
Sarah duduk di ruang make up, dan seorang MUA sedang membersihkan riasan di wajah cantiknya setelah menyelesaikan pemotretannya hari ini. Sementara micky sang asisten mulai mengemasi barang-barang Sarah.
"Serius mau langsung pulang hari ini?" tanya micky manja.
"Hemm ...," gumam Sarah sebagai jawaban.
"Tapi sudah tiga hari lho kita nggak clubing, nggak kangen sama DJ?" rayu Micky.
"Aku harus ada di rumah sebelum suamiku pulang."
"Bukannya Tuan Satria sedang sibuk, kamu sendiri yang bilang kalau dia tidak pulang tiga hari ini." Micky menarik resleting tas yang berisi perlengkapan Sarah yang selesai ia kemas.
"Dia memang tidak pulang, tapi dia melihat apa yang ku lakukan." Sarah tersenyum, mengingat suaminya yang menaruh orang terpercaya di rumahnya untuk melapor kegiatan apa yang dilakukan dia selama di negara ini.
Micky mengantar Sarah sambil menenteng tas besar milik Sarah dan memasukkannya ke mobil yang sudah menunggu Nonanya itu.
Mobil mewah itu membawa Sarah kembali ke rumah papanya. Seperti niat awalnya, setelah selesai membersihkan diri Sarah menyiapkan makan malam untuk papa dan suaminya.
Satria pulang tetap di jam makan malam, dan di sambut Sarah dengan senyum termanisnya. Sarah langsung mengambil tas kerja milik Satria setelah ia mencium pipi suaminya itu.
Pemandangan yang indah untuk mata orang tua yang sangat mendambakan keharmonisan rumah tangga putrinya. Aditya tersenyum haru, sudah lama ia menginginkan putrinya bisa menjadi istri yang baik untuk Satria.
"Sarah ke kamar dulu Pa," pamit Sarah pada Aditya yang sedang duduk di ruang tengah.
Sarah mengikuti Satria ke kamar mereka, Sarah ingat betul kebiasaan suaminya. Satria akan mandi dan berendam sebentar sebelum makan malam dan semua keperluan Satria sudah Sarah siapkan. Nampaknya kali ini Sarah benar-benar ingin berubah, dan memulai membangun kembali rumah tangga yang sempat ia abaikan.
"Kenapa menatapku begitu?" tanya Sarah yang merasa diperhatikan oleh satria. Satria memang menatap Sarah dengan tatapan bingung saat ia keluar dari kamar mandi. Melihat Sarah sedang menyiapkan baju untuk ia pakai.
"Untuk apa kamu lakukan semua ini?" Satria menerima baju yang Sarah siapkan.
"Seperti yang aku bilang waktu itu, aku ingin berubah. Aku ingin kita kembali bersama," jawab Sarah mantap dengan pilihannya.
"Aku sudah menikah lagi." Satria mengingatkan tentang status pernikahan keduanya.
__ADS_1
"Saat itu kamu sudah memberi tahuku, aku yakin dia hanya pelampiasan sesaat. Akulah cinta pertamamu, cinta sejatimu, dan selamanya akan seperti itu, tidak akan pernah terganti," ujar Sarah percaya diri.
Tak menjawab apapun Satria langsung meninggalkan Sarah untuk mengganti baju. Setelahnya, mereka turun dengan Sarah yang bergelayut manja di lengan Satria. Tersungging senyum di bibir merahnya, terlukis bahagia di raut wajahnya dan itu semua tertangkap oleh mata Aditya sebagai ayah Sarah. Aditya melihat kesungguhan dari putrinya itu untuk berubah, menjadi istri yang baik untuk menantunya.
Makan malam di mulai dengan tenang, dan setelahnya Aditya mengajak menantu dan putrinya itu untuk berkumpul di ruang tengah. Sarah nampak mesra bersender di bahu Satria, sementara Aditya duduk di seberang pasangan itu.
"Rumah ini pasti akan ramai jika ada tawa anak-anak," ujar Aditya mengutarakan isi hatinya.
"Kami sedang berusaha Pa, Sarah yakin tidak akan lama lagi impian Papa untuk menggendong cucu akan terwujud. Benar kan, Sayang?" Sarah melirik Satria.
Satria hanya bisa menampilkan senyum pura-puranya.
"Papa harap juga begitu," jawab Aditya penuh harap.
Terdengar dering ponsel milik Sarah, dan hal itu membuat Sarah pamit untuk pergi menjawab panggilan untuknya. Kini tinggal Aditya dan Satria berdua di rungan itu. Ruangan yang nampak sunyi jika Aditya tak mengajak Satria berbicara.
"Satria, maafkan Sarah," ucap Aditya.
