
Malam itu Satria memacu mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ucapan Kia kemarin malam tentang hubungan mereka, terngiang di telinganya. Entah apa maksudnya, Kia ingin jadi orang yang membekas dalam ingatan Satria jika nanti hubungan mereka harus berakhir.
Semalam Kia juga menceritakan tentang orang yang berusaha mengikutinya saat pulang kerja, dan kecurigaannya pada Sarah yang mungkin menginginkan Kia menghilang dari hidupnya. Malam ini, setelah menunggu kepulangan Kia, istrinya itu tak kunjung pulang meski jam kerjanya sudah lewat dua jam yang lalu.
Satria sudah mendatangi tempat Kia bekerja. Restoran itu sudah tutup, tapi Satria masih bisa bertemu Rena teman kerja Kia. Rena memberitahukan bahwa hari ini Kia tidak masuk, bahkan tidak ijin. Satria juga menghubungi Shila, teman Kia yang lain, namun Shila tidak tahu keberadaan istri keduanya itu.
Satria seperti hilang akal, kepintarannya dalam memecahkan kasus seolah menghilang saat itu. Dia tidak bisa berfikir, ketakutannya akan hilangnya sosok Kia membuatnya kalut. Satria memarkir mobilnya asal setelah sampai di tempat yang ia tuju.
Dengan berlari ia menaiki tangga yang akan membawanya ke lantai atas, seperti informasi yang ia terima dari orang suruhannya orang yang ia cari ada di dalam club ini. Dengan tidak sabar pula, Satria membuka paksa pintu private room itu.
'Brakkk'
Sarah yang sedang berada di dalam dekapan seorang pria berjingkat kaget melihat suaminya yang tiba-tiba datang. Ini lebih seperti adegan penggrebekan, tapi bukan. Karena tujuan Satria bukan untuk memergoki istrinya yang sedang bermesraan dengan pria lain. Satria bahkan tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukan Sarah.
Satria menarik paksa lengan Sarah, yang langsung berdiri kala Satria menyeretnya ke dinding. Dicengkeramnya leher Sarah dengan kuat setengah mencekik.
"Di mana istri ku? DIMANA KIA?!!!" teriak Satria yang membuat Sarah merasa takut sekaligus sakit.
Erik, pria yang tadi mendekap Sarah mesra. Pria itu berusaha untuk menolong wanitanya. Namun dengan sigap Satria membalikkan tubuhnya, dan menendang tubuh Erik hingga terpental. Sarah terbatuk-batuk kala Satria melepaskan cengkeraman di lehernya. Kesempatan itu digunakan Sarah untuk mengambil oksigen yang beberapa waktu lalu tak bisa masuk ke paru-parunya.
Satria menghajar habis Erik yang sudah tidak mungkin melawan. Dia kembali pada Sarah, kali ini rambut Sarah yang ia tarik dengan kuat hingga Sarah menengadah.
"Jangan bermain-main dengan ku, katakan di mana Kia atau ku akhiri hidup mu sekarang." Satria masih berbicara dengan nada yang keras.
"A-apa maksud mu ... a-aku tidak mengerti," jawab Sarah terbata.
__ADS_1
"Di mana kamu menyuruh orang mu untuk menyembunyikan Kia?"
"Aku tidak tahu." Sarah menahan sakit di kepalanya, karena Satri menjambak rambutnya dengan kuat.
"Jangan berbohong!!!" Kali ini tangan Satria kembali mencekik leher Sarah.
Sarah berusaha menggeleng, karena suaranya tak akan bisa keluar.
Ponsel Satria berdering, ada panggilan dari Wira yang mengatakan kalau dia sudah berhasil menemukan Kia. Setelah mematikan ponselnya, Satria melepaskan cengkeraman pada leher Sarah dan bergegas pergi.
Sarah memegangi lehernya yang sakit, dia menangis. Tidak hanya karena cengkeraman Satria, tapi karena sikap yang ditunjukkan satria untuk madunya. Sikap yang belum pernah Sarah lihat, kemarahan seolah takut kehilangan yang ditunjukkan Satria lebih membuatnya terluka.
