Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.56


__ADS_3

Waktu berlalu dalam kebisuan, tidak ada diantara mereka yang berniat untuk memulai pembicaraan lebih dulu. Bagi Kia, bukan karena dia tidak menyukai wanita di depannya ini, tapi rasa canggung membuatnya tak tahu harus berkata apa dan bersikap bagaimana.


Dan bagi Sarah, bukan juga karena ia masih sangat membenci wanita yang sudah berani menggantikan posisinya, sebagai istri Satria. Bahkan saat ini, rasa itu sudah hilang, tak ada lagi kebencian. Apalagi setelah melihat kedekatan antara Kia dengan Naya, putrinya. Sama seperti yang Kia rasakan, rasa canggung juga mendera Sarah. Dia pun bingung, dari mana harus memulai pembicaraan.


Namun, rasa bersalah pada Kia, membuat Sarah membuka suaranya. "Maafkan aku," ucap Sarah tiba-tiba.


Kia, mau tak mau mendongak, menatap Sarah yang kini juga tengah menatapnya.


"Maafkan aku, telah bersikap egois padamu," ulangnya.


Kia masih menatap Sarah, kali ini dengan intens, mencari kebenaran kata-katanya. Tak ada sirat kebohongan, permintaan maaf Sarah tergambar tulus di matanya.


"Aku tidak tahu kalau kamu pergi dalam keadaan hamil waktu itu, dan sekarang, aku ingin mengembalikan apa yang menjadi milikmu."


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak akan jadi penghalang antara kamu dan Satria."


Tentu saja Kia makin tidak mengerti maksud dari ucapan Sarah.


Sarah mulai bercerita, saat pertama kali dirinya tahu bahwa dirinya tengah mengandung. Saat itu, dia sangat marah, dia benci ada janin yang tumbuh dalam rahimnya. Dia ingin sekali melakukan hal yang sama, seperti sebelumnya. Hal yang sama, yang ia lakukan pada calon anaknya dengan Satria waktu itu.


Sarah sungguh tak menginginkan anak dalam rahimnya. Beberapa hari, sejak ia tahu bahwa dirinya hamil, Sarah lebih memilih mengurung dirinya di kamar. Hingga Aditya, sang Ayah, mencari tahu apa yang terjadi dengan putrinya.


Kali ini, Aditya tidak bisa lagi membiarkan Sarah melakukan hal bodoh itu untuk kesekian kalinya.


"Apa yang terjadi?" tanya Aditya, memeluk Sarah yang nampak kacau di dalam kamarnya.


Sarah tak ingin bicara, apalagi tentang kehamilannya. Tapi Aditya tahu, bahwa Sarah menyembunyikan sesuatu, yang sudah Aditya ketahui dari pembantunya. Pembantu yang sering membersihkan kamar Sarah, menemukan tespack di tempat sampah, di dalam kamar mandi Sarah.


Tanpa perintah, pelayan yang sudah lama bekerja di rumah Sarah itu, melapor pada Aditya. Dengan anggapan, kalau tuannya pasti sangat bahagia mendengar kabar akan memiliki cucu. Dan berharap dirinya mendapatkan hadiah karena telah menjadi orang pertama yang memberinya kabar.


Namun, bukan kebahagiaan yang terlihat dari ekspresinya, melainkan raut bingung. Karena Aditya tahu, seperti apa hubungan Sarah dan Satria. Jika tebakannya benar, calon cucunya itu, bukan darah daging Satria.


Dengan halus, Aditya mulai menginterogasi Sarah, tidak ada nada kemarahan dalam setiap pertanyaannya. Karena Aditya tahu, seperti apa sifat putrinya. Aditya hanya ingin pengakuan Sarah, dan dia berhasil.

__ADS_1


Sarah menceritakan siapa ayah dari bayi yang tengah ia kandung, dan Sarah juga mengungkapkan bahwa ia tak menginginkannya. Jika dia harus hamil, hanya Satria yang boleh jadi Ayah dari bayinya.


Hal itupun 'diaminkan' oleh Aditya. Pria tua itu pun mendukung keinginan Sarah, tapi tidak untuk menyingkirkan bayi itu. Siapapun ayah dari bayi itu, bayi itu tetap cucunya. Sebagai seorang ayah, dia sangat bahagia ketika kabar akan menjadi kakek ia terima, meskipun kenyataannya tidak seperti harapannya sebelumnya. Bagaimanapun caranya, Aditya tetap ingin Satria yang menjadi menantunya. Dan dia akan mewujudkan keinginannya itu.


Aditya dan Sarah pun, merencanakan untuk melaksanakan pernikahan ulang di hari jadi pernikahan Sarah dan Satria yang ke delapan. Dengan begitu, status bayi dalam kandungan Sarah akan tetap terjaga, karena lahir dalam pernikahannya dengan Satria. Satria pun tak akan menolak mengakui anak itu, karena sudah masuk dalam permainan Sarah dan Aditya.


