Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.49


__ADS_3

"Mama!" teriakan seorang bocah laki-laki yang mengenakan seragam taekwondo menggema di sebuah ruang berlatih.


Biasanya anak berusia lima tahun itu, dijemput di luar. Tapi, kali ini Kia harus masuk karena saboeum (pelatih) taekwondo putranya ingin berbicara empat mata dengannya.


Kia berjongkok agar bisa menangkap putranya yang tengah berlari ke arahnya. Dengan cepat Kia mendekap bocah itu, memeluknya dan mencium kepalanya.


"Kamu tunggu di luar ya sayang, Mama mau bertemu saboeum dulu," pinta Kia pada putra kecilnya.


Mengangguk mengerti, bocah itu pun segera mengambil tasnya dan berpamitan untuk keluar lebih dulu. Kia memandang putranya yang berlari keluar, dengan tas di punggungnya yang bergerak-gerak saat bocah itu berlari.


"Selamat sore," sapa Kia pada saboeum yang masih berada di ruang latihan.


"Selamat sore," jawab pria bersabuk hitam itu. "Mari silahkan duduk." Pria itu mengarahkan Kia pada bangku panjang yang tersedia di pinggir ruangan.


Kia mengikuti saboeum untuk duduk di bangku panjang itu. Sementara saboeum sendiri duduk di sebelah Kia dengan mengambil jarak.


"Jadi begini, Bu. Akhir-akhir ini, Hiro menjadi anak yang mudah sekali marah. Saya tidak tahu apa penyebabnya. Karena ketika ditanya, anak itu hanya diam saja dan memilih pergi. Sebab itulah saya memanggil anda, karena Hiro sudah melewati batas kemarin. Sebenarnya, beberapa hari sebelumnya saya perhatikan ada perubahan pada sikapnya. Tapi, saya tidak menyangka kalau Hiro akan bertindak sejauh itu," jelas Saboeum.


"Sebelumnya saya mau meminta maaf atas sikap Hiro," ucap Kia tulus.


"Saya sendiri sedang mencari tahu apa yang menjadi penyebab sikap emosional Hiro. Sampai hari ini dia belum mau bercerita."


Alasan Kia dipanggil oleh pelatih taekwondo Hiro, karena kemarin bocah kecil itu berkelahi lagi dengan temannya. Memukul hingga temannya mengalami luka di tempat latihan. Kia sendiri belum tahu kenapa Hiro bisa bertindak seperti itu, yang pasti saat ini, kedatangannya menemui saboeum selain untuk memenuhi panggilan sang pelatih itu, juga untuk mencari tahu alasan anak itu bersikap kasar.


"Mungkin kita butuh seseorang yang Hiro percaya untuk mendengarkan ceritanya. Orang yang dekat dengan Hiro. Bagaimanapun, Hiro masih kecil dan masih butuh banyak bimbingan," usul sang pelatih.


Kia mengerti maksud pelatih. "Saya akan mencoba, semoga Hiro bisa menjadi lebih baik. Terima kasih atas bantuannya selama ini," jawab Kia karena setelahnya Kia pamit undur diri.

__ADS_1


Kia berjalan menuju parkiran, dari jauh sudah terlihat putra semata wayangnya tertawa gembira dengan seorang laki-laki. Mereka terlihat begitu akrab layaknya ayah dan anak.


Ada perasaan sedih ketika melihat putranya itu. Hiro, anak berusia lima tahun itu adalah anak yang selalu berusaha untuk bersikap ceria di depan dirinya. Hiro selalu bisa menutupi kesedihannya, bahkan menyimpan perasaannya sendiri. Mungkin kalimat yang selalu Hiro ucapkan untuk melindungi Kia adalah alasannya. Hiro hanya ingin mamanya bahagia, dia tidak ingin melihat kesedihan di wajah mamanya.


Kia melambaikan tangan dengan senyum tersungging di bibirnya, saat membalas lambaian tangan Hiro yang menunggunya di samping mobil.


"Apa kita akan ke rumah sakit?" tanya Hiro.


Kia menggeleng. "Tidak, kita akan makan ke tempat favorit kamu."


"Benarkah?" tanya Hiro tak percaya.


"Hemmm." Kia menganggukkan kepalanya.


"Yeaaaa," pekik bocah itu. "Ayo Om!" ajak Hiro pada pria yang dari tadi menemaninya.


"Papa! panggil PAPA Hiro, baru aku mau antar kamu makan," pinta Juna dengan memaksa.


"Ya udah, Om nggak mau antar kamu lagi kemana-mana. Mending Om tidur di rumah!" Juna bersidekap dengan wajah yang dibuat kesal.


