
Keesokan harinya, Kia terbangun karena mendengar suara air dari kamar mandi. Terdengar seperti ada orang yang sedang mandi, Kia menoleh ke samping, melihat di mana semalam Satria tidur satu ranjang dengannya. Tidak ada orang di sampingnya, Kia meraih ponsel yang ada di atas nakas. Melihat jam berapa sekarang. Masih sangat pagi, baru jam 3.45, dan sepagi ini pria itu bangun untuk mandi?batin Kia.
Satria pun keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah.
"Sudah bangun?" tanya Satria saat melihat Kia yang bersandar di ranjang. "Baguslah, aku tidak perlu membangunkan mu untuk sholat shubuh," sambungnya.
"Apa biasanya kamu mandi sepagi ini? tapi waktu di apartemen aku tak pernah melihat mu mandi sepagi ini?" tanya Kia yang belum beranjak dari ranjang.
"Kamu yang membuat ku mandi sepagi ini," ucap Satria yang langsung membuat Kia bingung.
"Memang apa yang ku lakukan, aku bahkan tidak menyentuh mu!"
"Kamu memang tidak menyentuh ku, tapi tidur seranjang dengan mu membuat ku harus mandi keramas."
"Bagaimana bisa, kita bahkan tidak melakukan apa pun."
"Sudahlah, bersiaplah untuk sholat subuh," titahnya pada Kia.
Kia langsung bangun dari ranjang menuju ke kamar mandi, masih memikirkan alasan Satria mandi di pagi-pagi buta.
"Apa kamu bermimpi?" seru Kia yang berdiri di ambang pintu sebelum masuk kamar mandi.
Satria tidak menjawab tapi malah melotot tajam pada Kia, mungkin dia tidak mau melanjutkan pembicaraan soal mandi di pagi-pagi buta.
🍁🍁🍁🍁
Satria menghentikan mobilnya di depan gerbang kampus.
"Kenapa kesini?" tanya Kia tak mengerti, tadi setelah sarapan Satria meminta Kia untuk bersiap-siap dan akan mengantarnya. Tidak tahunya Kia diantar ke kampus tempatnya kuliah.
"Kamu sudah harus masuk kuliah, aku tidak mau kamu lulus terlalu lama apalagi kalau harus mengulang. Luluslah tepat waktu, karena aku tak akan menanggung biaya kuliah mu yang lebih dari waktu yang seharusnya, belajarlah dengan serius!"
"Ini uang jatah mu untuk hari ini." Satria memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan kepada Kia.
"Cuma segini?!" tanya Kia heran menatap lembaran uang yang ada di tangannya.
"Apa kurang, uang segitu untuk jajan dan naik ojek?"
__ADS_1
"WHAT??" Pekik Kia. "Uang segini untuk jajan dan naik ojek?"
"Iya, setiap pagi aku akan mengantarmu, jadi kamu lebih bisa berhemat bukan. Kamu hanya akan menggunakan uang jatah mu untuk ongkos pulang dan sisanya bisa buat kamu jajan," jelas Satria.
"Kamu nggak salah? uang seratus ribu harus aku gunakan untuk jajan dan naik ojek!"
Satria mengangguk mengiyakan.
"Lalu apa gunanya aku punya suami kaya, kalau uang jajan aku aja dibatasi. Lalu mana kartuku?" Kia mengulurkan tangannya meminta kartu yang ia maksud.
"Aku tidak berencana memberimu kartu apapun!" jawab Satria lugas.
Kia mendengkus kesal. "seratus ribu itu sudah banyak, aku sudah membeli rumah dekat kampus agar bisa dijangkau dengan ojek atau taksi yang tidak akan membutuhkan banyak biaya."
Kia mendelik menatap Satria.
"Dan, jangan terlalu banyak jajan di luar. Itu tidak sehat!" ucapnya menasehati.
"Kalau dengan uang segini, bagaimana aku bisa belanja? aku juga butuh beli baju, sepatu juga perawatan. Pastinya kamu tidak mau kan kalau aku tidak cantik lagi."
Satria terkekeh mendengar penjelasan Kia. Namun dibalas Kia dengan tatapan tajam ala pembunuh.
"Baiklah-baiklah, kalau untuk biaya seperti itu sebaiknya dikurangi. Kulihat bajumu masih banyak dan bagus untuk kamu pakai, jangan membeli barang yang tidak dimanfaatkan. Itu pemborosan. Kalau perlu aku yang akan mengantarmu untuk belanja dan perawatan."
