Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.21


__ADS_3

Setelah tadi mengantar Rena ke tempat kost-nya, Kia jadi terlambat pulang, karena Rena sulit sekali dibujuk. Padahal Kia hanya ingin mengantarkannya saja karena rumah mereka searah.


Tapi Rena bersikeras tak ingin diantar karena takut merepotkan dan berbagai alasan lain yang tidak bisa Kia terima. Namun bukan Kia namanya, kalau tak bisa memaksa.


Dengan usahanya, Rena pun setuju untuk diantar oleh Kia. Bukan naik mobil yang biasa menjemputnya, tapi naik taksi online. Kia sudah mengirimkan pesan pada pak Hamid agar tidak menjemputnya, dan Kia yakin supir itu sudah otomatis mengabari bosnya kalau istrinya tak mau dijemput.


Tak sabar untuk istirahat, begitu sampai, Kia langsung membersihkan dirinya. Malam ini dia akan tidur sendiri. Kia memilih baju tidur sexy yang biasa ia kenakan dulu.


Sejak menikah, Kia lebih suka memakai piyama. Semua untuk menghindari hal-hal yang belum ia inginkan. Lebih tepatnya tidak ingin memancing suaminya, karena Kia belum siap memberikan apa yang suaminya inginkan.


Gaun tidur berbahan satin tipis, dengan tali spagheti itu membuat lekuk tubuh Kia terlihat sexy. Kia berdiri di depan cermin, sambil mengusapkan lotion ke tangan dan kakinya.


Kia terperanjat saat ada lengan kekar yang memeluknya dari belakang. Namun dia langsung tersadar saat menatap bayangan di cermin bahwa pria ini adalah suaminya sendiri.


Bukan kah tadi sore dia bilang dia akan mengunjungi mertuanya bersama istri pertamanya. Lalu bagaimana bisa dia di sini saat ini, Kia bahkan tidak menyadari kedatangannya.


Satria melingkarkan lengannya di perut rata Kia, kepalanya ia sandarkan di pundak istrinya. Menyesap aroma sabun yang menguar dari ceruk leher istrinya.


"Sarah merayuku, dan dia membuat ku menginginkannya," ujarnya dengan suara berat.


"Tapi, dia tidak lagi halal untukku, karena itu aku kemari." ujarnya lagi, kali ini nafas panas pria itu bisa Kia rasakan menyapu kulit lehernya.


"Aku menginginkan mu," sambung nya dengan suara yang semakin berat.


Kia menyentuh tangan Satria yang melingkar di perutnya, dia ingin memutar tubuhnya. Namun Satria menghentikannya dengan permintaannya.


"Jangan menolak ku, Aku benar-benar menginginkan mu malam ini." Satria mulai mencium lembut leher Kia.

__ADS_1


Mungkin, sekarang bukan saat yang tepat untuk menolak suaminya yang begitu terlihat berhasrat. Kia bingung. Di satu sisi, dia belum siap dengan hubungan ini jika berjalan semakin jauh. Di sisi lain, tak ingin juga menyiksa suaminya dengan mengabaikannya. Bagaimana pun, Satria berhak atas dirinya, dan ini juga alasan Satria menikahinya.


Kia diam tak menjawab untuk persetujuan ataupun penolakan. Dia membiarkan saja suaminya itu mulai menggigit kecil telinganya. Hal itu membuat Kia merasakan gelenyar-gelenyar di sekujur tubuhnya. Hasrat aneh pun muncul, saat Satria mulai memutar tubuh Kia dan memberikan sentuhan lembut pada bibirnya. Suaminya ini benar-benar pintar membuat Kia mengikuti permainannya.


Pertahanan Kia sudah runtuh, dia tak lagi memikirkan tentang kredit mobil. Dia membiarkan saja Satria memilikinya, meski sampai saat ini Kia belum mendapatkan bukti satu pun tentang upaya pembebasan kakaknya.


Kia biarkan Satria membawanya terbang ke awang-awang. Mereguk nikmatnya surga dunia untuk pertama kalinya. Dengan sabar, Satria membimbingnya dalam permainan cinta. Permainan yang membuat keduanya tak ingin mengakhiri petualangan ini dengan cepat.


