
Setelah Satria keluar dari kamar mandi, kini berganti Kia yang mandi. Satria sebenarnya sudah menawari Kia agar mau mandi bersama, namun dengan tegas Kia menolak.
Saat Kia keluar dari kamar mandi, Satria sudah rapi dengan pakaian casualnya. Dengan celana bahan selutut dipadukan dengan kemeja lengan pendek, terlihat pas untuk Satria. Satria terlihat lebih muda dari usianya dengan stylenya pagi ini.
"Kamu nggak ke kantor?"
"Enggak, cepat ganti baju. Kita cari sarapan," ucap Satria yang tak melihat Kia, karena fokusnya saat ini pada layar ponselnya.
Sesuai perintah suaminya, Kia segera berganti baju. Memoles wajahnya dengan sedikit make up, karena pada dasarnya Kia lebih suka gaya natural untuk ia aplikasikan pada wajahnya.
"Ayo," ajak Kia setelah selesai mematut dirinya di cermin.
Satria yang dari tadi duduk di sofa kamarnya, menatap Kia dari atas hingga bawah. Diulanginya lagi dari bawah hingga atas.
"Kenapa?" tanya Kia bingung diperhatikan Satria seperti itu.
"Apa ada yang aneh?" tanyanya langsung memutar tubuhnya lagi ke depan cermin, melihat apa ada sesuatu yang aneh hingga Satria menatapnya tanpa kedip dan intens dari kepala hingga kakinya.
Kia memperhatikan dirinya sendiri di depan cermin, memegang pipinya. Namun tak ditemukan hal-hal yang aneh, semua sudah sesuai apa yang ia mau. Make up dan bajunya tidak ada yang salah.
"Tidak ada yang salah dengan dandanan mu, bahkan kamu sangat cantik." Satria melangkah mendekati Kia yang masih berdiri didepan cermin.
"Sayangnya, aku hanya bisa memandang mu tanpa bisa menikmati kecantikan mu," bisiknya lembut di telinga Kia.
"Itu yang membuat ku terpaku menatap mu, percuma bukan punya istri cantik tapi tak bisa dinikmati," guraunya kemudian, ia lalu keluar kamar.
Kia yang paham kemana arah pembicaraan Satria bersikap pura-pura tidak tahu. Segera ia menyusul suaminya.
"Kita mau makan di mana?" tanya Kia saat mobil yang ia tumpangi mulai dijalankan.
"Kamu mau makan apa?"
Kia berfikir sejenak. "Terserah kamu saja, yang penting makanannya enak," jawab Kia pasrah.
Tak lama mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah warteg di pinggir jalan. Kia bingung untuk apa mobilnya berhenti di depan sebuah warteg, tidak mungkin 'kan, Satria membawanya makan ke tempat ini.
"Sayangnya, kita memang akan makan di sini," ucap Satria menjawab pertanyaan yang tak Kia ucapkan.
Masih dengan ekspresi bingungnya, Kia mengikuti suaminya yang telah berjalan menuju warteg itu. Setelah duduk, Satria langsung memesan menu makanan yang ia inginkan, menu ala rumahan yang disediakan warteg ini.
"Pesanlah apapun yang kamu mau. Jangan sungkan," ucap Satria pada Kia yang masih bingung memperhatikan.
__ADS_1
"Apa tempat ini bersih?" tanya Kia berbisik agar tak menyinggung si pemilik warung.
"Tenanglah, tempat ini bersih dan kamu tidak akan sakit hanya karena makan di warteg."
Kia masih ragu dengan kredibilitas warteg ini. Saat Kia masih ragu dan memikirkan tentang tempat makannya, pesanan Satria sudah siap. Setelah ia menunjuk beberapa lauk dan sayur untuknya makan, Satria bahkan tak menunggu Kia. Dia langsung saja makan, dan membiarkan Kia dengan keraguannya.
Kia hanya bisa memperhatikan suaminya yang terlihat begitu berselera dengan menu yang tersaji di piringnya.
"Makanlah." Satria mengangkat sendok berisi nasi ke depan mulut Kia.
Kia diam menatap Satria, heran dengan suaminya ini.
"Buka mulutmu, aku ingin menyuapi mu," sambungnya karena Kia tak kunjung membuka mulutnya.
Melihat senyum di bibir suaminya, Kia pun membuka mulutnya dan menerima suapan dari Satria.
"Enak, 'kan?" tanya Satria yang langsung menyuapkan nasi untuk dirinya sendiri.
Kia tidak jadi memesan makanan karena Satria mengajaknya makan bersama dengan menyuapinya. Pemandangan suap-suapan itu membuat mereka jadi objek tontonan pengunjung yang lain dan juga pemilik warung.
Menyadari dirinya jadi objek perhatian, Kia menolak saat Satria akan memberikan suapan terakhir. "Sudah," ucap Kia menolak.
