
"Hiks hiks, Ibu..." Sharon menangis tersedu-sedu sembari memeluk lututnya. Ia ketahuan menelepon Bastian tadi, dan anak buah Dirga langsung memukulnya. Membuat bahu, lengan, dan kakinya memar-memar. Ini sudah pukul sebelas siang. Berapa jam ia ditahan? Apa keluarganya tahu kalau ia diculik? Dimana ia sekarang?
"Jadi ini gadisnya?"
Sharon terlonjak kaget saat mendapati kehadiran satu orang pria paruh baya. Ia bergerak meringsek ke sudut ruangan. Bergetar ketakutan.
"Jangan takut, Nona Cantik, Kakakmu sedang menuju kemari," ucap pria itu seraya mengelus lembut sebelah pipi Sharon.
Napas Sharon menderu, sesegukkannya masih belum berhenti. Tubuhnya dingin menyeluruh disertai getaran ketakutan yang kian menjadi.
"Eh, tapi dia tidak membawa istrinya. Apa mungkin, dia ke sini hanya ingin mempercepat kematiannya saja?" Dirga, pria itu tertawa kecil.
"Hiks hiks." Sharon tak dapat menahan tangisnya kali ini. Air matanya bercucuran deras.
"Tenanglah. Masih ada ibumu. Entahlah, dia akan memilih putri atau menantu perempuannya," lanjut Dirga dengan senyum manisnya yang penuh kelicikan. Setelah itu, ia bangkit berdiri, lantas kembali melangkah, meninggalkan ruangan itu.
Kini Sharon sendiri, lagi. Menekuk kedua lututnya, kemudian memeluk dan menangis tergugu di sana.
***
Alesha berjalan mondar-mandir. Perasaannya sangat tidak tenang. Apakah Jacob akan gagal? Apakah Jacob akan kembali dengan selamat?
"Uek!!"
Alesha berlari kecil ke kamar mandi.
"Uek! Uek!" Lagi-lagi hanya udara kosong yang keluar.
"Uek! Argh! Ya Allah..." Bumil itu memegangi perutnya yang terasa mual.
"Al, kau tidak apa-apa?" tanya cemas Rangga yang baru saja muncul.
Alesha mengangguk, "Aku baik. Ini biasa, Rangga," balasnya, lemas, "Tolong bantu aku berjalan ke tempat tidur. Aku ingin bersandar di sana."
Rangga mengangguk. Ia memegangi sebelah lengan Alesha, menahan tubuh adiknya itu yang sedikit oleng saat berjalan.
"Kau yakin baik-baik saja, Al?" Rangga terdengar khawatir. Wajah Alesha pucat pasalnya.
"Aku baik. Aku memang seperti ini saat hamil muda. Tidak apa-apa. Tidak ada yang perlu dicemaskan," jawab Alesha, pelan.
Rangga menghela napas sabar. Masih sedikit tidak percaya ia kalau saat ini Alesha sedang hamil. Maksudnya, ayolah, satu tahun ia tinggal berdua bersama Alesha, menyembunyikan gadis itu dari Jacob dan dari dunia luar. Alesha manis, ia jatuh hati. Itu faktanya. Apa ia salah menaruh rasa pada adik perempuannya sendiri? Toh, Alesha bukan adik kandung, namun adik angkat. Mereka bukan dari satu turunan yang sama. Tapi lupakanlah. Rangga paham betul posisinya. Cukup sakit baginya menerima kenyataan jika Alesha sedang mengandung anak dari pria lain. Bukan darinya. Padahal, seandainya ia menjadi suami Alesha, ia bisa lebih mudah menempati janjinya pada Profesor Danu untuk menjaga Alesha. Tapi sekali lagi, ia sadar siapa dirinya, dan siapa Alesha. Bagaimana juga Alesha susah menikah. Mustahil ia dapat memiliki Alesha. Kecuali Jacob menceraikan Alesha atau mati.
"Aku ambilkan air hangat, ya," tawar Rangga setelah Alesha duduk dan bersandar pada headboard tempat tidur.
Alesha mengangguk pelan.
"Duh, Ya Allah...." gumam Alesha sembari merasakan sensasi pening berputar dan mual dalam perutnya.
"Ini, Al." Rangga memberikan gelas berisi air hangat tersebut pada Alesha.
Alesha menerimanya, lantas meminumnya dengan pelan.
"Kau belum makan, ya? Mau aku buatkan sarapan? Sandwich atau nasi goreng?" Rangga masih ingat betul, sarapan kesukaan Alesha yang setiap pagi selalu ia buatkan adalah antara sandwich dan nasi goreng.