Kembali, keegoisannya menolak jika pria yang dulu mencintainya menunjukkan cintanya untuk wanita lain. Sarah meraung, mengingat kembali bagaimana Satria rela menyakitinya demi istri keduanya.
Di sisi lain, Satria terus memacu mobilnya menuju gudang tua, tempat yang Wira beritahukan tentang di mana keberadaan Kia. Sesampainya di sana, Satria langsung masuk ke gudang itu dan dilihatnya Kia yang terkapar tidak sadarkan diri. Tak ingin membuang waktu Satria langsung membawa Kia dalam gendongannya menuju mobil Wira. Sementara mobil Satria dibawa oleh anak buahnya yang lain.
Saat mereka semua meninggalkan gudang tua itu, keluarlah sepasang laki-laki dan perempuan yang sedari tadi mengawasi mereka tanpa ada satu pun orang yang tahu. Mereka tertawa dengan apa yang baru saja mereka lihat dan saling bertos ria dengan keberhasilan mereka.
"Apa ini sudah cukup untuk membuatnya ketakutan?" ucap sang wanita.
"Sebagai pemanasan kurasa lebih dari cukup," jawab si pria. Mereka tertawa lepas menikmati hasil perbuatan mereka.
Satria diantar oleh Wira ke rumahnya. Setelah memeriksa keadaan Kia saat ditemukan, Satria pikir tidak perlu membawa istrinya ke rumah sakit. Wira menunggu atasannya itu di ruang tamu, sementara Satria membawa Kia ke dalam kamar. Mengganti baju istrinya yang lusuh, dan membersihkan noda darah di sudut bibir istrinya.
Satria menemui Wira yang masih menunggu di ruang tamu, dua anak buahnya yang lain juga sudah berada di rumahnya.
__ADS_1
"Siapa pelakunya?" tanya Satria menatap tajam Wira juga kedua anak buahnya.
"Kami belum bisa memastikan, karena saat kami di sana Nona Kia bersama dua orang preman bayaran."
"Kami sudah mengintrogasi kedua preman itu. Mereka bilang, mereka disuruh orang yang tak mereka kenal bos. Mereka dihubungi melalui ponsel untuk menakut-nakuti Nona Kia, dan penculikan itu adalah tujuan akhir mereka," jelas salah satu anak buah Satria.
"Maksudnya?"
"Jadi, mereka dibayar hanya untuk menteror dan bukan menyakiti Nona Kia." kali ini Wira yang menjelaskan.
Satria nampak berpikir sejenak, siapa yang sudah menteror istrinya. Untuk tujuan apa dia menteror Kia.
Ponsel Satria bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Bagaimana rasanya, menyenangkan bukan saat harus mencari keberadaan istri kesayangan mu. Ini baru permulaan, istrimu aku biarkan selamat kali ini, tapi tidak untuk lain kali.
Hentikan penyelidikan tentang kasus kematian Safira atau istrimu akan mengalami nasib yang sama dengan Safira.
Pesan yang baru saja ia baca, membuat Satria mencengkeram ponselnya. Siapa yang sudah berani mengancamnya dengan menggunakan istrinya. Dan yang membuat Satria merasa janggal adalah, orang ini tahu tentang pernikahannya. Sementara pernikahannya sengaja ia tutupi dari orang luar.
Hanya Sarah yang tahu dan juga beberapa anak buahnya. Apakah ada pengkhianat diantara orang-orang kepercayaannya. Satria mengedarkan pandangannya, menatap satu per satu anak buahnya yang saat ini berada di ruang tamu rumahnya.
Wira dan dua anak buahnya yang lain merasa canggung ketika bos mereka menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan setelah menerima pesan singkat di ponselnya. Apakah Bos mereka ini tengah mencurigai mereka?
Tapi atas dasar apa, mereka bahkan bukan satu atau dua tahun bekerja bersama Satria. Namun sudah lebih dari tujuh tahun, sejak Satria mulai merintis karirnya. Mereka bertiga adalah orang-orang terpercaya dari Satria.
__ADS_1