
Malam sudah sangat larut, saat mereka semua memutuskan untuk mengakhiri permainan. Dan, Hiro juga sudah terlihat sangat mengantuk. Kia mencium kedua pipi Hiro dan juga keningnya sebagai ucapan selamat tidur.
"I love you." Ucap Kia mengecup kening Hiro.
Kia menunggu Hiro sampai masuk ke dalam tenda. Karena tadi, Hiro sempat tidak ingin satu tenda dengan papanya. Namun, Kia membujuknya agar mau tidur dengan Satria. Alhasil, Kia harus mengantar Hiro sampai anak itu masuk ke tendanya. Setelahnya baru Kia ke tendanya sendiri.
Hiro duduk, mengamati sesisi ruang dalam tenda. Anak kecil itu sedang gelisah, karena malam ini ia akan tidur dengan seseorang yang disebut sebagai papanya. Hiro langsung merebahkan dirinya dengan posisi miring, dan mencoba memejamkan matanya, saat Satria masuk ke dalam tenda.
Tadi, Satria hanya melihat bagaimana Kia membujuk Hiro. Sebenarnya, Satria sendiri tidak ingin memaksa Hiro untuk tidur dengannya, jika bocah itu menolak. Tapi, Kia justru berhasil membujuknya.
Satria memasuki tenda yang akan menjadi tempat istirahatnya malam ini bersama putranya. Ternyata, bukan Hiro saja yang merasa canggung, Satria pun sama. Bagaimanapun juga ini kali pertama, Satria bisa sedekat ini dengan Hiro. Satria melihat mata Hiro yang sudah tertutup, ditatapnya dengan intens, wajah tampan dari putranya itu.
"Maafkan Papa, Hiro," lirih Satria.
Satria mengusap kepala Hiro lembut, lalu mengecup kepala anak itu.Dia pun merebahkan dirinya disamping Hiro, dengan kedua tangannya yang ia lipat sebagai alas kepalanya.
Beberapa menit berlalu, Satria belum juga bisa terpejam. Dalam otaknya kini sedang memutar memori tentang kejadian masa lalu, yang memaksanya untuk tidak mengenal Hiro. Tak hanya itu, dalam hatinya pun bergelayut rasa bersalah pada putra kandungnya itu.
"Apa Anda masih sakit?" suara Hiro, membuat Satria langsung memiringkan tubuhnya ke arah Hiro. Tapi anak itu masih dengan posisi yang sama, membelakanginya.
"Mama bilang, Anda sakit?" lanjut Hiro, tanpa menoleh.
"Anda sakit apa?" tanya anak itu lagi.
Dibalik punggung Hiro, Satria tersenyum senang, mendengar pertanyaan Hiro. Meski Hiro tak menatapnya, tapi perhatiannya menanyakan keadaannya sungguh membuat hati seorang Satria senang.
"Papa sudah sembuh, karena itu, Papa menemui mu."
"Anda sakit apa?" ulang Hiro.
"Apa mamamu tidak bercerita, kalau Papa mengalami kecelakaan?"
Hiro terdiam.
"Maafkan Papa, yang baru bisa menemui Hiro sekarang. Karena kecelakaan itu, tidak memungkinkan Papa untuk menemui Hiro." Terdengar kesedihan dalam ucapan Satria.
"Apa Anda mengingat ku?"
"Tentu saja, Papa sangat merindukanmu Hiro." Satria tersenyum saat mengungkapkan perasaannya, hatinya merasa lega telah mengutarakan kerinduannya.
"Maafkan Papa Hiro," ucap Satria lagi.
Tak ada jawaban. Bahkan setelah ditunggu pun Hiro tetap diam.
"Beri Papa kesempatan untuk bisa jadi Papa yang baik buat Hiro. Papa sayang sama Hiro." ucap Satria tulus.
Hanya kebisuan yang memenuhi tenda itu.
"Hiro, apa kamu marah sama Papa?" tanya Satria yang sejak tadi didiamkan .
Tetap tak ada jawaban.
Satria bangun, dan melihat apa yang dilakukan Hiro, kenapa diam saja. Ternyata bocah kecil itu sudah terlelap.
Satria membetulkan selimut Hiro, dan ikut berbaring disamping putranya.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, Kia membangunkan Hiro dan Satria. Semua berkumpul kembali, dan duduk menatap ke arah matahari terbit. Ini juga menjadi tujuan mereka camping, melihat Sunrise. Sambil menikmati teh hangat yang dibuatkan Rena, mereka semua dengan khidmat menikmati indahnya ciptaan Tuhan.
.
.
.
.
.
.
Setelah pulang dari camping, mereka langsung mengantar Satria ke bandara. Pasalnya, tadi Satria mendapatkan kabar dari Aditya, bahwa kondisi Sarah sedang drop, dan harus dilarikan ke rumah sakit. Naya juga sudah menanyakan keberadaan Satria terus. Sebab itulah, Satria harus segera kembali ke Jakarta.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Satria, di ruang perawatan Sarah.
