Jacob And Alesha: Mafia Acted

Jacob And Alesha: Mafia Acted
Taring Musuh Yang Mulai Nampak


__ADS_3

"Haris...." Jacob menghampiri keponakannya yang tengah asik bermain gelembung sabun sembari berlari ke sana kemari.


"Paman Jack, lihat gelembungnya!" seru girang Haris.


Jacob terkekeh. "Kita pergi sekarang, ya." Ia menggendong tubuh mungil Haris, "Kita jalan-jalan ke tempat yang pastinya menyenangkan. Mau?"


Haris mengangguk cepat. "Kapan? Sekarang, kan, Paman?" tanya bersemangat.


"Iya, Sayang. Sekarang berikan gelembung sabun dan balon itu pada Paman Taylor. Kau tidak mungkin memainkannya di dalam mobil," balas Jacob.


"Oke. Paman Taylor! Ini, ambil!" Pria kecil itu menyerahkan dua mainannya pada Taylor, dan Taylor sendiri menyerahkan dua mainan itu pada anak buahnya yang lain.


"Tante Alesha dimana, Paman Jack?" tanya polos Haris.


"Sudah di dalam mobil," jawab Jacob sembari merapikan posisi rambut Haris yang sedikit acak-acakkan.


Kini, tujuan mereka selanjutnya adalah tempat wisata alam, Gunung Tangkuban Perahu yang mana tempat itu memiliki banyak kenangan manis Alesha bersama kedua orang tuanya.


"Tante, Momy bilang Tante sedang hamil, ya?" tanya polos Haris sembari memakan snack jagung yang Taylor belikan tadi.


Alesha tertawa kecil mendengar itu, "Iya. Tante sedang hamil. Kenapa?"


"Hamil itu apa, sih, Tante?"


Plak!


Jacob menepuk keningnya sembari tertawa. Ya ampun, pertanyaan keponakannya barusan benar-benar terdengar lucu dan polos. Bagaimana bisa Haris bertanya seperti itu, hey?


"Hamil itu... Ehm..." Alesha menatap suaminya. Bagaimana ia harus menjelaskan pada Haris? Bocah itu masih terlalu kecil.


"Hamil itu tandanya di sini." Jacob menyentuh perut istrinya, "Ada calon adik baru untukmu, Haris." Ia terkekeh dengan penjelasannya sendiri.


Haris masih tidak mengerti. Ia melayangkan tatapan heran pada pamannya.


Jacob menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ehm, intinya, di dalam perut Tante Alesha itu ada calon bayi, dan adik baru untukmu, Haris."


"Bagaimana bisa ada bayi di dalam perut Tante Alesha?" Haris menatap heran ke arah perut Alesha.


Alesha tertawa geli mendengar itu. Bagaimana ada bayi dalam perutnya? Ia tidak mungkin menjelaskan bagaimana prosesnya pada Haris. Pria kecil itu baru berumur dua tahun lebih sepuluh bulan. Tidak akan paham.


"Haris memang banyak tanya, Al. Dia selalu menanyakan banyak hal, dan akan terus bertanya jika belum mengerti," ucap Jacob sembari mengelus puncak kepala Haris.


Cup.


"Ish! Paman!" Haris mendengus kesal. Jacob baru saja mencium pipinya dengan gemas barusan. Itu membuat pipinya sedikit sakit sekarang.


"Cium pipi Paman sekarang," pinta Jacob sembari menyodorkan pipinya pada Haris.


"Tidak mau!" tolak tegas Haris.


Hal itu membuat Alesha tertawa kecil. Ia cukup terhibur sekarang. Perasaannya juga lebih baik.


"Tidak akan Paman belikan mainan lagi nanti!" ancam Jacob.


"Belikan aku robot dinasaurus dan teman-temannya dahulu. Baru aku mau!" Haris mengerucutkan bibirnya.


"Eh, kan Paman sudah janji. Paman akan membelikkannya nanti!"


"Bohong! Buktinya Paman belum membelikan sampai sekarang!"


