Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.75


__ADS_3

"Kenapa semalam kamu pulang sendiri?" tanya Marvin setelah menyesap matcha icenya.


"Maaf, tempatnya terlalu ramai untuk kembali mencarimu. Lagi pula, semalam bajuku robek, gara-gara tersangkut gelang seorang wanita yang sedang bertengkar dengan teman prianya," jelas Kia.


Marvin manggut-manggut, paham dengan penjelasan Kia.


"Ngomong-ngomong, tumben sekali kesini di jam kerja?"


Marvin sedang ada di restoran milik Kia.


"Aku sedang menunggu seseorang. Aku menunggu orang yang akan jadi investor untuk pembangunan hotelku, dan aku mengajaknya bertemu disini. Dia pasti suka dengan menu di restoranmu."


"Baik sekali." Kia tersenyum manis pada Marvin. " Baiklah, aku tinggal dulu ya. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan," pamit Kia.


Kia pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya, sementara Marvin memanfaatkan waktunya untuk memainkan ponselnya.


"Hallo, selamat siang?" sapa Marvin pada seseorang ditelfon.


"...."


"Iya, dari tempat anda sekarang tidak terlalu jauh. Namanya Dapur sereh resto," ucapnya lagi. "Bagaimana jika supir saya menjemput anda?" tawar Marvin.


"...."


"Baiklah, saya tunggu disini." Marvin menutup panggilannya.


.


.


.


.


.


.


"Mbak, motornya kenapa?" tanya Hiro panik. Karena tiba-tiba motor yang ia tumpangi berhenti mendadak di jalan. Untung saja posisi motor itu sedang di pinggir.


"Mbak, nggak tahu," jawab Yanti tak kalah panik. "Kamu turun dulu, Ro."


Hiro langsung turun, menuruti perintah Yanti. Yanti yang jadi supir juga turun, menstandarkan motornya. Melihat apa yang terjadi dengan motor yang tadi ia tumpangi.


"Ada apa?" tanya seseorang dengan helm full facenya, yang berhenti disamping motor Hiro dan Yanti.


Bukannya takut, Yanti jadi salah tingkah saat ditanya pengendara moge (motor gede).


"Eng-enggak tahu, Mas ... eh ... Pak," jawab Yanti cengar-cengir.


Hiro sampai heran melihat karyawan Mamanya ini. Cuma ditanya apa yang terjadi saja, sudah salah tingkah. Padahal juga, si pengendara moge belum memperlihatkan wajahnya.


"Motor kita tiba-tiba berhenti, Om." Jawab Hiro, setelah melepas helmnya.


Si pengendara moge langsung turun setelah mematikan mesin motornya. Memeriksa keadaan motor Yanti dan Hiro. Saat melihat bagian indikator bahan bakar, pengendara moge langsung tahu akar masalahnya.


"Bahan bakarnya habis," ucap pengendara moge.


Yanti diam tak merespon, justru memandang pengendara moge dengan tatapan aneh.


"Mbak, bahan bakarnya habis," ucapnya lagi.


"Mbak Yanti!" sentak Hiro.


Seketika Yanti tersadar. "Eh ... iya, kenapa?" tanya Yanti bingung.


"Om-nya ngajak ngomong!" jawab Hiro ketus.


Yanti langsung menatap pengendara moge. "I-iya, Mas ... eh ... Om ... eh ... Pak," ucap Yanti gugup.

__ADS_1


"Bahan bakar motor Mbak habis."


"Terus bagaimana ini, Mas ... Pak ... eh bukan ... Om?"


"Kalian tunggu disini saja dulu, saya carikan bahan bakarnya." Pengendara moge langsung menuntun motor Yanti dan mencarikan tempat teduh untuk Yanti dan Hiro menunggu. Setelahnya dia langsung berangkat mencari bahan bakar.


"Mbak Yanti, gimana sih! masak naik motor nggak tahu kalau bensinnya habis." sungut Hiro nampak kesal.


