
"Ren, bener nggak apa-apa kan aku menginap di tempatmu?"
"I-iya, tentu saja ... ti-tidak masalah," jawab Rena seolah tak yakin.
"Tapi kenapa kamu terlihat gugup, apa sebenarnya kamu keberatan?"
"Bu-bukan begitu ... a-aku hanya malu saja, kamu tahu 'kan kondisi kostku, sempit dan berantakan," jawab Rena ragu-ragu.
"Itu tidak masalah, kan ini bukan pertama kalinya aku menginap. Santai saja." Kia tersenyum meyakinkan Rena sambil mengangkat kedua alisnya.
Rena pun menjawab dengan senyum dipaksakan.
Tiba juga mereka di kost milik Rena, setelah tadi berjalan dari jalan utama melewati gang-gang kecil.
"Ayo masuk," ajak Rena.
Seperti waktu pertama kali Kia datang ke kostan Rena, Kia pun langsung membuka sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu. Rena langsung menyuruh Kia membersihkan diri sebelum dirinya. Sementara Rena berusaha membereskan kamarnya agar tidak terlihat berantakan.
"Kamu cepetan mandi Ren, seger banget lho," ucap Kia setelah keluar dari kamar mandi.
"Kamu mandi?" tanya Rena heran.
"Iya, kenapa?"
"Tapi air di sini sangat dingin kalau malam hari."
"Terus?"
"Ya, ku kira kamu cuma ganti baju saja. Soalnya aku tidak pernah mandi di malam hari," jawab Rena malu.
"Ya udah buruan ganti baju, terus kita istirahat."
Rena mengangguk.
Kia kembali memperhatikan isi kamar Rena, hanya ada satu ranjang ukuran sedang, meja belajar, lemari baju yang tak begitu besar, ada lukisan bunga mawar juga menempel dinding kamarnya dan di sampingnya lukisan bunga lily. Sangat cantik.
Kia mendekati lukisan itu, memperhatikan dengan seksama. Mawar warna merah yang terlihat basah karena ada embun yang menempel di kelopaknya.
"Sungguh lukisan yang detail," gumam Kia. Ada tulisan di pojok lukisannya, mungkin itu nama penulisnya. 'Safira Rose' begitulah nama yang tertulis.
Kia memegang dagunya sendiri, masih mengagumi lukisan itu. Kemudian dia beralih ke lukisan satunya, lukisan bunga lily. Sama, di pojok lukisan ada tulisan nama 'Safira Rose' juga. Mungkin pelukisnya sama, begitu pikir Kia.
Kia pergi ke meja belajar milik Rena, memperhatikan apa saja yang ada di atasnya. Tidak ada laptop kali ini, seingatnya dulu Rena punya laptop. Ya, meskipun katanya rusak. Ada buku-buku satra di sana, karena Rena memang mengambil jurusan itu. Buku tugas Rena juga tergeletak di sana. Kia mengambil botol pewarna yang berjejer dengan sirup jagung di atas meja, memperhatikannya.
"Sedang apa?" Kia terhenyak mendengar suara Rena yang keluar dari kamar mandi.
"Untuk apa ini?" Kia menunjukkan botol pewarna yang ia ambil.
__ADS_1
"Oh ... i-itu ... untuk pementasan dulu. Iya, pementasan dulu," jawab Rena bahkan mengulangi kalimat yang sama.
Kia meletakkannya kembali.
"Apa kamu lapar?" tanya Rena.
"Tidak, aku tidak biasa makan di jam segini."
"Ya sudah. Kalau begitu, ayo kita tidur!" ajak Rena yang langsung naik ke atas ranjang.
Kia pun segera menyusul Rena, menyusupkan tubuhnya di bawah selimut.
Kia tak langsung tidur, dia menceritakan apa yang terjadi dengan kakaknya yang sekarang di rawat di rumah sakit. Kia juga menceritakan alasan dirinya ingin menginap malam ini di kotsan Rena. Kia yakin malam ini, Satria tidak akan pulang dan dia akan sendirian di rumah. Sementara dia butuh teman untuk bicara, untuk mengurangi beban pikirannya dan Rena adalah orang yang Kia pilih untuk mencurahkan isi hatinya.
"Jadi menurut kamu, apa keputusan yang aku ambil sudah benar. Jika aku berpisah dari suamiku, aku akan membebaskan kakakku, dan itu adalah tujuanku dari awal," tanya Kia dengan menatap langit-langi kamar Rena.
"Bukankah suamimu akan membantu mu? kenapa tidak kamu tunggu saja dia."
"Aku takut Ren, jika terlalu lama menunggu dia mengambil keputusan justru kakakku yang dalam bahaya."