"Oh ya? Paman Jack belum menepati janjinya?" Alesha mencoba ikut masuk dalam percakapan antara paman dan keponakan itu.


Haris menggelengkan kepalanya. "Dia sudah berjanji sejak lama, Tante!" Ia melirik kesal pada Jacob.


Yang dilirik tersenyum kikuk.


"Kalau begitu, nanti Tante akan memaksanya untuk segera membelikan robot dinasaurus yang kau mau. Tapi, sebelum itu, apa Tante boleh minta satu permintaan, Haris?"


Sebelah alis Jacob terangkat. Memasang tatapan curiga pada istrinya.


"Apa, Tante?" tanya Haris, bersenang hati.


"Bisa kau cium pipi Tante?" Alesha mengedipkan sebelah matanya.


Haris tersenyum lebar saat mendengar itu. Sejurus kemudian, ia mengangguk, bersedia.


Disisi lain, Jacob mendengus malas. Ia memutar kedua bola matanya saat melihat Haris yang mencium lembut kedua sisi pipi Alesha.


"Dasar pilih-pilih. Awas kau, ya. Tidak akan Paman belikan mainan dinasaurus dan teman-temannya itu." Jacob merajuk.


"Ish, Tante!" Haris mengerucutkan bibirnya pada Alesha. Mengadu kesal karna ucapan Jacob, pamannya itu.


"Jack...." Alesha memanggil lembut dengan senyum dan tatapan peringatan darinya.


Jacob mendengus.


"Tante.... Paman Jacob bohong, kan? Dia padahal sudah janji. Aku akan bilang pada Momy nanti!" Kedua kelopak mata Haris sudah berkaca-kaca.


"Dasar cengeng. Beraninya mengadu pada momynya!" dumal Jacob yang tentu terdengar oleh Haris, membuat pria kecil itu mulai menangis sungguhan.


"Tante! Paman Jack jahat! Hiks hiks. Nanti aku akan bilang pada Momy kalau Paman Jack bohong! Hiks, dia janji mau membelikan aku mainan itu. Tapi dia bohong! Hiks hiks." Haris menangis lirih sesegukkan pada Alesha.


"Dasar lebay! Cengeng! Selalu mengadu! Itu bukan pria namanya! Kau bukan pria kalau beraninya mengadu pada Momy mu!" Jacob masih belum mau mengalah. Karna memang begitulah ia, sering membuat Haris menangis karna perdebatan tidak penting mereka dan membuat Mona marah dan terus mengomelinya.


"Hiks hiks.... TANTEEE...." tangis Haris semakin parah karna ucapan Jacob barusan. Ia memeluk Alesha dan terisak sesegukkan dipundak Alesha.


"Apa?" tanya malas Jacob saat mendapati tatapan maut dari istrinya. "Biar saja. Dia memang seperti itu. Cengeng! Nanti juga mengadu pada Mona, momy nya." Ia memutar kedua bola matanya dengan jengah.


"HUWAAA AA..... TANTE... HIKS HIKS."


"AW! AW! ADUH ADUH! Sakit! Al, ya ampun, sakit, Al!" Jacob memekik sembari berusaha menghindar dari cubitan istrinya.


"Kau membuat Haris menangis tahu!" marah Alesha.


"Ya memangnya kenapa? Aduh! Al, sakit!" Jacob melayangkan tatapan protesnya.


"Memangnya kenapa? HEH! Haris keponakanmu! Dia masih kecil! Kau seharusnya mengalah, Mr. Jacob!"


Plak!


"ADUH! Alesha, sakit!" Jacob merintih sembari mengelusi pahanya yang terkena tamparan keras Alesha.


Taylor yang sejak tadi terus mengemudi dan menyimak hanya menggelengkan kepalanya sembari tertawa kecil.


"Hiks hiks. Huwaaa, Tante, Paman Jack nakal. Hiks hiks."


"Kau ke keponakanmu saja seperti ini! Bagaimana ke anakmu nanti?" Alesha melotot kesal pada suaminya.


