
Di depan makam yang masih basah itu, Kia menangis dalam dekapan pria yang sudah berhari-hari tak menemui dirinya. Matanya tertutup kacamata hitam, namun air matanya tak berhenti mengalir. Kia benar-benar merasa kehilangan, pengorbanannya serasa sia-sia.
Dia juga merasa menyesal, harusnya dia lebih cepat menemukan bukti-bukti untuk membebaskan kakaknya. Satria terus mengusap lengan Kia untuk menenangkan istrinya itu. Satria tahu betapa berdukanya Kia atas kepergian teman sekaligus Kakak iparnya itu.
Dari kejauhan, di dalam sebuah mobil sedan hitam, ada seseorang yang memandang tidak suka pada suami istri itu.
"Jalan!" titahnya pada supir. Mobil pun melaju meninggalkan area pemakaman.
Sesampainya di rumah, Kia masih tak berhenti menangis. Dia memilih mengurung dirinya di kamar. Hingga ia tertidur akibat kelelahan menangis.
Satria yang sebelumnya membiarkan Kia sendirian di kamar, akhirnya masuk untuk melihat kondisi istrinya. Ternyata Kia masih tertidur pulas.
Ponsel Kia berbunyi, ada pesan masuk dari nomor tak dikenal. Satria membuka pesan itu.
[Bagaimana sekarang? apa aku harus membuktikan lagi kalau kata-kataku bukan sekedar omong kosong. Kakakmu yang ada dalam penjara saja dengan mudah bisa kusingkirkan tanpa ada yang curiga, apalagi kalau cuma kamu.
Aku masih memberimu kesempatan untuk pergi dan meninggalkan suamimu, dan setelah ini tidak akan ada lagi kesempatan kedua! ]
Satria mengepalkan tangannya, dia tahu siapa pelaku teror ini. Karena beberapa hari yang lalu dia mendapatkan ancaman yang sama, dari orang yang sama. Satria menaruh kembali ponselnya tapi sebelumnya, dia menghapus pesan teror itu terlebih dulu. Satria tidak ingin Kia merasa cemas dengan ancaman itu.
Satria kembali keluar dari kamar Kia, dia meraih kunci mobilnya dan dibawanya melaju menuju perumahan elite. Tanpa permisi, Satria langsung menuju sebuah ruangan di mana pemilik rumah biasa menghabiskan harinya di sana.
"Baguslah, kamu juga ada di sini!" ucap Satria saat membuka pintu ruang kerja mertuanya dan mendapati mantan istrinya, Sarah juga berada di sana.
"Apa kamu sudah kehilangan attitude-mu sejak bersama ja lang itu?" ejek Sarah.
Satria menarik satu sudut bibirnya. "Aku tidak butuh attitude untuk orang macam kamu!"
Sarah berdiri dengan marah, namun ditahan oleh Aditya yang duduk di samping Sarah.
"Ada perlu apa Satria?" tanya Aditya.
__ADS_1
Satria mendekat dan melempar map ke atas meja. "Itu surat cerai yang harus kamu tanda tangani, aku tidak ingin penolakan kali ini!" ujar Satria.
"Siapa yang akan bercerai, kita akan kembali menikah di hari pernikahan kita yang kedelapan," ucap Sarah yakin.
"Jangan bermimpi!"
Sarah tersenyum licik. "Apa kamu pernah membantah keinginanku? kali ini pun, kamu akan menurutiku. Aku sudah menyiapkan acaranya, kamu hanya perlu datang dan duduk di depan penghulu sebelum pesta pernikahan kita di mulai."
Satria keluar dengan menahan amarah. Tidak tahu lagi apa yang direncanakan oleh Sarah dan Aditya. Dia kembali memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.
Hari jadi pernikahannya tinggal tiga hari lagi. Meskipun membenci Sarah, Satria masih ingat tanggal pernikahannya. Karena setiap tahun Sarah merayakannya, semua dilakukan demi citranya sebagai publik figur. Meski pernikahan mereka sudah berakhir secara agama, Sarah selalu apik memainkan perannya dalam pernikahan yang diidam-idamkan banyak orang.
Satria kembali ke rumah yang ditempatinya bersama Kia. Saat ia datang, rupanya Kia sudah terbangun. Istrinya itu sedang duduk menikmati senja dengan segelas coklat panas di tangannya.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Satria yang memegang kedua bahu Kia dari belakang lalu mengecup singkat pipi istrinya itu.