"Maafkan semua kesalahan Sarah, Papa mohon terima dia yang ingin berubah. Sarah sudah mengutarakan keinginannya untuk menetap di sini, dan aku sudah meminta pengacara untuk mengurus kontrak kerja Sarah. Dia benar-benar ingin kembali dan mengorbankan karirnya. Ya, meskipun dia tetap akan bekerja tapi dia tidak akan meninggalkan negara ini, semua Sarah lakukan untukmu." Aditya menghela nafasnya dalam.
"Sarah berjanji akan jadi istri yang baik untuk mu, dia tidak akan mengecewakanmu. Papa mohon, beri Sarah kesempatan," sambung Aditya.
"Pa, Satria sudah ...."
"Sudah menerima Sarah untuk kembali," sela Sarah melanjutkan kalimat Satria.
"Benar kan, Sayang? tadi Satria sudah mengatakannya di kamar Pa, dia akan menerima Sarah kembali dan Sarah janji, Sarah tidak akan mengecewakan Satria maupun Papa." Sarah menunjukkan mimik wajah yang begitu meyakinkan pada Aditya dan juga Satria akan apa yang ia janjikan.
Sementara Satria yang sebenarnya berniat mengatakan tentang hubungannya dengan Sarah yang sudah berakhir, harus menahan diri terlebih dahulu karena Sarah mencegahnya. Satria kembali mengikuti permainan Sarah, menutupi semua dari mertuanya itu.
Malam sudah mulai larut, Sarah mengajak papanya untuk beristirahat begitu pun dengan Satria. Di kamar, Satria sudah bersiap dengan jaketnya dan akan mengambil kunci yang ada di nakas, sebelum Sarah mencegahnya.
"Jangan pergi, bermalam lah di sini malam ini. Aku merindukanmu." Sarah memeluk Satria yang berdiri di depan nakas. Dia melingkarkan tangannya di dada Satria.
__ADS_1
"Aku tidak bisa lagi membalas rindumu," jawab Satria.
Sarah langsung melepaskan pelukannya, dan memutar tubuh Satria agar berhadapan dengannya. "Nikahi aku lagi," pintanya dengan serius.
"Aku tidak tahu apa tujuanmu, tapi aku ingin kita akhiri sandiwara ini di depan Papa mu. Kita sudah menyakitinya terlalu jauh, aku tidak ingin kita memberikan harapan palsu untuknya. Papamu berhak bahagia dengan masa depan mu."
"Kebahagiaan papaku adalah melihat aku bersamamu. Jadi jika kamu ingin mengakhiri hubungan ini, itu artinya kamu yang telah menyakiti papaku, dan itu berarti juga, kamu sudah melanggar janjimu pada orang tuamu."
"Sarah, aku tahu kamu tidak pernah mencintaiku, lalu untuk apa kamu bertahan. Sekarang saatnya kamu bebas."
"Sama seperti mu yang berkorban untuk kebahagiaan papaku, seperti itu juga aku ingin berkorban untuk kebahagiaan papaku. Lagipula, kenapa kita tidak memulai semua dari awal."
"Aku tidak ingin lagi memaksakan keinginanku padamu."
"Aku menginginkanmu, aku ingin kembali padamu."
Satria langsung melangkah pergi meninggalkan Sarah. Mengabaikan keinginan mantan istrinya, karena akan percuma bicara pada Sarah yang keras kepala.
🍁🍁🍁🍁
Kia sedang gelisah menunggu suaminya, yang tadi bilang akan pulang ke rumahnya tapi sudah tengah malam pria itu tak menampakkan batang hidungnya.
"Semua pria sama saja, setelah dapat apa yang dia mau dia pasti kembali dengan istri pertamanya," gerutu Kia yang berdiri di depan jendela kamarnya.
"Harusnya dulu aku berpikir ulang untuk jadi istri keduanya," gumamnya lagi. Kali ini Kia sedang membungkuk di samping ranjangnya, menatanya untuk ia tiduri.
"Memang apa yang harus dipikir ulang jika jadi istri kedua?" suara bisikan itu membuat Kia terlonjak kaget dan langsung membalikkan tubuhnya.
Satria sudah berdiri di depannya dengan senyum di bibirnya. Satria langsung melingkarkan lengannya di pinggang Kia dan menariknya lebih dekat. "Apa yang harus kamu pikirkan jika jadi istri kedua?" ucap Satria mengulang pertanyaannya tadi.
"Ya ... ya itu, aku harus ...." Jarak yang terlalu dekat antara dirinya dan Satria membuat Kia gugup untuk menjawab.
Tak ingin tahu jawaban istrinya, Satria lalu membungkam bibir Kia dengan bibirnya. Menikmati manis di setiap cecapan. Satria merindukannya, bibir istri keduanya.
__ADS_1