Yang dipelototi diam menunduk sembari terus mengusapi bagian tubuhnya yang terkena cubitan Alesha.


"Minta maaf pada Haris dan berjanji untuk segera memenuhi janjimu padanya soal mainan itu!" titah Alesha.


Jacob diam. Ia sudah seperti anak kecil yang sedang diomeli oleh ibunya saat ini.


"Turuti ucapanku sekarang, Mr. Jacob! Atau aku akan marah dan mendiamkanmu lagi!"


"Eh, iya iya. Baiklah...." Sedikit terpaksa. Akhirnya Jacob mengalah. "Haris, hey...." Ia menepuk pelan pundak Haris yang masih memeluk erat istrinya. "Haris, Paman minta maaf. Paman janji akan segera membelikan kau mainan itu. Ayo, kita berdamai sekarang."


"Hiks hiks." Haris masih acuh.

__ADS_1


"Haris. Hey, bagaimana kalau saat ini juga paman pesankan mainan itu?" goda Jacob. Yaps, itu adalah satu cara ampuh untuk mengakhiri permasalahannya dengan Haris.


"Benar?" Haris langsung membalikkan tubuhnya, menghadap Jacob.


Jacob mengangguk seraya tersenyum menang. "Ayo, kita pesan sekarang. Tapi, kau harus memaafkan Paman dulu, dan berjanji tidak bilang pada Momy mu soal Paman yang membuatmu menangis barusan."


Dengan cepat Haris mengangguk. Ia langsung melepaskan pelukannya dan sedikit membuat Alesha terkejut. Ia mendekati pamannya.


"Kita baikan." Jacob menjulurkan telapak tangan kanannya.


Hari mengangguk cepat. Ia membalas jabatan tangan pamannya itu.


"Salam perdamaian," ucap Jacob.


Sekali lagi, Haris mengangguk. Sejurus kemudian, ia menatap lamat-lamat pamannya. Tatapan polos berkaca-kaca sisa menangis tadi.


Jacob terkekeh, "Sini." Ia mendudukkan Haris dipangkuannya, "Kita pesan mainan itu sekarang, ya. Kau bisa mendapatkannya dua atau lima hari dari sekarang."


Haris mengangguk senang. Ia menatap semangat layar ponsel pamannya.


Alesha yang melihat itu hanya terdiam sembari tersenyum kecil. Membayangkan kalau Khalid atau Alshiba lah yang sedang berada dipangkuan Jacob saat ini.


*****


"YEAYYY!!" Haris berseru girang. Ia berlari kecil di sekitaran kawah gunung Tangkuban Perahu yang sudah dibatasi oleh pagar coklat kayu berbahan dasar semen setinggi pinggang orang dewasa. "Paman, itu kuda!!" Haris menunjuk ke arah salah satu kuda yang sedang berjalan diantara kerumunan pengunjung.


"Kau mau naik?" tawar Jacob.


"Iya!" Haris mengangguk senang. Ia begitu terlihat lucu dan bahagia sekarang.


"Tidak. Tidak boleh! Nanti jatuh!" larang Alesha.


Raut wajah Haris berubah pias seketika saat mendengar ucapan tantenya barusan.


"Haris, Sayang. Jangan naik kuda, ya. Nanti kau jatuh," ucap lembut Alesha sembari mengusap pipi keponakannya itu.


Haris hanya mengangguk kecil. Tapi bibirnya sudah mengerucut dan keningnya sudah mengkerut, pertanda akan menangis sebentar lagi.


"Jangan menangis. Ayo, kita lihat-lihat tempat lain saja. Kau pasti akan suka pemandangan di sana." Alesha menunjuk kesatu tempat.


Lagi-lagi Haris mengangguk. Kepalanya tertunduk, sedih.


Melihat itu, Jacob jadi kasihan pada Haris.


"Tidak. Haris tidak apa-apa naik kuda, Al," ucap Jacob yang sontak membuat Alesha dan Haris langsung menatap ke arahnya. "Aku yang akan menemaninya naik kuda."


