
Siang ini Kia datang ke kantor Satria, tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada suaminya itu. Kia bingung saat resepsionis di kantor suaminya menanyakan keperluannya untuk bertemu Satria. Untunglah, di saat yang bersamaan Wira yang sedang melintas mengenali Kia yang sedang bingung karena pertanyaan resepsionisnya. Wira pun membawa Kia naik untuk menemui atasannya.
"Ada perlu apa sampai kamu datang kemari?" tanya Satria setelah Kia mendudukkan dirinya di sofa.
"Kamu tidak ingin tahu kabarku?" Kia mencebik. "Kalau tidak salah ingat sudah tiga hari kita tidak bertemu. Apa kecantikan mantan istrimu membuatmu lupa padaku?" cibir Kia.
Satria justru menarik sudut bibirnya keatas, menyunggingkan sebuah senyuman untuk ekspresi kecemburuan Kia. Satria melangkah dari kursi kebesarannya menghampiri Kia.
"Apa kamu cemburu?" tanya Satria yang duduk di samping Kia.
"Aku bukan cemburu, hanya saja aku jadi ragu dengan ucapanmu terdahulu. Kamu tidak tampak seperti seorang suami yang mendambakan aku sejak lama."
Satria tersenyum kembali.
"Apakah mantan istrimu itu memintamu untuk kembali, hingga kamu ragu dan berusaha untuk mulai menjauhiku?"
Seketika senyum yang tersungging di bibirnya hilang berganti dengan keraguan. Bagaimana istri mudanya ini bisa menebak dengan tepat.
"Jadi benar, alasanmu tidak memberiku kabar dan juga tidak ingin tahu kabarku karena Sarah mengajakmu rujuk?"
Satria tetap diam, masih bingung harus menjawab apa.
"Baiklah, lupakan saja soal Sarah. Aku ke sini karena tadi aku mengunjungi kakakku, dia menanyakan perkembangan kasusnya. Apakah kamu sudah menemukan petunjuk?"
"Iya, aku sudah menemukan sedikit petunjuk." jawab Satria.
"Apa itu?" tanya Kia antusias.
Satria kembali berjalan ke mejanya, dia membuka laptopnya dan memperlihatkan sebuah rekaman cctv pada Kia. Kia yang berdiri di samping Satria memperhatikan rekaman itu dengan seksama.
"Kamu lihat orang itu?" Satria menunjuk pada layar laptop. "Orang itu datang setelah Kakakmu dan asisten rumah tangga itu masuk ke rumah itu. Tapi orang itu baru keluar setelah polisi mengevakuasi jasad Fira. Di mana dia bersembunyi selama ada polisi, dan lihatlah saat dia keluar dia membawa tas ransel sementara saat dia masuk tadi dia tak membawa apapun juga." Satria memperbesar gambar orang itu agar terlihat wajahnya.
__ADS_1
"Siapa dia? dan ada hubungan apa dia dengan kak Fira?" tanya Kia.
"Aku belum tahu siapa dia."
"Jadi bagaimana kita akan mencari tahu?" Kia menatap pria yang duduk di kursi nyaman kebesarannya.
Melihat Kia yang sedari tadi merunduk di sampingnya, Satria menarik tangan Kia agar duduk di pangkuannya. Tentu saja Kia kaget karena tanpa ijin Satria menariknya. Kia menatap wajah suaminya, hanya sekejab saja. Takut jika pikirannya melayang ke tempat yang tak seharusnya
"Aku sudah menyuruh orang untuk mencari tahu ada hubungan apa orang ini dengan kekasih kakakmu. Untuk itu kamu juga harus membantu ku. Karena aku merasa orang ini tahu dan menjadi kunci dari kasus kakakmu," ucap Satria yang melingkarkan tangannya di perut istrinya.
Kia hanya mengangguk sebagai kesiapan untuk membantu pengungkapan kasus kakaknya.
Suasana hening tercipta beberapa saat. "Maafkan aku," ucap Satria lirih.
Kia menoleh mendengar ucapan Satria. "Untuk kesalahan apa kamu minta maaf?" tanya Kia.
"Maaf jika aku tidak memberimu kabar dan tidak menanyakan kabarmu," jawab Satria.
Satria mengangguk pelan. Sementara Kia hanya bisa tersenyum getir dengan pengakuan suaminya, tak tahu harus bersikap seperti apa. Haruskah ia cemburu hingga marah?
