Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.80


__ADS_3

"Permisi!" teriak Kia di depan rumah Satria.


Kia pun menekan bel di rumah itu.


"Permisi!!!" teriak Kia, lagi.


Masih tak ada sahutan dari si pemilik rumah. Ditekannya handle pintu berwarna emas itu.


"Kriettt ...."


Dengan mudah pintu itu terbuka. Rupanya pintu itu tidak terkunci. Dengan hati-hati, Kia masuk ke rumah mantan suaminya itu.


"Dasar ceroboh! apa sejak semalam ia lupa mengunci pintunya," rutuknya lirih.


Tapi kalau diingat-ingat, mungkin Satria sendiri tidak tahu kalau pintu rumahnya tidak terkunci. Bukankah, orang terakhir yang melewati pintu itu adalah Kia sendiri.


Kia mencari keberadaan pemilik rumah itu. "Permisi! ada orang di dalam?" teriaknya sambil berjalan. Tidak ada siapapun di ruang tamu, hingga ruang tengah, tempat Kia menyuapi Satria kemarin. Kia meletakkan bungkusan yang ia bawa di atas meja ruang tengah ini.


Dilihatnya pintu kamar, yang Kia ketahui sebagai kamar Satria, masih tertutup. Kia mencoba mengetuk pintu itu, siapa tahu saja pemilik rumah ada di dalam.


Tiga kali, Kia mengetuk kamar Satria, tapi hanya kesunyian yang menjawab.


"Apa dia masih sakit?" gumamnya pada diri sendiri.


Takut kalau terjadi sesuatu dengan Satria, Kia pun membuka pintu kamar Satria tanpa ijin. Dia langsung masuk dan menghampiri ranjang, dimana ada Satria yang masih tertidur di atasnya. Kia menempelkan punggung tangannya untuk memeriksa suhu Satria. Ternyata, sudah lebih baik. Tidak sepanas semalam. Kia berusaha membangunkan Satria dengan mengguncang tubuhnya pelan.


Satria bergerak, mencoba membuka matanya yang masih sangat mengantuk. Bayangan Kia, adalah hal pertama yang ditangkap oleh retina matanya. Dengan cepat Satria terduduk, berusaha mencari tahu, apakah dia masih bermimpi, ataukah yang dilihatnya sungguh nyata.


"Kamu tidak bermimpi," ucap Kia, seolah tahu apa yang dipikirkan Satria.


Satria tersenyum malu, apa yang ia pikirkan bisa dibaca oleh Kia.


"Kamu masih pusing?" tanya Kia.


"Tidak, aku sudah lebih baik."


"Lalu, kenapa jam segini belum bangun?" Kia melihat jam ditangannya. Sementara Satria melihat jam dinding, yang menunjukkan angka delapan.


"Aku bangun shubuh tadi, karena udara sangat dingin, aku kembali ke bawah selimut," jawab Satria jujur.


"Bangunlah, aku membawa sarapan untukmu. Aku tunggu di luar." Kia meninggalkan kamar Satria.


Satria langsung bangkit dan bergegas mandi. Tak butuh waktu lama untuk seorang pria mandi, dalam lima belas menit, Satria sudah siap dengan pakaian casualnya.


Sarapan yang Kia katakan tadi, sudah tersaji di meja. Semua tampak lezat dan menggugah selera Satria saat melihatnya.


"Apa kamu hanya akan melihat saja makanan di meja ini, tanpa mau memakannya!"

__ADS_1


Satria menggeleng keras.


"Lalu kenapa tidak duduk dan mulai makan."


Satria langsung duduk dan mengambil piringnya. Satria merasakan dejavu, dengan semua ini. Terutama kalimat yang baru saja Kia ucapkan. Dia seperti pernah mendengarnya.


Sambil makan, Satria memikirkan dimana ia mendengar kalimat itu. Ya, kalimat itu adalah kalimat yang dulu ia ucapkan untuk Kia, saat dia berebut kamar dengannya. Saat baru pindah ke rumah baru mereka.


"Kamu sehat?" tanya Kia, lebih kearah sindiran. Karena melihat Satria yang senyum-senyum sendiri.


Bukan menjawab, Satria justru semakin senyum-senyum sendiri. Tidak jelas, apa yang membuatnya tersenyum sendiri.


"Terima kasih, untuk semua perhatian kamu." Satria menghentikan makannya dan menatap Kia yang duduk di depannya.


"Perhatian!" tanya Kia bingung.


"Iya ... terima kasih atas semua perhatian kamu. Kamu sudah merawatku sejak tadi malam, dan pagi ini, kamu bahkan repot-repot membawakan sarapan untukku," jelas Satria.