Alesha menggelengkan kepalanya, "Aku mau salad buah."
"Tapi kau belum makan, Al."
"Iya, itu. Aku akan sarapan dengan itu."
"Itu bukan sarapan namanya. Aku akan membuatkan salad, tapi untuk dessert. Kau makan dulu. Aku akan buatkan nasi goreng untukmu." Rangga bangkit berdiri.
"Ish!" Alesha mendengus, "Ya sudah! Tapi yang pedas! Pakai bakso, sosis, dan telur!"
"Iya iya! Aku ke dapur sekarang kalau begitu."
"Hmmm...."
Alesha menarik dan menghembuskan napasnya dengan tenang beberapa kali. Ia bisa sedikit lebih rileks saat ini. Andai saja ada Jacob, ia pasti sudah dielusi, digoda, atau dibercandai, atau melakukan hal apapun yang dapat membantunya merasa lebih baik saat efek kehamilannya itu datang.
Ini baru beberapa jam, tapi kenapa rasanya rindu sekali? Alesha tidak mengerti dengan perasaannya sendiri saat ini. Ia sudah biasa ditinggal pergi oleh Jacob. Entah karna urusan pekerjaan atau misi. Sehari, dua hari, tiga hari, satu minggu. Tapi kenapa sekarang berbeda? Jacob juga belum tentu kembali dalam waktu cepat. Kira-kira ada dimana suaminya itu sekarang? Sedang apa? Semoga Jacob baik-baik saja.
Sekitar setengah jam kurang lebih, Rangga kembali, membawakan senampan sarapan untuk Alesha. Akan tetapi, yang dibawakan sarapan justru sudah tertidur pulas. Meringkuk diatas kasur sembari memeluk guling.
Rangga terkekeh. Ia lantas menaruh nampan yang ia bawa diatas meja.
"Kau selalu manis dalam keadaan apapun, Lisha," gumam Rangga. Ya. Ia teringat dengan sosok Lisha yang kini sudah berubah menjadi Alesha. Sosok lugu, polos, lembut, yang selalu memakai dress cerah selutut, rambut panjang jatuh bergelombang, poni tipis, dan tubuh minimalis. Wanita yang nampak seperti seorang gadis remaja yang selalu bermain dengan empat hewan peliharaannya di ladang atau halaman rumah.
Rangga merindukan itu. Sangat rindu. Ia selalu bertanya pada dirinya sendiri saat Alesha masih tinggal berdua dengannya. Apa ia bisa memiliki Alesha sepenuhnya? Ia sama sekali tidak berniat untuk menghancurkan rumah tangga adiknya itu. Sama sekali tidak! Ia tidak mau menghancurkan kebahagiaan orang yang ia cintai hanya demi egonya. Biarlah cintanya bertepuk sebelah tangan. Toh, ia dan Alesha masih bisa berdekatan, dan saling akrab satu sama lain.
"Lisha, aku merindukanmu...." lirih Rangga. Apa yang dapat ia lakukan sekarang? Tidak ada selain mengikhlaskan perasaannya terhadap Alesha untuk pergi. Ini rumit. Apa ia pernah menduga kalau ia akan jatuh hati pada adiknya sendiri? Adik angkat maksudnya. Tentu saja tidak.
Lupakanlah. Rangga tidak mau menambah luka dihatinya. Ia sudah ikhlas. Asal Alesha bahagia dan aman, itu sudah cukup untuknya.
***
Taylor : Tuan, anda dimana sekarang?
Jacob : Titik pertama. Aku dan yang lain sedang mencari celah untuk masuk ke dalam markas mereka.
Taylor : Tuan, Rangga meminta izin untuk dapat menggunakan komputer di ruangan kendali. Ia memiliki sebuah rencana untuk menghancurkan Dirga.
Jacob : Rencana apa?
Taylor : Entahlah, Tuan. Tapi dia cukup mendesak.
Jacob berpikir sejenak. Apa rencana yang hendak dilakukan kakak angkat istrinya itu?
Taylor : Bagaimana, Tuan?
Jacob : Baiklah, tidak apa. Tapi kau harus mengawasinya dengan ketat!
Taylor : Pasti, Tuan.
Sambungan telepon seketika terputus.
Jacob kembali fokus pada tujuannya saat ini. Ia sudah tahu dimana lokasi adiknya sekarang. Dan saat ini, jam sudah menunjukkan pukul dua belas lewat, siang hari. Awalnya memang sulit untuk mengetahui lokasi Sharon, tapi berbekal kemampuan meretasnya, juga sistem komputer yang sudah super canggih, akhirnya ia dapat menemukan lokasi Sharon dalam waktu kurang lebih dua jam setengah. Sharon di tahan dalam sebuah pabrik tua yang sudah terbengkalai namun masih kokoh, dan sempurna seolah baru ditinggal dua atau tiga tahun lamanya. Pabrik itu terletak tidak jauh dari dermaga selat sunda, wilayah kekuasaan Dirga dan anak buahnya.