Kia hanya mengangguk. Satria pun memutar untuk duduk di sebelah Kia. Dilihatnya mata bengkak istrinya karena terlalu lama menangis.
Kia menoleh, menatap pria di sampingnya. Diletakkannya gelas coklat panas di tangannya ke atas meja.
Dengan ragu Kia membuka mulutnya. "Maaf." Kia berhenti, seakan bingung dengan apa yang harus ia ucapkan.
"Maaf untuk semua kesalahan Kakakku," sambungnya kemudian.
"Aku dan Kakakku ...." Kia kembali berhenti dan menyeka air matanya yang mulai mengalir. "Aku dan Kakakku, tidak seharusnya meminta bantuanmu." Kembali Kia menyeka air matanya.
"Memang kenapa?" tanya Satria datar.
"Ternyata, Kakakku adalah kekasih gelap Sarah, istrimu." Kia menunduk malu.
"Lalu, apa masalahnya?"
__ADS_1
"Bukankah kami orang yang tidak tahu malu? Kakakku sudah menusukmu dari belakang, mengkhianati pertemanan kalian. Tapi saat ada masalah, Kakakku justru memintaku datang padamu. Sungguh, aku seperti tak punya harga diri saat tahu hal ini, aku malu sekali untuk bertemu denganmu."
Mendengar penjelasan Kia, bukannya marah Satria justru tersenyum. Dia mendekat, meraih tubuh Kia dan direngkuhnya. Dikecupnya rambut Kia.
"Kamu tidak perlu malu, aku tidak masalah dengan semua itu."
Kia melepaskan dirinya, ditatapnya suaminya. Apa dia tidak salah dengar dengan apa yang baru saja Satria ucapkan. Suaminya ini baru mendapat kabar bahwa orang yang meminta bantuannya adalah orang ketiga dalam rumah tangganya, tapi dia bilang tidak masalah.
Satria kembali tersenyum, menatap istrinya yang bingung dengan ucapannya. Direngkuhnya kembali Kia, ditenggelamkan wajah istrinya kedalam dadanya.
"Kamu tidak perlu minta maaf, tidak perlu juga merasa malu. Aku sudah tahu semua dari awal, dan Keenan bukan laki-laki pertama dalam rumah tangga kami. Lagi pula, kenapa aku menganggap itu bukan masalah, karena Sarah bukan lagi istriku. Aku sudah melepaskan tanggung jawabku terhadapnya bahkan saat dia belum bersama Keenan," jawab Satria.
Kia ingin kembali melepaskan diri, ingin ditatapnya kembali wajah suaminya. Namun Satria menahannya dengan kuat. Suami macam apa yang biasa saja saat tahu istrinya berselingkuh, dia bahkan membantu selingkuhan istrinya yang terkena masalah.
Meskipun berhari-hari Satria tak menemuinya sejak Kia mengucapkan ingin berpisah dengan Satria saat itu. Namun, Satria yang membantu Kia untuk menjebak Rena, tentu saja semua di lakukan melalui Wira, asistennya.
Sudah lama Satria tahu tentang Rena, karena itu dia memaksa Kia untuk bekerja dengan alasan mengajarinya tentang susahnya mencari uang. Padahal bukan itu tujuan sebenarnya, Satria ingin Kia bisa dekat dengan Rena. Satria tidak ingin memaksa saksinya dengan kekerasan, dia ingin Rena dengan suka rela menyerahkan bukti yang ia cari. Meskipun semua terlambat, sebab saat buktinya ia dapatkan Keenan sudah tiada. Tentu saja, meninggalnya Keenan adalah hal yang mengejutkannya. Karena semua di luar rencananya.
"Apa Kakakku tahu kalau kau dan Sarah sebenarnya sudah berpisah?"
"Entahlah, aku tidak pernah ingin tahu tentang hubungan Sarah dengan pria lain."
Mereka terdiam cukup lama.
"Ayo kita pergi," ucap Satria tiba-tiba memecah kesunyian mereka.
Kali ini Kia benar-benar melepaskan dirinya, ditatapnya wajah suaminya dengan serius.
"Aku ingin kita pergi dari kota ini."
"Apa ini untuk menghindari Sarah?" tebak Kia.
__ADS_1