Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.76


__ADS_3

"Hiro, kok belum tidur?" Kia masuk ke kamar Hiro, tadinya cuma mau memastikan apakah Hiro sudah tidur atau belum. Nyatanya yang ia lihat, putranya itu masih terjaga.


"Hiro terbangun tadi, Ma. Terus nggak bisa tidur lagi."


"Mama temani, ya?" Kia langsung naik ke atas ranjang Hiro, dan menyusup ke dalam selimut.


Hiro meletakkan kepalanya dipangkuan mamanya. Kia mengusap lembut kepala Hiro, agar anak itu kembali lelap. Tak ada suara yang mengisi kamar itu untuk beberapa saat.


"Ma ...."


"Hemm."


"Kenapa Mama tidak menikah lagi?" pertanyaan Hiro yang tiba-tiba membahas pernikahan membuat Kia bingung harus menjawab apa.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa, kamu tidak bahagia hanya punya Mama?"


"Bukan ... bukan itu maksud Hiro!" sergah Hiro, takut jika Mamanya berpikir lain dari maksud Hiro sebenarnya.


"Lalu?"


"Hiro ingin Mama bahagia."


"Mama sangat bahagia, kamu adalah kebahagiaan, Mama." Kia menunduk mencium kepala Hiro.


"Bagaimana jika suatu hari nanti, papa kembali dan menemukan kita?" tanya Hiro polos.


"Dunia ini memang luas, Hiro. Tapi bukan berarti kita tidak bisa bertemu kembali dengan orang yang sudah lama kita tinggalkan. Karena kuasa Tuhan lebih besar, untuk melipat jarak dan waktu." Kia mengingat kembali pertemuannya dengan Satria malam itu, setelah beberapa tahun tidak bertemu. Dia sudah berusaha menghindar, tapi Tuhan, dengan mudah mempertemukannya kembali dengan Satria.


"Apa karena Mama menunggu papa, jadi mama menolak menikah dengan om Marvin?" tanya Hiro lagi.


"Kenapa kamu bertanya begitu?"


"Kupikir, selama ini Mama tidak mau menikah, karena Mama masih menunggu papa."


Kia terdiam. Dia pun mencoba mencari jawabannya, Apakah Hiro benar? Jika selama ini alasan dia tidak membuka hati, karena sesungguhnya ia masih mengharapkan Satria.


Dasar bodoh!


Untuk apa dia menunggu pria yang sudah menyakitinya. Pria yang plin-plan, jika menyangkut Sarah, istri pertamanya. Pria yang, tidak peduli dengan putra kandungnya, dan justru memikirkan Naya. Yang sudah jelas bukan siapa-siapa.


Inikah perasaanya? Ingin sekali membenci pria yang sudah melukai dirinya dan juga Hiro. Tapi hatinya menolak untuk membenci pria dari masa lalunya itu.


"Ma ...." panggil Hiro.


"Mama!"


"I-iya! ada apa?" Kia tersentak dengan panggilan Hiro.


"Aku tidak mau berbagi papa dengan Naya, jika papa masih bersama Naya. Hiro tidak mau punya papa." ucap Hiro bernada emosi.

__ADS_1


"Hiro." Kia kembali mengusap lembut kepala Hiro. Menyisir rambut Kiro dengan jarinya. "Mama tidak pernah mengajarimu untuk membenci, Jadi Mama mohon, tunjukkan apa yang Mama ajarkan. Jangan membenci Naya juga papa. Mama ingin kamu menjadi orang yang bisa mengasihi dan menyayangi." Kia berbicara sehalus mungkin, untuk memberikan pengertian pada Hiro.


"Papa lebih sayang Naya, daripada Hiro, Ma."


"Hiro, papa sayang kalian berdua. Hiro ingat, papa dulu pernah menggendong Hiro waktu kita camping. Itu salah satu bukti papa sayang sama Hiro, papa nggak mau Hiro capek, makanya papa gendong Hiro."


Hiro tak menjawab, keduanya kembali terdiam beberapa saat.


"Ma, jangan kembali sama papa. Mama menikah saja sama Om Marvin atau Om Wira. Mereka kan baik banget sama kita," ucap Hiro kemudian.


"Sudahlah, ini sudah malam. Hiro tidur lagi, ya." Kia memutuskan obrolan malam ini, agar tidak semakin jauh. Dielusnya kepala Hiro, agar anak itu tertidur kembali.


.


.


.


.


.


Minggu ini, seperti biasanya. Hiro sudah bersiap bersama Mbak Yanti dan Bli Made, untuk pergi ke tempat keramaian. Kali ini mereka memilih untuk pergi ke pantai.


"Kamu sudah siap, Hiro?" tanya Mbak Yanti.