"Ya udah, Om pulang saja. Hiro bisa telpon Om Wira. Om Wira bisa jadi papa Hiro, Om Wira kan lebih kaya dan lebih ganteng dari Om Juna," jawab Hiro dengan nada ancaman.


Mendengar nama Wira, nyali Juna langsung ciut. Pasalnya, Wira adalah kandidat terberat dalam mendapatkan cinta Kia.


"Ish ...." Juna pun mengalah, dia langsung mengangkat tubuh bocah kecil itu dan mencubit hidungnya. "Bisa banget sih bikin Om nurut sama kamu."


"Sakit tau Om," pekik Hiro lagi, sambil mengusap-usap hidungnya yang dicubit Juna.

__ADS_1


Juna hanya terkikik melihat bocah yang menggemaskan itu, ia pun memasukkan dan mendudukkan Hiro ke kursi belakang mobil.


Kia hanya bisa tertawa kecil, mengingat setiap kali pertengkaran antara Hiro dan Juna. Dan putranya lah yang selalu memenangkan perdebatan. Hiro selalu bisa membuat Juna menyerah. Hal itu mengingatkannya pada ayah dari anaknya.


🍁 FLASH BACK ON🍁


Perlahan Kia membuka matanya, sangat berat. Tapi, dia harus tetap membuka matanya, karena tubuhnya sudah begitu lelah karena terlalu lama tertidur. Dia ingin bangun, dan menyapa orang-orang yang suaranya terdengar memanggil-manggil dirinya saat ia masih tertidur.


Orang yang pertama kali dilihatnya adalah Wira, asisten Satria. Lalu Kia mengedarkan pandangannya, ada Rena, Shila, juga Juna.


Semua menampilkan senyum kebahagiaan menyambut Kia yang bangun dari tidurnya. Kia pun membalas senyuman mereka, namun sedetik kemudian senyumnya pudar, kala tak ia dapati ada Satria bersama teman-temannya.


"Satria?" tanya Kia lirih.


Tidak ada yang menjawab, mereka justru saling menatap.


"Suami kamu baik-baik saja, dia sedang dirawat. Kamu baru boleh menjenguk kalau kondisimu sudah kuat." Shila berusaha menenangkan sahabatnya itu.


Kia pun mengerti penjelasan Shila, dan mulai berpikir untuk segera memulihkan kondisinya agar bisa bertemu Satria. Kia masih ingat bagaimana kejadian kecelakaan itu, saat motor yang membawanya menghantam mobil kontainer.


Hingga satu minggu sejak Kia bangun dari komanya, Dia belum bisa bertemu dengan suaminya. Shila memberitahukan kondisi Satria yang mengalami luka yang lebih parah darinya dan saat ini Satria dirawat di rumah sakit Mount Elizabeth di Singapura.


Sarah yang memindahkannya ke sana. Setelah vidio perselingkuhannya tersebar di pesta anniversary-nya, Sarah mendapatkan kabar dari Aditya bahwa Satria mengalami kecelakaan saat kejar-kejaran dengan anak buah papanya itu. Tanpa pikir panjang, Sarah segera pergi ke lokasi kejadian, mengabaikan awak media yang ingin mencari tahu pembelaan apa yang akan Sarah ungkapkan mengenai vidio yang tersebar itu. Sampai di lokasi kejadian, Satria dan juga Kia sudah dievakuasi oleh tim medis ke rumah sakit.


Tak menunggu lagi, Sarah langsung memerintahkan supirnya ke rumah sakit di mana Satria dirawat. Mengetahui kondisi Satria yang kritis, Sarah tak tinggal diam. Dia meminta dokter terbaik untuk merawatnya, dia bahkan mengeluarkan kalimat ancaman untuk tim dokter jika tak bisa menyelamatkan Satria. Hal konyol memang, tapi Sarah benar-benar takut kehilangan Satria.


Perasaan itu baru Sarah sadari saat melihat berbagai peralatan medis terpasang di tubuh pria yang selalu ia sakiti. Sarah menatap sendu pada tubuh yang terbaring tak berdaya di atas ranjang perawatan, air matanya pun meleleh tanpa ia minta.

__ADS_1


Pria yang selalu menjaganya, memaafkan segala kesalahannya, pria yang selalu mendapatkan luka demi keegoisannya. Bahkan kali ini, saat pria itu ingin menggapai kebahagiaannya, sekali lagi demi egonya, Satria harus terluka. Tak hanya perasaannya, tapi juga fisiknya. Luka yang hampir saja membuat Sarah tak bisa lagi bertemu dengannya.


Sarah semakin menangis, saat setiap kesalahan yang ia buat untuk suaminya terlintas dalam ingatannya. Menyesal, itu yang ia rasakan sekarang. Dia ingin memperbaiki semuanya, karena kenyataannya Sarah tak bisa kehilangan Satria.


__ADS_2