali Jacob membawa Alesha ke kamarnya, dan menikmati momen kebahagiaan mereka di sana.
Acara mengelilingi WOSA pun kembali berlanjut. Percakapan-percakapan kecil tentunya tidak luput. Alesha yang terus melontarkan pertanyaan, dan Jacob yang memberikan jawaban dengan penuh kesabaran. Mereka tampak semakin akrab, dan dekat, bahkan Jacob enggan untuk melepaskan sebelah pergelangan tangan Alesha dari genggamannya.
Alesha tidak sadar jika ia begitu menikmati waktunya bersama Jacob, ia lupa jika masih ada rasa takut, dan canggung dalam hatinya.
"Mr. Jacob, Alesha..." Panggil Lucas yang berjalan menghampiri Jacob, dan Alesha bersama Bastian, dan Taylor.
"Kalian ke mana saja? Kami mencari kalian dari tadi?" Tanya Bastian.
"Kami sedang menghabiskan waktu berdua. Ada apa?" Jawab sekaligus tanya balik Jacob.
"Kami hanya ingin memberitahu kalau siang nanti jam satu kami bertiga akan kembali ke Indonesia," Jawab Lucas.
"Oh ya? Kalau begitu hati-hatilah di jalan, dan jaga kesehatan kalian di sana, aku tidak mau mendengar ada yang sakit," Balas Jacob.
"Tenang saja, Mr. Jacob. Kau fokuslah membantu Alesha di sini," Bastian menepuk pelan bahu Jacob.
"Tunggu, aku seperti mengenal seragam itu," Lucas menatap aneh pada Alesha. "Itu seperti seragam WOSA?"
"Itu memang seragam WOSA, Mr. Thomson memberinya pada Alesha," Jawab Jacob.
"Oh, jadi Alesha akan menjadi murid WOSA kembali ya?" Ledek Bastian.
__ADS_1
Alesha tidak mengatakan apapun, ia bingung harus berucap apa. Namun ada satu hal yang membuat Alesha merasa tidak enak sejak beberapa menit lalu.
"Tuan, boleh aku mengatakan sesuatu?" Ucap Alesha sembari mendongkak menatap Jacob.
"Tentu saja, sayang. Mengatakan apa memangnya?" Balas Jacob.
Alesha berjinjit untuk mendekatkan bibirnya pada telinga Jacob. "Aku lapar..." Bisik Alesha.
Tawa kecil Jacob langsung pecah sesaat setelah mendengar bisikan dari istrinya itu. Jadi ternyata Alesha kelaparan ya? Ya ampun kenapa Jacob lupa kalau ia belum memberi sarapan pagi untuk istrinya.
"Maaf, Lil Ale, aku lupa," Jacob mengusap gemas puncak kepala istrinya. "Kalau begitu ayo kita pergi ke kantin."
"Kalian mau ikut? Aku dan Alesha akan pergi ke kantin untuk makan," Tawar Jacob pada Bastian, Lucas, dan Taylor.
"Boleh, aku juga la.."
Belum sempat Lucas mengakhiri ucapannya, Bastian sudah lebih dulu memotong. "Tidak, Mr. Jacob. Kami bertiga akan berkeliling saja melihat-lihat WOSA. Kalian berdua silahkan saja menikmati waktu bersama."
"Owh, oke, baiklah," Jacob mengedikkan bahunya. "Kalau begitu aku, dan Alesha pergi dulu ya."
"Iya, Mr. Jacob," Balas Bastian.
Kemudian Jacob pun melangkah pergi membawa istrinya menuju kantin.
"Bas, kau tahu? Aku lapar," Ucap Lucas.
"Tahan saja, kita bisa makan nanti. Jangan ganggu waktu berdua Mr. Jacob, dan Alesha saat ini," Balas Jacob.
"Kau benar, Bas, Tuan Jacob, dan Nona membutuhkan banyak waktu bersama. Sudah cukup lama mereka berpisah. Sekarang kita tidak boleh mengganggu mereka," Sambung Taylor sembari tersenyum dengan arah pandangan menuju Tuan, dan Nonanya yang sudah berjalan menjauh.