Tapi, Kia sendiri tidak pernah mengatakan apa yang ia rasakan pada suaminya. Sudah cinta kah ia, atau mungkin hanya menganggap pernikahan ini sebuah kesepakatan.
"Lalu, apa jawabanmu? akankah kamu kembali pada Sarah dan melepaskan aku?"
Pertanyaan yang sulit yang di lontarkan istri keduanya ini. Beberapa hari ini Satria memilih untuk tinggal di apartemennya, karena sejak Sarah mengajaknya rujuk rasa bimbang menguasai hatinya.
Satria mulai mencintai Kia istri keduanya, tapi ia tak bisa menepikan rasa untuk Sarah yang notabene adalah cinta pertamanya. Istri pertamanya dan wanita yang ia kenal sejak ia masih belia.
"Aku tidak tahu, karena sejujurnya aku ragu dengan apa yang kurasakan," jawab Satria jujur.
"Bagaimana jika aku bilang aku mulai menyukaimu, akan kah itu membantumu untuk memilih?"
__ADS_1
Kia memang mulai menyukai Satria, kebersamaan membuatnya jadi terbiasa dan nyaman dengan kehadiran Satria di sisinya.
"Benarkah?" Satria tersenyum menggoda. "Kalau begitu, malam ini aku akan pulang. Aku ingin melihat seberapa suka kamu padaku," sambungnya dengan bercanda.
Kia langsung mencubit pinggang Satria dengan keras hingga suaminya itu mengaduh kesakitan. Kia baru melepaskan tangannya saat Satria memohon.
"Apa itu bukti rasa sukamu padaku? Jika seperti itu buktinya, lebih baik kamu tidak usah menyukaiku."
"Itu adalah pelajaran untukmu agar kamu tidak bicara mesum di tempat yang bukan seharusnya."
"Siapa yang mesum? lagi pula aku mesum dengan istriku sendiri, siapa yang mau melarang. Bahkan kalau aku mau, aku bisa saja berbuat itu di sini dan tidak akan ada yang protes."
Kia memutar bola matanya malas mendengar ucapan Satria. "Dasar tidak tahu malu," gerutunya yang tentu saja di dengar Satria.
Dengan cepat Satria merapatkan tubuh Kia yang duduk di pangkuannya, dan memagut bibir istrinya itu. Kia larut dalam permainan lidah Satria, menikmati setiap cecapan bibir Satria.
Saat mereka berdua sedang berasyik masyuk dalam manisnya ciuman, Wira yang dari tadi mengetuk pintu dan tidak mendapat jawaban langsung saja membuka pintu ruangan atasannya itu. Tak hanya Satria dan Kia yang kaget saat pintu terbuka, Wira pun dibuat kaget dengan adegan dewasa yang baru ia saksikan. Canggung, itu yang ia rasakan saat melihat atasannya sedang memangku istrinya dengan mesra.
"Ma-maafkan saya, Pak." Hanya kalimat itu yang keluar dari bibir Wira sebelum ia menutup rapat pintu ruangan atasannya itu.
Wira mengelus dadanya, baru kali ini ia melihat live show adegan dewasa. Biasanya hanya bisa melihat dari film yang ia tonton.
Wira, pemuda yang selalu sibuk bekerja itu hampir tak punya waktu untuk pacaran atau sekedar cari pacar. Dia memilih sibuk membangun karirnya bersama Satria, sang atasan.
"Sekarang siapa yang tidak tahu malu?" goda Satria pada Kia.
Kia benar-benar malu, bukan hanya terpergok oleh asisten suaminya. Tapi lebih malu lagi, saking terbawa nikmatnya permainan Satria dia sampai tidak mendengar ada orang mengetuk pintu.
Kia berdiri dari pangkuan Satria. "Mau ke mana?" tanya Satria mencegah Kia pergi.
"Kurasa aku harus segera pulang, aku tidak mau orang lain masuk ke ruangan ini dan mengira kita sedang berselingkuh," jawab Kia asal.
__ADS_1
Yang langsung dibalas Satria dengan senyuman. Jika bukan Wira, tapi orang lain yang memergokinya tadi pasti akan langsung beredar gosip perselingkuhan antara dirinya dengan pemilik kantor firma hukum itu.