Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.38


__ADS_3

Aditya duduk di taman belakang rumahnya, menatap senja sore dengan mata tuanya. Ditatapnya pohon mangga, tempat bermain putrinya, Sarah dengan Satria. Dia tersenyum mengingat masa kecil putri kesayangannya. Kebahagiaan putrinya dengan Satria. Air mata pun tanpa sadar menetes di pipinya, ia teringat beberapa waktu yang lalu.


Saat Sarah pulang di malam hari dalam keadaan kacau. Putrinya itu langsung berlari ke kamar, membanting pintunya dengan keras. Terdengar dari luar, Sarah memporak-porandakan isi kamarnya. Dan yang paling menyayat hati dari seorang ayah, adalah mendengar raungan putrinya namun ia tak mampu untuk mendekap.


Aditya hanya bisa berdiri di balik pintu kamar Sarah yang sedang meluapkan emosinya. Sakit, itu yang Aditya rasakan. Dia tak mampu melihat putrinya tenggelam dalam kesedihan.


Aditya kembali ke ruang kerjanya, menghubungi seseorang yang menjadi orang kepercayaannya. Dia cukup menunggu sebentar, orang yang tadi ia minta untuk datang segera hadir di hadapannya. Orang itu menceritakan penyebab putrinya itu menangis. Aditya mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras menahan marah.


Dia tidak bisa menerima penyebab yang membuat putrinya di rundung duka. Aditya akan melakukan apapun untuk putri semata wayangnya, pun jika harus melakukan hal yang tidak benar demi kebahagiaan putrinya dan yang terpenting adalah sesuai tujuannya. Dia sadar, dirinya tak mampu selamanya hidup untuk menjaga putrinya, karena itu sudah dari jauh-jauh hari dia menyiapkan seseorang yang ia percaya untuk menggantikan tanggung jawabnya.


Dan orang itu adalah Satria, menantunya. Ya, Aditya yakin, bersama Satria-lah Sarah akan bahagia. Hanya Satria yang mampu membimbing Sarah ke jalan yang lebih baik.


Aditya bukan Ayah yang tidak tahu menahu soal tingkah polah Sarah selama ini. Dia tahu, sangat tahu. Mungkin dia sudah cukup tua untuk mengikuti Sarah, namun dia punya banyak uang untuk membuat orang pergi kemanapun sesuai perintahnya.


Selama ini, Aditya tahu benar seperti apa kelakuan Sarah di luar sana. Dia juga tahu seperti apa perlakuan Sarah pada menantunya, tapi Aditya dibutakan cinta dan kasih sayangnya terhadap sang putri. Hal itu yang membuat Aditya selalu memaklumi segala kesalahan Sarah.


Namun tidak demikian dengan Satria, suami Sarah. Dia sudah menyerah dengan Sarah yang seolah tak bisa lagi dibimbingnya. Satria memilih melepaskan Sarah, daripada harus ikut bertanggung jawab atas segala kesalahan-kesalahan yang Sarah buat. Dia seolah tak ingin lagi berusaha membawa Sarah pada jalan yang benar, setelah segala usahanya diabaikan oleh Sarah, dan dianggap angin lalu. Hingga ucapan talak pun Satria lontarkan untuk istrinya itu.


Bahkan sampai hal itu terjadi, Aditya masih berharap Satria mau kembali menerima Sarah. Itu hanya emosi Satria sesaat, dan semua ia yakini, dengan Satria dan Sarah yang masih saja bersandiwara seolah mereka masih menjadi sepasang suami istri.


Tapi, semua jadi berbeda saat orang suruhannya mengabarkan tentang pernikahan diam-diam Satria. Awalnya dia berpikir untuk membiarkan saja Satria bermain-main. Karena Sarah pun melakukan hal yang sama.


Hingga malam itu tiba. Saat orang kepercayaannya memberitahu apa yang dilakukan Satria pada Sarah, dan ia sendiri harus melihat betapa terlukanya Sarah.

__ADS_1


Sebagai Ayah, dia harus mengembalikan kebahagiaan putrinya. Dia yang paling mengenal Sarah. Aditya juga tahu betapa Sarah sangat mencintai Satria, tapi Sarah tak menyadarinya. Karena kebebasan dan kesenangan menyamarkan cinta itu dengan wujud manfaat. Sarah selalu menganggap Satria adalah benda yang bisa ia manfaatkan untuk meraih kebebasan dan kesenangannya, hingga saat benda itu beralih kepemilikan dan meninggalkannya, Sarah baru tersadar betapa ia mencintai benda itu. Tak pernah ingin jika sesuatu yang ia cintai dimiliki orang lain.


