
Setelah makan malam tadi, Satria langsung masuk ke kamarnya. Meninggalkan Kia sendiri di meja makan.
Rasa bersalah makin menggelayuti pikirannya, ternyata didiamkan orang itu tidak enak sama sekali. Apalagi yang mengacuhkan dirinya adalah pria yang berstatus suaminya. Pernikahan ini mungkin berawal tanpa cinta, tapi tidak mungkin juga selamanya tidak akan ada cinta. Paling tidak rasa sayang pasti akan tumbuh. Lalu, apakah bijak, jika Kia harus tidur di kamar terpisah hanya karena tidak mau menjalankan kewajibannya, rasanya kekanak-kanakan sekali.
Setelah berkutat dengan pikirannya yang menimang-nimang tentang sikap yang diambilnya, Kia memutuskan untuk kembali ke kamar utama yang ditempati Satria. Mungkin Kia harus membuktikan petatah jawa 'withing tresno jalaran soko kulino'. Cinta itu tumbuh karena terbiasa, dan Kia harus membiasakan dirinya dengan Satria untuk bisa mencintainya.
Kia masuk ke kamarnya dan kembali menyeret kopernya, membawanya ke kamar Satria. Kia mengetuk pintu kamar Satria, namun tak ada sahutan dari dalam. Kia pun memberanikan diri langsung masuk karena pintunya memang tidak dikunci.
Kia membuka lemari baju, melihat tempat di mana ia akan menata baju-bajunya yang masih ada di dalam koper. Dengan meletakkan jarinya di dagu, Kia mulai berpikir tentang penataan baju pada lemari pakaiannya agar terlihat rapi.
"Ehhem." Suara Satria yang berdehem membuat Kia menoleh. Ternyata suaminya itu dari tadi berada di kamar mandi.
"Sedang apa kamu di situ?" tanya Satria yang berjalan naik keatas ranjang.
"Sedang mencari tempat kosong untuk menata baju-bajuku," jawab Kia.
"Bukannya kamarmu di sebelah, lalu kenapa baju kamu mau ditata di lemari ku?"
Kia berjalan naik keatas ranjang, dia menatap suaminya yang sedang memperhatikannya.
"Maafkan aku," ucapnya lirih.
"Untuk apa?" jawab Satria jual mahal.
"Beri aku waktu, aku tidak akan menolak mu," jelasnya.
Satria masih diam menatap Kia.
"Kita mulai dari tidur bersama ...." Kia belum menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Satria mencondongkan tubuhnya hendak memeluk Kia. Namun dengan cepat Kia mendorong pelan tubuh Satria sebelum bisa memeluknya. Sangat hati-hati agar suaminya ini tidak tersinggung apalagi sampai marah.
Satria yang tak mengerti penolakan Kia, menatapnya tajam penuh tanya.
"Maksud ku, aku tidak akan menolak mu, tapi bukan sekarang juga. Aku belum bisa memenuhi keinginan mu sekarang," jelas Kia.
Mendengarnya, nampak raut kecewa di wajah Satria. Ternyata Kia menolaknya, lagi.
__ADS_1
"Aku janji, jika saatnya tepat aku akan memenuhi kewajibanku, aku tak akan menolak mu." Kia mengacungkan dua jarinya sebagai tanda janjinya.
"Kalau begitu, untuk apa kamu pindah kesini? Aku bukan pria suci yang bisa menahan diri, kalau kamu ingin aman, kembalilah ke kemar mu. Aku tidak ingin khilaf dan membuat mu takut," ujar Satria ketus.
"Kalau kita tidur terpisah, akan sulit untuk mengenalmu, jadi akan sulit juga aku untuk menerima mu. Aku sedang berusaha untuk hubungan kita, yang bahkan aku tidak tahu harus di mulai dari mana. Kamu bukannya membantu ku malah membuat semuanya kacau!" teriak Kia yang sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Tidak mau kalah dengan sikap ketus Satria.
Dari tadi Kia berusaha bersikap baik dan lembut, karena merasa bersalah. Tapi, suaminya ini tidak bisa mengerti, bahwa untuk bersikap lembut, Kia sudah berusaha menekan ego-nya. Dan itu bukan dirinya.
"Baiklah! jika ini yang kamu inginkan. Aku akan tidur di kamar yang lain!" lanjutnya dengan nada setengah berteriak, menunjukkan bahwa ia tak suka diperlakukkan ketus oleh Satria.
Kia berusaha turun dari ranjang dan tidak peduli lagi dengan pria ini, masa bodoh dengan kewajibannya sebagai istri. Sebelum berhasil turun, Satria mencekal pergelangan tangan Kia hingga ia terduduk kembali. Satria menatap mata Kia yang mendelik.
"Begitu saja marah. Apa itu namanya tidak keterlaluan? harusnya aku yang marah, tapi kamu justru lebih galak dari aku," ucap Satria yang menyadari memang beginilah sikap gadis yang ia nikahi. Memiliki ego yang tinggi.