"Tidak kusangka aku salah menikahi orang, kupikir aku akan menikah dengan pria kaya yang royal dan tidak perhitungan, yang akan memberikan aku kartu tanpa limit. Ternyata aku menikahi pria pelit." Kia mengerucutkan bibirnya kesal.
Namun Satria tidak tersinggung sama sekali, dia justru tersenyum melihat mimik lucu istrinya.
"Kamu tahu betapa susahnya orang bekerja mencari uang. Aku bahkan sering tidur di kantor untuk menyelesaiakn pekerjaanku."
"Aku tidak peduli dengan pekerjaan mu, tapi memberiku nafkah itu kewajiban mu bukan? lagipula jangan terlalu pelit sama istri, rejeki itu akan semakin banyak jika kamu menyenangkan istri," ucap Kia seolah berceramah.
Satria bertepuk tangan mendengar penuturan istrinya. "Tidak ku sangaka kalau istriku bisa juga bicara seperti itu, kupikir kamu hanya gadis manja yang suka menghamburkan uang."
"Aku mana pernah menghamburkan uang, aku membeli semua barang sesuai kebutuhanku. Dan aku merawat diriku agar tetap cantik itu juga butuh uang, kamu pikir kulitku yang mulus ini aku dapat dengan digosok abu!"
"Mana aku tahu kulit mu mulus atau tidak, aku saja belum pernah merasakannya!" cibir Satria.
__ADS_1
Mendengarnya Kia jadi mengingat penolakannya semalam pada Satria. "Semalam aku menawari mu, salah sendiri tidak mau!" balas Kia tak mau kalah.
"Turunlah! tidak akan selesai membicarakan ini dengan orang keras kepala sepertimu."
"Ini SERIUS!! kamu cuma memberiku uang segini?" Kia mengibaskan uang itu didepan mukanya.
"Aku selalu serius dengan keputusanku, sekarang turun dan mulailah belajar. Gunakan uang itu sebaik mungkin!" titahnya pada Kia.
"Aku tidak mau kalau uang jatahku cuma segini." Kia merajuk.
"Ya sudah berikan uangnya, dan bekerjalah untuk mendapat uang sendiri yang lebih banyak." Satria mengambil uang ditangan Kia.
"Ish ...." Kia mengambil kembali uang itu. " Dasar PELIT!" ucapnya memegang handle pintu.
"Eiittsss, tunggu dulu," sergah Satria. Satria mengulurkan tangannya pada Kia.
"Kenapa?" tanya Kia pura-pura tidak tahu.
"Sebelum berangkat alangkah lebih baik berpamitan pada suami, supaya hari mu berjalan baik karena sudah mendapat ridho suami."
"Siapa yang bilang seperti itu!"
"Apa kamu tidak dengar kalau baru saja aku yang mengucapkannya! Oh ... ya, bukannya semalam kamu bilang mau memanggil ku 'Mas', kenapa tidak konsisten?"
Kia tersenyum mengingat ucapannya semalam saat menawarkan diri pada Satria. "Kurasa aku tidak cocok memanggil mu begitu, aku kurang suka, dan itu bukan gayaku!" ucapnya jujur.
Kia memang merasa aneh dengan panggilan itu untuk pria di sampingnya ini.
"Tapi kamu harus memanggil ku begitu, selain aku lebih tua, aku juga suamimu."
Kia nampak berfikir. "Bagaimana jika aku memanggilmu 'sayang', kurasa itu lebih cocok untukku."
"Tidak, aku lebih suka dipanggil 'Mas'!" tolak Satria.
"Kalau begitu biarkan aku mempertimbangkannya dulu."
Dengan cepat Kia mencium tangan Satria, lalu bergegas keluar dari mobil. Tak menghiraukan lagi Satria yang akan membantah ucapannya. Mungkin pembicaraan soal panggilan mas atau sayang ini tidak bisa selesai dengan cepat. Sementara Satria harus segera ke kantor dan Kia berencana mencari Shila untuk bertanya tentang kuliah yang sudah cukup lama tidak ia ikuti.
__ADS_1
Kia berhenti sejenak untuk mengambil ponsel yang ada di tasnya untuk menghubungi Shila. Mencari tahu di mana keberadaan Shila sekarang agar tak lelah untuk memutari kampus.