
Alesha menangis pasrah. Ia bersandar pada dashboard, membiarkan Jacob memeluknya dari depan.
"Al, percayalah... Kau belum mengingat semuanya. Jangan seperti ini, kasihanlah pada janin yang sedang kau kandung, Al," lirih Jacob.
Pertengkarannya bersama Jacob beberapa saat lalu membuat Alesha merasa lelah. Tubuhnya lemas, tapi hatinya begitu terluka. Apa yang mesti ia lakukan? Jacob tidak mencintainya.
"Jack, pergilah, aku mohon, aku ingin menenangkan diriku sendiri saat ini. Hiks hiks."
Jacob menggelengkan kepalanya. Ia takut jika ia menuruti permintaan Alesha barusan, istrinya itu akan melakukan hal-hal buruk.
"Pergi!" Alesha mendorong lemah tubuh suaminya. "Hiks, Kakek..."
Jacob memejamkan matanya erat-erat. Tetap menahan Alesha dalam pelukannya.
"Kakek..." parau Alesha. Namun tiba-tiba saja, kedua pipi Alesha menggembung. Cepat-cepat ia menutup mulut menggunakan kedua telapak tangannya.
Oh ya ampun. Rasa mual menyerang Alesha diwaktu yang tidak tepat.
Alesha memukuli bahu suaminya dengan cepat, mengisyaratkan untuk menyingkir.
"Uek!!"
"Lil Ale, kenapa?" tanya cemas Jacob sembari melepas pelukannya.
Enggan membuang waktu, Alesha langsung mendorong sekuat tenaga tubuh Jacob dan membuat pria itu menjauh darinya, setelah itu, ia turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.
"Uek! Uek!"
Jacob menyusul. Ia berdiri tepat disisi kiri belakang istrinya. "Alesha..."
"Uek! Uek! Argh!" Alesha memejamkan kedua matanya, merasakan sensasi ngilu dikepalanya. "Uek!"
Tidak ada apapun yang keluar dari dalam mulut Alesha. Tapi perasaan mual itu semakin membuat Alesha pasrah. Ia mencengkram kuat pinggiran wastafel saat tubuhnya oleng dan nyaris terjatuh. Untung saja ada Jacob yang dengan sigap menahannya.
"Kau mual, Al? Biar aku ambilkan air hangat, ya."
Alesha tak memperdulikan ucapan Jacob barusan.
"Uek!" sekali lagi, dan terakhir. Alesha membalikkan tubuhnya, berjalan gontai menuju tempat tidur. Ia menepis lengan Jacob yang ingin membantunya berjalan. "Tidak usah perdulikan aku!"
Jacob terhenyak. Ya ampun, kenapa Alesha jadi seperti ini, sih? Ini semua hanyalah kesalah pahaman.
"Aku bilang tidak usah perdulikan aku! Pergilah. Kau ingin Yunamu kembali, kan? Cari dia sana! Aku bukan Yuna!"
Sekuat tenaga Jacob menahan emosinya.
"Jangan sok perduli padaku, Mr. Jacob!"
Jacob acuh. Tak banyak kata, ia mengangkat tubuh istrinya, dan membawa bumil itu ke atas tempat tidur.
"Turunkan aku!" Alesha memukuli dada suaminya. "Hiks, Mr. Jacob, aku mohon aku ingin sendiri..."
Jacob tetap acuh. Ia naik ke atas kasur, mendudukan Alesha dengan hati-hati.
"Jack, hiks." Alesha menatap suaminya dengan penuh air mata. "Aku ingin sendiri, aku mohon."
Jacob menggelengkan kepalanya. "Itu bukan jalan yang baik untuk menyelesaikan masalah ini, Al."
Bugh!
Alesha memukul dada suaminya. "KAULAH MASALAHNYA!"
Jacob menahan pinggang Alesha dengan kuat, sementara Alesha terus memukuli tubuhnya.
"Hiks, kau adalah masalahnya! Kenapa kau selalu menyamakanku dengan Yuna, Jack? Hiks, kenapa kau menikahiku? Aku bukan Yuna, hiks, aku bukan Yuna. Jangan samakan aku dengan Yuna, Jack!"