"Eh, kau yakin?" Alesha terlihat tidak setuju.


"Tenang saja. Dia akan aman dan baik-baik saja bersamaku. Benar kan, Pria Kecil?" Jacob mengedipkan sebelah matanya pada Haris.


Haris masih diam. Bingung lebih tepatnya. Ia takut kalau tantenya, Alesha akan marah padanya jika ia naik kuda meski dengan pamannya, Jacob.


"Alesha, tidak apa. Tidak usah khawatir. Aku bisa naik kuda, juga mengendarai kuda." Jacob berusaha meyakinkan.


Tapi Alesha jauh lebih mementingkan dan memikirkan keselamatan Haris saat ini.


"Tante, boleh, ya," lirih Haris dengan tatapan polos takutnya pada Alesha.


Alesha menghembuskan napasnya dengan sabar. Baiklah, ia akan mencoba mempercayai Jacob. Tapi, awas saja kalau sampai suaminya itu lalai dan membuat Haris celaka.


"Ya sudah, iya." Alesha mengangguk seraya tersenyum hangat.


"YEAAYYY!! Terima kasih, Tante Alesha," girang Haris.


Selanjutnya, seperti yang diinginkan, Haris langsung berlari kesalah satu kuda berwarna coklat. Ia belum pernah naik kuda sebelumnya, dan ini akan menjadi yang pertama dan terbaik karna ia naik kuda bersama teman terdekatnya yang bukan lain adalah pamannya sendiri, Jacob.


Alesha berdiri sedikit jauh. Ia tidak mau dekat dengan kuda-kuda itu. Takut. Akan tetapi, melihat Jacob yang begitu mudah sekali menaiki kuda membuatnya berpikir, kenapa di WOSA tidak ada latihan berkuda? Jacob bahkan tidak pernah mengajarkannya berkuda. Apa ia bisa berkuda? Tentu saja tidak. Naik kuda saja tidak pernah.


Alesha menggelengkan kepalanya, malas.


"Pamaaannn...." teriak girang Haris ketika Taylor mengangkat tubuhnya dan mendudukkan di atas kuda di depan pamannya.


Jacob langsung memeluk pinggang dan perut Haris agar keponakannya itu tidak terjatuh, sementara sebelah tangannya yang lain memegang tali untuk mengontrol kudanya.


"Kau mau kemana?" bisik Jacob.


"Kemana saja, Paman!" jawab semangat Haris.


Jacob terkekeh, "Baiklah, pemberhentian selanjutnya di ujung sana."


"HOREEE!!!"


Alesha tertawa kecil melihat kedekatan Haris dan Jacob saat ini. Bahagia sekali rasanya. Jadi beginikah rasanya menghabiskan waktu di tempat berlibur bersama suami, dan... anak? Ia tersenyum kecut. Mendapati fakta jika Haris bukanlah anaknya, dan anaknya yang asli sudah meninggal. Ini menyakitkan. Tapi, Alesha akan berusaha ikhlas. Melihat Haris yang tertawa bahagia saat ini membuat hati, perasaan, dan pikiran jauh lebih baik.


"Nona, kau tidak mau duduk dulu?" tawar Taylor yang berdiri di sebelah Alesha.


"Hmm? Duduk?" ulang Alesha. Sepertinya itu ide bagus. Daripada ia harus menunggu Jacob dan Haris sembari berdiri. "Iya, aku mau." Ia mengangguk. Sejurus kemudian, ia melangkah menuju tempat dimana biasanya para wisatawan duduk berkelompok sembari menikmati makanan mereka dibawah naungan terpal tebal dan lebar.


Alesha duduk tegak. Ia meringgis kecil beberapa kali, merasakan sensasi pusing berputar yang muncul singkat. Ditambah suhu udara sekitar yang dingin, dan berkabut cukup tebal, Alesha memakai jaket dan memeluk dirinya sendiri. Saat bicara, bahkan keluar kepulan asap putih.


