Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.59


__ADS_3

Sekali lagi, Hiro bertemu dengan Satria. Dan, kembali juga, Hiro menatap tidak suka. Terlihat amarah yang dipendam dari sorot matanya. Hiro berlari meninggalkan Naya dan Kia.


Melihat Hiro yang meninggalkannya, Kia menyusul Hiro. Naya dan Satria menatap heran dengan sikap bocah laki-laki itu, tak terkecuali Sarah, yang tadi datang bersama Satria.


"Hiro!" panggil Kia, namun diabaikan.


"Hiro, STOP!!!" kembali Kia memanggil putranya.


Hiro pun berhenti, menuruti perintah Mamanya.


Kia mempercepat langkahnya, dia berdiri tepat di depan Hiro, menatap putranya yang masih terlihat menahan amarah.


"Ada apa, Sayang?" tanya Kia lembut.


Hiro menoleh ke belakang, menatap pria yang tadi dipeluk Naya. "Aku tidak suka dengan dia." Hiro menunjuk Satria.


Suara Hiro tidak begitu keras, tapi Sarah yang berdiri lebih dekat dengan Hiro daripada Satria, bisa mendengar ucapan anak kecil itu.


"Kenapa Sayang, bukankah Naya sudah berjanji tidak akan mengabaikanmu lagi meskipun ada papanya?" begitulah pikir Kia, karena sebelumnya Hiro marah karena merasa diabaikan Naya.


"Bukan karena itu!"


"Lalu?"


"Aku tidak suka dengan papanya Naya, karena dia seperti orang yang ada dalam foto, yang setiap malam Mama lihat, dan selalu menangis saat menatap foto itu."


'Deg.'


Kia memundurkan langkahnya mendengar apa yang Hiro katakan. Tadi, Hiro bilang, dia melihat dirinya menangis menatap foto yang selama ini ia sembunyikan.


"Aku sering melihat Mama menangis saat malam hari sambil menatap foto orang itu, diam-diam aku mengambil foto di mana Mama menyimpannya. Dan aku melihat foto papanya Naya di sana. Aku tidak tahu siapa dia, kenapa Mama menangisi papanya Naya?" Hiro memberikan tatapan yang meminta jawaban.


Kia kembali berjongkok agar nyaman saat berbicara dengan Hiro.


"Sayang ... itu ... itu, tidak seperti yang kamu lihat. Mama ... Mama hanya_____"


Kia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Hiro.


"Hiro tidak peduli!" potong Hiro. "Siapa pun dia, aku tidak suka dengan orang yang telah membuat Mamaku menangis." Hiro mengusap air mata yang mulai mengalir di pipi Kia.


"Selama ini, Hiro tidak lagi bertanya tentang Papa, karena Hiro tidak mau Mama sedih. Hiro tahu, selama ini Mama selalu kesulitan berbohong tentang alasan di mana Papa dan beberapa hari terakhir, sebelum kita bertemu papanya Naya, Hiro sering melihat Mama menangisi foto itu. Dan tadi malam, Mama menangis lebih lama dari biasanya."


Kia bergeming, tak tahu lagi harus berkata apa. Apakah sekarang saat yang tepat untuk mengatakan kebenaran?


"Hiro ada di sana Ma, di depan kamar Mama. Hiro selalu menjaga Mama. Hiro akan selalu jadi pelindung Mama, seperti janji Hiro selama ini," sambung Hiro.


Tangis Kia makin pecah mendengar anak semata wayangnya berucap demikian. Kia meraih Hiro dalam pelukannya. Berusaha kuat, sekuat Hiro berusaha menjaganya.

__ADS_1


"Hiro," panggil Sarah.


Hiro mengurai pelukan mamanya, beralih menatap Sarah yang memanggilnya.


"Dia adalah Papa Hiro." Sarah menunjuk Satria.


Bukan hanya Hiro, tapi Kia dan juga Satria pun terkejut mendengar kebenaran dari Sarah.


Hiro, menatap Satria. Pria itu hanya bergeming. Dialihkannya, pandangannya pada Mamanya.


Awalnya Kia diam, namun, saat melihat sorot mata Hiro yang haus akan jawaban, akhirnya Kia mengangguk juga. Membenarkan ucapan Sarah.


Hiro kembali berlari, lebih kencang dari yang sebelumnya. Berusaha menjauh dari orang-orang dewasa yang begitu rumit menurutnya.


.


.


.


.


.


Sarah POV


Kata-kataku yang mengungkapkan tentang siapa Satria, ternyata memperumit keadaan. Naya yang saat itu ada di sana pun mendengar apa yang aku ucapkan. Berkali-kali, putri kecilku itu bertanya, bagaimana bisa papanya menjadi papa Hiro juga. Aku sungguh bingung, bagaimana harus menjelaskannya.


