Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.36


__ADS_3

"Jangan," rintih seorang wanita yang ditarik paksa oleh seorang pria.


"DIAM! atau aku akan mempermalukanmu di sini!" ucap si pria, masih terus menarik lengan si wanita menjauh dari penglihatan orang.


"Jangan coba-coba berteriak!" ancam si pria.


Mereka berdua berjalan menjauh, hingga sampai di belakang gudang kampus. Tempat yang sepi, hanya ada kebun yang di penuhi ilalang. Pria itu melempar gadis yang dicengkeramnya ke atas tanah.


Setelah memperhatikan dan mengikuti kedua orang tadi, tidak tahan juga Kia melihat perlakuan pria yang akan melakukan perbuatan jahat kepada gadis itu.


"Hei!!! jangan jadi pengecut dengan memaksa seorang gadis," teriak Kia.


Si pria itu langsung menoleh ke arah suara yang memanggilnya. "Siapa kamu, sedang apa di sini?" balas si pria dengan teriak juga.


"Aku bukan siapa-siapa, tapi aku tidak suka melihat pria pengecut yang berani memaksa gadis untuk keuntungannya!"


"Oh ... mau jadi pahlawan! baguslah, sekalian kita kerjain!" Setelah menyebut kata sekalian, satu pria lagi muncul dari balik pohon.


Sekarang ada dua orang pria beraura seram sedang menatap dirinya. Tak ingin berlama-lama di tempat yang berbahaya itu, Kia langsung menarik tangan gadis yang akan ditolongnya, berusaha untuk lari.


Dengan tak kalah cepat pria yang baru muncul dari balik pohon, menangkap tangan Kia dan menariknya dari gadis yang ditarik Kia. Karena kalah kuat, tangan Kia terlepas dari gadis yang hendak Kia tolong. Pria yang seperti preman itu langsung melempar Kia ke tanah, seperti yang dilakukannya tadi pada gadis yang mau Kia tolong.


Kia tak ingin menyerah pada preman-preman ini, Kia bangkit dan memukul preman yang melemparnya. Perkelahian pun tak bisa dielakkan, Kia menggunakan kemampuannya ber-muay thai untuk melawan dua preman itu.


Untuk ukuran wanita, Kia cukup bisa mengimbangi perkelahian itu. Kedua preman itu jatuh tersungkur akibat tendangan dari Kia.


"Jadi siapa yang dikerjai siapa sekarang!" tanya Kia dengan angkuh sambil menyeringai.


Kedua pria itu meringis kesakitan, yang satu memegangi perutnya dan yang lain mengusap darah di sudut bibirnya yang pecah karena bogem dari Kia.


Tak lama senyum seringai di bibir Kia pudar, saat tubuhnya terasa limbung. Ada yang memukulnya dari belakang, begitulah yang ia rasakan. Sebelum ia bisa berbalik dan melihat siapa yang telah membuatnya kalah, tubuh Kia sudah lebih dulu terjatuh dengan mata tertutup.


"Bodoh!!! untuk apa kalian bermain-main, aku hanya menyuruh kalian menangkapnya. Tidak untuk bermain-main!" maki seorang wanita yang tadi memukul Kia.

__ADS_1


"Bawa dia!" Wanita itu langsung pergi meninggalkan Kia yang tak sadarkan diri bersama kedua preman itu setelah memberi perintah.


.


.


.


"Begitulah, setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi." Kia menceritakan bagaimana ia bisa ada di gudang tua dan ditemukan oleh Wira.


"Apa Sarah pelakunya?" tanya Kia pada Satria yang duduk di tepi ranjang memegangi mangkuk bubur yang tadi ia gunakan untuk menyuapi Kia setelah Kia sadar. Kia tertidur semalaman, karena penculiknya memberi Kia obat tidur dalam dosis tinggi, hingga di pagi hari Kia baru tersadar.


"Bukan," jawab Satria yakin.


"Lalu siapa? bukankah orang yang tidak menyukai keberadaanku hanya istrimu itu." Kia mencoba mengingatkan suaminya akan apa yang pernah Kia ceritakan tentang kejadian sebelum penculikannya.


"Orang yang menculikmu adalah orang yang tidak ingin kakak mu bebas, dia ingin kita berhenti mencari bukti kematian Safira."


