Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.50


__ADS_3

Kondisi Kia sudah membaik, dia bahkan sudah sembuh dan sudah diijinkan pulang. Teman-temannya, selalu bergantian menjaga Kia. Begitupun Wira, dia selalu menyempatkan diri untuk menjenguk Kia, hari ini pun Wira ikut menjemput Kia dari rumah sakit.


"Kapan aku bisa bertemu Satria?" tanya Kia sesampainya di rumah.


"Tunggu kondisimu kuat dulu, aku akan mengurus semua dokumen untuk kepergianmu ke Singapura," jawab Wira.


.


.


.


.


Cukup lama Kia menunggu, hingga Wira mengajaknya untuk bertemu Satria. Wira memang sengaja mengulur waktu, agar kondisi fisik Kia benar-benar kuat. Selain itu, Kia juga harus menyiapkan mental saat bertemu dengan Satria. Wira memang belum melihat kondisi Satria, tapi dia sudah menyuruh orang untuk memberikan informasi terkait Satria.


Dan, berita yang ia terima adalah Satria sudah sadar. Secara fisik, kondisinya sudah bisa dibilang baik. Namun, ada masalah dengan ingatannya. Satria mengalami amnesia retrograde, kondisi di mana seseorang kehilangan ingatan akan masa lalunya, termasuk kejadian terakhir yang ia alami.


Satria sudah pulang dari rumah Sakit dan saat ini dia dirawat di mansion milik keluarga Sarah.


Sarah menemui Kia dan Wira setelah pelayannya mengatakan ada tamu yang ingin bertemu dengan Satria.


"Untuk apa kalian kemari?" tanya Sarah tidak suka, terutama pada Kia. Terlihat dari tatapannya untuk Kia.


"Aku ingin bertemu suamiku," jawab Kia.


Sarah terkekeh mendengar ucapan Kia. "Suamimu?" kembali terkekeh.


"Dia adalah suamiku, dan kamu tidak punya hak atas dia!".


"Jangan mengada-ada, kalian sudah bercerai! hanya aku yang punya status sebagai istrinya. Jadi biarkan aku membawanya pergi dari tempat ini."


"Satria akan tetap di sini, bersama ku dan tidak ada seorang pun yang boleh membawanya!"


Kia berjalan maju, mendorong tubuh Sarah agar bisa masuk ke rumah dan menemui Satria. Dengan cepat Sarah menahan Kia, hingga terjadilah keributan. Wira berusaha menarik Kia mundur agar aksi saling dorong itu berhenti, namun Kia tak ingin melepaskan Sarah, dia terus berusaha mendorong Sarah agar bisa masuk ke rumah itu.


"Sedang apa kalian?" suara bariton yang berasal dari dalam membuat Kia begitu senang. Dengan kuat Kia mendorong Sarah hingga mundur dan membuka jalan untuknya masuk. Kia berlari memeluk Satria, suami yang sudah lama ia rindukan.


Kia memeluk erat Satria, merapatkan tubuhnya dan mengencangkan lengannya yang melingkar di tubuh Satria. Kia sangat bahagia bisa bertemu dengan suaminya lagi dalam keadaan sehat.

__ADS_1


Tidak sebentar Kia memeluk Satria, perasaan aneh langsung menyerbunya kala tubuh dalam dekapannya hanya diam mematung. Tidak ada balasan dari Satria, tubuh yang ia peluk serasa kaku. Aneh. Itu yang Kia rasakan. Bukankah seharusnya Satria membalas pelukannya, dan gembira telah bertemu dengan Kia.


Tapi, apa yang terjadi?


Ada apa dengan pria ini?


Semua pertanyaan itu, tiba-tiba memenuhi otaknya.


Satria mendorong tubuh Kia pelan, agar sedikit menjauh dari tubuhnya. Dengan tatapan aneh Satria memperhatikan Kia dari rambut hingga ujung kaki.


"Kamu, siapa?"


Pertanyaan Satria membuat Kia lemas seketika, dia bahkan sampai memundurkan langkahnya. Kia bingung, apa yang terjadi dengan suaminya. Pertanyaan macam apa yang Satria tanyakan.


Satria, suaminya sendiri bertanya tentang siapa dirinya. Kia tak bisa menerima ini, rasanya ini seperti drama dalam televisi. Kia menoleh menatap Wira dan Sarah, berharap ada jawaban di sana.


Seolah mengerti arti pertanyaan Kia yang disampaikan melalui tatapannya, Wira pun mengangguk mengiyakan. Kia beralih menatap Sarah, wanita itu justru membuang muka.


Bulir-bulir bening perlahan mulai mengalir dari sudut matanya. Apakah sekarang, Kia harus jadi pemeran dalam drama amnesia ini.