Mbak Yanti langsung membagikan brosur kepada Hiro dan Bli Made. Acara mereka pergi ke pantai adalah untuk promosi restoran milik Kia. Setiap hari minggu pagi, mereka masih melakukan hal tersebut untuk menarik pengunjung baru. Dan biasanya mereka menyebar brosur ditempat yang berbeda-beda setiap minggunya.


Setelah mendapatakan pembagian brosur dari Mbak Yanti, Hiro dan Bli Made langsung menyebar. Mereka sudah diberitahu, satu jam lagi berkumpul di tempat yang sama saat mereka datang.


"Ingat ya Hiro, jangan jauh-jauh dari Mbak atau Bli."


"Iya, Mbak."


Mereka pun menyebar, mulai membagikan brosur pada siapa pun yang mereka temui. Matahari yang mulai merangkak naik, membuat Hiro merasa mulai kepanasan. Kakinya pun lelah, setelah berjalan membagi brosur. Hiro melihat Mbak Yanti dan Bli Made, masih semangat berjalan menyusuri area pantai untuk membagi brosurnya.


Hiro sendiri memilih beristirahat sejenak, di bawah pohon kelapa. Tubuhnya bersandar pada batang pohon kelapa, dan menggunakan brosur yang ia pegang sebagai kipas. Peluh di dahinya menetes, karena hari ini cuaca begitu cerah.


Karena lelahnya, Hiro bisa tertidur meski hanya bersandar pada batang pohon kelapa, dengan brosur yang masih di genggamnya. Mungkin efek tidur yang kurang nyenyak semalam membuatnya mengantuk di pagi ini.


Hiro terbangun saat merasa kepalanya seperti akan jatuh. Hiro mengucek kedua matanya, mencari Mbak Yanti dan Bli Made yang masih membagikan brosurnya. Ada orang lain juga ternyata yang sedang melakukan hal yang sama, seperti yang ia lakukan. Hiro teringat brosurnya yang masih banyak, diliriknya brosur ditangannya yang kosong. Hiro kembali melihat Mbak Yanti dan Bli Made.


Ah, mungkin brosurnya sudah diambil Mbak Yanti atau Bli supaya cepat habis dan mereka segera pulang. Begitu pikirnya.


"Wah, Hiro hebat! cepet banget kamu habisin brosurnya," ucap Mbak Yanti saat tiba di depan Hiro dan melihat brosur di tangan Hiro sudah tidak ada.


Hiro hanya menatap Mbak Yanti.


"Kita tunggu Bli sebentar ya, habis ini Mbak jajanin kamu es krim deh." Mbak Yanti ikut duduk di samping Hiro, sambil menunggu Bli Made kembali.

__ADS_1


Hiro kembali mencari orang selain Bli Made, yang sedang membagikan brosurnya. Terlihat dari jauh, orang itu dengan semangat mebagi-bagikan brosur pada pengunjung pantai.


Tak lama, Bli Made kembali pada Hiro dan Mbak Yanti.


"Sudah habis, Bli?" tanya Mbak Yanti.


"Sudah."


"Ayo, kita beli es krim dulu. Baru kita pulang." ajak Mbak Yanti, seraya berdiri.


"Hiro!" Tak ditanggapi.


"Hiroooo!!!" pekik Mbak Yanti.


"Kenapa sih, Mbak. berisik tau!" Hiro yang sedari tadi masih fokus pada orang yang membagikan brosur tersentak kaget saat Mbak Yanti berteriak di dekatnya.


"Kamu, jangan suka melamun! diajakin pulang malah bengong! Ayo, pulang!"


Hiro langsung berdiri mengikuti Mbak Yanti dan Bli Made. Sesuai janjinya, Mbak Yanti membelikan es Krim sebelum mereka pulang. Mereka memakannya di tempat, sambil bercerita pengalaman mereka saat membagi brosur tadi. Hanya Mbak Yanti dan Bli Made yang terlibat obrolan. Hiro lebih banyak diam, tidak seperti biasanya.


Selesai makan es krim, mereka bertiga langsung pulang. Ada Kia yang menyambut mereka dengan gembira.


"Bagaimana sebar brosurnya?" tanya Kia.


"Hiro hebat, Bu. Brosurnya paling cepat habis. Tapi nggak tahu juga, habis karena dibagikan atau karena Hiro buang." Goda Mbak Yanti. Biasanya Hiro akan marah jika digoda seperti itu, tapi kali ini dia diam saja.


"Benar, Hiro?" tanya Kia.


Tak tahu harus menjawab apa, karena takut berbohong. Hiro hanya tersenyum tipis, lalu pamit untuk mandi.


.


.


.


.


.


Terima kasih atas dukungan kalian semua readers terZEYENGGG kuh. Untuk


👍Like, dan


🖊️Komennya


Support kalian semangat kuh😍


Tengkyu 💓💓💓sayang hee

__ADS_1


__ADS_2