Jacob terpejam erat. Ia akan membiarkan Alesha mengeluarkan semua keluh kesahnya.
"Kau tahu apa yang aku rasakan sekarang, Jack? Hiks. Kau tahu? Apa yang terjadi pada dirimu, dan APA yang akan kau rasakan saat AKU MENGKHIANATIMU? Hah! JAWAB!"
Alesha mendorong tubuh suaminya, namun itu sia-sia. "Tidak! Aku salah. Kau tentu tidak akan merasakan apapun. Kau tidak mencintaiku! Hiks."
Alesha mulai berhenti memukuli suaminya. "Hiks, kau tidak mencintaiku, Jack. Hiks, aku bukan Yuna." Ia menempelkan kedua telapak tangan, dan wajahnya pada dada Jacob. "Hiks, aku bukan Yuna, Mr. Jacob, jangan samakan aku dengan Yuna..."
Perlahan, Jacob mulai mendekap tubuh Alesha. Mengusap lembut rambut istrinya itu hingga punggung beberapa kali.
"Hiks, Mr. Jacob... Aku bukan Yuna," kini, Alesha lebih tenang. Ia menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.
"Salam kenal, Yuna. Aku doa kan semoga kau tenang ya. Kami sudah menemukan jasadmu dan akan segera mengembalikanmu pada keluargamu." Alesha mengelus pelan permukaan kulit wajah Yuna yang dingin dan beku.
__ADS_1
"Jangan pernah lagi merasa cemburu terhadap Yuna, jangan pernah lagi berpikiran kalau aku mencintaimu karna kau memiliki aura yang sama dengan Yuna. Sekarang aku hanya akan mencintaimu, Alesha. Yuna sudah menjadi masa laluku, aku tidak akan melupakannya, tapi aku juga tidak akan pernah mengingat-ingatnya lagi. Percayalah, aku sudah mengikhlaskan kepergian Yuna dan melepaskan semua beban yang aku tanggung selama lima tahun sejak Yuna hilang. Dan berkatmu, kini aku bisa terbebas dari rasa bersalahku terhadap Yuna. Terima kasih, Alesha, terima kasih banyak." Jacob meraih lingkar pinggang Alesha lalu mengangkat tubuh gadis itu sembari memberikan pelukan yang begitu erat.
" Ada sesuatu yang ingin kau katakan pada Yuna?" Tawar Jacob disertai seukir senyum kecil yang tampak manis.
Mendapat pertanyaan seperti itu membuat Alesha kebingungan untuk memberikan jawabannya. Ia pun menatap bolak-balik kepada mentornya dan jenazah Yuna.
"Katakan saja apa ingin kau katakan, yang ada dalam hati dan kepalamu, Alesha." Lanjut Jacob.
Lalu Alesha memantapkan pandangannya pada Yuna. Menarik napas, dan menghembuskannya, kemudian Alesha mulai membuka suaranya. "Kau adalah gadis cantik, senang bisa membantu Mr. Jacob untuk menemukanmu dan tiga temanmu yang lain. Selamat tinggal, dan selamat jalan, Yuna. Mr. Jacob merasa beruntung karna pernah memilikimu dihatinya." Setelah mengucapkan potongan kalimat itu, Alesha pun beralih dengan menatap pada mentornya.
Alesha menggelengkan kepalanya sembari mengerjapkan mata beberapa kali. Apa itu tadi? Potongan ingatan yang telah kembali?
"Yuna..." gumam Alesha. Ia terus menggelengkan kepalanya. Ada sesuatu yang ia lihat lewat pikirannya.
Rasa penasaran Alesha mendadak muncul hingga mulai mengalahkan rasa takutnya. Ia semakin gencar menggali hingga akhirnya ia berhasil mendapati satu wajah milik seorang gadis yang selalu dimiripkan olehnya.
"Yuna!" Lirih Alesha sembari menatap tidak percaya pada wajah cantik yang sudah tertimbun oleh gundukan salju selama lima tahun lamanya.
Himalaya!
Ya! Alesha ingat! Di Himalaya! Tapi, apa yang ia lakukan di Himalaya? Bukankah itu pegunungan bersalju?