"Ya ampun, Ro. Mbak itu tadi buru-buru jemput kamu karena mama kamu itu lagi sibuk banget. Kerjaan Mbak juga banyak, mana sempat Mbak ngecek-ngecek bensin," jawab Yanti membela diri.


"Sudah, duduk sini aja dulu. Kan kita sudah ada yang bantuin juga." Yanti berusaha membujuk Hiro yang sedang kesal.


"Kalau Om-nya tadi nggak balik, gimana?" ucap Hiro menakut-nakuti.


"Nggak mungkin lah, Ro. Kelihatan banget kok kalau orang tadi itu orang baik." Bela Yanti.


"Dari mana Mbak Yanti tahu, kita aja nggak kenal. Kita juga nggak tahu dia siapa, helmnya aja nggak dibuka."


"Mbak Yanti bisa merasakannya, Hiro. Dia adalah pahlawan kita. My Hiro," ucap Yanti dengan mimik muka anehnya.


"Ish ... Mbak Yanti, aneh!"


Saat perdebatan antara Hiro dan Yanti masih berlangsung, si pengendara motor sudah datang membawa jerigen bahan bakar untuk motor Yanti.


"Maaf, lama ya nunggunya." Pengendara motor itu turun dari motornya.


"Ah ... enggak kok, Mas ... Pak ... Om." Yanti masih saja salah tingkah.


Tanpa diminta si pengendara motor langsung membuka jok motor Yanti setelah meminta kunci dari yanti, dan mengisikan bensin itu.


Tidak hanya itu, dia juga menstater motor Yanti agar Yanti dengan mudah mengendarainya.


"Sudah," ucapnya.


"Terima kasih banyak ya, Mas ... Pak ... Om." Yanti tersenyum simpul. "Sampai bingung saya mau manggilnya." Yanti kembali cengar-cengir.


"Tidak usah, kalian pulang saja."


Yanti makin terpesona saja dengan pria pengendara motor ini.


"Mbak, ayo pulang. Mama udah nungguin." Ajak Hiro.


"Terima kasih, Mas." Yanti mulai menaiki motornya dengan tidak rela, karena harus meninggalkan pria baik ini.


"Terima kasih, Om." Ucap Hiro setelah duduk diatas motor.


Pengendara motor itu mengangguk, dia tersenyum dibalik helmnya. Setelah Hiro dan Yanti sudah menjauh, pria itu melepas helmnya.


"Maafin papa, Hiro." Satria tersenyum getir, setelah sekian lama tidak bertemu dengan putranya, dia tidak berani menunjukkan dirinya.


Ada ketakutan untuk membuka helmnya tadi, saat dia tahu anak kecil itu adalah Hiro.


"Ya Tuhan, aku sudah menyia-nyiakan satu kesempatan yang Kau berikan." Satria mengusap wajahnya.


Dalam hatinya, Satria ingin sekali memeluk Hiro tadi. Tapi ketakutan akan sikap penolakan Hiro, membuatnya memilih untuk menyembunyikan dirinya saat ini. Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan merusak psikologi Hiro, dengan muncul tiba-tiba dan membuatnya bingung.


Kali ini, Dia ingin lebih berhati-hati untuk mendapatkan hati Hiro.


Ponsel disakunya berdering. Dirogohnya ponsel itu, ada nama dari Marvin, rekan bisnisnya yang baru.


Segera ia kembali memacu motornya, menuju tempat dimana Marvin sudah mengatur pertemuannya. Tak butuh waktu lama, untuk sampai ditempat janjian mereka.


"Maaf saya terlambat, ada sedikit urusan mendadak tadi." ucap Satria pada Marvin.


"Tidak masalah," jawab Marvin. "Bagaimana kalau kita makan dulu, saya jamin menu di restoran ini akan membuat Anda ketagihan." Marvin tertawa dengan ucapannya, yang seperti sales.