"Pengantin baru ya, Den? masih mesra-mesranya. Pesan ibu, kemesraan itu harus dijaga meskipun usia perkawinan sudah bejalan bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. Kalaupun ada masalah, bicarakan dengan baik-baik, jangan ditunda hingga berlarut-larut yang nantinya akan jadi bom atom yang bisa menghancurkan semua rasa dalam rumah tangga." Tanya dan pesan si ibu pemilik warung saat Satria membayar makanannya.
Satria hanya tersenyum menanggapi wejangan si ibu. "Terima kasih, Bu, atas nasehatnya, saya akan selalu ingat," ucap Satria mengulurkan uang seratus ribuan.
Saat ibu itu hendak mengambilkan uang untuk kembalian Satria tapi pria itu menolaknya dan langsung pamit pergi.
"Kenapa memilih makan ditempat yang tadi?" tanya Kia yang sudah duduk di samping Satria.
"Karena aku ingin membawa mu ketempat yang berbeda, dan yang lebih penting, makan di tempat seperti itu akan membuat hubungan kita aman."
"Maksudnya apa dengan hubungan kita?"
"Ya menjaga agar kamu tetap nyaman dalam hubungan kita. Semakin sedikit yang tahu semakin baik untuk hubungan kita. Apa kamu mau pergi kesuatu tempat?" tanya Satria.
"Kemana?"
Tak menjawab kemana Satria akan membawa Kia, dia langsung menjalankan mobilnya menembus keramaian kota. Satria membawa mobilnya ke sebuah taman di mana ada danau buatan di sana. Tempat yang cukup ramai karena ini adalah hari Sabtu.
Sampai di tepi danau, Satria yang tadinya akan mengajak Kia keluar untuk sekedar menghirup udara segar tidak jadi ia lakukan, karena melihat Kia yang tengah tertidur pulas. Melihat mata Kia tadi pagi, nampak bahwa gadis itu tak bisa tidur nyenyak semalam.
__ADS_1
Satria mengusap kepala Kia dengan lembut, memperhatikan wajah cantik istrinya ini.
"Maafkan aku, jika aku belum bisa memberikan status yang kuat untuk mu, tapi yakinlah, bahwa aku mencintai mu. Aku akan menjadikan mu satu-satunya istri ku," ucap Satria bermonolog.
Kia tertidur cukup lama, bahkan sangat lama. Saat terbangun ternyata matahari tak lagi terik, Kia melihat keluar di mana ada Satria yang sedang berbicara dengan seseorang di telfon genggamnya.
"Sudah bangun?" tanya Satria saat masuk ke mobil.
Kia menatap keluar jendela, mencari tahu di mana dirinya saat ini. Di pinggir sebuah danau. Itulah yang tertangkap oleh mata Kia.
"Untuk apa kita ke sini?" tanya Kia balik.
"Untuk membuat mu tidur pulas," jawab Satria terkekeh.
"Kulihat kamu kurang tidur semalam, apa kamu tak bisa tidur karena memikirkan aku yang sedang bersama Sarah?" goda Satria.
Kia mencebik. "Untuk apa aku memikirkan mu, lagi pula dia istrimu. Aku cukup tahu diri untuk tidak cemburu pada istri sah suamiku."
Satria tertawa, mendengar pengakuan Kia. Seringkali wanita ini berbicara tentang apa yang berkebalikan dari apa yang ia rasakan. Dia baru saja mengakui kalau dia tidak cemburu,padahal Satria tidak menuduhnya begitu.
"Benar, kamu tidak mungkin cemburu. Kamu juga tidak akan peduli jika aku menghabiskan malam dengan Sarah karena memang dia adalah istri ku."
"Tapi kalau boleh jujur,aku akan sangat senang jika kamu merasa sedikit cemburu. Karena dengan begitu aku akan mempertimbangkan untuk tidak lagi menghabiskan malam dengan Sarah." Satria tersenyum miring.
"Aku tidak peduli dengan siapa kamu akan menghabiskan malam, karena aku menikah dengan mu hanya untuk satu tujuan. Agar kamu membantuku membebaskan kakak ku."
Ternyata istrinya ini belum punya perasaan padanya, sedikit kecewa tapi Satria tak akan menyerah untuk membuat Kia jatuh cinta padanya. Satria melajukan mobilnya kembali untuk mengantar Kia ke restoran.
"Bersikaplah dengan baik agar kamu memiliki teman," pesannya pada Kia saat sudah sampai di restoran. Lalu Satria mengulurkan tangan agar Kia pamit dan mencium tangannya.
Dengan raut malas Kia mengambil tangan Satria dan menciumnya. Langkahnya masih tertahan kala Satria memintanya untuk mencium pipinya.
"Aku tidak pulang malam ini, Sarah mengajak ku untuk mengunjungi papanya."
Kia yang tadi sudah memegang handle pintu, langsung menoleh menatap Satria.
"Apa dia akan lama disini?"
Satria mengangkat kedua bahunya.
Kia langsung keluar dari mobil menuju restoran tempatnya bekerja.
__ADS_1