William : Masuk, Jack. Aku sudah melumpuhkan penjaga dipintu belakang.
Jacob : Bagus, Wil. Kau hati-hatilah. Aku masih di posisi yang sama.
William : Baik, Jack. Kau juga hati-hati.
Jacob tak membalas. Ia justru mengeluarkan pistolnya dari dalam saku jaketnya.
"Kalian, bergerak ke sana, cepat!" Jacob memerintahkan kelima pria yang ikut bersamanya untuk bergerak dibalik rerumputan, menuju sebuah jendela tak berkaca yang cukup besar untuk dilewati oleh pria dewasa.
Tiga orang anak buah Dirga yang bertugas berjaga dipintu depan sudah merasakan ada sesuatu yang ganjil. Mereka menatap awas sekitar, memantau dengan tatapan tajam mereka.
"Dari rerumputan! Arah jam dua!" seru salah satu anak buah Dirga yang menyadari pergerakan Jacob dkk.
Dua orang lain dengan sigap mengangkat pistol mereka, hendak menembaki. Namun sayang, pergerakan mereka kalah cepat dengan Jacob.
Sepersekian detik sangat berarti, Jacob melepaskan tiga peluru yang ketiganya sukses menancap didada dan kepala ketiga anak buah Dirga itu.
Di dalam ruangan, Dirga yang jelas mendengar suara keributan itu segera bergegas menuju ruangan dimana Sharon berada. Ia melepaskan rantai yang mengikat Sharon dengan penuh emosi, kemudian menyeret gadis itu dengan kasar.
"Lepaskan aku!" Sharon meronta sekuat tenaga.
"Diam!" Dirga membentak, juga memukul bahu gadis itu cukup keras.
Sharon berteriak kesakitan. Tangisannya semakin membludak. Luka pukulan dan memarnya yang tadi saja belum sembuh, ditambah sekarang pukulan keras dari Dirga. Sungguh, pemimpin dan anak buah sama-sama kasar dan jahatnya!
"Kakakmu itu memang bodoh! Sepertinya dia memang berniat untuk mengorbankanmu dan lebih memilih istrinya! Aku sudah memerintahkannya membawa Alesha ke tempat ini, tapi dia tidak membawanya!" gerutu Dirga.
"Dia tidak mungkin datang jauh-jauh ke sini dan berani menghadapimu jika dia memang berniat untuk mengorbankanku! Kau akan kalah! Kakakku akan menghabisi, bahkan kalau perlu membunuhmu!"
"AKU BILANG DIAM!"
PLAK!
"ARGH!" Sharon meringgis lebih kuat kali ini. Mulutnya terbuka lebar setelah menerima tamparan keras dari telapak tangan pria tak berhati itu, "Hiks hiks...." Ia ingin sekali meneriaki Dirga, memprotes marah. Namun bibirnya perih, mulutnya terasa sakit berdenyut.
Di sisi lain, William sibuk menghajar delapan anak buah Dirga yang menghadangnya. Juga Jacob, ia tak kalah sibuknya. Dirga pasti sudah tahu soal kehadirannya saat ini. Jacob harus cepat untuk mendapatkan kembali adik perempuannya itu.
"JACKK!!!"
Deg!
Jacob sedikit tersentak saat mendengar teriakan yang asalnya dari lorong yang berjarak sepuluh meter disebelah kirinya.
__ADS_1
"JACK!!!!"
Bugh!
Jacob menonjok sekuat tenaga pria yang menjadi lawannya itu hingga jatuh terkapar.
"Kalian urus mereka. Aku akan mengejar Sharon!" titah Jacob. Tak membuang waktu, Jacob segera berlari menuju lorong tersebut. Tidak ada anak buah Dirga yang menghalangi. Sampai disebuah persimpangan, ia kebetulan bertemu Wiliam.
"Aku mendengar suara Sharon, Jack!" ucap Wiliam.
Jacob mengangguk, "Aku juga. Ayo cepat!" Ia kembali berlari, disusul Wiliam di belakang.
Lorong itu cukup panjang, dan berbelok-belok. Namun suara teriakan Sharon semakin lama semakin terdengar lebih kencang. Itu tandanya jarak mereka tidak jauh lagi. Dan benar saja, kurang lebih lima menit berlarian di lorong tersebut, Jacob dan Wiliam tiba di ujungnya. Mereka sampai disebuah ruangan yang sangat besar.
