Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.53


__ADS_3

Kia, mengajak Wira makan siang di ruangannya bersama dengan Hiro. Anak itu memang sudah terbiasa menemani mamanya bekerja. Setiap pulang sekolah, Hiro, selalu pulang ke restoran milik mamanya.


Seperti hari ini, saat ada Wira, orang yang selalu ditunggu-tunggunya. Hiro begitu senang, hingga yang biasanya makan begitu lama, kali ini Hiro dengan cepat menghabiskan makan siangnya. Karena iming-iming dari Wira, yang akan mengajak bocah itu bermain PS.


Selesai makan siang, Kia melanjutkan pekerjaannya memeriksa laporan keuangan bulan lalu. Sementara Hiro dan Wira, mereka duduk di bawah sambil bermain PS.


"Om, kok lama banget sih nggak ke sini?" sembari sibuk memainkan stik PSnya.


"Om, keluar kota."


"Kali ini, Om nyari apa?" fokus pada layar.


"Nyari ikan cu pang," jawab Wira, asal.


"Golll ...!" teriak Hiro saat pemainnya berhasil mencetak gol.


Mereka sedang bermain PS sepak bola.


Wira menoleh, tersenyum melihat kebahagiaan Hiro. "Apa kamu jadi anak yang baik saat Om pergi?" Wira, masih belum beralih dari menatap bocah kecil itu.


Hiro menggeleng keras, tapi tetap fokus pada permainannya.


"Kenapa?"


"Aku memukul kevin karena mengatai ku tidak punya papa." Hiro berhenti sejenak, dan menatap Wira.


"Kenapa sih, Om Wira nggak mau jadi papa Hiro?" tanya bocah itu polos.


Wira tertawa . "Memang kamu mau jadi anak Om?"


"Mau lah." Sembari mengangguk. Lalu kembali fokus pada permainannya.


Mendengar jawaban Hiro yang lugu, Wira jadi bingung sendiri harus berkata apa dengan anak ini. Wira menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Lalu ada cerita apa lagi?"


Kali ini Hiro menggedikkan bahunya.


"Bagaimana dengan gadis cantik yang melambaikan tangannya pada mu tadi?" tanyanya, berusaha mencari bahan pembicaraan.


Hiro terdiam sejenak memikirkan pertanyaan Wira. "Namanya Naya, dia murid baru di kelas ku." jawabnya setelah paham tentang gadis yang dimaksud Wira.


"Apa dia istimewa, kamu bahkan mendapat luka di pipimu untuk membela dia, kan?" Wira terkekeh. Mengingat apa yang terjadi pada Hiro, yang berusia lima tahun. Sudah seperti adegan remaja saja, yang jadi pahlawan untuk melindungi seorang gadis.

__ADS_1


"Aku hanya tidak suka dengan sikap Vano! dia pengecut!"


Wira masih terdiam, karena tahu Hiro masih menahan kalimatnya.


"Laki-laki yang membuat perempuan menangis, adalah seorang pengecut. Dan aku membenci itu!" ucapnya dengan menahan geram. Wira bisa melihat emosi di wajah Hiro, dan hebatnya, anak itu mampu menekannya.


Tak hanya Wira, Kia pun terkejut dengan ucapan putranya. Dia sampai menghentikan aktifitasnya membaca laporan, dan mengalihkan pandangannya pada Hiro yang masih memegang stik PS-nya.


Wira bahkan menoleh, menatap Kia dengan tatapan penuh tanya. Kia memang sudah menceritakan apa saja yang terjadi pada Hiro, karena Kia tahu, hanya dengan Wira, Hiro bisa bercerita apa saja.


"Siapa yang mengajarimu berkata seperti itu? bicaramu seperti orang dewasa saja." tanya Wira dengan bercanda.


"Bukankah Om, sendiri yang mengatakannya pada ku waktu itu?"


Wira menatap Hiro dengan Intens, memikirkan kapan dia pernah berkata seperti itu pada anak kecil, yang belum bisa teralihkan perhatiannya dari permainannya.


"Dulu, Om pernah bilang, kalau aku harus jadi anak yang hebat, laki-laki yang kuat, agar aku bisa jadi pelindung untuk Mama.


Om, juga bilang. Aku tidak boleh cengeng, tidak boleh juga membuat Mama ataupun orang lain menangis, terutama perempuan. Karena laki-laki yang membuat perempuan menangis adalah seorang pengecut. Itu kan, yang dulu Om katakan pada ku?"


Wira ingat, dulu dia pernah berkata seperti itu pada Hiro. Tapi, itu dulu, sudah lama. Dan tidak disangka, kalau Hiro akan merekamnya dengan baik.