"Tidurlah, aku tidak akan memaksamu," ucapnya kemudian melepaskan cekalannya.
Menuruti perintah suaminya, Kia langsung merebahkan dirinya di samping Satria. Kia mengambil posisi membelakangi Satria. Sementara Satria hanya bisa melihat punggun istrinya, dan mulai berpikir bagaimana membuat Kia menerimanya tanpa paksaan.
Lama-kelamaan, memandangi punggung gadis yang sudah sah ia nikahi ini, membuatnya ingin memeluk. Hasrat kelelakiannya mulai datang tanpa diundang. Satria, pria dewasa yang pernah mereguk nikmatnya hubungan suami dan istri yang sudah lama tak ia rasakan, ingin rasanya memuaskan dahaganya setelah lama berpuasa. Hingga memandang punggungnya saja bisa terasa menggiurkan.
Satria berusaha mengembalikan kesadarannya, dia memutar tubuhnya membelakangi Kia. Memejamkan matanya agar segera terlelap dan lupa dengan keinginannya. Tapi kenapa kali ini sungguh sulit, meski matanya terpejam, pikirannya tetap pada istrinya. Satria kembali memutar tubuhnya, tangannya ingin menyentuh Kia untuk membangunkannya.
Dia benar-benar tidak tahan, kalau harus memohon mungkin akan ia lakukan. Belum juga tangannya menyentuh Kia, rasa kasihan untuk Kia muncul. Diurungkan niatnya, ditariknya kembali tangannya dan kembali membelakangi Kia.
Kia menyadari kalau suaminya ini sedang gelisah, dia bukan gadis polos yang tidak tahu soal hubungan suami istri. Hanya saja, Kia masih takut melakukannya, dia belum siap menerima Satria dalam hidupnya. Kia ingin mengenal Satria lebih dalam sebelum pernikahan ini melangkah jauh ke depan. Kegelisahan Satria sukses membuat Kia semakin merasa bersalah, dia yang tadinya pura-pura tidur tak tega juga dengan suaminya ini.
"Mas," panggil Kia yang sudah memutar tubuhnya mengahadap Satria.
Satria yang merasa asing dengan panggilan itu, seketika menoleh. Wajah mereka langsung berhadapan. Sangat dekat hingga nafas mereka saling menyapu.
"Kamu panggil aku apa?" tanya Satria seolah bodoh.
"Mas ...."
"Kamu serius manggil aku kayak gitu? Aku nggak mau kamu manggilnya cuma sekarang aja. Kamu harus manggil aku dengan konsisten."
__ADS_1
Kia mengangguk. Sementara Satria tersenyum senang, mendengar panggilan istrinya. Satria langsung memeluk Kia tanpa ijin saking senangnya, Kia pun tidak menolak kali ini.
"Mas ... mau ... itu?" tanya Kia ragu.
Satria langsung melepaskan pelukannya dan menatap Kia penuh tanya. Bukannya tadi dia mati-matian menolak, kenapa sekarang dia bertanya seperti itu.bApa iya, baru tidur beberapa menit bersama langsung membuat Kia menerimanya begitu saja. Kemana sikap angkuhnya yang tadi, yang membuatnya berani galak pada Satria.
"Itu apa?" tanya Satria pura-pura polos.
"Ya ... itu," jawab Kia.
"Itu yang mana?" tanya Satria lagi.
"Yang kamu mau."
"Memang aku mau apa?" Satria mulai menggoda Kia.
"Bukannya tadi kamu mau itu." Kia mulai kesal, tak bisa mengatakan secara vulgar apa yang ia maksud dengan 'itu'.
"Memang tadi aku mau itu apa?"
"Ya ... itu," teriak Kia yang makin kesal.
"Iya, itu. Tapi itu yang mana?"
"Ish ...." Kia benar-benar kesal. Ia langsung duduk untuk menjelaskannya. "Tadi Mas mau itu kan, ayo lakukan saja," ucap Kia.
Satria ikut duduk menyamai posisi Kia. "Lakukan apa, maksud kamu itu apa sih. Aku nggak ngerti?" Satria tersenyum, yang makin membuat Kia marah.
"Sebenarnya mau kamu itu apa sih!" teriak Kia.
"Dari tadi aku tanya ke kamu,bmemang aku mau itu apa? kamu nggak jawab malah marah-marah."
Kia mendelik marah. "Tahu ... ah, MENYEBALKAN!!!" Kia langsung pergi ke kamar mandi meninggalkan Satria.
Satria langsung terkekeh melihat kemarahan Kia. Ternyata menggoda Kia hingga marah membuatnya lebih baik, dan yang utama adalah hatinya serasa bahagia. Rasa yang sudah lama hilang untuk ia rasakan pada seorang wanita, dan rasa untuk Kia ini sungguh berbeda. Melihat Kia marah karena godaannya, membuat hatinya berdesir.
__ADS_1
Satria memegangi dadanya,merasakan detak jantungnya yang berdegup tak wajar.