Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.83


__ADS_3

Marvin duduk di atas kap mobilnya. Dia menyulut rokoknya, untuk mengusir kebosanan. Sudah lebih dari sepuluh jam, dirinya berada di tempat ini, dipinggir pantai.


Sejak semalam, saat lamarannya ditolak. Marvin kabur dari pestanya. Tak peduli dengan semua tamu yang ia undang. Dia butuh ketenangan. Dia butuh waktu untuk sendiri, setelah semua yang ia alami.


Entah kenapa, penolakan Kia kali ini sungguh menyakitkannya. Padahal, sudah tak terhitung berapa kali dirinya ditolak, oleh wanita yang selama tiga tahun terakhir menjadi ratu dihatinya.


Dan selama itu juga, dirinya selalu biasa-biasa saja. Baginya, jika ditolak hari ini, dia akan melamar lagi esok hari.


Tapi, kali ini berbeda. Harapannya seolah hilang. Semangatnya seolah pupus. Saat Hiro menarik Kia dari hadapannya. Marvin benar-benar kecewa, merasakan arti dari yang namanya patah hati.


Langit masih gelap, saat ia dongakkan wajahnya menatap bulan. Yang saat itu, tak begitu jelas cahayanya. Karena mendung menghalangnya.


"Kiaaaaaaaaaaaaaa!!!" teriaknya, meluapkan emosi, yang tertahan di dadanya.


Dihisapnya kembali rokok, yang ada tangannya. Mengepulkan asap dari mulutnya. Marvin tersenyum getir, menatap kepulan asap yang membumbung, lalu menghilang.


Marvin melihat ponselnya yang tergeletak begitu saja disampingnya. Diraihnya ponsel itu, yang ia matikan sejak semalam. Saat dinyalakan, banyak pesan masuk dari Kia. Marvin mulai membuka, satu persatu pesan dari Kia. Yang mengucapkan permintaan maaf, mengucapkan selamat atas ulang tahunnya. Karena saat di pesta, Kia belum sempat mengucapkannya. Juga pesan yang menanyakan keberadaannya.


Tak ada satupun pesan dari Kia yang Marvin balas. Marvin belum siap, lebih tepatnya, tidak tahu harus bersikap bagaimana dengan Kia, setelah kejadian semalam.


Ada pesan yang lain dari temannya, Hendra. Yang menanyakan kabarnya, karena Hendra tadi juga ada disana. Melihat betapa malunya temannya saat lamarannya ditolak. Dan, Hendra adalah orang yang paling tahu, tentang rencana lamaran Marvin kali ini.


Marvin menutup kembali, ponselnya. Masuk kedalam mobil, dan menjalankannya meninggalkan pantai.


.


.


.


.


.


Disisi lain, setelah mengantar Hiro ke sekolah. Kia langsung menuju rumah Marvin. Kia mungkin sudah menolaknya, tapi, dia tidak bisa jika harus mengabaikan pria itu. Kia sudah menganggap Marvin teman baiknya.


Tak seperti dugaannya. Pelayan di rumah Marvin bilang, Marvin pergi dari semalam, dan belum pulang. Kia bingung sekarang, kemana orang itu pergi. Tanpa pamit, lagi.


Kia mencoba menghubungi Marvin, untuk tahu dimana pria itu berada. Menyambung, tapi tidak diangkat. Beberapa kali Kia mencoba, namun hasilnya sama saja. Marvin belum mau bicara dengannya.


Kia tak mengenal teman-teman Marvin, karena itu tak ada yang bisa ia mintai tolong. Dengan terpaksa, Kia kembali ke rumahnya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sesampainya di kantor Hendra, Marvin langsung meneguk habis minuman yang diambilkan oleh pegawai Hendra. Marvin memang pergi ke kantor Hendra, yang ada di gedung yang sama dengan club miliknya.


"Sudah, Vin." Hendra meraih, botol minumannya.


" Aku nggak tahu lagi, Ndra. Apa coba kurangnya aku. Aku sudah lakukan semua, untuk bisa mendapatkannya. Aku juga siap menerima Hiro. Lalu, apa sekarang! Anak itu justru mempermalukan ku!" racau Marvin.


Tak ada yang bisa Hendra lakukan pada orang yang sedang patah hati, selain menunggu dan melihat, sambil menyumpal telinganya dengan kapas. Karena semakin lama Marvin semakin meracau tidak jelas.


.


.


.


.


.


