
Kalau tidak sedang sibuk, Wira selalu menyempatkan diri untuk mengantar Hiro ke sekolah. Seperti pagi ini, Wira menggantikan tugas Kia untuk mengantar Hiro.
"Jadi anak yang baik, ya," ucap Wira, mengelus kepala Hiro, setelah bocah itu berpamitan dengan mencium tangan Wira.
Hiro berlari menuju gerbang sekolah dengan semangat. Ada seseorang, yang menunggunya di sana.
"Selamat pagi," sapa gadis berkepang dua, dengan jepit kupu-kupu di rambutnya.
"Selamat pagi," jawab Hiro ramah.
Mereka pun berjalan beriringan, menuju kelas.
"Apa tadi itu Papamu?" tanya Naya.
"Bukan." Hiro menggeleng. "Tapi, aku ingin dia jadi Papaku," sambungnya jujur.
"Kalau kamu sudah punya Papa, kamu tidak boleh punya Papa lagi. Nanti Papa kamu sedih," ucap Naya mengartikan apa yang dikatakan Hiro.
"Aku tidak punya Papa, makanya aku ingin om Wira jadi Papaku."
"Apa bisa begitu, bagaimana mungkin seseorang tidak punya Papa dan meminta orang lain jadi Papanya?"
"Tentu saja bisa, teman satu dojoku, dia bisa punya Papa baru. Padahal papanya ada sama dia. Sementara aku kan tidak punya papa, jadi boleh kan, aku menginginkan om Wira jadi papaku."
Naya makin tidak mengerti pembicaraan tentang papa ini, dan untungnya pembicaraan pun berakhir saat mereka berdua sudah sampai di kelas.
.
.
.
Meski belum lama kenal, nyatanya Hiro dan Naya sudah bisa akrab. Tentu saja, kejadian saat jepit rambut Naya diambil paksa oleh Vano berperan penting pada keakraban mereka sekarang.
Saat ini, Naya sedang berada di restoran milik Kia. Setelah sebelumnya, ada drama merajuk yang dibuat Naya, agar mendapatkan ijin dari Opa-nya.
"Silahkan," ucap Rena saat meletakkan Pasta juga ice cream di meja.
"Terima kasih," ucap Hiro dan Naya bersamaan.
Kia hanya tersenyum memandang kedua bocah kecil dihadapannya. Hiro, dan Naya nampak bahagia.
"Boleh kami makan sekarang?" tanya Naya pada Kia.
"Tentu saja. Ayo, makan dan habiskan ya," jawab Kia ramah.
Naya dan Hiro mulai mengambil garpunya, dan makan dengan senyum yang tak hilang dari bibir mereka.
"Bagaimana?" tanya Kia saat melihat ekspresi Naya.
"Heummm ... ini lezat sekali, Tante." Naya memperlihatkan ekspresi, yang sama dengan apa yang ia ucapkan soal rasa pastanya. "Tapi ...." Naya menjeda ucapannya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Kia penasaran. Sementara Hiro hanya menatap heran, ingin tahu juga apa yang akan Naya ucapkan.
"Pasta di restoran Tante ini memang enak, tapi, tidak ada yang seenak pasta buatan Papaku. Papaku sangat pintar memasak, bahkan Mamaku saja masakannya tidak seenak Papaku." Naya tertawa sendiri mengingat bagaimana masakan mamanya yang selalu gagal.
Kia dan Hiro, sama-sama menatap Naya yang terlihat bahagia dengan tawanya.
"Kenapa tadi kamu tidak menghubungi Mamamu, kenapa justru minta ijin pada Opa?"
Kia ingat tadi, saat Hiro mengajak Naya untuk mampir ke restorannya, Naya yang sudah dilarang oleh pengasuhnya tetap bersikeras untuk bisa ikut ke restoran. Alhasil, sang pengasuh harus meminta ijin dulu kepada tuan besarnya, yang tak lain adalah Opa-nya Naya.
"Karena, aku di sini tinggal bersama Opa. Mama dan Papa masih ada di luar negri. Jadi aku di sini tinggal dengan Opa." Kali ini nampak sedikit kesedihan di wajah Naya. Mungkin karena harus tinggal berjauhan dengan mama dan papanya membuat bocah itu sedih.
Kia mengusap lembut kepala Naya. "Ya sudah, habiskan ya. Tante, mau bekerja dulu."
Sebelum pergi, Kia menatap Hiro yang dibalas Hiro dengan anggukan. Dari tatapan mata saja Hiro bisa tahu, perintah mamanya untuk menjaga Naya.
"Halo ... kamu cantik sekali," puji Juna untuk Naya.
Naya menatap bingung pada Juna, dia tidak mengenal orang yang baru saja memujinya ini. Naya mengalihkan pandangannya pada Hiro, mencoba bertanya dengan tatapannya.