"Apa dia pelaku sebenarnya?"


"Kalau bukan dia yg menculikku pelakunya, lalu untuk apa dia menyuruh kita berhenti mencari bukti."


"Aku belum tahu apa motif orang itu, aku sedang menyelidiki ini bersama anak buahku."


"Apa dia akan melakukan hal yang lebih gila dari menculik ku jika kita tetap mencari bukti untuk membebaskan kakakku?"


"Aku akan menjaga mu. Aku janji."


Satria dan Kia saling bertatapan, Satria berusaha meyakinkan Kia akan apa yang dia ucapkan, bahwa dirinya akan menjaga Kia dengan baik. Sementara Kia mencari kebenaran akan janji yang Satria ucapkan.


"Mandilah, kau butuh menyegarkan diri." Satria bangkit dari ranjang, mengacak rambut istrinya itu lalu keluar dengan mangkok di tangannya.


Menuruti kata suaminya, Kia bergegas ke kamar mandi. Dia memang sangat ingin berendam, agar rasa pegal dan nyeri akibat perkelahian itu bisa berkuarang dengan air hangat. Cukup lama waktu yang ia habiskan untuk merendam tubuhnya.

__ADS_1


Selesai dari kamar mandi Kia keluar dengan mini dress tanpa lengan, mencari suaminya. Siapa tahu suaminya belum ke kantor.


"Kenapa belum berangkat?" tanya Kia saat melihat suaminya duduk di sofa ruang tamu.


"Aku tidak ke kantor hari ini."


Kia mengambil duduk di samping suaminya. Mini dress yang Kia kenakan pagi itu membuat Satria tak berhenti memandanginya, apalagi saat Kia sudah duduk di sampingnya. Paha mulus Kia terekspose jelas, membuat Satria harus berusaha menahan dirinya.


"Apa kamu ingin menemaniku hari ini?"


Satria yang menatap Kia dari tadi seperti tidak fokus saat Kia bertanya. "Eh ... iya, kenapa?"


"Apa kamu ingin menemaniku hari ini?" ulang Kia.


"Iya, begitulah," jawabnya tak fokus.


Kia menggeser tubuhnya berusaha merapat pada suaminya. Saat itu juga, Satria langsung meraih bantal sofa dan diletakkan di atas paha Kia.


"Kenapa?" tanya Kia bingung.


"Aku tidak ingin melakukan hal yang tidak seharusnya ku lakukan," jawab Satria.


Satria harus menahan dirinya untuk tidak mengajak istrinya ini bersenang-senang dengannya. Dia harus sadar diri, bahwa mungkin istrinya merasakan sakit atau semacamnya setelah perkelahian yang diceritakan tadi.


"Memang apa yang tidak seharusnya kamu lakukan?" Kia membuang asal bantal itu dan lebih merapat pada Satria.


Satria memilih mundur, dengan menggeser tubuhnya ke belakang. Dan Kia dibuat semakin tidak mengerti dengan kelakuan suaminya ini. Padahal Kia hanya ingin berseder saja di bahu suaminya, tapi suaminya ini seolah menjauh darinya.


Semakin Satria mundur semakin merapat juga tubuh Kia. Hingga Satria sampai pada ujung sofa, tak ada lagi tempat untuknya mundur.


"Kemarilah, aku hanya ingin bersandar. Kenapa kamu harus setakut itu?"


"Aku hanya tidak ingin melakukan hal yang tidak seharusnya aku lakukan sekarang, aku harus menjaga dirimu. Jadi tolong menjauhlah dari ku."

__ADS_1


"Memang apa yang akan kamu lakukan jika aku mendekati mu?" Kia masih belum mengerti maksud Satria, karena itu dia terus mendesak Satria dengan pertanyaannya juga tubuhnya.


"Yang akan aku lakukan adalah mengajak mu bersenang-senang," jawab Satria yang sudah tidak bisa menahan diri lagi. Dia sudah terdesak, tidak ada lagi tempat untuk dia mundur. Satu-satunya jalan adalah maju dan menerkam bibir istrinya, yang dari tadi menggodanya. Dengan cepat, Satria sudah merebahkan tubuh Kia di bawah kungkungannya.


__ADS_2