Tiga puluh menit Alesha menunggu di tempatnya duduk, ditemani Taylor dan beberapa anak buah Jacob yang lain. Entah kemana dan ada dimana suami dan keponakannya itu sekarang. Disaat Alesha tengah asik memandangi sekitarnya, mendadak salah satu anak buah Taylor mendekat dan membisikkan sesuatu.


Taylor mengangguk. Ekspresi wajahnya berubah datar, namun cekatan mengawasi sekitar.


"Taylor, ada apa?" tanya Alesha.


"Ada anak buah Dirga di sekitar kita, Nona," jawab Taylor, pelan, "Sepertinya kita harus pulang sekarang."


"Apa? Di mana?" Alesha terkejut, dan langsung celingak-celinguk memperhatikan sekitarnya.


"Nona, kau harus diam dan tenang. Tuan Jacob sudah diberitahu soal ini, dan akan segera kembali," ucap Taylor terdengar seperti memperingatkan.


Alesha tertegun. Baiklah, ia akan diam dan tenang. Tapi meski begitu, ia tetap penasaran siapa dan dimana posisi orang yang menjadi anak buah pembunuh kedua bayi kembarnya.


Tak berselang lama, lima menit kemudian, Jacob datang sembari menggedong Haris yang membawa dan memegang banyak mainan kayu khas lokal. Haris bahkan memakai setelan kaos dan celana pendek Tangkuban Perahu. Hey, kemana pakaiannya yang tadi? Lalu pria kecil itu juga memakai topi cowboy. Terlihat sangat lucu, tapi juga aneh.


"Jack, Haris ganti baju dimana? Lalu mana pakaiannya yang tadi?" Alesha melayangkan tatapan penuh tanya pada suaminya.


"Ada. Nanti saja jawabnya. Kita harus pulang sekarang," jawab datar Jacob. "Cek kondisi mobil kita!" titahnya pada Taylor.


Taylor mengangguk. Ia segera menghubungi anak buahnya untuk melaksanakan perintah Jacob barusan.


Tak menunggu lama, Jacob, Alesha, Haris dan Taylor langsung menaiki mobil wisata untuk turun ke tempat kedatangan pada wisawatan.


Sepanjang jalan, Haris bercerita ria pada Alesha. Mengatakan kalau Jacob membelikkannya semua main kayu itu. Jacob juga yang menyuruh Haris untuk ganti pakaian dan memakai baju yang Haris pakai saat ini. Haris begitu riang dan semangat menceritakan itu semua pada Alesha. Membuat Alesha yang mendengarnya tidak kalah bahagia dan ikut ceria.


Jacob, dan Taylor hanya diam menyimak saja. Mereka sibuk memasang insting waspada.


Sepuluh menit kurang lebih, mereka tiba di lokasi tujuan.


Haris ingin digendong oleh Alesha, tapi Alesha menolak dengan berat hati sebab perutnya terasa mual dan kepalanya cukup pusing. Biasa, efek kehamilannya. Jadi, sebagai gantinya, Haris digendong lagi oleh Jacob, lalu mereka bergegas menuju parkiran mobil.


"Tante, tadi saat Paman Jack sedang memilih-milih baju untukku, aku melihat ada orang yang sedang duduk dan memperhatikan Paman Jack terus," ucap polos Haris sembari memainkan mainannya.


Berbeda dengan Alesha, Jacob, dan Taylor, mereka sama-sama terkejut mendengar ucapan Haris barusan.


"Orang itu menunjuk-nunjuk Paman Jack, dia duduk di dalam toko sebelah toko yang aku dan Paman Jack datangi. Dia juga menatap galak padaku tadi. Makanya aku langsung menarik lengan Paman Jack dan meminta digendong, seperti sekarang," lanjut Haris.


Taylor, Alesha, dan Jacob saling bersitatap. Mereka jelas tahu siapa orang yang Haris maksud itu. Anak buah Dirga.