Tapi dengan bahasa yang mudah di mengerti anak kecil, aku mengatakan bahwa Hiro adalah saudaranya.


Belum lagi pertanyaan tentang di mana Hiro sekarang, kenapa sudah satu minggu Hiro tidak masuk sekolah. Naya bilang, dia merindukan Hiro, karena hanya Hiro teman yang dekat dengannya.


Semua salahku, keegoisanku di masa lalu telah menyakiti hati banyak orang, termasuk Hiro. Aku telah mencuri kebahagiaan yang bukan milikku. Ku pikir, dengan mempertahankan Satria di sisiku, aku bisa bahagia. Nyatanya tidak, Semua yang kujalani bersama Satria enam tahun terakhir, hanya hubungan semu. Satria, bukanlah Satria yang aku inginkan.


Cinta yang aku paksakan untuk menjadi milikku, justru menyiksaku pelan-pelan. Setiap hari, aku dikejar oleh rasa bersalahku. Setiap kesalahan dan dosa yang kubuat, satu persatu, Tuhan perlihatkan dalam ingatanku. Semua nyata, bahwa aku adalah contoh manusia yang begitu hina. Aku meninggalkan kewajiban ku sebagai istri, demi karir yang tak abadi. Mengkhianati cinta tulus suami, demi kesenangan yang ku yakini hakiki.


Dan, saat Tuhan membalik semuanya, saat aku kehilangan cinta suamiku, saat aku kehilangan karirku, aku masih saja egois. Hingga Tuhan memberiku sakit ini, sakit yang mengingatkanku tentang kematian, yang aku takutkan.


Apa ini hukuman?


Tidak, ini bukan hukuman. Tapi, ini kasih sayang Tuhan. Ini adalah jalan yang memang harus aku lalui, meskipun aku harus tersesat lebih dulu, tapi Tuhan ingin aku kembali pada jalan yang benar.


Ya, saat aku mencoba ikhlas, menerima kenyataan tentang sakitku, tentang hubunganku dengan Satria. Di situlah, aku merasakan ketenangan, yang sejak dulu aku cari.


Satria tulus merawatku, dan memberikan kasih sayangnya untuk putriku, Naya. Tapi kali ini, aku tidak boleh egois. Cinta harus kembali pada pemiliknya, dan itu bukan aku. Karena itulah aku kembali, untuk mengembalikan kebahagiaan yang telah aku curi.


Kia harus bersatu lagi dengan cintanya, dan Hiro harus mendapatkan kasih sayang yang tak ia dapatkan selama ini dari papanya.

__ADS_1


"Sedang apa?" tanya Satria yang membuyarkan lamunanku. Ia menghampiriku, di taman belakang. Aku sedang menyendiri di sini, duduk di bangku taman sambil menatap pohon mangga, kenangan ku dengan Satria di masa kecil kami.


"Maafkan aku." Kutatap Satria, dengan rasa bersalahku.


"Aku tidak bermaksud memperumit semuanya, aku hanya ingin kalian cepat bersatu kembali," lanjutku.


Satria duduk berseberangan dengan ku.


"Semua sudah terjadi, dan memang begitulah, Tuhan mengijinkan semua terjadi."


Satria, kata-katanya selalu menenangkanku.


"Apa kamu tidak marah? aku sudah mengacaukan semuanya."


"Untuk apa aku marah. Jika yang kamu lakukan, terjadi atas kehendak-Nya. Sekarang, bukan saatnya menyesal. Karena waktu tak akan pernah terulang. Kita akan memperbaiki yang telah rusak bersama-sama."


"Di mana kita akan mencari mereka?"


"Entahlah."


"Bukankah Wira, asistenmu itu yang selama ini membantu Kia. Bisakah kita meminta tolong padanya?" ucap ku dengan semangat.


Ya, aku ingat, dulu saat Kia datang padaku ke Singapura dia diantar oleh Wira, dan saat aku mengusirnya, dia pun pergi dengan Wira. Dari informasi yang kudapat dari orang suruhan papaku, Wira juga yang selama ini membantu Kia.


Semoga, aku bisa segera menemukan Kia. Menyelesaikan semua masalah yang aku buat, karena aku tak ingin pergi dengan membawa rasa bersalah ku.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih atas dukungannya untuk cerita ini 🙏 ... Jangan lupa untuk selalu:


👍Like


❤️Favorite


🖊️komen


Tengkyu💓💓💓sayang hee

__ADS_1


__ADS_2