"Lalu sekarang apa?" Tanya Lucas.
"Ck, kau ini," Bastian merangkul bahu kawannya, Lucas. "Memangnya kau tidak merindukan tempat ini. Ayo kita berkeliling. Kapan lagi kita berada di sini."
"Ide bagus, meski sebenarnya aku kelaparan," Ucap Lucas.
"Tuan Taylor, kau mau ikut berkeliling bersama kami?" Ajak Bastian.
"Tidak, aku akan kembali saja ke kamar," Jawab Taylor.
"Baiklah, kalau begitu kami akan pergi sekarang ya," Ucap Bastian.
Taylor membalas dengan anggukan, dan senyuman ramah.
"Ayo, Lu," Bastian langsung membawa kawannya, Lucas untuk kembali berjalan, dan mengelilingi WOSA.
Sedangkan Taylor, ia pun kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di gedung jupiter, asmara bagi para murid lelaki WOSA.
...*****...
Di kantin WOSA, kini Alesha, dan Jacob tengah duduk berhadapan sembari memakan sarapan pagi mereka.
"Sudah makannya, Lil Ale?" Tanya Jacob yang mendapati istrinya telah menuntaskan sarapan pagi.
Alesha membalas dengan sebuah anggukan. Kemudian ia pun meraih gelas berisi jus jambu lalu meminumnya.
"Sudah kenyang atau masih ingin tambah?" Tawar Jacob.
"Sudah, Tuan, aku sudah kenyang," Jawab Alesha.
"Kau mau makanan yang lain? Ada kentang goreng kesukaanmu, dulu biasanya saat istirahat kau selalu membeli itu, sayang."
Alesha terlihat berpikir. Kentang goreng? Ia memang sangat suka kentang goreng, apalagi ditambah saus pedas. Biasanya Rangga akan membuatkannya kentang goreng untuk makan atau camilan biasa.
"Mau, sayang?" Jacob mengulangi ucapannya.
Mungkin memakan kentang goreng sembari berkeliling WOSA akan terasa lebih asik. Pikir Alesha.
"Baiklah, Tuan, aku mau," Alesha mengangguk.
"Tunggu di sini sebentar kalau begitu," Ucap Jacob seraya bangkit berdiri.
Alesha hanya memandangi Jacob dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Kenapa dia tahu aku suka kentang goreng? Hmm, Tuan ini, aku merasa kalau dia memang orang yang baik. Sangat ramah, dan murah senyum....... Gumam Alesha dalam hatinya.
Selang beberapa menit kemudian, Jacob kembali sembari memberikan sterofoam berukuran kecil yang berisi kentang goreng yang dipotong memanjang, tidak lupa saus cabai yang tersedia disebelah kentang goreng tersebut.
"Ini, sayang."
"Terima kasih, Tuan," Balas Alesha sembari mengambil alih sterofoam berisi kentang goreng miliknya.
"Masih mau di sini, atau lanjut berkeliling?" Tanya Jacob sembari membetulkan poni tipis istrinya yang sedikit acak-acakkan.
Blushh...
Tubuh Alesha memanas seketika. Ia menunduk menahan malu karna poninya yang dibetulkan dengan sangat lembut oleh Jacob.
"Terserah, Tuan saja," Jawab Alesha, pelan.
"Hmm, kalau begitu ayo, aku ingin mengajakmu ke pantai."
"Pantai?" Ulang Alesha.
"Iya, Pantai belakang gedung mentor, tempat kita sering menghabiskan waktu berdua setelah jam belajar selesai," Jelas Jacob.
Alesha tidak mengatakan apapun setelah itu. Ia tidak tahu harus berkomentar apa.
"Ayo, sayang," Jacob meraih pergelangan tangan istrinya.
__ADS_1
Alesha mengangguk, kemudian setelah itu ia berdiri, dan lanjut berjalan bersama Jacob.
