
Setelah melewati perjalanan tanpa pembicaraan, karena Satria hanya diam saja. Sementara Kia tak berani mengajak bicara, gadis itu hanya duduk diam dengan berbagai tanya dalam otaknya. Mau dibawa kemana dirinya? Mau bertanya takut, tidak bertanya penasaran.
Semua tanya itu mulai hilang saat Satria menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah yang asing baginya. Kia menatap rumah bergaya minimalis itu, tidak besar seperti rumahnya dulu, tapi cukup untuk tinggal berdua. Sepertinya rumah ini memang di design untuk pasangan muda yang baru menikah.
Mengingat semua itu, Kia jadi berfikir mungkin Satria mengajaknya pindah kemari. Tapi, untuk alasan apa? bukankah pria ini punya apartemen yang kemarin mereka tinggali. Nanti saja Kia tanyakan sekarang saatnya mengikuti pria itu, karena dia sudah memerintah.
"Keluar!" titah Satria pada Kia yang terpaku melihat rumah di depannya.
Kia mengikuti perintah Satria untuk turun. Sementara Satria mengeluarkan koper Kia dari dalam bagasi.
Satria menyeret koper milik Kia untuk masuk kedalam rumah itu, rumah yang tidak terlalu besar namun terasa ada kedamaian saat memasukinya. Kia berjalan di belakang mengikuti Satria yang kembali tak mengajaknya bicara.
"Ini rumah siapa?" tanya Kia akhirnya.
"Aku membelinya." Jawab Satria menghentikan langkahnya.
"Untukku?" tanya Kia berharap. Seketika Satria yang berada didepannya menoleh menatap Kia tajam.
"Atas dasar apa kamu bertanya seperti itu!"
Kia tersenyum. "Atas dasar, aku adalah istrimu. Wajar bukan jika kamu membelikan aku sebuah rumah," jawab Kia kembali tersenyum percaya diri.
Satria memasang senyum menyeringai. "Rasa percaya dirimu terlalu tinggi, untuk istri yang tidak mau menjalankan kewajibannya."
Kia mendelik. "Bukan aku tidak mau, aku hanya belum terbiasa dekat dengan orang yang baru aku kenal." jawab Kia membela diri.
"Bagaimana kamu akan mengenal ku jika kamu menjaga jarak dari ku?"
"Apa maksud mu dengan jaga jarak?"
"Kamu tidak membiarkanku menyentuhmu, apa itu namanya kalau bukan jaga jarak."
__ADS_1
Kia terdiam mendengar keluhan Satria, ada rasa bersalah dalam hatinya. Dari awal Satria sudah mengutarakan alasan menikahi Kia, karena dia ingin perhatian yang tidak Satria dapatkan dari istri pertamanya. Tapi kenyataannya Kia justru belum bisa menerima Satria.
"A--aku, bukan menjaga jarak. Seperti yang aku bilang sebelumnya aku belum terbiasa dengan mu. Aku hanya butuh beradaptasi dengan hubungan ini dan keberadaan mu sekarang."
"Baiklah, ayo duduk," titah Satria. "Kita akan membicarakan aturan dalam hubungan ini," sambung Satria yang kemudian berjalan ke arah sofa di ruang tamu, dan mendudukkan dirinya di sana.
Kia yang melihat Satria sudah duduk di sofa segera menyusul dan duduk di seberang Satria. "Aturan apa yang kamu maksud?" tanya Kia.
"Pertama, panggil aku 'Mas'!"
"Harus ya?" tanya Kia polos.
"Tentu saja, Selain aku lebih dewasa dari kamu, itu adalah bentuk dari menghormati suami. Kedua, jangan pergi kemanapun tanpa ijin dari ku!" ujar Satria.
"Kenapa? aku sudah besar tidak usah takut aku akan diculik."
"Bukan karena takut kamu akan diculik, tapi seperti itu hukumnya, istri dilarang pergi tanpa ijin dari suami, dan, ketiga ikuti apa yang aku perintahkan. Tanpa ada penolakan!" tegasnya.
"Memang kenapa?"
"Pantas saja istrimu lebih suka jauh dari mu dari pada tinggal serumah dengan mu. Kamu suami MENYEBALKAN!!!" tegas Kia yang langsung berlalu pergi mencari di mana kamarnya berada. Tak lupa ia menyeret sendiri kopernya yang tadi dibawa Satria.
"Hey ... aku belum selesai bicara!" teriak Satria.