Kia merasakan lelah yang luar biasa, tubuhnya seolah remuk akibat permainan suaminya. Satria seperti tak pernah puas dengan tubuh istrinya. Matanya sulit sekali membuka, ia ingin tidur lagi saja. Kia pun menarik kembali selimutnya. Tangan Kia meraih ponsel yang berdering di atas nakas. Kia melihat layar ponsel yang menampilkan panggilan dari Rena.


Seketika dia teringat akan janjinya pada Rena kalau ia akan menjenguk Beny yang sedang sakit. Kia langsung melempar ponselnya di ranjang dan terduduk dengan tangan memegangi selimut di dadanya.


Kia merasakan nyeri di area intimnya saat ia hendak berdiri dari ranjang. Gagal sudah niatnya untuk bergegas ke kamar mandi. Dengan menahan rasa perih dan langkah tertatih, Kia berjalan sambil memegangi selimut yang melilit di bawah ketiaknya.


Setelah selesai membersihkan diri, Kia menatap ranjang yang sangat berantakan. Ada noda darah di seprai putih yang sebelumnya terpasang rapi. Kia jadi teringat, bagaimana semalam suaminya benar-benar membuat kacau ranjang mereka.


Dering ponsel kembali menyadarkan Kia, bahwa dirinya sudah sangat terlambat. Tak ingin lagi memikirkan si pembuat onar, Kia berjalan cepat ke arah cermin.


"Aaarrrrggggghhhh," teriak Kia melihat penampakan dirinya.


Mata hitam seperti mata panda dan bercak merah yang hampir memenuhi leher dan dadanya. Terpaksa Kia harus kembali mengganti bajunya untuk menutupi perbuatan sang suami. Dengan menggerutu, Kia mencari baju di lemarinya, model yang bisa menutup hasil karya Satria.


🍁🍁🍁🍁


Kia menghampiri Rena di tempat kostnya, dan langsung mengajak Rena ke tempat kost Beny.


"Apa kamu sakit?" tanya Rena saat di dalam taksi.

__ADS_1


"Tidak, aku sehat-sehat saja. Memangnya kenapa?" jawab dan tanya Kia.


"Aku kira kamu sedang sakit, karena kamu memakai sweater dan juga syal di siang hari begini."


Kia melihat ke bawah, mengamati pakaian yang ia kenakan. Aneh memang, di hari yang begitu panas Kia justru memakai pakaian khas musim dingin itu. Semua itu karena tadi dia tidak bisa menemukan baju yang tepat untuk menutupi hasil perbuatan suaminya.


Karena terburu-buru, Kia mengambil sweater dan syal saja. Dua benda itulah yang tadi tergantung rapi di lemari tanpa harus mencari.


"Oh ... ini?" Kia tersenyum tipis. Memegang Syal di lehernya.


"I-iya, aku sedang kurang enak badan sebenarnya. Semalam aku mandi dengan air dingin, jadi pagi ini aku langsung terkena flu." Kia langsung berpura-pura bersin.


"Kalau kamu sakit, kenapa memaksakan diri menjenguk Beny. Kita bisa lain kali menjenguknya."


"Ah ... tidak-tidak, hanya flu saja. Aku juga sudah menghangatkan tubuhku dengan sweater dan syal ini. Jadi, pasti akan segera sembuh," bohongnya sambil tersenyum palsu.


Huh, kalau bukan karena seluruh tanda merah ini aku tidak akan mau tersiksa seperti ini. Yang benar saja, aku sepeti orang salah kostum. Dan ... di mana dia, setelah mendapat keinginannya, dia langsung pergi tanpa pamit. Awas saja kalau nanti dia minta lagi, tidak akan kubiarkan dengan mudah seperti semalam.


"Kia ... Kia," panggil Rena.


Kia kaget mendengar panggilan dan juga tepukan di pundaknya.


"Kita sudah sampai," sambung Rena.


Kia memasang senyum aneh nya, dan menatap Rena malu. Kia langsung turun mengikuti Rena. Mereka berdua berjalan masuk ke sebuah gang di mana kost Beny berada. Beny menyambutnya di depan pintu kost, agar Rena dan Kia tidak perlu bertanya pada tetangganya.


"Sampai juga kalian ke sini, nggak nyasar, kan?" tanyanya kemayu.

__ADS_1


Kia dan Rena mengangguk bersamaan. Mereka pun masuk ke dalam kamar kost milik leader mereka itu.


__ADS_2