Dari jarak lima puluh meter, di sana, Dirga berdiri sembari menahan tubuh Sharon. Di belakangnya, terdapat tujuh orang lain yang tentunya sudah siap apabila terjadi pertarungan.
"Hiks, Jack...." lirih Sharon.
Dirga menyeringai licik.
Sementara Jacob, ia menggeram marah. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal kuat. Kepulan aura kemarahan memancarkan kuat dari tatapan dan aura Jacob kini. Bagaimana tidak? Ia berhadapan langsung dengan pembunuh putrinya untuk pertama kali.
"Haii, Jack." Dirga tentu sudah tahu yang mana Jacob.
"KAU PEMBUNUH!" teriak lantang Jacob. Dadanya kembang kempis, menahan gejolak amarah yang menggolak. "KAU PASTI PRIA YANG SUDAH MEMBUNUH BAYIKU DAN MEMBUAT ALESHA AMNESIA, DIRGA!!!"
"Ups!" Dirga terkekeh. Ia tertawa kecil menanggapi ucapan dan kemarahan Jacob barusan. "Ya. Itu memang aku. Salam kenal, Jack. Senang bisa bertemu langsung dengan kau. Aku Dirga, pembunuh bayimu, dan juga, tidak lama lagi istrimu."
Jacob sudah melangkah maju satu langkah, sebelum akhirnya Wiliam menahan tubuh Jacob dari depan.
"Tidak, Jack. Kendalikan dirimu. Jangan terpancing. Kau malah akan masuk perangkapnya nanti," ucap Wiliam.
"AKU AKAN MEMNUNUHMU, DIRGA!!" teriak Jacob, lagi.
Dirga mengedikkan kedua bahunya dengan santai, "Silahkan kalau bisa. Oh ya, ngomong-ngomong dimana istrimu? Bukankah aku sudah memintamu untuk membawanya?"
Jacob menggeram marah. Eh, tapi sebentar. Ada apa dengan kulit Sharon? Kenapa banyak memar disekitar kaki, tangan dan wajah? Adiknya itu masih memakai piyama tanpa lengan dengan celana selutut. Ia dapat melihat dengan jelas memar-memar yang tersebar ditubuh Sharon itu.
Menyadari satu hal, emosi Jacob kembali meledak, "KAU APAKAN ADIKKU, DIRGA!!!"
Wiliam memejamkan kedua matanya. Menghela napas sabar. Ia harus mengeluarkan tenaga cukup besar untuk menahan tubuh Jacob agar tidak maju dan menyerang lebih dulu saat ini.
Dirga lagi-lagi terkekeh, "Eh, itu... Ehm, soal luka dan memar ditubuh adikmu, anak buahku yang melakukannya. Bukan aku. Ya, walau aku juga sempat memberi sedikit, sih." Ia berkata dengan begitu santai, tak memperdulikan Jacob yang saat ini berniat untuk membunuhnya.
Dada Jacob semakin kembang kempis. Jika saja tidak ditahan oleh Wiliam, Dirga mungkin sudah mati ditangannya.
"KAU BERTINDAK KASAR PADA ADIKKU, DIRGA?"
"Hey, aku bilang anak buahku, bukan aku!"
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA SHARON!!"
"Dia gadis yang bawel, dan rese. Aku dan anak buahku hanya memberi pelajaran kecil padanya, Jack."
"KALIAN MENYIKSANYA! KALIAN MEMUKULNYA! BENAR, BUKAN?"
"Itu hanya peringatan dari kami agar dia bisa diam dan tidak rese. Tapi dia tetap saja menyebalkan."
"KALIAN SEMUA MEMANG BIAD*B!!! BAGAIMANA BISA KALIAN SEMUA MENYIKSA DAN MEMUKUL SEORANG GADIS YANG TIDAK MEMILIKI MASALAH APAPUN PADA KALIAN?"
Jacob meronta, "LEPASKAN AKU, WILIAM. AKAN AKU HABISI MEREKA SEMUA!" Tubuhnya sukses terlepas.
Namun sejurus kemudian....
"Arrkkh." Sharon meronta. Lehernya dicekik oleh Dirga.
Hal itu pula sontak membuat Jacob menghentikan laju kakinya yang sudah bergerak dua langkah.
"Mundur!" kali ini suara Dirga terdengar serius, dan dalam. "Mundur atau adikmu akan mati."
Jacob mendengus marah.
"Jack, mundur!" Wiliam menarik mundur lengan adik ipar laki-lakinya itu.