__ADS_1


Selanjutnya, tidak ada yang bersuara lagi hingga mereka tiba di tempat parkiran.


"Bagaimana?" tanya Jacob pada ketiga anak buahnya.


"Mereka memutus selang rem mobil anda dan kami, Tuan," jawab salah satu anak buah Jacob itu.


"CK!" Jacob berdecak kesal.


Sementara Alesha terkejut dengan kedua bola matanya yang terbelalak tidak percaya.


"Sudah aku duga. Mereka akan memanfaatkan kesempatan sekecil apapun untuk bisa membunuh Alesha," dumal Jacob.


"Kami sudah menelepon orang rumah untuk menjemput kita di sini, Tuan."


Jacob mengangguk, "Kerja bagus. Terima kasih."


*****


Satu jam kurang lebih menunggu sembari berteduh disalah satu warung, Alesha mulai lemas. Kepalanya serasa diremas, dan perutnya semakin terasa bergejolak, mual. Jacob sudah membelikkannya teh hangat tadi, dan ya, itu sedikit membantu.


Haris tidur sembari duduk dipangkuan Jacob dan memeluk pamannya itu sejak lima belas menit lalu setelah sebelumnya digendong lebih dulu oleh Alesha. Taylor juga sudah beberapa kali melaporkan tentang keberadaan anak buah Dirga yang berada tidak jauh dari Alesha.


Entah apa yang terjadi, Jacob sedikit bingung, pasalnya anak buah Dirga itu bisa saja menyerang mereka, terutama Alesha sejak tadi jika mereka memang berniat untuk mencelakai Alesha. Tapi sejak tadi tidak ada pergerakan apapun. Ini membuat Jacob berkali-kali lipat ekstra hati-hati.


"Tuan Jacob, maaf kami telat. Dijalan sedikit macet tadi," ucap seorang pria yang baru saja tiba.


Jacob mengangguk pelan. Enggan membuang waktu, ia langsung mengajak Alesha, Taylor, dan tiga anak buahnya untuk pergi dari tempat itu dan pulang.


"Tuan, Rangga tadi bilang kalau dia melihat beberapa mata-mata Dirga yang mengawasi mansion anda," ucap Si Pria yang baru datang tadi, "Rangga juga bilang kalau Dirga sedang berada di luar kota saat ini, namun anak buahnya tetap berada di kota ini. Nyonya Laura juga merasa aneh dengan sekitaran mansion anda yang seperti sedang diawasi. Dia menempatkan beberapa anak buah khususnya untuk menyelidiki."


Jacob mengangguk paham. Ia sama sekali tidak bicara.


Di dalam mobil, Alesha masuk lebih dulu, disusul Jacob yang masih menggendong Haris.


"Masih mual dan pusing, Al?" tanya Jacob sedikit cemas.


Alesha mengangguk pelan, "Iya, tapi sekarang sedikit lebih baik."


Jacob menghembuskan napasnya setenang mungkin.


Selanjutnya, kendaraan roda empat itu pun melaju. Dengan kondisi cuaca mendung, gerimis lebat, dan berkabut. Semua tenang, setidaknya untuk setengah jam sebab tanpa diduga, mobil yang Jacob dan Alesha tumpangi nyaris saja menabrak pembatas jalan sebab dari sisi kiri, belakang, dan depan dipepet oleh tiga mobil sedan lain. Beruntungnya mobil yang ditumpangi oleh anak buah Jacob yang lain berani mengambil sedikit risiko besar dengan mendorong mobil sedan disisi kiri mobil Jacob sampai memberikan ruang hingga mobil yang Jacob tumpangi bisa keluar dari kurungan tiga mobil itu dan beralih ke lajur lain.


"Sial!" umpat Jacob, kesal, "tambah kecepatan mobilnya!"


"Iya, Tuan."


"Entah apa yang mereka rencanakan! Tapi aku curiga dimobil mereka pasti ada tembakan atau sejenisnya!" dumal Jacob, "Kita harus berhati-hati. Mereka bisa jadi menembaki mobil ini secara mendadak!" Jacob cukup menyesal karna tidak membawa pistolnya saat ini.


