Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.47


__ADS_3

Kia sudah bersiap di bandara, saat ini dia sedang menunggu orang yang membantunya untuk chek in tiketnya. Pagi-pagi sekali dia sudah dijemput dua orang yang tak dikenalnya, tapi Kia tahu pasti siapa orang yang menyuruh mereka.


Kia duduk di kursi tunggu ditemani satu orang lainnya. Tak ada yang ia siapkan tadi pagi, dia hanya berangkat membawa dirinya saja. Karena semua sudah diurus oleh orang yang memintanya untuk meninggalkan negara ini, tiket bahkan paspor sudah disiapkan oleh orang itu. Dan sekarang pun ponselnya harus ditahan oleh orang yang membawanya ke bandara. Kia mengamati orang yang berlalu-lalang melewatinya.


"Aku ingin ke toilet." Kia berdiri dari bangkunya.


Dengan sigap satu orang yang dari tadi menemaninya, langsung mengekorinya menuju toilet.


"Apa kamu ingin mengikutiku masuk juga?" tanya Kia di depan toilet wanita.


"Saya akan menunggu Nona di sini," ucap orang itu lalu berdiri siaga di depan pintu toilet.


Tanpa bicara lagi Kia langsung masuk ke toilet. Dia menuju toilet yang disediakan untuk orang dengan kebutuhan khusus. Didalam ruangan itu Rena sudah menunggunya.


Tadi pagi saat dua orang tak dikenal datang menjemputnya, dan memintanya untuk pergi bersama mereka, saat itu juga Kia mendapat telfon dari orang yang menyuruh mereka. Kia harus segera pergi dari negara ini jika mau temannya selamat.


Aditya dan Sarah kembali menggunakan cara licik untuk menekan Kia. Dia menjebak Shila dengan menyuruh pria untuk mendekatinya. Pria yang dulu tak sengaja ditabrak oleh Shila dan belakangan Kia ketahui sebagai kekasih sahabatnya itu, ternyata adalah orang suruhan Aditya. Aditya selalu bermain rapi, agar setiap kejahatannya tak diketahui.


Saat ini Shila bersama pria yang bernama Ramos itu. Dan Kia akan mendapati temannya tidak selamat jika ia tidak mengikuti keinginan Aditya. Untunglah, di saat terpojok itu otaknya masih bisa bekerja dengan baik. Kia diam-diam mengirimkan pesan pada Rena untuk membantunya, saat ia beralasan akan mengganti baju sebentar dan segera menghapus pesan itu.


Karena setelah itu, diperjalanan dua orang itu meminta ponsel Kia dengan janji Kia akan mendapatkan ponsel baru saat tiba di luar negri.


"Kamu sudah siap?" tanya Rena yang melihat Kia selesai mengganti baju.


Kia mengangguk pasti.Dengan gamis dan hijab yang dibawakan Rena serta kaca mata hitam yang sudah Kia kenakan, Rena segera menyuruh Kia untuk duduk di kursi roda.


"It's time to go," ucap Kia.


Dengan gaya yang santai agar tak menimbulkan kecurigaan, Rena mendorong Kia keluar dari toilet. Detak jantung Kia saat ini berdetak lebih cepat dari biasanya, rasa cemas dan takut akan ketahuan membuat Kia semakin gugup saat melewati bodyguard suruhan Aditya.


"Santai aja, jangan gugup, biar dia nggak curiga," bisik Rena sambil terus mendorong. Rena berjalan pelan melewati bodyguard itu.


"Maaf, Mbak," panggil seseorang dari belakang.

__ADS_1


Rena mengabaikannya saja, berpura-pura tidak dengar.


"Mbak ... mbak...," panggil orang itu lagi. Kali ini terdengar langkah kaki mengejar.


"Ren, ada yang manggil itu," ucap Kia pelan.


"Udah biarin aja, kita harus segera pergi."


"Mbak ...." Orang yang sama berteriak kembali.


"Ren, itu dipanggil lagi." Kia takut juga, kalau berhenti takut keburu ketahuan, kalau nggak berhenti justru mencurigakan.


"Sstttt, diam aja." Rena tetap bersikeras pura-pura tidak dengar dan terus mendorong kursi roda Kia.


Hingga mereka dikagetkan dengan orang yang tadi meneriakinya dan kini berhasil menghadangnya.


"Maaf, mbak, dari tadi saya panggil-panggil Mbak nggak berhenti," ucap orang itu yang tak lain adalah bodyguard yang mengikuti Kia.