Sepanjang perjalanan menuju pantai tidak terdengar percakapan antara Jacob, dan Alesha. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesekali Jacob melirik kepada istrinya yang menatap lurus kedepan sembari mengunyah kentang goreng. Seukir senyum menawan menghiasi wajah tampannya saat rasa bersyukur menyeruak memenuhi hatinya. Jacob bahagia karna akhirnya ia bisa lagi menikmati waktu kebersamaannya dengan Alesha, meski pada kenyataannya untuk saat ini Alesha sedang melupakannya. Tapi tidak apa karna Alesha juga sudah mulai mempercayainya.
Sesampainya mereka berdua di tepi pantai, Jacob mengajak Alesha untuk berjalan sedikit lebih jauh lagi dari gerbang WOSA.
"Tuan, pantai ini indah ya," Ucap Alesha.
"Kita dulu selalu menghabiskan waktu berdua di sini, sayang," Jacob memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Eh, Tuan!" Alesha sedikit terkejut karna tiba-tiba saja Jacob memeluknya dari arah belakang.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, panggil aku dengan sebutan lamamu, yaitu Jack," Ucap Jacob.
"Ehm, ta-tapi," Alesha gagap.
"Tidak ada tapi-tapian, sayangku, aku adalah suamimu, aku bukan orang asing, berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan, panggil aku Jack, atau Jacob, oke," Ucap Jacob yang terdengar lembut namun tegas.
"Ba-baiklah, J-Jack," Balas Alesha, pelan. Ia masih merasa ragu dengan panggilan itu. Rasanya aneh saja.
"Pintar," Jacob mencium gemas sebelah pipi Alesha.
"Eungh," Refleks, Alesha menghindarkan kepalanya setelah merasakan ciuman Jacob dipipinya.
"Tidak usah seperti itu, Lil Ale, itu baru satu ciuman saja, dulu kau selalu mendapatkan ciuman bertubi-tubi dariku," Kekeh Jacob.
Aish, Alesha benar-benar merasa malu saat ini. Apa benar dulu ia sering mendapatkan ciuman dari Jacob? Alesha tidak ingat itu atau lebih tepatnya belum ingat.
"Tuan, apa.."
"Sayang, jangan panggil aku dengan sebutan itu," Potong Jacob.
Oke, Alesha lupa.
"Maaf, maksudku, Jack, waktu itu kau bilang kalau," Alesha sedikit ragu untuk melanjutkan ucapannya. "Kita sudah mempunyai anak."
Jacob yang tengah tersenyum sembari menyadarkan kepalanya pada bahu Alesha pun seketika merubah raut wajahnya menjadi sedih karna teringat akan kedua buah hatinya yang kini telah tiada.
"Khalid, dan Alshiba, mereka bayi kembar kita, sayang," Lirih Alesha.
"Bayi kembar?" Ulang Alesha.
"Kau hamil dua janin, dan kau melahirkan dua bayi kembar, yang satu pria, yang satunya lagi wanita," Lanjut Jacob.
"Lalu dimana mereka?" Tanya Alesha, lirih.
"Mereka berdua sudah meninggal, sayang."
Deg!
Meninggal?
Jantung Alesha serasa berhenti sesaat setelah mendengar ucapan Jacob barusan. Meninggal? Ia memiliki dua bayi, namun dua-duanya sudah meninggal?
Tidak!
Alesha tidak bisa menerima kenyataan itu. Hatinya terasa diremas dengan sangat kuat saat membayangkan bagaimana ia yang kehilangan kedua bayinya.
Sakit.
Sakit sekali.
Kedua mata Alesha mulai berkaca-kaca, ia tidak menyangka dengan ucapan Jacob tadi. Hatinya begitu sakit mendengar itu.
Kenapa? Kenapa Alesha merasakan hatinya yang seperti ditikam bertubi-tubi? Apa banar ia adalah seorang ibu yang sudah kehilangan dua buah hatinya?
"Alesha...." Jacob yang sadar jika istrinya itu tiba-tiba saja mematung pun segera membawa tubuhnya untuk berhadapan dengan Alesha.