"Dimana Alesha?" tanya Dirga, serius. Ia sudah tak mencekik Sharon lagi, namun masih tetap menahan tubuh gadis itu.
"KAU TIDAK AKAN PERNAH MENDAPATKANNYA!!"
"Kalau begitu berarti adikmu yang cantik ini yang akan menjadi korban berikutnya. Menyusul bayimu, Alshiba."
"TIDAK AKAN AKU BIARKAN ITU TERJADI!!"
"Oh ya? Lantas bagaimana kau bisa menyelamatkan adikmu ini? Kau pikir aku akan melepaskannya begitu saja? Kecuali kalian menyerahkan Alesha padaku."
Disela keributan, mendadak timbul suara tembakan yang membuat suasana menjadi cukup kacau.
Bastian! Dia muncul sendirian dari arah bekajang Dirga, menembaki anak buah pria itu hingga setengah dari mereka terkapar dengan darah yang mengucur dari kepala.
Memanfaatkan kesempatan, Jacob langsung berlari, menembak Dirga. Meski tembakannya itu meleset. Wiliam juga ikut menyerang, menembaki dan menghajar sisa anak buah Dirga yang lain.
Menyadari posisinya yang tak memungkinkan sebab keenam anak buahnya sudah terkapar antara mati atau tidak hanya dalam hitungan detik. Dirga yang tadi refleks melepaskan tubuh Sharon memilih berlari, disusul satu asisten kepercayaannya.
Ini benar-benar diluar dugaan siapa pun! Bahkan Jacob sangat terkejut sebab mendapati kehadiran Bastian yang sukses membuat misinya berhasil.
Sharon yang sudah takut setengah mati berlari kencang, lantas memeluk tubuh kakak laki-lakinya itu dengan sangat erat.
"Hiks hiks, Jack, aku takut, hiks hiks." Sharon menumpahkan tangisannya dalam pelukan Sang Kakak.
Jacob juga menghembuskan napas dengan lega. Ia sangat bersyukur karna kini adik perempuannya, Sharon sudah bersamanya.
"Mr. Jacob, Sharon." Bastian menghampiri kedua orang tersebut. Ia diam sejenak, melihat Sharon yang menangis sesegukkan dalam pelukan Jacob.
"Tidak apa. Kau bersamaku dan yang lain sekarang. Jangan takut, Sha," ucap Jacob selembut mungkin.
Disaat yang bersamaan, muncul lima pria dari total sepuluh pria yang ikut bersama Jacob dan Wiliam.
"Tuan... Huft... Syukurlah, kita berhasil mendapatkan Nona Sharon," ucap salah satu pria.
"Tidak!" Bastian menyangkal, "Kita masih belum aman! Akan datang tiga puluh orang lain ke tempat ini. Mereka sepertinya sengaja berniat untuk mengkeroyok kalian. Kita harus cepat pergi dari sini!"
Jacob menyerngitkan dahinya, "Darimana kau tahu, Bas?"
"Dari salah satu anak buah Dirga. Dia mengatakannya dengan santai sebelum akhirnya pingsan," jawab Bastian.
"Mana yang lain?" tanya Wiliam pada anak kelima buahnya itu.
"Yang lain terluka parah, Tuan," jawab salah satu pria dengan pasrah.
"Kalau begitu kalian bawa teman-teman kalian ke tempat aman, bahkan kalau bisa bawa saja ke rumah sakit. Jangan pergi ke tempat persembunyian karna mereka bisa jadi memata-matai kalian saat ini!" titah Jacob.
"Lalu bagaimana dengan anda, Nona Sharon, dan Tuan Wiliam?" tanya salah satu pria yang lain.
"Kami akan mencari tempat persembunyian sementara waktu. Akan sangat bahaya jika salah satu dari anak buah Dirga tahu soal tempat persembunyian itu," jawab Jacob.
***
Bastian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalan TOL. William duduk disebelahnya, dan Jacob bersama Sharon dijok kedua.
"Kau yakin masih ingat jalannya, Mr. Jacob?" tanya Bastian.
"Aku masih ingat jelas, Bas. Setahun lalu aku ke sana. Di sana mungkin bisa jadi tempat kita bersembunyi sementara waktu. Aku akan meminta anak buahku yang lain untuk menyusul," jawab Jacob, "Aku akan menghabisi Dirga secepatnya, dalam misi ini. Tidak akan aku lepaskan dia!" geramnya.
Tak ada lagi suara yang terdengar. Mobil itu terus melaju cepat menuju exit TOL simpang Gadog, Bogor.
Sementara Dirga, ia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk melakukan pengerjaan pada Jacob, dan mencari tahu keberadaan Alesha.
