
Kia mengedarkan pandangannya, mencari seorang pria dengan dua anak kecil. Pandangannya terhenti pada meja yang ada disamping dinding kaca. Terlihat dua anak kecil sedang menikmati ice creamnya sambil tertawa. Ah ... tidak, hanya Naya yang terlihat menikmati ice cream di atas meja itu, dia nampak bahagia bersama papanya. Sementara Hiro, bocah itu terlihat diam saja. Tanpa ekspresi yang ditunjukkan oleh wajahnya.
Kia mendekat, menghampiri mereka bertiga.
"Hiro," panggilnya.
Si empunya nama pun langsung menoleh, saat namanya dipanggil. Hiro langsung berdiri senang, menghampiri Kia.
"Kenapa tidak menunggu kami saja, atau kamu bisa menghubungi ku untuk membawa anak-anak kembali," tanya Satria.
Tadi Sarah sudah menyuruhnya untuk menunggu sampai Satria kembali ke ruang rawatnya, namun Kia lebih memilih untuk menjemput Hiro saja.
"Aku tidak ingin merepotkan mu, terima kasih sudah mengajak Hiro makan ice cream." Kia mengusap lembut rambut Hiro. "Ayo Hiro, pamit dulu sama Papa dan Naya."
"Terima kasih," ucap Hiro pelan, tapi tak mau menyalami Satria. Hiro langsung menarik Kia keluar dari cafe itu.
Kia tak bisa berbuat apapun, selain mengikuti Hiro dan meninggalkan Satria juga Naya. Kia hanya menganggukkan kepalanya sebagai caranya berpamitan.
Hiro masih tetap diam, saat berada di dalam mobil.
"Apa yang kamu bicarakan dengan papa dan Naya?" tanya Kia, sambil menyetir.
"Tidak ada," jawab Hiro berbohong.
Kia menoleh sebentar, menatap putranya yang ia tahu sedang menutupi sesuatu. Kia terdiam sejenak.
"Sayang, sebentar lagi Naya akan ulang tahun. Mamanya mengundang kita." ucap Kia dengan tersenyum, agar terdengar nada kebehagiaan dari ucapannya.
Hiro diam saja, tak menanggapi apa yang mamanya katakan. Tidak bahagia, tidak juga sedih.
Kia melirik Hiro lagi. "Kira-kira, kamu akan memberi kado apa untuk Naya?" Kia sangat antusias mendengar jawaban putranya.
Tapi yang ditunggu tak kunjung bersuara.
"Hiro ...." panggil Kia.
Hiro sedang kembali mengingat, saat mereka tadi berada di cafe untuk makan ice cream.
FLASH BACK ON
Satria masuk dengan menggandeng dua anak kecil di sisi kanan dan kirinya. Wajah tampannya cukup untuk mencuri perhatian pengunjung cafe. Pria yang terlihat dewasa dan berwibawa itu, langsung membawa kedua anak kecil itu ke bangku di dekat jendela kaca. Sesuai tujuan awal mereka datang ke cafe ini, Satria langsung memesan ice cream seperti keinginan Hiro dan Naya.
"Hiro mau rasa apa?" tanya Satria.
Hiro menatap Satria. "Coklat," jawab Hiro lugas.
"Naya?" Satria melirik Naya.
"Vanila dan strobery," jawab Naya dengan senang.
Hiro hanya menunduk, sambil menunggu ice creamnya datang. Dan Naya, sibuk mengedarkan pandangannya, ke seluruh cafe. "Pa, sebentar lagi Naya ulang tahun bukan?" tanya Naya saat melihat dekorasi balon di cafe itu.
__ADS_1
"Iya, Papa hampir lupa. Sebentar lagi putri cantik Papa berulang tahun." Satria memegang gemas dagu Naya. "Terima kasih," ucapnya pada pelayan cafe yang datang membawakan ice cream pesanannya.
Naya menyuap ice creamnya dengan semangat.
"Heumm ...," gumam Naya. "Lezat kan Hiro?"
Hiro diam saja.
"Hiro, kenapa dari tadi kamu tidak bicara. Apa kamu tidak suka rasa ice creamnya?"
Hiro menggeleng.
"Nanti kamu datang ya, ke pesta ulang tahunku. Aku akan mengadakan pesta yang meri ... ahhhhhhh, sekali." Naya, mengangkat tangannya ke udara, seolah menggambarkan betapa meriahnya nanti pestanya. "Benar kan, Pa?"