"Aku sudah lebih baik. Dimana Kia dan Hiro, apa kamu tidak berhasil menemuinya?" ucap Sarah lemah.
"Aku belum bisa membawa mereka kembali. Hiro ... anak itu, belum bisa menerima kehadiranku sepenuhnya."
Air muka Sarah langsung berubah sedih. "Maaf," lirih Sarah.
"Sudahlah, jangan berfikir macam-macam. Pikirkanlah tentang kesehatanmu. Dan berusahalah sembuh untuk Naya." Ucap Satria menyemangati.
"Aku sudah tidak banyak berharap untuk kesembuhanku. Yang aku harapkan sekarang adalah kamu bisa kembali pada Kia."
"Aku akan memperjuangkan pernikahanku."
Kalau saja waktu bisa diputar, Sarah ingin kembali ke masa dimana Satria pernah berjuang mempertahankan pernikahannya dengan Sarah. Dan saat itu, Sarah tak pernah sedikitpun melihat perjuangan Satria.
Sekarang baru terasa menyakitkan, saat pria yang dulu mencintainya, berjuang untuk wanita lain.
"Aku akan selalu mendoakan mu dan Kia." Sarah kembali mengukir senyum tipis dibibirnya, menahan segala rasa yang begitu menyayat hatinya, menahan air matanya agar tak sampai keluar.
.
.
.
.
.
DI JOGJA
Mobil yang ditumpangi Kia, Hiro, juga Wira, dan Juna sudah memasuki pekarangan rumah Bu Dirjo. Ada yang beda dari Hiro, sepanjang perjalanan, anak semata wayangnya itu lebih banyak diam. Lebih tepatnya sejak mengantarkan Satria ke bandara. Hiro bahkan langsung masuk ke kamarnya, tanpa pamit pada siapapun. Mengabaikan sapaan Eyang Dirjo, yang menyambut kedatangan mereka di teras.
"Kenapa dengan Hiro?" Wira mencoba mencari tahu.
"Entahlah." Kia mengangkat kedua bahu.
"Aku akan menyusul." Wira menaruh tasnya di teras, dan meminta Juna untuk membawakannya masuk, dan segera menyusul Hiro.
__ADS_1
"Boleh Om, masuk?" tanya Wira setelah mengetuk pintu kamar Hiro.
Meskipun tak ada jawaban, Wira tetap saja masuk.
"Kamu capek?" Wira langsung duduk di tepi ranjang, dimana Hiro merebahkan tubuhnya.
"Kenapa dia datang, lalu pergi lagi?"
Wira terdiam dengan pertanyaan Hiro, dia tahu apa dan siapa yang dimaksud anak itu.
"Tadi malam, dia minta maaf. Dia juga bilang, dia sayang sama Hiro. Dia bahkan ingin jadi papa yang baik buat Hiro. Kalau dia sayang, kenapa dia datang lalu pergi lagi?"
Wira masih jadi pendengar setia.
"Untuk Naya, dia selalu ada, dan dia melupakan ku. Apa benar dia itu papaku?"
"Hi___" Wira akan menjelaskan saat Hiro memotong ucapannya.
"Aku tidak yakin kalau aku adalah anaknya, dia bahkan tidak ingin membawa ku pulang."
"Apa aku anak yang nakal? Karena itu, dia tidak ingin mengajak ku?"
"Hiro." Wira mencoba membangunkan Hiro dan memintanya duduk. Wira bahkan memegang bahu Hiro agar anak itu fokus padanya.
"Dengarkan, Om. Dia adalah papa Hiro, dia sayang sama Hiro. Kenapa papa Hiro tidak mengajak Hiro, karena mama Naya sedang sakit. Papa Hiro harus menjaga mamanya Naya," jelas Wira.
"Mama pernah bercerita bukan, saat papa Hiro sakit. Mamanya Naya yang merawat papa Hiro sampai sembuh, sekarang mamanya Naya sakit, jadi papa Hiro harus gantian merawat mama Naya." sambung Wira.
"Kamu percaya kan sama Om?" Wira menatap Hiro dengan tatapan meyakinkan. Wira paham dengan kesedihan Hiro, karena selama ini hanya pada Wiralah Hiro mau terbuka menceritakan segala keluh kesahnya. Tentang kerinduannya pada sosok ayah, tentang teman-temannya yang kadang membullynya, tentang sekolahnya, dan semua hal tentang diri anak itu.
Hiro hanya diam tidak menjawab.
.
.
.
.
.
.
.
Terus dukung cerita ini yak
👍Like
❤️Favorite
🖊️Komen
Tengkyu💓💓💓sayang hee
__ADS_1