DOR!!


DOR!!


DOR!!


Benar saja, terjadi baku tembak. Tapi bukan dengan mobil Jacob, melainkan mobil anak buah Jacob lah yang ditembaki. Seketika, situasi jalan raya mulai kacau, beberapa kendaraan langsung menyingkir dan menghindar, membuat beberapa diantaranya saling menabrak. Suara klakson mobil saling bersahutan kencang.


Mobil yang Jacob tumpangi melaju kencang, tak kalah menyuarakan klakson yang cukup memekakkan telinga, membuat Haris yang sedang terlelap tenang jadi terusik dan bangun.


"Jack, bagaimana ini?" Alesha menengok cemas ke belakang, melihat jalan raya di belakangnya jadi lengang sebab para kendaraan tertahan oleh beberapa mobil dan motor yang terlibat kecelakaan. Tapi bukan itu masalah satu-satunya. Ketiga mobil anak buah Dirga terus memburu, dan menembaki mobil yang anak buah Jacob tumpangi. Mereka mentamengkan diri supaya mobil yang Jacob dan Alesha tumpangi tetap aman dan melaju lancar.


"Nak, kau bersama Tante Alesha dulu." Jacob meletakkan tubuh mungil Haris dipangkuan Alesha. "Taylor, berikan pistolmu!"


"Ini, Tuan." Taylor langsung memberikan satu-satunya pistol yang ia bawa pada Jacob.


Sejurus kemudian, Jacob membuka kaca jendela.


"Jack, apa yang akan kau lakukan?" pekik panik Alesha.


"Menghabisi mereka," jawab Jacob yang sepersekian detik kemudian...


DOR!!


Satu peluru melesat cepat, dan dalam hitungan detik sukses mengenai bagian depan, tepatnya mesin mobil anak buah Dirga.


DUARR!!


Telak sudah, satu mobil itu meledak hancur.


DOR!! DOR!! DOR!!


Tiga tembakan susul menyusul. Dua meleset, satu mengenai si pengemudi mobil anak buah Dirga yang membuatnya kehilangan kemudi dan menubruk mobil kawannya.


Tak ingin kehilangan momen, Jacob langsung menembak salah satu bagian depan mesin dari dua mobil tersebut.


DUAR!!


Ledakkan yang lebih besar terjadi dan menyambar mobil satunya.


Api membara di tengah-tengah jalan raya. Jacob, sukses menyingkirkan tiga mobil musuhnya itu. Meski satu mobil yang anak buahnya bawa cukup babak belur.


"Jack...." Alesha menatap cemas suaminya.


"Tidak apa, Al. Mereka sudah mati sekarang. Biarkan Dirga tahu soal ini. Aku gemas. Aku ingin dia keluar dan berhadapan langsung denganku!" jawab Jacob.


"Hiks hiks, Paman, itu tadi apa? Kenapa Paman menembaki mobil itu? Hiks hiks." Haris menangis sesegukkan sembari memeluk erat Alesha. Ia sangat ketakutan dan tubuhnya bergetar kencang.


Jacob mengusap lembut rambut keponakannya itu, "Mereka orang jahat, Haris. Jadi, Paman harus menembak mereka supaya mereka tidak berbuat jahat pada kita. Kau tenang saja. Mereka sudah tidak akan jahat lagi pada kita sekarang," ucapnya, lembut.


Haris mengangguk kecil. Ia menelusupkan wajahnya kembali pada pundak Alesha, dan terus menangis di sana. "Hiks hiks, Momy...Momy... Hiks."


Jacob menghembuskan napasnya dengan kasar. Sejurus kemudian, ia menaruh satu ciuman singkat pada kening Alesha juga sebelah pipi Haris.


"Tidak apa, Haris, kau akan kembali pada Momy Mona. Oke," bisik lembut Jacob. Tidak sampai hati ia melihat keponakannya itu menangis sesegukkan sembari memanggili kakaknya, Mona.