"Oh ... Ya Tuhan." Batin Kia. Dia baru sadar, jika semua yang ia lakukan adalah bentuk perhatiannya untuk Satria.


"A ... aku, melakukan ini bukan karena perhatian padamu!" elak Kia. Dia jadi salah tingkah, bingung harus menjawab apa.


Satria tahu benar sifat Kia. "Jika ini bukan perhatian, untuk apa kamu kembali pagi-pagi dan membawakan sarapan untukku?"


Dengan gugup, Kia mencari sesuatu di dalam tasnya. "Ini!" Dengan sedikit menggebrak meja, Kia menaruh struk pesanan Satria tadi malam di depan Satria.


"Aku kembali ke sini pagi ini, karena tadi malam kamu belum membayar pesananmu. Kamu ingat, kan?" Sebisa mungkin Kia berusaha untuk tidak terlihat salah tingkah.


"Jangan beralasan lagi, kalau kamu lupa menaruh dompet mu. Karena aku tetap akan menagihnya sampai kapan pun!" ucap Kia, masih berusaha menutupi rasa gugupnya.


Dengan rasa kecewa yang ia perlihatkan, Satria merogoh saku celananya, mengeluarkan dompetnya. Dan, mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan.


"Harga yang tertera dalam struk itu, belum termasuk sarapan ini. Keseluruhan harga yang harus kamu bayar adalah, satu juta lima ratus ribu rupiah." Kia dengan lantang menyebutkan nominalnya.


"Kamu bercanda!" Satria kaget mendengar angka yang disebutkan Kia, untuk membayar makan malam dan sarapannya.


"Aku tidak pernah bercanda soal harga makanan di restoranku!"


"Tapi harga yang disebutkan tidak sebanyak itu!" Satria tidak terima.


"Harga ayam betutu yang kamu pesan memang tidak berubah, tapi sup yang aku masak semalam ada harganya. Belum lagi obat yang aku berikan padamu!" omel Kia.


"Sup itu kamu masak dengan bahan-bahan ku, kamu mana keluar uang untuk membuat sup itu. Dan obat itu, kamu hanya memberiku sebutir, apa iya aku harus bayar mahal untuk sebutir obat demam!"


Perdebatan terjadi antara mereka berdua.


"Kamu pikir, seorang chef itu dibayar untuk memasak dengan membawa bahan dari rumahnya? Lalu, obat yang kuberikan, bukankah sekarang membuatmu lebih baik. Kalau bukan karena sebutir obat yang kuberikan, apa sekarang kamu bisa menikmati sarapan mu?"

__ADS_1


Jelas Kia, membela diri.


"Kamu harusnya bersyukur, aku mau memasak untuk mu dan nemberimu obat. Coba pikir, jika aku tidak mau melakukan semua hal itu, kamu tidak akan sesehat sekarang!"


Satria hanya terdiam mendengar betapa cerewetnya Kia saat ini.


"Cepat bayar semua tagihan mu, aku masih banyak urusan!" Kia mengulurkan tangannya meminta bayaran atas apa yang sudah ia lakukan.


Tak punya pilihan lain, Satria mengambil lima belas lembar uang seratus ribuan dari dompetnya, dan menyerahkannya pada Kia.


Kia menghitung kembali uang yang diberikan Satria di depan pria itu. "Pas! Terima kasih atas orderannya, semoga anda puas dengan layanan kami." ucap Kia menirukan pegawainya, setiap kali mengantar pesanan. Dengan senyum tersungging di bibirnya, Kia melangkah pergi meninggalkan Satria.


Dengan perasaan yang tak bisa lagi diungkapkan, Satria memandangi Kia hingga menghilang di balik pintu. Jantungnya memompa darah dua kali lebih cepat, dan membuat ritmenya jadi tak beraturan.


Senyum yang telah lama hilang dari bibirnya, kini mulai terlukis kembali. Kia-nya telah kembali. Kebahagiaannya telah kembali.


.


.


.


.


.


Kia membanting pintu mobil dengan keras. Tangannya diletakkan di dadanya, memegangi jantungnya agar tidak loncat keluar. Rasa gugup, bingung, bahagia dan entah rasa apa lagi yang ia rasakan saat berhadapan kembali dengan Satria. Kia menarik nafasnya dalam, mencoba menetralkan detak jantungnya yang abnormal.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya selalu untuk cerita ini.


👍Like, dan


🖊️ Komen

__ADS_1


Jangan lupa yak.


Tengkyu💓💓💓sayang hee


__ADS_2