Seharian, Kia bolak-balik melihat ponselnya. Apakah Marvin sudah membalas pesannya atau belum. Sungguh, Kia merasa bersalah dan tidak enak hati pada Marvin, setelah kepergiannya semalam.


"Mbak, tolong gantikan saya dulu. Saya mau ke toilet, sudah nggak tahan," ucap Dewi, kasir, pada Yanti.


Melihat Yanti yang juga sedang sibuk, Kia yang sedang duduk di area dapur langsung berdiri.


"Biar aku saja yang gantikan." Kia segera pergi ke meja kasir menggantikan Dewi.


"Terima kasih, Bu," ucap Dewi setelah kembali dari toilet.


Kia hanya tersenyum, mengiyakan.


Ada yang menarik perhatiannya, saat Kia akan kembali masuk ke dapur. Dengan segera, Kia menghampirinya.


Tanpa permisi, Kia langsung duduk berhadapan dengan tamu yang sedang makan. Kaget, tamu itu menatap Kia tajam, tapi cuma beberapa detik. Karena setelahnya, dia melanjutkan makannya kembali dengan tenang.


"Aku mau minta tolong," ucap Kia. Namun, tak membuat orang di depannya menghentikan makannya.


"Tolong aku, aku mohon," ucap Kia, lagi.


Orang di depannya masih berpura-pura tidak mendengar.


"SATRIA!!!" Kia menggebrak mejanya. Hingga menarik perhatian pengunjung yang lain. Bahkan para pegawainya sempat melihat ke arah bosnya, yang bersikap di luar kebiasaan.


"Apa kamu tidak bisa menunggu?" ucap Satria akhirnya, masih meneruskan untuk menikmati makanannya.


"Aku hanya ingin minta tolong untuk menghubungi Marvin. Kamu rekan bisnisnya bukan? Pasti dia akan menjawab panggilan mu. Dia tidak mau mengangkat telfon ku sejak tadi, dan tidak membalas pesanku. Jadi, aku mohon, tolong aku." Ucap Kia panjang lebar.


Saat melihat Satria tadi, yang terlintas di otaknya adalah, Satria rekan bisnis Marvin. Karena itulah, Kia menghampiri Satria.

__ADS_1


Seketika Satria menghentikan makannya, mengusap mulutnya dengan tisu, mengakhiri makan siangnya. Ucapan yang baru saja dia dengar dari mulut Kia, membuatnya kehilangan selera makan, mendadak.


Sebegitu panik kah, Kia. Saat Marvin tak menjawab telfonnya?


Satria berdiri, meninggalkan Kia tanpa bicara sepatah kata pun.


Kia menatap Satria heran, dia dari tadi minta tolong. Dan Satria tak menggubrisnya.


Kia mengikuti Satria yang sedang membayar di kasir.


"Tunggu!" Kia berusaha menghentikan Satria.


Tak peduli dengan, permintaan Kia. Satria tetap pergi dari sana.


"Satria, tunggu!" Kia berlari mengejar Satria hingga keluar restoran. Dan berhasil mencekal tangan Satria untuk menghentikannya.


"Aku belum selesai bicara."


"Aku tidak ingin mendengar apapun tentang Marvin. Apalagi jika harus membantu mu menghubunginya," jawab Satria.


"Kenapa?" tanya Kia heran.


"Apa menurutmu, aku akan membantu orang yang menjadi rival ku. Kalau kamu ingin tahu, aku sangat senang dia menghilang tanpa kabar. Semoga saja dia tidak pernah kembali!" jawab Satria menahan kesal.


Kia menatap tidak suka, mendengar penuturan Satria.


"Dengan begitu, akan lebih mudah untuk ku mendapatkan mu kembali." Satria melepaskan cekalan tangan Kia. Dan pergi begitu saja dari hadapan kia.


Kia hanya terpaku ditempatnya, melihat mobil Satria yang lewat di depan matanya. Pikirannya belum bisa menangkap arti kecemburuan Satria.


"Pria macam apa itu, Aku hanya meminta tolong untuk menghubungi Marvin, tapi dia malah berdoa yang tidak-tidak untuk Marvin." ucap Kia pada dirinya sendiri.


Kia menyerah, karena tak ada harapan lagi untuk mencari orang yang mau membantunya. Satria, yang tadi menjadi satu-satunya harapannya, telah pergi. Dan menyisakan kejengkelan dengan sikapnya.


.


.


.


.


.


.


Kutunggu


👍Like, dan

__ADS_1


🖊️Komen kalian.


Tengkyu💓💓💓sayang hee


__ADS_2