Alesha sendiri, di dalam kamarnya, ia baru saja bangun tidur setelah beberapa jam terlelap. Perutnya terasa perih sebab kelaparan. Kebetulan, ia melihat ada senampan nasi goreng pedas campur bakso dan sosis juga jus mangga. Ia baru ingat, tadi pagi Rangga membuatkan sarapan untuknya, tapi sepertinya karna ia ketiduran, jadi disimpan saja sarapan itu di atas meja sebelah tempat tidur.
Alesha tersenyum sembari bergeser kesisi kasur untuk mengambil jatah makannya itu.
"Baby J, maaf, ya, Bunda lupa kasih kamu makan. Bunda juga laper sekarang," ucap Alesha sembari mengusapi perutnya. Ia sedikit terkekeh, mengingat usia kandungannya yang sudah menyentuh angka lima minggu. Sudah seukuran apa Baby J? Sudah sejauh mana perkembangannya? Terakhir cek kehamilan ke dokter, syukur sekali, Baby J dalam kondisi sehat, juga Alesha pastinya.
Alesha ingat, saat ia hamil Khalid dan Alshiba dulu, porsi makannya jadi bertambah banyak. Berat badannya bahkan naik cukup drastis. Meski akhirnya ia harus menerima kenyataan pahit soal ia yang melahirkan diusia kandungan kedua puluh delapan minggu, lalu tidak lama setelah itu, ia kehilangan kedua bayinya untuk selamanya.
"Al...."
Alesha menoleh ke asal suara.
Rangga rupanya.
Pria itu duduk ditepian kasur, berhadapan dengan Alesha yang juga tengah makan di atas kasur.
__ADS_1
"Baru kau makan?" tanya Rangga.
Alesha mengangguk, "Aku baru bangun."
Rangga terkekeh, "Semenjak hamil kau jadi banyak tidur, ya. Padahal biasanya, kau sedang bermain dengan Bonny, Bunnie, Moza, dan Mauza di ladang atau halaman rumah kita."
Alesha mengangkat kepalanya, menatap Sang Kakak.
"Aku masih ingat jelas, Al. Saat pertama kali kau melihat keempat hewan itu di rumah salah satu petani di pedesaan, beberapa hari setelah kita pindah ke Amerika, kau memaksa untuk minta dibelikan mereka." Rangga tertawa kecil, mengenang moment manis itu, "Kau bahkan bersedia bekerja satu bulan tanpa dibayar di petani itu agar bisa mendapatkan mereka. Setelah itu, setelah kau berhasil mendapatkan mereka, aku ingat sekali, kau langsung membuatkan rumah-rumahan kayu untuk mereka dan menyimpannya di kamarmu."
"Iya! Tapi aku kesal sekarang! Mereka diculik oleh Nakyung, Maudy, dan Merina!" Alesha mendengus sebal.
"Soal itu...." Rangga kikuk. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Sebenarnya aku yang menyuruh mereka membawa keempat hewan peliharaanmu."
"APA?" Alesha memekik. Menatap tidak percaya pada Rangga.
"Kau sedang hamil, bulu Moza dan Mauza sedang rontok banyak. Itu sangat berbahaya untuk kehamilanmu. Jadi aku meminta ketiga temanmu itu untuk menjaga Moza, Mauza, Bonnie, dan Bunny setidaknya sampai kau lahiran nanti," jelas Rangga dengan tampang bersalahnya.
"Kau menyebalkan, Rangga?" Alesha protes, "Harusnya kau izin dulu padaku!"
"Kalau aku izin dulu, memangnya kau akan mengizinkan?" Rangga membalas cepat.
Alesha memajukan bibirnya. Cemberut. Sebal. Marah pada Rangga.
"Aaww!!" Alesha meringgis ketika Rangga mencubit pipinya dengan gemas.
"Kau semakin terlihat lucu saat sedang marah," kekeh Rangga.
"Sakit tahu!" bentak Alesha. Tapi memang begitulah Rangga, Alesha selalu kesal saat Rangga justru malah menggodanya ketika ia sedang marah atau merajuk.
"Eh, jangan marah-marah, nanti cepat tua!" ledek Rangga.
"Kau yang sudah tua! Tiga puluh tiga tahun! Aku dua puluh tiga saja masih kurang beberapa bulan! Aku masih muda!" balas Alesha bersama pelototan matanya.
"Oh ya?" Rangga terkekeh.
"Sudahlah! Kau menganggagu waktu makanku!"
"Dasar ambekan!"
Alesha tak menanggapi. Ia melahap suapan makanannya dengan sebal.
"Pelan-pelan. Nanti kau tersedak," ucap Rangga.