"Al, ada apa?" Jacob mendapati Alesha yang terlihat kebingungan.
Alesha menggelengkan kepalanya. "Hiks, Yuna.." gumamnya disela-sela sesegukkan. Alesha melihatnya. Ingatan itu membawa sebuah gambar wajah. Alesha masih berusaha memfokuskan pikirannya, memperjelas gambar yang ingatannya itu tunjukkan. Samar-samar, ia dapat melihat Yuna, di atas ranjang mayat dengan tubuh, dan wajah yang sudah membiru, beku.
"A..apa, hiks, ya..yang terjadi de..ngan Yuna, hiks, Jack?"
Jacob menyerngitkan dahi. "Kau ingat sesuatu, Al?"
"Apa yang terjadi dengan Yuna? Hiks," ulang Alesha, lebih tegas. "JAWAB AKU, APA YANG TERJADI DENGAN YUNA!!"
"Dia mati, Al!"
"Apa yang membuatnya mati?" Alesha menatap tajam suaminya.
Jacob menghela napas panjang. Jawaban ini, akan terasa menyakitkan untuk Jacob. Mengingat kembali tentang kematian Yuna adalah hal yang begitu enggan Jacob lakukan, karna ia tahu, ia bisa jadi begitu lemah jika mengingat hal itu. Tapi sekarang, Alesha justru membawanya kembali pada kejadian itu. "Dia meninggal karna kecelakaan, Alesha. Di Himalaya," lanjut Jacob, pasrah. "Dia tertimbun dalam tumpukan salju."
Deg!
Benar rupanya!
Alesha bisa melihatnya dengan sangat jelas. Ingatan yang baru kembali itu membuka portal yang menunjukkan dirinya tengah menggali gundukkan salju sedalam beberapa puluh centi hingga akhirnya menemukan sebuah wajah yang bukan lain adalah gadis yang menjadi biang permasalahannya bersama Jacob saat ini.
"Jack, hiks, kau salah!" Alesha memukul dada suaminya. "Aku bukan Yuna! Aku berbeda dengannya!"
"Kau memang bukan Yuna, Al. Aku bukan Yuna!" Jacob memantapkan pandangannya pada Alesha. Ia menggelengkan kepalanya. "Hey, aku minta maaf soal waktu itu, saat aku sering menyamakanmu dengan Yuna. Tapi, tapi sekarang, bahkan sejak kita belum menikah, aku sudah menyadarinya, kau bukan Yuna. Kalian berbeda. Alesha, ingatanmu belum sepenuhnya kembali. Aku mohon, kau salah paham, jangan seperti ini."
"Hiks, aku melihatnya, Jack. Aku yang menemukan Yuna di Himalaya," lirih Alesha.
Deg!
Jacob tercekat. Alesha ingat tentang hal itu. Sungguh?
"Aku ingat, Jack. Hiks, tapi, tapi tetap saja, hiks, kau menyamakanku dengan Yuna, kau mendekatiku karna aku mengingatkanmu pada Yuna, seolah aku adalah sosok yang bisa membuatmu selalu dekat dengan Yuna. Kau mengkhianatiku kalau begitu, Jack. Hiks hiks, kau tidak mencintaiku."
Jacob menggelengkan kepalanya. "Alesha, aku menikahimu bukan karna Yuna, aku mencintaimu bukan karna Yuna. Sekali lagi, kau salah paham. Kau belum ingat semuanya!" Jacob berusaha bertegas.
Alesha mengelak. "Cukup, lah. Aku lelah. Aku ingin tidur! Pergi! Aku mau sendiri malam ini!"
Jacob menolak. "Kita akan tidur bersama."
"Tidak mau!" Alesha bersikeras. Ia mulai memberontak kembali. "KAKEK!! RANGGA!!!"
"Alesha, ayolah, tidak perlu memperbesar masalah ini!" Jacob mulai frustrasi.
"KAKEK!! RANGGA!! TOLONG AKU!!"