"Seistimewa itu?" gurau Satria.


"Ya ... tentu saja, bukan hanya tempatnya yang istimewa tapi juga pemiliknya," ucap Marvin dengan berbisik saat mengatakan pemiliknya.

__ADS_1


Satria jadi tertawa, dengan gurauan Marvin. "Selera humor Anda, lumayan." Satri kembali tertawa.


"Ini bukan sekedar humor tapi ini kenyataan, pemilik resto ini adalah orang yang sangat istimewa." Puji Marvin lagi.


"Baiklah, saya rasa saya harus buktikan kata-kata Anda, mulai dari mencicipi menu istimewa di tempat ini. Dan lain kali, mungkin Anda berkenan mempertemukan pemilik yang istimewa itu."


Keduanya tertawa bersama. Marvin langsung memesan menu yang dipilih Satria.


Setelah selesai makan, dan selesai membicarakan urusan bisnis mereka. Marvin meminta Satria untuk menunggu sebentar.


"Untuk apa aku bertemu dengannya?" bisik Kia saat Marvin membawanya untuk dikenalkan pada Satria.


"Dia pengusaha yang sukses, aku ingin kamu mengenalnya. Kita tidak tahu kapan keberuntungan itu datang, siapa tahu saja dia juga bisa membantumu untuk mengembangkan bisnismu," jelas Marvin.


"Maaf, Pak. Sudah membuat Anda lama menunggu. Saya perkenalkan pemilik resto istimewa ini, yang tadi masakannya sudah Anda puji-puji," ucap Marvin, dengan sedikit bercanda.


Satria berdiri, menatap kaget pada wanita yang ada di depannya saat ini. Begitupun dengan Kia, setelah tadi malam, cepat sekali, Tuhan mengatur pertemuan mereka kembali.


"Selamat siang." Satria mengulurkan tangannya.


Dengan gugup Kia memyambutnya. "S-selamat siang," jawab Kia.


"Wanita istimewa inilah, pemilik resto ini." Puji Marvin, dia melirik Kia dengan senyumannya.


Satria bisa merasakan arti tatapan Marvin pada Kia.


"Menu di restoran Anda sungguh lezat, pasti Anda membayar mahal untuk chef disini," ucap Satria.


"Anda salah." Marvin mengacungkan jari telunjuknya dan menggerakkannya. "Menu yang tadi Anda makan, saya pesan khusus dari pemiliknya. Artinya, Kia sendiri yang memasaknya." ucap Marvin bangga.


Kia langsung mencubit pinggang Marvin, membuat Marvin mengaduh di depan Satria. Pemandangan yang membuat suhu dalam otak Satria memanas.


"Ma-maaf Pak, dia memang suka bercanda." Marvin melirik manja pada Kia.


"Mari, silahkan duduk kembali. Kita bisa kembali mengobrol dengan santai, bukankah urusan bisnis kita sudah selesai?" tawar Marvin.


"Maaf, tapi saya masih ada urusan. Saya harus segera pergi." Satria pamit, ia menjabat tangan Marvin, dan juga Kia. Tatapannya terpaku beberapa detik pada manik mata indah yang dulu ia kagumi.


Satria keluar, dengan perasaan yang seperti terbakar. Tidak suka melihat kedekatan antara Marvin dan Kia. Karena itu lebih baik ia pergi.


Dengan jengkel Satria menghidupkan motornya, dan berlalu pergi.


"Hiro, ngapain kamu disitu?" tanya Yanti yang melihat Hiro sendirian.


"Nggak kenapa-kenapa, Mbak."


"Ayo, masuk!"


Hiro mengangguk, dan berjalan menghampiri Yanti.


.


.


.


.


.


.


Dukung Karya ini ya, readers kuh terZEYENGGG. Jangan lupakan untuk selalu.


👍Like, dan


🖊️ Komen


Tengkyu💓💓💓sayang hee

__ADS_1


__ADS_2