"Tidak akan!"
"Eh, kau marah sungguhan padaku, Al?"
"Iya!"
"Hanya karna aku menitipkan keempat hewanmu itu pada kawan-kawanmu!"
"Iya!"
Rangga menyerngitkan dahinya, "Aku sudah bilang. Bulu Moza dan Mauza sedang rontok banyak..."
"Tapi kau seharusnya tidak sembarangan menitipkan mereka! Aku tahu itu bahaya! Aku juga tidak akan dekat-dekat. Mereka biasa main di halaman belakang, aku bisa melihat mereka dari dalam rumah!" Alesha memotong cepat ucapan kakaknya.
Rangga mendengus, "Baiklah, maaf kalau begitu."
"Aku mau kau bawa mereka kembali, Rangga!"
"Iya. Tapi tidak sekarang, Al." Rangga mengalah. Untuk saat ini, cukup 'Iya' kan saja ucapan Alesha yang lebih sensitif, daripada cari ribut.
"Pokoknya kalau semua sudah baik-baik saja. Aku mau Moza, Mauza, Bonnie, dan Bunnie kembali pulang!"
"Iya, Adikku yang cantik, iya," balas Rangga, "Bawel!" lanjutnya, pelan.
"Kau bilang apa barusan?" bentak Alesha.
"Bilang, Alesha yang cantik yang baik yang pintar, pokonya yang segalanya." Rangga berusaha menunjukkan senyum terbaiknya.
"Halah..." Alesha memutar kedua bola matanya dengan jengah.
***
Ini sudah sore menjelang malam. Jacob masih belum kembali.
"Al, tenanglah..." ucap Rangga.
"Aku belum mendengar kabar suamiku, Rangga. Aku takut," lirih Alesha. Ia sejak tadi berjalan mondar-mandir di ruangan utama.
"Tuan baik-baik saja, Nona," ucap Taylor yang tiba-tiba saja datang, "Tuan Jacob dan Tuan Wiliam berhasil menyelamatkan Nona Sharon, dengan bantuan Bastian."
"Bastian?" ulang Alesha. Satu sisi ia bahagia mendengar kabar itu, namun sejurus kemudian, ia menyerngit bingung. Bastian ikut? Bastian tahu soal penculikan Sharon?
"Iya. Bastian. Teman anda, Nona. Dia berhasil membantu diwaktu yang tepat. Tapi saat ini, Tuan Jacob dan yang lain belum bisa kembali ke sini. Akan sangat bahaya, anak buah Dirga bisa jadi memata-matainya, dan bisa jadi fatal jika anak buah Dirga tahu soal bungker ini. Jadi, untuk sementara, Tuan Jacob dan yang lain sedang bersembunyi disuatu tempat dan mengonsolidasi rencana."
"Apa aku bisa bicara dengannya?" lirih Alesha.
Taylor diam sejenak. Bisa atau tidak, ya? Pasalnya, Jacob bilang jangan ada yang menghubungi jika bukan dihubungi sebab dikhawatirkan sistem komunikasi mereka diretas oleh anak buah Dirga.
"Maaf, Nona, sepertinya tidak untuk sekarang," jawab Taylor, sedikit merasa bersalah.
Alesha menundukkan kepalanya. Baiklah, tidak apa. Setidaknya ia tahu dan bisa sedikit tenang setelah mengetahui kabar terakhir suaminya yang baik-baik saja.
Disisi lain, Jacob pun sama, ia sedang termenung sendirian diatas balai bambu, rumah panggung milik seseorang yang pernah menjadi gurunya saat ia masih menjadi murid WOSA dulu. Arah pandangnya terus tertuju pada layar beranda ponselnya. Walpaper yang terpajang adalah foto Alesha yang tengah tersenyum manis sembari memeluk sebuah buket bunga saat sedang hamil mendiang Si Kembar. Sudah dua tahun kurang lebih ia memakai foto itu sebagai tampilan layar beranda ponselnya. Tidak pernah sekali pun ia merasa bosan. Saat ini, yang ada dalam hati dan perasaannya adalah kerinduan terhadap Sang Istri. Satu minggu ia sibuk dalam misi. Saat ia pikir setelah ia kembali pulang, ia bisa menghabiskan waktunya bersama Alesha. Namun sebab ulah Dirga, tersangka yang sudah membunuh putrinya membuatnya harus kembali berpisah dengan Alesha entah untuk berapa hari lamanya.
"Al, kau sedang apa sekarang?" lirih Jacob.
"Jack..."
Suara berat yang khas mendadak muncul, tertangkap oleh indra pendengaran Jacob.
"Kau sedang apa?"