"Tentu saja," jawab Satria.
"Kamu harus datang ya Hiro, ajak tante Kia juga." anak kecil itu tak bisa menyadari arti dari sikap diamnya Hiro.
"Pa, tahun ini Papa mau memberiku kado apa?" tanya Naya dengan berbinar.
"Kamu mau kado apa, sayang?"
Naya meletakkan jari telunjuknya di dagunya, seolah berpikir. "Bagaimana kalau liburan? sudah lama sekali kita tidak liburan bersama." jawab Naya akhirnya.
Hiro yang sedari tadi diam dan menunduk memakan ice creamnya, sontak mengangkat pandangannya pada Naya, saat temannya itu mengatakan kado yang diinginkannya.
"Apa kamu mau ikut, Hiro?" tanya Naya yang melihat tatapan aneh Hiro.
Bukannya menjawab, Hiro justru kembali menunduk.
"Kamu ingin kado apa jika kamu berulang tahun nanti, Hiro?" tanya Satria disela percakapannya dengan Naya.
Satria menyadari sikap Hiro yang berubah jadi pendiam.
"Bukankah ulang tahunmu dengan Naya hanya berbeda beberapa bulan saja?" sambung Satria lagi, berusaha mencari perhatian Hiro.
"Naya lahir lebih dulu dari pada kamu, bukan begitu?"
Tak ada tanggapan apapun dari Hiro, selain malas untuk menjawab. Hiro juga tidak berniat merayakan ulang tahunnya besar-besaran seperti rencana ulang tahun Naya. Karena memang sepeti itulah setiap tahun, ulang tahun Hiro dirayakan. Pesta dengan kue dan lilin yang sederhana, yang dihadiri oleh Wira, Juna dan Rena. Kalaupun ramai, pasti karena ada karyawan di restoran mamanya yang diajak untuk merayakannya.
Suara panggilan untuknya seolah menyelamatkannya dari situasi yang tak ia inginkan saat ini.
Dengan senang hati Hiro meninggalkan ice creamnya dan juga Naya serta papanya.
FLASH BACK OFF
.
.
.
__ADS_1
.
.
"Hiro!" Kia sedikit meninggikan suaranya.
Hiropun terhenyak, langsung menoleh menatap mamanya.
"Kamu dengerin Mama, nggak sih?" Kia sedikit kesal karena dari tadi diabaikan oleh Hiro.
"Mama ngomong apa?"
Kia memutar bola matanya malas, seraya membuang nafas kasar. "Mama dari tadi tanya sama kamu, kamu mau memberi kado apa untuk Naya?"
Kali ini Hiro yang malas. Diangkatnya kedua bahunya. "Entahlah," jawabnya singkat dan datar.
"Bagaimana dengan boneka, itu cocok kan untuk Naya?"
"Dia sudah meminta boneka pada papanya, yang harganya jauh lebih mahal dari yang akan kita beli," jawab Hiro. Hiro tidak berbohong karena tadi Naya memang sudah memintanya pada papanya.
Kia melepaskan tangan kirinya dari setir mobil dan menunjuk pelipisnya menandakan sedang berpikir. "Bagaimana kalau gaun dan sepatu untuk Naya," ucapnya setelah mendapatkan ide.
"Naya tidak akan menyukainya, Naya hanya memakai baju yang dipilih oleh mamanya." Setidaknya begitulah yang tadi Hiro dengar.
Kia kembali berpikir, apa yang pantas untuk diberikan pada Naya sebagai hadiah ulang tahun. "Kalau mainan, bagaimana?" tanya Kia lagi, karena itu yang terlintas di otaknya.
"Ma, Naya itu sudah punya semuanya. Dia sudah mendapat hadiah yang banyak dari papanya. Hadiah yang tidak akan bisa kita berikan!"
"Hiro, meskipun Naya punya segalanya dari papa dan mamanya, kita akan tetap memberinya kado, sebagai bentuk rasa sayang dan kepedulian kita pada Naya," jelas Kia.
"Terserah, Mama!" Hiro langsung melipat tangannya di depan dadanya dan memalingkan wajahnya ke jendela.
"Oh ... Ya Tuhan, anak ini benar-benar membuat ku tak berdaya. Apakah aku juga semenyebalkan ini, hingga Hiro harus menuruninya." ucap batin Kia.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupakan untuk selalu dukung karya ini
👍 Like
❤️ Faforite
__ADS_1
🖊️ Komen
Tengkyu💓💓💓sayang hee