Di luar, Rangga, Kakek Ujang, dan kedelapan kawan Alesha pun yang mendengar teriakan Alesha pun sontak terkejut. Cepat-cepat mereka menuju pintu kamar Alesha, takut jika Alesha diperlakukan tidak baik oleh Jacob.
"ALESHA!"
Dug!
Dug!
Dug!
Rangga menggedor pintu.
__ADS_1
"MR. JACOB!!"
Bastian pun sama, ia dengan Lucas dan Mike menggedor pintu itu.
"KAKEK!! RANGGA! TOLONG AKU! MR. JACOB..."
Jacob terpaksa membekap mulut Alesha.
"JACOB! JIKA MELAKUKAN HAL-HAL BURUK PADA ALESHA, AKU AKAN MENGHABISIMU!" teriak Rangga penuh emosi.
"Hiks, Mr. Jacob, aku ingin sendiri," lirih Alesha.
Jacob menghembuskan napasnya dengan pasrah. Melihat Alesha yang menangis seperti itu membuat hatinya tidak tega.
"MR. JACOB!!" kali ini Mike yang memekik.
"ALESHA, APA YANG TERJADI?" teriak Lucas.
"Mr. Jacob, hiks, aku mohon..."
Huft... Baiklah! Baiklah, Jacob akan mengalah! Ia akan membiarkan Alesha tidur sendiri malam ini!
Dengan berat hati, Jacob mengangguk. "Baiklah, Al. Tidak apa."
Sejurus kemudian.
Cup.
Jacob mencium lembut, dan sedikit menekan kepala Alesha agar ciumannya dapat lebih terasa.
"Aku mencintaimu."
Alesha memalingkan pandangannya saat Jacob berucap itu.
"ALESHA!! ALESHA, APA YANG TERJADI?" suara Bastian.
"JACOB, KAU APAKAN ADIKKU?!" suara Rangga.
Jacob tak membalas. Ia hanya bergerak menjauhi Alesha dengan lemah. Lalu berjalan pasrah menuju pintu.
"ALES..."
Ceklek.
Pintu terbuka.
Jacob berdiri tepat dihadapan Rangga, Kakek Ujang, dan kedelapan anak didiknya yang terpaku kaget sebab pintu tiba-tiba saja terbuka. Ia menunduk, wajahnya datar.
"Jacob, apa yang kau lakukan pada Alesha?" tuntut Rangga.
Jacob tidak membalas. Ia melangkah lemas begitu saja melewati yang dihadapannya.
"Al!" Maudy segera berlari ke dalam kamar, menghampiri Alesha yang masih menangis tersedu-sedu. "Alesha, apa yang terjadi? Mr. Jacob menyakitimu?" tanya cemas Maudy.
"Neng, Neng kenapa? Neng gak apa-apa, kan?" Kakek Imran menatap lekat penuh khawatirin pada cucunya.
Alesha menggelengkan kepalanya. "Neng pengen tidur aja, Kek. Neng capek, hiks," lirih Alesha.
"Alesha, tapi kau tidak apa-apa?" Tyson bertanya cemas.
Alesha mengangguk lemas.
Rangga menyipitkan kedua matanya, memastikan jika Alesha tidak apa-apa. Beberapa menit kemudian, ia memilih keluar untuk menemui Jacob.
"Jack, apa terjadi?" tanya Rangga setengah beremosi.
Jacob tidak menjawab. Ia duduk disofa, berusaha menenangkan pikiran dan dirinya.
"Jack, kenapa Alesha?" Rangga menuntut.
"Dia ingin menenangkan dirinya tanpaku malam ini," jawab Jacob pelan dan datar.
"Apa yang kau lakukan pada Alesha?" Rangga menatap kilat penuh amarah pada adik ipar angkatnya itu.
"Menjelaskan jika dia salah paham. Tapi Alesha masih sulit menerimanya," lagi dan lagi Jacob hanya membalas datar dan pelan.
"Kau tidak melakukan hal buruk padanya, kan, Jack?" Rangga menyipitkan kedua matanya. Curiga.
Jacob menggelengkan kepala, pelan. Bagaimana bisa ia menyakiti Alesha secara fisik? Melihat Alesha yang menangis saja hati tersayat.
__ADS_1