Semakin gugup dan takut saja Kia dan Rena sekarang. "Ma-maaf, teman saya ini memiliki masalah pada pendengarannya jadi mungkin dia tidak dengar saat Anda memanggilnya," jawab Kia dengan suara yang dibuat berbeda dari suara aslinya.


"Maaf, ada apa ya Anda memanggil kami tadi?" Kia mencoba menghentikan aksi dari bodyguard itu saat menatap dirinya dengan tatapan curiga.


"Oh ... ya, maafkan saya." Bodyguard itu sedikit malu saat Kia menyadarkan aksinya menatap Kia. "Saya hanya ingin memberikan ini." Bodyguard itu mengulurkan syal milik Rena yang tadi Rena sampirkan di sling bag miliknya.


"Tadi terjatuh," ucap bodyguard itu memberi penjelasan.


"Oh ...." ucap Kia dan Rena bersamaan. Rena pun mengambil syal dari tangan bodyguard itu dan pergi setelah mengucapkan terima kasih.


Penyamaran yang dilakukan Kia rupanya berhasil mengelabuhi bodyguard itu hingga Rena berhasil membawa Kia keluar dari bandara tanpa di ketahui oleh bodyguard yang sempat menatapnya curiga.


Mereka segera menuju ke parkiran, di mana Juna ikut terlibat membantu Kia. Juna sudah siap dengan mobil yang disewanya. Rena pun mengarahkan Kia untuk segera masuk ke mobil dan pergi dari bandara sebelum kedua bodyguard itu menyadari bahwa mereka sudah dikelabui.


"Kita ke mana?" tanya Juna setelah Kia dan Rena masuk kedalam mobil.

__ADS_1


"Nggak tahu, kita jalan dulu aja nanti kita pikir sambil jalan," ucap Rena yang belum hilang rasa takutnya.


Menuruti kata Rena Juna pun segera membawa mobil itu keluar dari area bandara


.


.


.


.


.


.


.


Di sisi lain, Satria juga dijemput oleh orang suruhan Aditya di apartemennya. Sejak ajakan Satria untuk pergi bersama Kia waktu itu, Satria memang tinggal di apartemennya. Karena saat itu Kia belum bisa memutuskan dan meminta waktu untuk memikirkannya. Namun tak disangka jika Sarah dan papanya justru bertindak lebih cepat.


Satria tak bisa menolak untuk tidak ikut kedua orang suruhan mertuanya itu, karena melihat vidio di mana Kia sedang dibawa dua orang, yang juga suruhan Aditya. Dan tentu saja telfon dari Aditya, yang mengancam akan melenyapkan Kia jika Satria tak menuruti keinginannya.


Dengan sangat terpaksa Satria ikut dua orang itu ke sebuah hotel berbintang, di mana Sarah dan Aditya sudah menunggu.


"Akhirnya kamu datang juga," ucap Sarah menyambut kedatangan Satria.


"Kamu ingat kan aku pernah bilang, kamu akan selalu menuruti keinginanku. Kali ini pun akan sama saja," ucap Sarah lagi.


"Kamu benar-benar nggak punya harga diri ya!" sindir Satria. "Aku tahu kamu murahan, tapi tidak seharusnya kamu berbuat serendah ini!" teriak Satria.


"SATRIA!!!" pekik Aditya tak terima dengan ucapan penghinaan atas Sarah, putrinya. "Jaga bicaramu, dan ingat siapa dirimu dan siapa Sarah! kamu tidak lebih dari anak pelayan yang berjanji akan melayani kami seumur hidupmu. Jadi jangan lupa akan batasanmu!"


Satria justru memasang senyum miringnya saat Aditya mengingatkan dia akan statusnya.

__ADS_1


"Aku baru sadar, sampai kapan pun aku tidak akan pernah lebih dari pelayan di mata Anda. Aku sudah memenuhi janji ku pada Anda dan orang tuaku. Aku berjanji akan membuat Anda dan Sarah bahagia meski aku harus mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Namun, Anda dan Sarah sudah memilih kebahagiaan Anda sendiri meskipun saya sudah korbankan kebahagiaan saya. Jadi saya anggap tidak ada lagi hutang janji antara saya dengan Anda maupun Sarah."


Aditya mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras, amarahnya tertahan pada mantan menantunya ini. Tidak ada gunanya marah untuk saat ini. Karena hari ini fokusnya hanya untuk menyatukan kembali Sarah dan Satria.


__ADS_2