"Apa kamu tidak mencintainya? kelihatannya mudah sekali kamu ingin berpisah."
Kia diam, dia selalu tak bisa menjawab pertanyaan ini. Cinta antara dirinya dan Satria, benarkah ada?
"Ren, kalau aku masih ingin bertahan dengan suamiku, apa kamu mau membantuku?"
"Ren, kok diam. Kamu mau nggak bantuin aku?"
Masih tak ada jawaban. "Ren!"
"Ren ... na." Kia menoleh menatap Rena yang dari tadi tidak menjawab. Kia membuang nafas kasar, melihat Rena yang telah tertidur mendahuluinya.
Kia masih belum bisa tidur, pikirannya berkelana entah kemana hingga ia sulit memejamkan mata. Kia bahkan mencoba mengubur dirinya di bawah selimut agar bisa terpejam.
.
.
.
Pagi ini Kia berusaha menghubungi suaminya karena sejak hari itu, hari saat Satria meninggalkan dirinya sendiri di rumah sakit, Satria tidak pernah menghubunginya. Entah apa yang pria itu pikirkan, sedang marah kah, atau dia memang butuh waktu untuk sendiri?
"Ish ... kok nggak diangkat sih, padahal aktif," gerutu Kia.
"Menghubungi siapa?" tanya Rena.
"Satria."
__ADS_1
"Nggak bisa?"
Kia mengangguk. "Dia marah, mungkin benar-benar marah," ucap Kia.
"Mungkin dia butuh waktu sendiri," jawab Rena mencoba menenangkan.
Setelah sarapan dengan bubur ayam yang Rena beli dari tukang bubur yang biasa nongkrong di gang depan kost-kostan, Kia dan Rena segera berangkat ke kampus masing-masing. Kia juga mengucapkan terima kasih karena Rena sudah mengijinkannya menginap semalam.
Sampai di kampus, Kia yang biasa melihat Shila yang sudah stand by di kursinya, kali ini tak menemukan sosok sahabatnya itu. Kia bahkan bertanya pada temannya yang lain, apakah ada yang melihat Shila. Namun tak ada satu pun yang mengatakan telah melihat Shila, mereka justru mengatakan bahwa Shila ijin tidak masuk kuliah hari ini.
Sebagai sahabat, Kia justru tidak tahu kalau Shila sakit. Kia langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya, mencoba menghubungi Shila. Tidak aktif.
"Apa mungkin Shila ingin istirahat, karena itu dia mematikan ponselnya?" ucap batin Kia.
Bersamaan dengan Kia memasukkan kembali ponselnya, dosen pengajarnya sudah memasuki kelas.
.
.
.
Siang hari, sebelum Kia berangkat kerja dia menyempatkan diri untuk melihat kakaknya. Setelah itu pulang ke rumah untuk berganti baju. Sesaat setelah Kia masuk ke rumahnya, bel rumahnya berbunyi.
"Ada tamu?" gumam Kia. Kia berpikir sejenak, siapa yang bertamu ke rumahnya. Karena selama ini belum pernah ada tamu di rumahnya selain supir dan asisten suaminya.
Kia mengintip dari horden sebelum membuka pintu rumahnya. Sejak kejadian buruk menimpa Keenan, wajar bukan jika Kia jadi waspada. Ternyata, yang datang adalah Wira.
Kia membuka pintu dan mempersilahkan Wira masuk.
"Ada perlu apa, ya?"
Wira mengambil kartu dari saku jasnya, dan memberikan kartu itu pada Kia.
"Apa ini?"
"Itu adalah kartu dari tuan Satria yang bisa Nona gunakan untuk memenuhi kebutuhan Nona sehari-hari," jawab Wira.
"Tapi untuk apa, bukannya dia tidak ingin memberikan kartu apapun untukku?"
"Untuk beberapa hari kedepan Tuan tidak bisa menemui Nona, karena itu, kartu ini untuk mempermudah Nona dalam mendapatkan uang harian Nona."
"Oh ...." Hanya itu yang keluar dari mulut Kia sambil manggut-manggut.
"Kalau begitu saya permisi, Nona." Wira membungkukan sedikit badannya. "Oh ... ya, Nona juga boleh menggunakan kartu itu sesuka hati Nona. Tidak ada batasan dari Tuan," ucap Wira sebelum pergi.
Kia hanya memandangi kartu yang ada di tangannya, setelah kepergian Wira. Untuk apa Satria memberikan kartu ini untuknya, untuk saat ini, gajinya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Tapi siapa yang peduli, mungkin ini akan berguna nanti.
__ADS_1