Untuk semua itu, demi rasa cinta dan kasih sayangnya, dan dengan cara apa pun, Aditya akan membuat Satria kembali pada Sarah.


🍁🍁🍁🍁


Setelah dari rumah Aditya Wilmar, Kia langsung menuju restoran tempatnya bekerja. Jam kerjanya masih lumayan lama, tapi akan lebih baik ia menunggu di sana saja, setidaknya dia punya teman di sana daripada harus pulang ke rumah sendirian. Rena juga biasa melakukan hal yang sama, daripada harus pulang ke rumah, Rena lebih memilih menunggu di tempat kerja sambil mengerjakan tugas kuliahnya.


"Hei ...." Rena menepuk bahu Kia yang sedang asyik dalam lamunannya.


Kia yang dari tadi duduk menyangga dagunya dengan tangannya, sontak menoleh pada Rena yang menyapanya.


"Kenapa? ada masalah?" tanya Rena yang ikut duduk di samping Kia.


"Apa aku bisa bantu?" Rena menatap mata sendu Kia. Awalnya Kia pikir, dia tak ingin cerita masalah ini pada siapapun, tapi jika ada yang tahu masalahnya mungkin akan ada yang memberinya masukan.


"Rena ... jika aku cerita ini, apa kamu bisa berjanji kalau kamu akan jaga rahasia ini," tanya Kia.


Rena diam, mungkin dia bingung rahasia apa yang harus ia jaga nantinya, tapi Rena mengangguk juga.


"Sebenaranya ...." Kia menjeda kalimatnya.


"Sebenarnya, aku sudah menikah Ren. Kamu ingat kan saat aku mengajak mu pergi ke rumah kekasih kakak ku, Shila pernah mengatakan bahwa aku adalah adik dari Keenan Surya Atmadja."

__ADS_1


Rena memperhatikan dengan baik cerita Kia.


"Aku bukan adik kandung Keenan, aku adalah anak yang diadopsi oleh orang tua Keenan saat aku masih bayi. Aku adalah anak yang ditinggalkan oleh orang tua ku di panti asuhan. Namun, nasib baik memihak ku. Keluarga Keenan yang kaya membawa ku dan membesarkan ku. Mereka memberikan aku cinta dan kasih sayang sebagai anak mereka. Hingga, saat Keenan terkena masalah, aku merasa harus ikut bertanggung jawab untuk membantunya. Karena itulah, aku menikah dengan Satria Anggar Buana, seorang pengacara yang akan membantu ku membebaskan Kak Keenan."


"Lalu apa masalahnya?"


"Masalahnya adalah, Satria adalah suami dari Sarah Wilmar."


Rena terkejut mendengar hal itu, semua orang tahu siapa Sarah Wilmar. Rena pun mengingat, saat pesta di mana ia dan Kia bekerja menjadi additional waiters, Sarah datang bersama pria yang disebut-sebut sebagai suaminya.


"Aku jadi istri keduanya, dan hari ini, ayah Sarah memanggil ku. Dia meminta ku agar aku meninggalkan Satria. Aku bingung, apa yang harus aku lakukan."


"Apa yang membuatmu harus bertahan di sisinya?"


Kia diam.


"Apa kamu mencintainya?"


"Aku tidak tahu, tapi hatiku menolak jika aku harus meninggalkannya. Tapi aku juga ingin memenuhi janjiku untuk membantu Kak Keenan. Aditya Wilmar menawarkan kebebasan kakak ku jika aku menyetujui untuk meninggalkan suamiku."


"Aku memang tidak bisa membantu mu, tapi jujur pada suami mu akan lebih baik. Rumah tangga kalian dibangun bersama, dan akan semakin kuat jika dipertahankan bersama-sama pula. Kamu tidak akan mungkin bisa bertahan sendirian, jadi menurut ku kamu harus tahu bagaimana sikap suami mu dengan masalah ini. Bertahan bersama atau mengakhiri semuanya."


Kia terdiam, mencerna ucapan Rena. Mungkin Rena benar, akan ada baiknya jika ia bercerita pada Satria karena rumah tangganya dibangun bersama dan butuh usaha bersama pula untuk mempertahankannya.

__ADS_1


"Terima kasih ya Ren." Kia memeluk Rena. Merasa lega setelah menadapat masukan dari temannya.


__ADS_2