"Tapi, Hiro, memukul orang lain itu juga tidak benar. Om, juga mengajari kamu kan, jangan menyakiti orang lain."


"Memang apa yang mereka lakukan?"


"Kevin selalu mengejekku, karena aku tidak punya Papa. Aku tidak suka itu!" Hiro diam sebentar, meletakkan stik PSnya di atas karpet.


"Lalu Vano, dia mengambil jepit rambut Naya hingga Naya menangis. Aku sudah meminta baik-baik, tapi Vano justru mendorong ku sampai jatuh dan aku, juga tidak suka itu," sambungnya lagi. Anak kecil itu, memperlihatkan mimik tidak sukanya.


"Baiklah, Hiro, kemarilah." Wira meraih tubuh Hiro dan didudukkannya di pangkuannya.


"Mulai sekarang, jangan lagi memukul atau menyakiti orang lain, ya. Om mau, Hiro, jadi anak yang penyayang. Ok!" Wira mengajak tos Hiro, yang disambut Hiro dengan anggukan dan menyambut tangan Wira.


"Ok, Om, harus kembali ke kantor. Sampai bertemu lagi." Wira menurunkan Hiro dari pangkuannya, lalu mengecup pipi bocah itu.


Tentu saja, Hiro, langsung mengusapnya. Bocah itu, sudah merasa risih bila dicium layaknya anak kecil. Ah ... anak itu, masih bocah tapi tak mau dianggap bocah.


Kali ini, Kia menghentikan pekerjaannya setelah kepergian Wira. Kia menggantikan posisi Wira sekarang. "Boleh Mama peluk?"


Hiro mengangguk, lalu beringsut mendekati mamanya, dan memeluknya.

__ADS_1


Kia mengusap lembut, kepala Hiro. "Maafkan Mama, ya?" ucap Kia masih mengusap kepala Hiro.


"Mama, nggak salah kok. Harusnya Hiro yang minta maaf. Hiro, sudah bikin Mama dipanggil ibu guru dan juga saboeum." Terlihat raut menyesal di wajah Hiro.


Tak ingin saling merasa bersalah, Kia memeluk putranya lebih erat, begitupun Hiro. Saling menguatkan satu sama lain adalah hal terbaik yang bisa mereka lakukan, dari pada memikirkan siapa yang paling bersalah di antara mereka.


Kia sadar, dia belum bisa memberikan kebahagiaan yang sempurna untuk Hiro, terutama kasih sayang dari seorang ayah. Hiro memang mendapatkan kasih sayang dari Wira. Ya ... Wira. Pria yang selalu berusaha mengisi dan memenuhi cinta dan perhatian seorang ayah untuk Hiro.


Tapi, tetap saja, Wira bukanlah ayah Hiro, dan Hiro tahu itu. Dulu, sering sekali Hiro menanyakan keberadaan papanya, tapi tidak lagi belakangan ini. Hiro, bahkan tak pernah lagi menyebut atau menyinggung soal papanya.


Entah apa penyebabnya, mungkin karena jawaban yang diberikan Kia selalu sama. 'Papanya sedang pergi bekerja untuk waktu yang lama.'


Hanya itu yang selalu bisa Kia ucapkan, untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Keadaan yang belum bisa dijelaskan pada anak seusia Hiro. Karena Kia, tak bisa menjanjikan apapun yang berkaitan dengan Satria.


Sejak Kia pergi meninggalkan satria, Kia tak pernah lagi mencari tahu tentang keberadaannya. Dan untuk putranya, Kia hanya selalu bisa berbohong.


Dan kebohongannya, baru Kia rasakan dampaknya sekarang. Saat sikap Hiro berubah. Saat anak itu, tak pernah lagi bertanya tentang papanya.


Bukan ini yang Kia inginkan, Kia tetap ingin Hiro, peduli dengan papanya, meski setiap kali dia harus mencari berbagai alasan untuk memuaskan pertanyaan dari Hiro. Tapi, itu lebih baik, dari pada menghadapi sikap tidak peduli Hiro.


Selama ini, Kia selalu menceritakan tentang bagaimana sosok Satria. Meski tak pernah memperlihatkan fotonya. Kia ingin, Hiro tahu, betapa baik sosok papanya. Karena, Kia masih berharap, suatu saat nanti, entah kapan pun itu, Hiro bisa bertemu dengan Satria.


Dan, saat itu terjadi, Hiro bisa melihat sosok Papa yang selama ini Kia ceritakan.


.


.


.


.


.


Dukung cerita ini dong Gaesss....


👍 klik like


❤️ Favorite


🖊️ Komen ....apapun itu, kritik, saran, atau apapun tentang novel ini.

__ADS_1


Vote juga yak...... tengkyu ❤️❤️❤️sayang hee


__ADS_2