Jacob menoleh keasal suara.
"Mr. Galuh." Jacob tersenyum, "Tidak ada."
"Bohong. Kau pasti sedang merindukan istrimu, kan?"
Mr. Galuh duduk bersila disebelah Jacob. Usianya enam puluh lima tahun. Mantan agent intelegent SIO juga, namun ia sudah pengsiun sejak SIO memutuskan untuk menutup WOSA sementara waktu. Maklum, sudah tua. Ia ingin hidup tenang dan damai dengan dunianya sendiri. Yaitu membuat sebuah rumah di kaki Gunung Salak dan menjadi petani kebun jagung, kebun cabai, dan memiliki beberapa hektare sawah. Ia bukan mentor Jacob, tapi ia sering berkunjung ke WOSA, dan mereka sering latihan bersama.
Jacob tersenyum kecut atas tebakan Mr. Galuh yang akurat itu. "Iya, aku merindukan Alesha."
Mr. Galuh terkekeh, "Saling rindu, saling tidak dapat bertemu. Duh, kasiannya kalian."
Jacob menghela napas sabar. Ya, memang kasian sekali nasibnya saat ini. Belum bisa menghabiskan waktunya bersama Sang Istri.
"Oh ya, aku dengar SIO baru saja berhasil menangkap musuh bubuyutan. Benar itu?" tanya Mr. Galuh seraya mengubah posisi duduknya menjadi lebih rileks.
Jacob mengangguk, "Musuh lama. Vincent, dan musuh baru, komplotan mafia, anak buah Theo. Aku dan yang lain lah yang sukses meringkus mereka. Sekarang mereka ada di sel khusus di kantor SIO, Bandung sebelum dipindahkan ke sel tahanan yang jauh lebih ketat lagi milik SIO di Selandia Baru."
"Lalu bagaimana kabar istrimu?"
Jacob tersenyum, "Dia baik, kandungannya juga baik. Hanya saja, dia selalu sedih saat aku harus meninggalkannya dalam misi."
"Dia putri Profesor Danu, kan?"
Jacob mengangguk.
"Huftt.... Profesor Danu...." Mr. Galuh menghela napas cukup panjang, "Aku mengenalnya. Dia seorang yang sangat baik hati, rajin beribadah, dan cerdas. Istrinya pun sama, seorang perempuan alim. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah sebulan sebelum dia dan istrinya meninggal karna kecelakaan itu. Sangat malang sekali nasib Alesha, masih kecil harus kehilangan kedua orang tuanya."
Jacob diam. Menyimak cerita Mr. Galuh.
"Setahuku Profesor Danu memang memiliki beberapa musuh, Jack. Entah sesama profesor atau pengusaha. Kau harus berhati-hati jika tidak mau kehilangan istrimu karna masa lalu mendiang mertuamu. Terakhir kali aku bertemu dengan Alesha, saat ia akan masuk sekolah menengah pertama, dan ya, aku juga tahu soal Alesha yang mendapatkan undangan dari WOSA untuk ikut seleksi. Aku tahu kalau dia akan lolos. Dia mewarisi kepintaran bapaknya. Buktinya, diusianya yang masih remaja, ia sudah diterima disebuah Universitas, jalur beasiswa pula. Aku yakin, anak kalian nanti pasti akan menjadi bibit unggul, Jack."
Jacob tertawa kecil saat mendengar kalimat terakhir Mr. Galuh. Semoga saja, Baby J akan tumbuh menjadi anak yang membanggakannya juga istrinya kelak dimasa depan.
*
*
*
Buat kalian yang masih suka datang baca, apalagi like juga komen karya ini. Makasih banyak, ya πππ Makasih banyak banget udah bertahan baca novel ini sampe sejauh ini. Maaf juga atas banyaknya kekurangan dari author ππ
Author cuman mau sampein, kalau author belum bisa tamatin novel ini dalam waktu dekat. Kenapa? Karna author masih belum bisa pisah sama Jacob juga Alesha. Author sayang banget sama mereka walau hanya sekedar fantasi yang dituangkan dalam tulisan. Kalau sekiranya kalian bosen, jengah, capek atau sejenisnya karna novel ini gak tamat atau terkesan gak berujung juga, sekali lagi, author minta maaf banget. Hak kalian buat tetap baca cerita ini, atau pergi karna udah terlalu bosen.
Tapi satu, author bakal terus lanjutin novel ini, di sini! π€ Sampe tamat! π€ Tapi tamatnya masih lama. Dan seandainya tamat pun, author kemungkinan bakal bikin sequel lanjutan π€
__ADS_1
Sekian terima kasih πππ€