Tapi, semua rencananya tak seperti apa yang mereka rancang sebelumnya. Keinginannya untuk menahan Satria di sisinya harus buyar, saat Satria memutuskan kabur dengan Kia di hari yang telah ditetapkannya.


Tak sampai di situ, karirnya hancur saat foto-foto perselingkuhannya terekspose media. Nasib sial seolah tengah menimpanya, karena setelah itu kabar tentang kecelakaan Satria membuatnya makin frustasi. Kecemasan, penyesalan, semua bercampur menjadi ketakutan akan kehilangan Satria untuk selamanya.


Sarah, tak pernah sekalipun meninggalkan Satria di rumah sakit. Dia dengan setia merawat dan menunggui, seseorang yang ia harapkan itu. Hingga ia memutuskan untuk memindahkan Satria, ke Mount Elizabeth Hospital di Singapura. Semua untuk kesembuhan Satria.


Di saat itulah, niat baiknya merawat Satria, membuka jalannya untuk kembali bersama Satria. Saat Satria dinyatakan mengalami amnesia, saat itu, harapannya muncul untuk bisa memiliki Satria kembali. Semua hal yang berkaitan dengan Satria sebelum terjadi kecelakaan ia singkirkan, termasuk dengan Kia.


Sarah memulai hidup baru dengan Satria, menanamkan memori-memori baru dalam ingatan Satria. Termasuk kabar kehamilan, yang disambut Satria dengan gembira. Rasanya lengkap sudah kebahagiaannya, hal itu membuat Sarah ingin berubah. Menjadi istri yang selama ini Satria inginkan.


Kebahagiaan itu semakin terasa saat bayi perempuan yang cantik itu lahir dari rahimnya. Kanaya Tabitha, nama yang Satria pilih untuk putrinya. Sarah semakin bersemangat untuk mengubur masa lalu Satria, yang berhubungan dengan Kia. Karena itu, Sarah mengajak Satria untuk menetap di Sydney, Australia.


Namun, semua usahanya menjadi sia-sia saat Sarah dinyatakan mengidap kanker serviks stadium empat. Vonis dokter tentang harapan hidupnya, membuat Sarah takut meninggalkan Naya sendirian.


Setiap hari, rasa bersalah semakin mengusik hatinya. Dia telah menipu Satria, memisahkannya dari istrinya.


Dan anehnya, hal yang Sarah takuti jika Satria mendapatkan kembali ingatannya, justru tidak terjadi. Satria tidak sedikit pun marah ataupun meninggalkan Sarah. Dia justru memilih untuk menemani Sarah disisa-sisa waktunya.


Sarah pun mengirim Naya kembali ke Indonesia lebih dulu, dan sengaja membuat Kia juga Hiro agar bisa dekat dengan Naya.


"Apa tujuanmu?" sela Kia setelah mendengar pengakuan Sarah.


"Aku ingin, Naya mendapatkan keluarga yang utuh setelah aku pergi nanti," jawab Sarah jujur.


Kia tersenyum getir. "Haruskah kamu tetap jadi egois, bahkan di saat kamu akan pergi?"


"Aku memang egois, karena begitulah sifatku. Aku harus jadi egois untuk Naya."


"Bagaimana kamu bisa yakin kalau aku akan menerima Naya, setelah semua yang kamu lakukan padaku?"

__ADS_1


"Karena kamu tidak akan pernah bisa menyakiti Naya."


Sarah benar, Kia tidak mungkin bisa menyakiti anak kecil itu. Tidak mungkin juga bisa menolak kehadirannya, meskipun perlakuan Sarah dulu begitu menyakitinya.


"Sarah." Sapa seorang pria yang membuat Sarah juga Kia menoleh bersamaan.


Sarah tersenyum melihat kehadiran pria itu, sementara Kia terpaku melihat siapa yang sedang berdiri menatapnya.


"PAPA!!!" Teriakan dari Naya yang muncul dari belakang pria itu semakin membuat Kia bergeming. Dia Satria, ayah dari anaknya, juga papa bagi Naya.


Satria membalikkan badannya setelah mendengar suara gadis kecilnya. Naya berlari, memeluk Papanya, yang sudah lama tak berjumpa.


Satria yang tengah berjongkok memeluk Naya, menatap Hiro yang berdiri di belakang Naya. Pandangan mereka beradu, namun sorot mata Hiro, tak seperti orang yang baru pertama kali bertemu. Tak ada rasa penasaran, tak ada pula rasa suka melihat papa temannya.


"Ayo kita pulang, Ma!" Hiro menghampiri Kia dan menggandeng tangan mamanya itu keluar dari kedai ice cream, meninggalkan Naya bersama Keluarganya.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa dukungannya ya...


👍Like


❤️Favorite

__ADS_1


🖊️komen


Vote nya juga yak....tengkyu💓💓💓sayang hee


__ADS_2