Satria berjalan meninggalkan Kia, dan menghampiri Sarah. "Siapa dia?" tanya Satria pada Sarah, karena tadi tidak mendapat jawaban dari Kia.


"Jangan pernah bawa dia kembali lagi ke sini!" ucap Sarah saat melewati Wira.


Wira menyentuh kedua bahu Kia, dan membawanya pergi dari mansion itu. Sementara Kia seperti patung yang diseret pergi, dia hanya mengikuti kemana Wira menuntunnya untuk melangkah.


Keesokan harinya, Kia datang lagi ke mansion Sarah. Dia masih belum percaya jika Satria tak mengenalinya, bahkan melupakannya. Kia masih berharap kalau kemarin itu hanya pura-pura, atau lebih berharap lagi kalau semua cuma mimpi.


Kia beruntung, Sarah sedang pergi. Jadi dia bisa menemui Satria sendiri tanpa harus ribut dengan wanita itu. Kia diantarkan oleh seorang pelayan ke sebuah ruangan yang lebih mirip dengan perpustakaan. Banyak buku berjejer rapi pada rak yang menempel pada dinding.


Setelah mengatakan pada tuannya tentang kedatangan Kia, pelayan itu pun pergi meninggalkan Kia berdua dengan Satria. Masih sama seperti kemarin. Tatapan Satria yang penuh tanya membuat Kia tak bisa menyembunyikan perasaannya. Setelah sampai di hotel kemarin, Wira baru bercerita tentang kondisi Satria yang hilang ingatan.


"Ada apa lagi kamu ke sini?" tanya Satria yang masih memegang buku.


Kia diam tak menjawab. Dia ingin sekali memeluk pria di depannya ini. Kia sangat merindukannya.


"Hei ... apa kau mendengarku?" Satria menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Kia.


Pandangan Kia masih kosong menatap wajah tampan di depannya. Hingga Satria menepuk bahunya, barulah ia tersadar dan tergeragap.

__ADS_1


"Ada perlu apa lagi kamu mencariku?" tanya Satria lagi.


"Tidak kah kamu mengingatku?" tanya Kia lirih.


Satria bingung dengan pertanyaan Kia. "Apa aku mengenalmu?"


Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, Kia menangis saat kembali mendengar pertanyaan Satria.


Kia mendekat, mencoba memangkas jarak. Dipegangnya wajah Satria dengan kedua tangannya. "Lihatlah aku, tidakkah kamu ingat siapa aku?"


Satria diam mematung. "Aku Zakiya, aku istrimu!" pekik Kia dalam tangisnya.


Saat itu juga, saat Kia mengatakan statusnya, Satria langsung mendorong tubuh Kia dengan kasar. Satria berusaha menjauh. "Jangan gila ya, aku sudah menikah. Dan aku sangat mencintai Sarah," jawab Satria.


"Tidak, kamu harus mengingatku. Aku istrimu. Kamu dan Sarah sudah bercerai. Hanya aku istrimu saat ini!" teriak Kia tidak terima, kalau Sarah yang disebut sebagai istri dari Satria.


"Kamu harus mengingatku, kita menikah di apartemenmu. Apa kamu ingat, kamu yang mengajakku untuk menikah. Kamu bilang, kamu sudah lama menyukaiku. Akulah istrimu dan bukan Sarah!" teriak Kia lagi, mencoba mengingatkan tentang pernikahannya.


Satria berusaha mencerna informasi yang diucapkan Kia, mencoba menggali ingatannya. Namun tak ada yang bisa ia temukan, selain rasa sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya. Sangat sakit hingga Satria terduduk di lantai sambil mencengkeram kuat kepalanya.


Kia jadi panik, saat mendapati betapa Satria sungguh tersiksa dengan kepalanya. Semua terlihat dari raut dan juga raungan Satria yang menggambarkan kesakitan yang teramat sangat. Kia berusaha mendekat, mencoba menolong Satria.


Saat tangannya hampir menyentuh Satria, Kia merasakan dorongan yang kuat dari seseorang.


"Apa yang kamu lakukan!" hardik Sarah.


"A-aku ... aku hanya ___"


"PELAYAN!!!" teriak Sarah sangat keras.


Saat itu juga, pelayan Sarah datang dengan berlari memenuhi panggilan Nonanya.


"Panggil dokter sekarang!" titahnya pada pelayannya.


Sarah merangkul Satria, berusaha menenangkan pria itu. Dengan hati-hati Sarah menuntun Satria untuk ke kamarnya.


"PERGILAH BODOH!!! dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi di sini, suamiku tidak membutuhkanmu!" ucap Sarah pada Kia.


Air mata Kia semakin deras mengalir, melihat betapa menderitanya Satria. Dan dirinya tak bisa berbuat apapun, hanya bisa menatap kepergian Sarah dan Satria yang menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


__ADS_2