*****


Setibanya di mansion, baru saja Jacob masuk dan melangkah beberapa meter dari ambang pintu, tiba-tiba saja Tessa datang dan mendorong kedua bahunya.


"KENAPA KAU TIDAK BILANG PADAKU KALAU LEVIN SEKARAT, JACK!!" teriak Tessa dengan linangan air matanya yang membludak. "LEVIN SEKARAT, KAN?"


Alesha, Taylor, juga yang lain diam tercekat. Mereka sama-sama terkejut, namun tidak bisa apa-apa.


"SIO SUDAH MEMBERITAHU PADAMU, TAPI KAU TIDAK BILANG PADAKU SOAL KEADAAN LEVIN! KAU JUGA BILANG PADA ANAK BUAHMU AGAR TIDAK MEMBERITAHUKAN BERITA SOAL LEVIN SAAT INI PADAKU!! TAHU, SETIAP HARI SETIAP SAT AKU MENUNGGU KABARNYA!!"


Jacob memejamkan kedua matanya, berusaha setenang mungkin.


"Maaf, Tessa, aku minta maaf karna belum memberitahunya padamu. Aku memang berniat untuk mengatakannya sendiri padamu saar waktunya tepat, tapi...." Jacob bicara setenang dan selembut mungkin, "Saat ini waktunya belum tepat aku pikir. Pertama, aku dan Alesha sedang menghadapi masalah besar, kedua, SIO juga sedang dalam incaran para musuhnya. Kalau aku memberitahu padamu keadaan Levin saat ini, kau pasti memaksa untuk bisa bertemu dengannya. Tapi itu akan sangat bahaya, Tessa. Aku juga Levin khawatir kau akan jadi incaran musuh SIO juga untuk dimanfaatkan. Contohnya sekarang, alasan kenapa kau tetap tinggal di sini karna beberapa hari lalu ada sekelompok orang yang datang ke rumahmu dan hendak menculikmu juga Nick, kan?"


Tessa bungkam setelah mendengar penjelasan itu. Ia ingin membalas, tapi bingung bagaimana balasnya.


"Mengertilah, Tessa, Levin meminta padaku supaya aku menjagamu juga anak kalian, Nick selama dia dalam misi. Dia mencintaimu, juga Nick, dia ingin kalian tetap aman. Dia percaya padaku untuk menjaga kalian. Jadi tolong, percaya padaku, dan turuti semua perkataanku demi kebaikan kau, Nick, juga Levin."


"Hiks hiks. Leviiinn...." Tessa menangkup wajahnya.


"Bersabarlah, Tessa. Kau bisa mendoakan suamimu agar dia bisa segera pulih dan kembali padamu juga Nick." Jacob menepuk bahu Tessa.


"Aku takut, Jack. Hiks hiks. Nick terus saja memanggili ayahnya, dan memaksa ingin bertemu. Aku tidak tega kalau dia harus kehilangan ayahnya diusia yang masih sangat kecil. Hiks hiks."


"Kalian belum kehilangan Levin. Dokter SIO pasti akan melakukan yang terbaik demi kesembuhan dan kepulihan Levin. Apalagi Levin juga sudah banyak berjasa pada SIO. Percayalah kalau suamimu akan sembuh kembali."

__ADS_1


Tessa tak membalas, ia terus menangis sembari menangkup wajah. Sampai kurang lebih dua menit, ia membalikkan badannya dan berlari kecil menuju kamarnya.


Jacob yang mendapati itu hanya bisa diam sembari menatap iba. Kasihan sekali ia melihat Tessa saat ini, pasalnya, ia pernah berada diposisi Tessa, mungkin hanya beda kasus saja. Jika saat ini Tessa menangis dan terpuruk karna kondisi Levin yang kritis sementara ia tidak dapat menjumpai, berbeda dengan Jacob yang mengkhawatirkan Alesha yang kondisi, keadaan, juga keberadaannya tidak ia ketahui.


__ADS_2