Melihat Naya yang sedang menatap bingung pada Hiro. Juna langsung mengambil duduk di depan mereka berdua, tepat di posisi yang tadi Kia duduki. "Kamu bingung ya?" Juna tersenyum semanis mungkin.
"Perkenalkan, nama Om, Om Juna. Papanya Hiro." sambungnya dengan terkekeh seraya mengulurkan tangannya pada Naya.
Hiro langsung mendelik, sekaligus mencebik kesal, mendengar pengakuan Juna. "Jangan percaya!" ketus Hiro.
"Kenapa?" tanya Juna. "Level ganteng kita kan setara, sudah cocok Om, jadi papa kamu," sambung Juna.
"Tuh, temen kamu aja setuju, Om, jadi papa kamu. Iya kan?" Juna melirik Naya. Menaik turunkan alisnya. Yang dilirik hanya bisa senyum-senyum.
"Sama dari mana! Om, nggak lihat, kulit kita aja beda. Om itu sawo, aku langsat....dari harga aja udah beda!" jawab Hiro meledek.
Juna, dan Naya langsung tertawa bersamaan mendengar ucapan Hiro.
"Kenapa, kamu tertawa!" Juna menatap tajam Naya, hingga gadis kecil itu menampakan raut takut. "Kamu mengerti apa yang dia ucapkan?" Juna menunjuk Hiro.
Naya menggeleng pelan, masih dengan raut takutnya.
"Kalau tidak mengerti, kenapa tertawa? kamu meledekku!" Juna bertanya dengan serius.
"A-aku ... aku hanya___"
"Hanya apa!" Juna menaikkan sedikit suaranya.
Seketika, Naya menunduk takut.
Hiro menatap Juna dengan tajam, bukan karena dia meninggikan suaranya di depan Naya. Tapi, memberi kode bahwa ada seseorang yang tengah melotot tajam pada Juna.
"Apa?" tanya Juna bingung.
Hiro hanya bisa mengkode, lewat mata tentang seseorang yang berdiri di belakang Juna sekarang ini. Mengerti maksud Hiro, Juna menunduk, melihat sosok bersepatu hitam yang tengah berdiri di belakangnya. Perlahan, pandangannya naik, hingga nampaklah wajah seram seorang body guard tengah mendelik tajam padanya.
__ADS_1
Juna, menelan ludahnya kasar. Nyalinya menciut, Juna sadar, siapa pria berseragam hitam ini. Bodyguard Naya.
Dengan meringis takut, Juna bangkit dari bangkunya, menuju bangku Naya.
"Kamu kenapa sayang? Om, cuma bercanda tadi." Juna memegang bahu Naya, agar bocah kecil itu mendongak. Juna juga mengelus kepala Naya, agar Naya tidak lagi takut dengannya.
"Iya kan, Hiro? Om, cuma bercanda!" Juna, kembali meringis. "Ayo, Hiro. Katakan pada temanmu, kalau Om, cuma bercanda," ulang Juna.
Sebenarnya Hiro, malas sekali harus ikut menjelaskan. Tapi melihat body guard Naya, kasihan juga pada Juna. " Iya, Naya. Jangan takut, Om Juna memang suka bercanda," jelas Hiro.
Mendengar ucapan Hiro, barulah Naya mau mengangkat kepalanya. Menatap Hiro dan Juna, yang sedang berdiri di sampingnya, bergantian.
Juna, menampakkan senyum manisnya untuk membuat Naya dan bodyguardnya percaya, kalau tadi dia hanya bercanda. "Maaf ya, Om, sudah bikin kamu takut," ucap Juna memelas. Takut juga dia kalau berurusan sama tukang pukulnya Naya.
Naya, menatap Juna yang penuh rasa bersalah. Dan, seketika Naya tertawa terbahak-bahak.
Kini, Juna dan Hiro yang dibuat bingung dengan sikap Naya. Mereka pun hanya bisa saling tatap.
"Kena!" pekik Naya sambil menunjuk Hiro dan Juna. "Kalian aku kerjain. Memangnya cuma kalian saja yang bisa ngerjain aku." Naya kembali tertawa.
Juna, dan Hiro melirik ke arah body guard Naya, yang ikut tersenyum bersama Naya.
Juna, dan Hiro menepok jidat mereka sendiri dengan malas, setelah dikerjai Naya.
"Maaf, Non, ini tuan besar sudah menanyakan, apa Non Naya sudah selesai?" sela pengasuh Naya.
" Aku, pulang dulu ya. Terima kasih untuk makan siang dan juga hiburannya." Naya tersenyum menatap Hiro dan Juna.
Setelah berpamitan pada Kia, Naya pun segera pulang.
Sementara itu, Juna hanya bisa menggerutu tidak jelas. Niatnya mau mengerjai teman baru Hiro, malah dia sendiri yang dikerjai.
.
.
.
.
.
Jangan lupa dukungannya yak!
👍 Like
❤️ Favorite
🖊️ Komen
Vote boleh banget yak....tengkyu 💓💓💓 sayang hee
__ADS_1