"Sayang, kau menangis?" Jacob mulai panik saat mendapati beberapa tetes air mata yang mengucur dipipi istrinya. "Alesha, ada apa?" Jacob mengguncang pelan bahu istrinya.
"J-Jack, aku tidak tahu," Alesha menggelengkan kepalanya sembari berucap lirih. "Kau bilang kalau dua bayi itu sudah meninggal, dan hatiku terasa sangat sakit sekarang. Aku tidak tahu tapi rasanya aku ingin menangis saat ini."
Jacob terkesiap saat mendengar jawaban istrinya barusan. "Itu karna kau adalah seorang ibu, Alesha. Mungkin kau tidak ingat, tapi batin, dan hatimu tidak akan pernah berubah, dan akan selalu merasakan apa yang dilupakan oleh memorimu. Sekarang begini, hati ibu mana yang tidak sakit, dan bersedih saat ditinggal meninggal oleh anaknya?"
Alesha mendongkak menatap suaminya dengan air mata yang masih menetes meski tidak ada isakkan atau sesegukan.
"Hatimu sakit karna tahu jika ia sudah kehilangan harta paling berharganya, sayang," Jacob menangkup wajah istrinya, menghapus air mata yang mengalir di sana.
Alesha kembali menundukkan wajahnya, namun hal itu membuat air mata kian mengalir lebih banyak lagi. Sekuat tenaga Alesha menahan supaya tidak ada isakkan, dan sesegukan, bahkan kedua tangannya saja kini sudah terkepal. Namun apalah dayanya yang kini terasa rapuh hanya karna merasakan kesedihan juga duka mendalam dari masalah yang belum teringat dipikirannya. Ia adalah seorang ibu yang sudah ditinggal mati oleh kedua bayinya? Alesha tidak ingat itu, sungguh, tapi hatinya menangis.
"Hiks," Alesha langsung menangkup wajahnya, dan mulai menangis tersedu-sedu. "Aku tidak ingat aku seorang ibu, tapi kenapa mendengar aku yang sudah kehilangan dua orang bayi rasanya sangat menyakitkan," Lirih Alesha.
Jacob yang turut bersedih pun langsung memeluk erat tubuh istrinya. "Menangislah, Alesha. Aku bersamamu sekarang. Kau sudah kehilangan dua bayimu, dan hatimu baru menyadarinya sekarang."
Jacob mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia juga ingin menangis, ia sangat merindukan Alshiba, dan Khalid saat ini.
"Aku selalu merindukan anakku, anak kita, sayang. Aku selalu mengirimkan doa untuk mereka," Lirih Jacob yang dibarengi dengan turunnya setetes demi setetes air mata. "Menangislah, karna aku pun hanya bisa melakukan itu saat aku sadar kalau aku sudah kehilangan putriku juga."
"Bagaimana kau melewatinya sendirian? Aku mungkin tidak bisa bertahan jika ada diposisimu waktu itu," Ucap Alesha disela-sela tangisnya.
"Itu karna aku masih memiliki satu kewajiban, yaitu menemukanmu. Itu yang membuatku kuat karna aku yakin aku bisa menemukanmu kembali, sayang," Jawab Jacob.
Percakapan pun terhenti. Alesha yang masih merasakan sakit dalam hatinya terus menangis tersedu-sedu namun dalam tensi yang rendah, sedangkan Jacob, ia terus memeluk tubuh istrinya sembari meresapi rasa rindu yang menyakitkan terhadap kedua buah hatinya.
*****
Holla, author balik lagi, maaf ya upnya masih gak bisa teratur kaya dulu, author nya masih harus banyak istirahat soalnya 🤧buat kakak kakak Author yang lain, aku juga minta maaf ya belum sempet feedback, tapi nanti kalo udah fit lagi aku pasti feedback kok🙏🤧 and Last, makasih banyak ya yang udah kasih vote, like, komen, and rate🙏luv U all💕😘
__ADS_1