Tak menggubris teriakan suaminya, Kia berusaha menemukan di mana kamar untuknya. Karena rumah ini tidak terlalu luas, Kia membuka satu per satu kamar yang ada di rumah ini. Ada tiga kamar. Saat Kia membuka kamar pertama, Kia melihat kamar yang di desain seperti ruang kerja. Kia menutup kembali pintunya. Kia beralih ke kamar kedua, kamar dengan tempat tidur tapi tidak terlalu luas. Dan kia pun pergi ke kamar yang ketiga, ada kamar yang lebih luas dari kedua kamar tadi, dan yang pasti itu adalah kamarnya. Pikir Kia.
Kia meninggalkan kopernya begitu saja setelah masuk ke kamar itu dan berjalan membuka tirai jendela. Seketika sinar terang pun langsung masuk ke kamar yang nampak bersih dan terawat ini. Kia kembali untuk melihat tempat tidurnya, ia menepuk-nepuk kasur itu, kemudian merebahkan dirinya di sana untuk merasakan kenyamanan dari kasur itu.
"Siapa yang menyuruhmu masuk ke kamar ini?" suara Satria membuat Kia bangun dan terduduk di atas ranjang.
"Ini kamarku, bukan? Jadi aku tidak perlu ijin dari siapa pun untuk masuk ke kamar ku sendiri," jawab Kia.
__ADS_1
"Ini kamarku!" ujar Satria lugas.
"Sama saja, kamar mu berarti kamar ku juga. Kita kan suami istri. Kita akan mulai berbagi kamar dan berbagi ranjang, tapi bukan berarti kamu boleh menyentuhku sebelum kamu membuktikan hasil kerjamu," jelas Kia.
"Kalau begitu keluarlah, masih ada satu kamar lagi untukmu. Aku tidak suka tidur dengan wanita yang hanya bisa dipandang tanpa bisa dinikmati!" ketus Satria.
Pria itu pun langsung menyeret koper Kia keluar kamarnya dan memberikan kode lewat tangannya agar Kia meninggalkan kamar yang akan diperuntukkan untuk dirinya.
Kia tetap diam tak mau beranjak. Mengacuhkan perintah dari suaminya. "Aku akan tetap di sini, kamu saja yang tidur di kamar lain kalau tidak suka satu kamar dengan ku," tolak Kia.
Satria berjalan menghampiri Kia yang masih duduk di atas ranjang, tanpa aba-aba dan dengan gerakan yang cepat Satria mendorong tubuh Kia.
"Kalau kamu mau tidur di kamar ini berarti kamu sudah siap untuk melayaniku di ranjang ini," bisik Satria yang berada di atas tubuh Kia, namun masih ada jarak karena Satria menahan tubuhnya sendiri dengan lengannya agar tidak menindih Kia.
Kia langsung mendorong tubuh Satria dan langsung berlari keluar kamar itu. Satria terkekeh saat melihat ketakutan Kia.
Dengan kesal Kia kembali menyeret kopernya dan membawanya ke kamar yang berada tepat di samping kamar Satria. Kia mengunci pintunya dari dalam, Kia berniat mengurung diri di kamar sebagai bentuk protesnya.
"Berengsek!!" umpatnya.
Kia benar-benar mengurung dirinya di kamar, hingga jam makan malam. Kia mencium aroma masakan yang lezat, yang membuat cacing di perutnya minta dibungkam.
Kia menunggu untuk di panggil, tapi lama menunggu tidak ada panggilan untuknya. Pria yang berstatus suaminya itu juga tidak berusaha mengajak dia makan.
Tak tahan dengan aroma masakan dan rasa laparnya, Kia memutuskan untuk keluar kamar. Kia langsung menuju meja makan yang jadi satu dengan dapur. Kia melihat Satria sedang menata makanan yang mungkin dibuat sendiri oleh pria itu. Selesai menghidangkan makanan di meja, Satria melepas appronnya, dan langsung duduk di meja makan tanpa mengajak Kia yang sudah berdiri memperhatikannya.
Satria mulai menyantap makan malamnya, tanpa peduli pada Kia yang masih berdiri di samping meja makan. Tak tahan melihat Kia yang hanya berdiri memperhatikan, Satria pun buka suara.
"Apa kamu hanya akan melihat saja makanan di meja ini tanpa mau memakannya?"
Kia menggeleng keras. "Lalu kenapa tidak duduk dan mulai makan."
__ADS_1
Kia langsung duduk dan mengambil piringnya.